My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/136



Mobil sport silver berhenti tepat diseberang rumah Riza. Saat pintu mobil terbuka terlihat Henzhie turun, sementara Thomas dan Aldrich menunggu didalamnya.


Henzhie terdiam cukup lama didepan sana sambil berbisik dalam hatinya. Bisikan yang kembali membuatnya bertanya apakah ia bisa mengendalikan perasaannya jika ia bertemu dengan Riza?. Henzhie tampak ragu.


"Hei, sedang apa kau disitu?. Jangan membuang waktuku. Cepatlah masuk!" teriak Aldrich.


Pemuda itu benar-benar menyebalkan!, batin Henzhie dengan sedikit lirikan tajam kearah Aldrich.


Thomas memperhatikan langkah Henzhie yang sangat terlihat ragu. Meskipun wajah Thomas tidak menunjukkan ekspresi apapun, namun kilatan kesedihan tampak jelas di dalam mata pemuda itu sebab ia paham betul seperti apa perasaan Henzhie pada Riza.


Pertemuan kembali Henzhie dengan Riza kali ini membuat Thomas tampak sedikit khawatir. Adik semata wayangnya itu memang sudah bersusah payah sejak lama untuk membuang perasaannya jauh sebelum ia bertemu kembali dengan Riza di Belanda.


Henzhie membunyikan bel. Tampak petugas keamanan yang berjaga di sekitar rumah Riza segera menghampiri Henzhie.


"Selamat pagi, Nona. Ada perlu apa?"


"Selamat pagi. Aku Henzhie, aku ingin bertemu Dilla."


"Sebentar."


Petugas keamanan segera menyampaikan pesan melalui interkom yang terpasang disana.


"Apa aku tidak bisa masuk terlebih dahulu?!. Aku sudah terlalu lama berdiri disini," ujar Henzhie sedikit kesal sebab ia harus menunggu didepan gerbang sejak tadi.


"Maaf, Nona. Kami tidak diperbolehkan untuk menerima tamu tanpa seizin petugas yang ada didalam. Kami minta nona untuk menunggu."


"Hufftttt," sahut Henzhie.


Lima belas menit pun berlalu.


"Bagaimana?. Berapa lama lagi aku harus menunggu?!" sarkas Henzhie.


"Selamat pagi, Tuan Riza," ucap petugas saat melihat Riza yang berjalan kearahnya.


"Selamat pagi. Apa orang yang ingin menemui Dilla masih diluar?" tanya Riza kepada petugas didepannya.


"Iya, Tuan."


"Baiklah. Buka gerbangnya."


Sesaat setelah gerbang terbuka, Henzhie yang bertatapan langsung dengan Riza tak kuasa untuk menahan getaran dalam dadanya.


Sekuat tenaga Henzhie menyembunyikan apa yang dirasakannya dengan sebuah senyuman di bibirnya.


"Hai," sapa Henzhie sambil melambaikan tangan ke arah Riza yang disambut dengan sebuah senyum simpul dari lawan bicaranya.


"Lihat kelakuan adikmu itu. Apa dia tidak bisa bersikap biasa saja?!. Memalukan," oceh Aldrich dari seberang.


Aldrich dan Thomas memperhatikan Henzhie yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah bersisian dengan Riza.


"Kamu apa kabar?" tanya Henzhie membuka percakapan.


"Baik," jawab Riza singkat.


"Dilla apa kabar?" lanjut Henzhie.


"Dilla sedang kurang sehat," singkat Riza kembali.


"Apa Dilla sedang sakit?"


"Hemm, duduklah," Riza mempersilahkan Henzhie. "Kamu mau minum apa?" lanjutnya.


"Ah, tidak perlu repot-repot. Lain kali saja aku datang lagi."


"Ada perlu apa kamu mencari Dilla?" tanya Riza tanpa basa-basi.


Henzhie yang menyadari sikap dingin Riza itu pun segera menjawab, "Sebelumnya aku minta maaf kalau kedatanganku kesini membuatmu tidak nyaman."


Riza diam.


"Sebenarnya...," ujar Henzhie enggan melanjutkan.


"Bicaralah."


"Emmm, sebenarnya ada hal yang ingin aku tanyakan pada Dilla."


"Tentang apa?" tanya Riza kemudian.


"Begini, Aldrich memintaku untuk mengambil ponselnya yang dititipkan pada Dilla. Apa kau tau ponsel itu ada dimana?"


Riza terdiam cukup lama sebelum menjawab, kekecewaan terlihat jelas di matanya.


"Dilla tidak pernah memberitahuku," sahut Riza dengan nada kecewa.


"Apa kamu bisa membantuku untuk menanyakannya pada Dilla?"


...----------------...


Beberapa saat kemudian, Henzhie masuk kedalam mobil dengan wajah lesu.


Aldrich pun langsung mencecar Henzhie dengan berbagai pertanyaan, "Bagaimana kabar Dilla?. Apa dia baik-baik saja?. Lalu ponselku?. Kau berhasil mendapatkannya?"


Henzhie melotot tajam kearah Aldrich, "Stoooppp!!!!" teriaknya kemudian.


