
Sore hari ini, mami dan papi akan bertolak ke Belanda. Terlihat mami sedang mempersiapkan barang-barang untuk di masukkan ke dalam koper padahal jam masih menunjukkan pukul 7 pagi.
Selang beberapa menit, mami pun akhirnya selesai mengepak barang-barang yang akan dibawa. Mami melihat ke arah Papi yang sedang membaca koran sambil duduk bersandar di ranjang menikmati secangkir teh yang tersaji di atas nakas.
Mami pun menghampiri papi.
"Pi, hari ini kan kita akan kembali ke Belanda. Apa papi tidak mau berbicara apapun kepada Riza?" tanya mami.
Papi masih sibuk membaca koran dan tampak mengacuhkan ucapan mami.
Mami menyentuh tangan papi lembut, mencoba menarik perhatian suaminya itu.
Lalu mami pun berkata kembali, "Sudahlah, Pi. Sudah cukup hukuman papi selama tiga tahun ini kepada Riza. Dia sendirian, Pi. Dia hanya punya kita sebagai orang tuanya," sambung mami lagi.
Papi terlihat membolak-balik lembaran koran ditangannya, bersikap tidak peduli dengan perkataan mami.
"Riza kan sudah minta maaf, Pi. Maafkanlah anak kita itu!" bujuk mami tanpa henti.
Akhirnya papi pun menutup koran yang dibacanya kemudian ia membuka suara, "Beri papi waktu, Mi." Papi menyeruput tehnya.
Mami pun mengangguk mengerti.
"Ya sudah, mami keluar dulu. Mami mau siapin sarapan. Sebentar lagi papi turun ya, kita sarapan bersama." Mami menepuk punggung tangan papi pelan.
Papi mengangguk mengiyakan.
Mami pun menuruni anak tangga, kemudian berjalan menuju dapur. Ternyata di dapur sudah ada Dilla yang tampak sedang memasak.
"Pagi sayang!" Sapaan pagi mami kepada Dilla.
"Pagi, Mi!" balas Dilla.
"Kamu masak apa?"
"Tadi Dilla bingung mau masak apa buat sarapan, jadinya Dilla masak mie goreng seafood. Mami mau dimasakin apa buat sarapan?, mumpung mami disini," tanya Dilla.
"Gak perlu repot-repot sayang, mami dan papi suka kok mie goreng seafood."
"Syukurlah." Dilla tersenyum lega.
Mami tampak ingin membantu Dilla menyajikan makanan, namun Dilla melarang.
"Mami duduk di meja makan saja, biar Dilla yang hidangkan." Dilla tersenyum manis.
Mami memperhatikan menantunya itu dengan senyuman cerah di bibirnya secerah matahari pagi.
Papi terlihat sedang memikirkan sesuatu, tidak lama ia pun beranjak dari ranjang kemudian berjalan ke luar kamar dengan perlahan.
Papi melewati ruang kerja Riza. Melihat pintu yang terbuka, papi pun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.
Papi mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Selanjutnya papi mengarahkan pandangannya ke meja kerja Riza.
Mata papi terlihat bergetar saat menatap sebuah figura foto berwarna hitam di atas meja yang memperlihatkan wajah mami dan papi.
Kemudian papi melihat jajaran buku yang ada di rak meja kerja Riza. Papi mengambil salah satu buku dari dalam rak yang ternyata adalah novel karya Riza sendiri.
Papi membuka novel tersebut, kemudian membaca isinya selembar demi selembar. Papi tampak terlarut saat membaca novel hasil buah pikiran anaknya itu.
"Papi...Papi..."
Terdengar suara mami berteriak memanggil suaminya.
Papi buru-buru menutup novel tersebut lalu memasukkannya kembali ke tempat semula.
Papi keluar dari ruang kerja Riza. Mami langsung menghampiri papi.
"Papi sedang apa di dalam?" tanya mami menggandeng lengan papi.
Papi berdehem pelan, "Tidak ada."
"Sarapannya sudah siap?" sambung papi yang mencoba mengalihkan pertanyaan mami.
"Sudah," jawab mami.
"Papi belum jawab pertanyaan mami tadi, papi sedang apa di ruang kerja Riza?", tanya mami kembali.
"Ayo, papi sudah lapar!" Papi enggan menjawab.
Papi langsung melangkahkan kakinya menuruni anak tangga menuju ke arah meja makan. Mami mengikuti langkah papi dari belakang.
Keluarga besar itu pun tampak sedang menikmati sarapan pagi mereka, papi terlihat menatap Riza sekilas dengan sorot mata yang terlihat sendu. Tampak kilatan kasih sayang dari sorot mata papi kali ini.
Mami menyadari keanehan pada suaminya.
"Kenapa papi menatap Riza seperti itu?" Mami membatin.
Sore hari pun tiba, saat nya mami dan papi berangkat ke bandara. Mami dan papi tampak telah bersiap-siap dengan barang-barang mereka. Dua tas koper berukuran besar kini telah sampai di bagasi mobil Riza.
Mami dan papi kemudian membuka pintu mobil, di ikuti oleh Riza. Mereka tampak sedang menunggu kemunculan Dilla dari dalam rumah. Tidak lama, akhirnya Dilla pun muncul.
