
Hari pun berganti malam. Namun, Dilla masih terus saja memikirkan perihal tawaran Mami yang mengajak Riza untuk tinggal bersama dengan mereka. Sejak tadi, ia sudah gelisah tak karuan.
Dilla menyadari bahwa akan sulit baginya untuk bisa mencairkan kerasnya hati Mami kali ini. Tidak tinggal seatap saja, Mami sudah begitu sangat membencinya, apalagi kalau tinggal seatap nantinya. Bisa-bisa Riza dan Dilla akan benar-benar berpisah hanya karena sikap orang tua Riza padanya.
Tiap mengingat bagaimana kebencian Mami terhadapnya, membuat nyali gadis itu menciut. Tidak ada jalan lain baginya selain berbalik arah dan menjauh dari kebencian tak beralasan yang diberikan oleh mertuanya.
Salah satu jalan terbaik yang ada dipikirannya kali ini hanyalah mencegah Riza agar tidak menyetujui tawaran Mami, akan tetapi apa bisa Dilla melakukan itu?, sementara Riza terlihat sangat menyayangi keluarganya.
Namun, tidak ada salahnya mencoba. Dengan takut-takut, Dilla pun memulai kalimatnya.
"Mas!"
"Ehm."
"Jadi apa keputusan Mas?. Mas setuju sama tawaran Mami tadi sore?" tanya Dilla seraya melesakkan tubuhnya menerobos balutan selimut didepannya.
Riza diam. Ia tampak sangat sibuk dengan kegiatan membacanya malam itu.
Dilla melanjutkan, "Kita pulang saja ya Mas ke Indonesia. Nggak usah tinggal di rumah Mami. Mas mau kan?"
Jam dinding yang berdetak, memecah keheningan diantara mereka.
Riza menutup bukunya lalu menoleh pada Dilla, "Iya, aku juga mau pulang ke Indonesia. Tapi, kamu kan tau sendiri kalau aku masih harus melanjutkan perawatan ku disini. Memangnya kamu nggak mau lihat aku sembuh?"
"Kalau masalah itu, di Indonesia kan juga bisa, Mas. Lagian bagi saya Mas itu udah sembuh kok."
Riza tersenyum samar, "Kalau aku udah sembuh. Lalu untuk apa semua obat-obatan itu," ujarnya seraya menoleh ke arah nakas dengan beberapa jajaran botol obat diatasnya.
Riza melanjutkan, "Kamu beneran takut sama keluarga aku?"
Dilla mengangguk.
"Kamu ada salah sama mereka?"
Dilla menggeleng.
"Kalau kamu memang nggak ada salah, kenapa kamu harus takut?"
"Bukan begitu, Mas. Saya cuma takut, nantinya orang tua Mas misahin kita lagi kayak dulu. Mas ngerti kan maksud saya?"
Riza paham kalau isterinya itu benar-benar takut kali ini. Riza juga masih dapat merasakan seperti apa perasaan Dilla sewaktu gadis itu menceritakan tentang bagaimana perpisahan mereka kala itu.
Hingga hari ini pun, Riza masih melihat kesedihan itu di mata isterinya tiap kali Riza menyinggung perihal orang tuanya didepan Dilla.
Riza pun merangkul Dilla untuk menenangkan kegundahan gadis itu, setelahnya Riza pun berkata, "Aku ini anak malang yang tidak punya orang tua. Meskipun begitu, aku bersyukur masih ada Om Dirwan dan Tante Anita yang menyayangiku melebihi orang tua kandungku sendiri."
Dilla diam mendengarkan.
"Kalau tidak ada mereka, mungkin aku sudah gila atau bahkan aku sudah mati karena terus mengingat kejadian buruk itu," ujarnya lirih penuh kesedihan.
Riza melepaskan pelukannya kemudian menatap mata isterinya lekat, "Kamu, Om Dirwan dan Tante Anita adalah orang yang paling aku sayang sampai kapanpun. Kamu tahu kenapa?, karena kalian lah yang membuat aku bisa bertahan untuk terus hidup."
"Jadi, aku minta, kamu hilangin semua ketakutan kamu dan percaya sama aku. Aku memang nggak bisa jadi suami yang sempurna tapi aku pastiin, aku akan selalu ada buat kamu selamanya."
Dilla akhirnya dapat tersenyum lega. Setidaknya kalimat Riza barusan mampu memberikan ketenangan untuknya. Sesaat berikutnya, Dilla memeluk Riza kembali, lebih erat dari sebelumnya.
Sementara itu, ditempat berbeda, Papi terlihat sangat gelisah. Kegelisahan terlukis jelas di kerutan dahi dan tautan kedua alis pria paruh baya yang entah sudah berapa kali menghela nafas berat itu.
Pria yang masih terlihat gagah meskipun usianya hampir memasuki pertengahan abad itu tampak terus memikirkan tentang pertemuannya dengan Aldrich.