"Iya, aku memang gila. Aku memang sudah gila karena mau menuruti perintah konyolmu."


"Perintahku tidak konyol. Kalau kau melakukan ini justru kau akan menyelamatkan kehidupan banyak orang."


"Untuk apa aku menyelamatkan kehidupan orang lain sementara hidupku sendiri sudah berantakan. Hah?!"


"Dasar gila!" balas Aldrich.


"Ada apa denganmu Henzhie?" tanya Thomas menengahi.


"Thom, sebagai saudaraku harusnya kau tau bagaimana perasaanku sekarang. Riza masih marah padaku, padahal aku sudah minta maaf berulang kali. Hu..hu..hu."


Aldrich berkata, "Hentikan kebiasaan burukmu itu. Tidak ada gunanya menangis. Wajar saja kalau dia masih marah, kau tidak ingat apa yang sudah kau perbuat padanya dan Dilla?!"


Thomas menimpali, "Tenanglah. Yang penting kau sudah meminta maaf, untuk selanjutnya biarlah mereka yang memutuskan akan memaafkanmu atau tidak. Bukan tanggung jawabmu untuk mengatur perasaan dan tindakan orang lain terhadapmu."


"Aku setuju dengan Thomas. Kau harusnya bersyukur memiliki saudara seperti Thomas, kalau kau jadi adikku, sudah pasti aku akan mencoret namamu dari daftar keluarga," sambung Aldrich lagi.


"Diam kau!" sahut Henzhie kesal.


Aldrich tertawa, "Ya sudah, mana ponselku?"


"Tidak ada. Dilla sedang sakit, Riza tidak memperbolehkan aku untuk menemuinya."


"Hah, Dilla sakit?!. Dilla kenapa?" Aldrich terlihat khawatir.


"Aku tidak tahu. Riza tidak mau memberitahuku."


"Kalau begitu, kapan kita bisa datang kesini lagi?. Apa Riza memberitahumu sesuatu?" tanya Aldrich lagi.


Henzhie menggeleng, "Berhentilah bertanya, kau membuat kepalaku bertambah pusing."


"Ya sudah, kita bicarakan hal ini saat di rumah saja," ujar Thomas sesaat sebelum menginjak gas mobilnya dalam.


...----------------...


Riza mengetuk pintu kamar Dilla yang semenjak sore tertutup rapat.


"Siapa?" sahut Dilla dengan suara serak dan lemah.


"Aku. Riza."


"Masuk saja Mas, tidak dikunci."


Riza memutar gagang pintu perlahan. Terlihat Dilla berbaring dengan wajah pucat pasi.


"Kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik aja, Mas. Ada apa?"


Sebenarnya Riza ingin sekali mendengar dari mulut Dilla, apa yang sebenarnya terjadi antara Aldrich dan Dilla, mengapa ponsel Aldrich ada pada istrinya itu dan kenapa Dilla tidak memberitahukan hal ini padanya.


Riza terus bergelut dengan semua kecurigaan yang ada dalam pikirannya. Namun, saat ia melihat kondisi Dilla, Riza pun mengurungkan niatnya untuk menginterogasi istrinya itu.


"Mas, apa tawaran untuk saya pulang ke Indonesia masih berlaku?" tanya Dilla memulai obrolan.


Riza diam.


"Saya mau pulang ke rumah orang tua saya," ucap Dilla penuh keyakinan.


Riza tampak terkejut mendengar apa yang baru saja Dilla katakan.


Dilla melanjutkan dengan suara bergetar berusaha menahan tangisnya, "Sepertinya pilihan untuk berpisah lebih baik daripada saya harus tetap disini sama kamu, Mas."


Dilla berusaha tegar dihadapan Riza. Walaupun sebenarnya didalam hati, Dilla amat tidak rela untuk berpisah dari suaminya itu begitupun sebaliknya, meskipun Riza masih marah pada Dilla, akan tetapi ia tidak dapat menghindari perasaan yang ada dalam hatinya untuk istrinya itu.


"Keputusan saya sudah bulat," tambahnya.


"Kita bicarakan ini lain kali."


"Mungkin berpisah lebih baik, daripada kita saling menyakiti terus menerus kayak gini."


Hening.


Riza terdiam cukup lama, kemudian menjawab, "Aku tidak mengizinkanmu pergi," ucapnya lembut.


"Kenapa?"


"Karena..., karena...," lanjut Riza terbata.


Dilla menunggu jawaban Riza.


"Apa kamu tidak tahu kalau wanita hamil dengan usia kehamilan yang masih muda seperti kamu tidak diperbolehkan untuk naik pesawat?"


Dilla terperangah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Riza.


"Cuma itu alasannya?" tanya Dilla penuh kekecewaan. Tadinya ia berharap kalau alasan Riza mencegahnya pergi karena suaminya itu masih mencintai dirinya dan jabang bayi yang ada dalam kandungannya saat ini


"Aku tidak mengizinkanmu, jadi tolong berhentilah menanyakan hal itu," ujar Riza tegas.


"Aku membawakan mu makan malam. Makanlah. Kalau kamu butuh yang lain bilang saja," tambahnya sesaat sebelum meninggalkan kamar Dilla.