Dilla membuka pintu mobil dan langsung duduk di jok depan bersebelahan dengan Riza. Dilla pun meminta maaf kepada mami dan papi atas keterlambatannya.
"Maaf ya mas, saya kelamaan."
Dilla juga meminta maaf kepada Riza sembari mengenakan sabuk pengamannya.
"Dasar lelet!" batin Riza sambil menatap Dilla.
Selanjutnya Riza pun langsung menginjak dalam pedal gas mobilnya, mobil pun terlihat melaju kencang meninggalkan rumah Riza.
Kebetulan jalanan hari ini tidak terlalu padat merayap seperti biasanya. Tidak sampai satu jam, mereka pun telah tiba di bandara. Mami dan papi pun langsung menuju pintu masuk ruang tunggu keberangkatan.
"Mami berangkat dulu ya sayang." Mami memeluk Dilla kemudian mencium kening menantunya itu.
"Mami hati-hati ya di jalan. Kalau sudah sampai, telefon Dilla," ucap Dilla sembari mencium punggung tangan mami dan papi.
Kemudian Dilla mengeluarkan dua buah syal berwarna hitam dari dalam tas kecilnya. Ternyata dua buah syal itulah yang menjadi penyebab mami dan papi lama menunggu di dalam mobil sebelum berangkat ke bandara.
"Ini untuk mami dan papi, kenang-kenangan dari Dilla." Dilla melilitkan syal tersebut di leher mami dan papi.
Riza terlihat tertegun menatap Dilla yang sedang melilitkan syal di leher kedua orangtuanya.
"Mudah-mudahan mami dan papi suka," sambung Dilla kembali sambil tersenyum menatap mami dan papi.
Mami dan papi terlihat sangat gembira menerima hadiah syal dari Dilla.
Riza pun kemudian memeluk mami. Mami membalas pelukan Riza lalu mencium kening putranya itu. Air mata terlihat mengalir di pipi mami.
"Kamu baik-baik ya sayang di Jakarta. Kamu jaga Dilla baik-baik."
"Insya Allah, Mi!" jawab Riza.
Setelah mami menyudahi pelukannya, Riza tampak melihat ke arah papi. Ia ingin memeluk papi, namun sorot matanya memancarkan keraguan.
Akhirnya Riza pun memberanikan diri, perlahan Riza mendekatkan dirinya ke arah papi lalu menggerakkan kedua tangannya.
Bola mata papi tampak melihat pergerakan tangan Riza. Spontan papi pun langsung menarik Riza ke dalam pelukannya. Hingga membuat Riza terperanjat.
Riza merasakan dekapan hangat papi di tubuhnya. Dekapan yang telah lama di rindukannya.
Tangis Riza pun pecah dalam pelukan papi. Papi membelai lembut rambut hitam Riza. Riza dapat merasakan hembusan nafas hangat papi di telinganya.
"Papi minta maaf ya sayang," ucap papi singkat.
"Papi minta maaf." Papi mengulangi ucapannya.
"Tidak Pi, papi tidak salah. Riza yang salah, Pi. Riza durhaka sama papi." Riza terisak kembali, kedua pipinya telah basah karena air mata.
Papi menyudahi pelukannya lalu menghapus lembut jejak air mata di pipi putih Riza.
"Kamu anak papi yang hebat, sampai kapanpun!" ucap papi.
Mami tampak menangis haru melihat pemandangan di depannya. Sementara Dilla terlihat diam mematung, dengan seribu tanda tanya di benaknya.
Papi kemudian menghampiri Dilla.
"Dilla, papi titip Riza sama kamu. Dia putra papi satu-satunya. Papi harap kamu bisa mendampingi dia selamanya. Kamu jangan tinggalkan putra papi itu ya, kamu harus janji sama papi!" Papi mengusap lembut rambut panjang Dilla.
"Insya Allah, Pi!" jawab Dilla.
Papi kemudian mengambil sesuatu dari dalam saku celananya, ia memberikan sebuah amplop kepada Dilla.
Dilla menggenggam erat amplop tersebut.
"Ini hadiah dari papi dan mami buat pernikahan kalian!" Papi tersenyum menatap Dilla.
"Terima kasih, Pi!" sambut Dilla.
Mami dan papi pun beranjak meninggalkan Riza dan Dilla. Mereka terlihat saling melambaikan tangan.
Dilla tampak masih melambaikan tangannya meskipun mami dan papi telah hilang di kejauhan.
Terdengar Riza menggumam pelan, "Hati-hati..."
Dilla pun menoleh saat mendengar gumaman Riza. Dilla memperhatikan wajah Riza dekat, ia mengerutkan keningnya saat melihat jejak air mata masih menempel di pipi Riza.
Dilla pun menyudahi lambaian tangannya. Kemudian Dilla menarik ujung kemeja Riza, membuat Riza tersadar. Lalu dengan cepat Riza menghapus jejak air mata di kedua pipinya.
"Ayo pulang!!" Riza berlalu tanpa menatap Dilla. Dilla mengikuti langkah kaki Riza sembari menatap punggung runcing Riza dari belakang.