Terdengar celotehan Mami dari kejauhan, "Pi, Mami takut deh, gimana kalau nanti Riza nggak mau ikut sama kita gara-gara dipengaruhi si Dilla. Mami kan nggak mau nantinya Riza justru malah milih kabur sama perempuan itu. Gimana menurut Papi, apa sebaiknya Mami ancam aja lagi si Dilla biar ninggalin Riza?" Mami menoleh ke arah Papi yang masih sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Papi?!. Papi dengerin Mami nggak sih?" sentak Mami yang kesal.
"Hah?!. I-iya. Mami bilang apa tadi?"
"Papi kenapa?. Sakit?. Dari tadi Mami perhatiin Papi itu diem terus. Ada apa sih, Pi?"
"Nggak. Papi nggak kenapa-kenapa kok. Papi cuma capek aja. Banyak kerjaan di kantor."
"Alesan aja!", Mami melanjutkan, "Jadi gimana, Pi?" ungkapnya pada Papi untuk menuntaskan rasa penasarannya.
"Gimana apanya?" Papi balik bertanya.
"Masalah Riza loh, Pi. Mami beneran takut kalau Dilla nanti bawa Riza kabur dari kita. Papi kan tau sendiri, kalau gadis itu nekat banget."
"Mami nggak salah. Bukannya justru dulu itu kita yang bawa kabur Riza dari Dilla?"
Mami tertohok, "Yah, itu kan Mami lakuin untuk kesehatannya Riza. Dia kan anak kita, Pi."
"Sudahlah. Kita bahas ini besok saja. Papi Ngantuk. Mau tidur!"
Alhasil Mami pun menggerutu kesal disamping Papi.
Pikiran Papi hanyalah terpaku pada Aldrich dan Adam. Apa yang harus ia lakukan saat ini, semua hal itu terus membayangi Papi hingga matanya perlahan terpejam untuk menyongsong mimpinya malam itu.
Keesokan paginya, sebuah ponsel yang tergeletak di atas nakas berdenting. Tampak sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal terpampang di atas layar gawai pipih berwarna putih itu.
Sementara itu, si empunya ponsel terlihat sedang sibuk berkutat di dapur.
Ya, pagi ini Aldrich menyalurkan bakat terpendamnya dengan memasak di dapur. Ia berniat memasak sarapan pagi istimewa untuk semua orang yang ada di rumah Thomas.
Entah apa yang ingin dimasak oleh Aldrich. Namun, dapur Thomas yang awalnya rapi kini terlihat sudah sangat berantakan dan yang pastinya sangat berisik, sanking ia semangatnya pagi ini.
Orang pertama yang mendengar keributan di dapur pagi ini ialah Riza. Riza yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya, segera bergegas menghampiri Aldrich sebab ia merasa terusik dengan keributan yang dibuat Aldrich pagi ini.
Setibanya di dapur, Aldrich menyapa Riza dengan senyum sumringah yang menurut Riza sangatlah menyebalkan.
"Good Morning," sapa Aldrich.
Riza mendengus kesal, "Ini itu masih pagi. Nggak bisa ya, masaknya pelan-pelan aja. Berisik banget!"
Dari arah lain, Henzhie datang dan langsung mendekat ke arah Riza dengan wajah sumringah seperti biasanya, seperti tidak ada penyesalan disana.
"Good Morning, Riza."
Riza hanya diam saja. Ia sudah malas untuk berurusan dengan gadis itu lagi.
"Kamu masih marah padaku?. Ayolah, Riza. Aku kan cuma bercanda."
Aldrich yang mendengar ucapan Henzhie hanya menggeleng tidak percaya dengan sikap menyebalkan gadis itu.
"Riza. Ayolah. Aku kan cuma bercanda. Kamu masih marah?" Henzhie mengulangi kalimatnya seraya mencoba merangkul lengan kekar Riza.
Namun, dengan cepat Riza menepis tangan Henzhie tanpa melihat wajah gadis itu kemudian ia berjalan menuju sofa dengan masih diikuti oleh Henzhie dari belakang.
Aldrich berteriak, "Berhentilah mengganggu kehidupan orang lain. Kau mau aku menyuruh Thomas untuk menghukum dirimu lebih kejam dari kemarin?. Apa tidur semalaman di gudang belum membuatmu sadar?"
"Jangan ikut campur!!" sarkas Henzhie ke arah Aldrich.
"Riza, lebih baik kau panggil saja Dilla untuk sarapan. Bilang padanya, hari ini aku yang memasak."
Setelah mendengar titah Aldrich, dengan terpaksa, Riza pun melangkah untuk menemui Dilla dan meninggalkan Henzhie yang pastinya sudah cemberut kesal di belakang.
Setibanya di depan kamar, Riza langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Wajar saja, toh itu merupakan kamar Riza bersama dengan Dilla.
Tepat saat itu, Dilla baru saja selesai berganti pakaian. Riza menautkan alisnya saat melihat gaya berpakaian Dilla yang tidak seperti biasanya.
Tampak Dilla mengenakan dress putih selutut bercorak polkadot berwarna merah muda dengan sedikit aksen pita di bagian dada. Gaya berpakaian yang otomatis memberikan kesan imut di tubuh mungil gadis itu.
Topi bundar berwarna senada yang ia kenakan pun semakin menambah pesona gadis didepan Riza itu.
"Kamu mau kemana?. Masih pagi kok udah rapi gitu?" tanya Riza seraya mendekat ke arah Dilla.
"Loh, Mas lupa ya. Saya kan kemarin udah bilang mau jalan-jalan lihat bunga. Kata Mister bunga tulip di Belanda cantik-cantik loh, Mas. Jadinya saya pengen lihat. Gimana Mas saya cantik nggak pake baju ini?"
"Baju dari siapa?" tanya Riza singkat.
"Dari Mister. Bagus kan Mas?" ujar Dilla seraya memutar-mutar tubuhnya didepan cermin sanking senangnya dengan pakaian yang saat ini ia kenakan.
Sementara Riza hanya duduk di tepi ranjang, memperhatikan kelakuan istrinya itu sambil menggerutu kesal dalam hati.
Satu putaran, dua putaran, kemudian Dilla segera berlari keluar kamar sambil melompat-lompat kecil. Dilla terlihat sangat senang sekali. Sampai-sampai ia lupa dan justru meninggalkan Riza sendirian didalam kamar.
Alhasil Riza pun semakin bertambah kesal.
Sesaat kemudian, Dilla kembali lalu berteriak didepan pintu.
"Mas, cepetan siap-siap. Baju Mas udah saya siapin di atas kasur. Bagus loh, Mas. Dibeliin sama Mister juga!"
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Dilla pun segera berlari ke lantai bawah untuk menemui Aldrich.
Didalam kamar, Riza yang kesal itu pun segera menarik stelan yang diberikan oleh Aldrich, kemudian membuang benda tak berdosa itu ke dalam tempat sampah dengan memasang wajah geram.
Dilantai bawah, Dilla dan yang lainnya sudah duduk di meja makan. Mereka semua menunggu kedatangan Riza yang belum juga turun.
Karena merasa tidak enak dengan yang lainnya, Dilla pun mempersilakan yang lainnya untuk memulai sarapan mereka terlebih dahulu dan tidak perlu menunggu Riza.
Namun, Aldrich justru mengatakan kalau mereka semua tidaklah terburu-buru, jadi masih bisa bersabar untuk menunggu Riza turun.
Tak lama, Riza pun turun dengan mengenakan kaus hitam berbalut hoodie dan celana jeans berwarna senada.
Riza berjalan perlahan menghampiri Dilla dan yang lainnya.
Dilla tersenyum menyambut kehadiran Riza disana. Riza pun duduk di kursi, bersebelahan dengan Dilla.
Sesaat setelah Riza mendudukkan dirinya disana, dengan sigap Dilla melayani Riza dengan memasukkan beberapa sendok nasi goreng spesial ala Aldrich ke atas piringnya.
Selanjutnya, Dilla mempersilakan Riza untuk makan. Mereka pun menyantap sarapan buatan Aldrich itu dengan lahap.
Aldrich berkata, "Bagaimana?. Masakanku enak kan?"
"Iya, Mister. Enak," sahut Dilla.
"Ya kan, Mas?" sambung Dilla sembari menoleh kearah Riza.
"Nggak. Biasa aja!" ketus Riza.
Mendengar itu, Aldrich pun hanya tertawa.
Namun, entah mengapa, tiba-tiba Aldrich menyeka sisa makanan di sudut bibir Dilla sampai membuat Dilla tertegun.
"Dasar endul, makan aja masih belepotan."
Dilla pun tertegun cukup lama saat mendengar Aldrich kembali menyebut panggilan khas untuknya itu. Tak lama setelahnya, ia pun tersadar saat mendengar suara deheman berat dari Riza.
Dilla pun langsung salah tingkah, "Mas mau nambah ya?. Sini Mas piringnya," ucap Dilla sesaat setelahnya.
Hening, Riza diam dan mengacuhkan Dilla kali ini.
Riza pun segera menyudahi kegiatan makannya saat itu juga kemudian ia berdiri meninggalkan semua orang tanpa berbicara sepatah katapun. Setelahnya, Henzhie juga turut menyusul langkah Riza dari belakang.
Tak lama, Thomas dan Dilla juga melakukan hal yang sama. Kemudian, Aldrich lah yang terakhir menyusul mereka semua.
Ponsel Aldrich berdenting. Sambil berjalan, Aldrich merogoh saku jeansnya. Bukan hanya sekali, tapi pesan dari nomor tak dikenal itu kembali masuk dan berdenting hingga beberapa kali. Tak ayal, hal itu membuat Aldrich merasa sedikit jengah.
Dahi Aldrich mengerut dengan mata yang membulat saat jempolnya terus menggeser layar gawai pipih yang tengah digenggamnya.
"Ini kan--" ucapnya terjeda.