My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/26



Keesokan paginya.


Riza tampak sedang bersiap-siap di kamar. Ia mengenakan kemeja dan celana panjang berwarna hitam polos.


Mengenakan dasi berwarna navy kemudian melingkarkan sebuah jam tangan di pergelangan tangannya. Ia juga menata rapi rambutnya dengan sedikit gel.


Tak lupa, Riza menyemprotkan parfum beraroma citrus kesukaannya sebagai pelengkap penampilannya pagi ini.


Kini ia sudah terlihat rapi dan tampan.


Sempurna!


Riza menarik tas ransel dan sebuah hoodie berwarna biru yang tergeletak di atas ranjang, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


Riza menuruni anak tangga. Ia mengenakan hoodienya sembari menjinjing sebuah tas ransel menuju ke arah meja makan.


Terlihat Dilla sibuk mempersiapkan sarapan di atas meja.


Sudah semalaman Dilla mendiamkan Riza. Ia tidak berbicara sepatah katapun. Bahkan saat Dilla melihat Riza pagi ini di meja makan, ia tidak menyapanya sama sekali.


Riza pun mencoba membiasakan dirinya untuk menerima kebiasaan buruk Dilla akhir-akhir ini, yang apabila kesal selalu saja diam dan tidak berkata apapun.


Riza hanya melihat sekilas ke arah Dilla dalam diamnya.


Mereka pun menyantap sarapan mereka dalam keheningan.


Tak lama, Riza terlihat menyudahi sarapannya. Ia mengambil tas ransel hitamnya yang teronggok di kursi kemudian beranjak pergi meninggalkan meja makan.


Melihat Riza telah berdiri dari duduknya, Dilla pun seketika beranjak dari kursi yang ia duduki.


Dilla mengambil sebuah tas bekal makan siang yang ada di atas meja dapur lalu menghampiri Riza di garasi mobil.


Tanpa berkata apapun, Dilla langsung menyodorkan tas yang dibawanya kepada Riza.


Riza pun meraihnya dengan tatapan heran.


Selanjutnya, Dilla berlalu pergi meninggalkan Riza tanpa berkata apapun.


Riza melihat sekilas ke arah Dilla yang tampak berjalan masuk ke dalam rumah. Ia menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum simpul.


Ternyata meskipun kesal, Dilla tetap memperhatikan kesehatan Riza.


Riza membuka pintu mobil kemudian melajukan mobilnya menelusuri jalanan ibukota.


-----------


Setelah kepergian Riza, Dilla pun langsung bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.


Dilla sengaja tidak meminta tumpangan dari Riza untuk mengantarnya ke kampus. Karena ia tidak mau kata-kata tajam Riza merusak moodnya pagi ini.


Dilla mengenakan tas ranselnya kemudian beranjak pergi menuju kampus.


Setelah Dilla tiba di kampus. Ia langsung menghubungi Kiki.


"Halo. Kamu dimana?" tanya Dilla melalui ponselnya.


"Aku di kantin biasa. Kamu kesini aja!" jawab Kiki.


"Oh, ya sudah aku kesitu."


Dilla pun langsung menuju ke arah kantin yang berada di dekat fakultasnya-Fakultas Hukum.


Ternyata Dilla adalah seorang mahasiswi jurusan ilmu hukum. Ia memilih jurusan tersebut karena sedari kelas sepuluh SMA ia sudah bercita-cita menjadi seorang pengacara untuk membantu setiap penduduk di desanya yang memerlukan bantuan hukum.


Setelah melihat Kiki di kantin, ia pun langsung duduk di kursi yang ada di sebelah sahabatnya itu.


"Pagi!" sapa Dilla.


"Pagi, kamu udah sarapan?" tanya Kiki.


"Sarapan bareng yuk!" ajaknya.


"Makasih. Aku sudah sarapan tadi di rumah!" jawab Dilla.


"Oh. Ngomong-ngomong, gimana tugas Bahasa Inggris kamu?, udah selesai?" tanya Kiki saat memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


Dilla tidak menjawab. Ia hanya mendengus pelan dengan menopang dagunya di atas meja.


Kiki memperhatikan raut wajah Dilla yang terlihat cemas dan bingung.


"Udah tenang aja, Dilla. Ntar kita kerjain bareng-bareng!" ucap Kiki.


"Kalau perlu, ntar aku sewa bule lokal buat ngajarin kita!" gurau Kiki mencoba menenangkan Dilla.


Kemudian Kiki pun kembali melanjutkan sarapannya setelah melihat sebuah senyuman terukir di wajah Dilla.


-----------


Ia bergegas memakai ransel miliknya, kemudian melangkah keluar dari mobil. Tak lupa ia juga membawa tas bekal makan siang yang diberikan oleh Dilla.


Baru selangkah keluar dari mobil. Ponsel Riza bergetar.


"Halo!" jawab Riza datar.


"Za, loe dimana?"


"Di parkiran!" jawab Riza singkat.


"Oh, oke. Loe langsung masuk aja ya ke ruangannya Om Darma. Gue tung-"


Tut


Riza langsung menyudahi panggilan teleponnya tanpa menunggu Niko selesai berbicara.


Riza melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit peninggalan kakeknya. Salah satu rumah sakit swasta terbaik berstandar Internasional di Indonesia.


Riza berjalan selangkah demi selangkah menuju ruangan Om Darma. Jantungnya berpacu cepat, ia merasakan sebuah tanggung jawab besar tengah menunggunya di depan.


Akhirnya Riza pun tiba di depan pintu ruangan Om Darma.


tok..


tok..


Riza membuka pintu kemudian langsung melangkah masuk ke dalam ruangan yang terlihat besar dan cukup luas itu.


Om Darma dan Niko menyambut kedatangan Riza.


"Bagaimana?, kamu sudah siap?" tanya Om Darma.


Riza mengangguk pelan.


Om Darma memberikan sebuah jas putih berlengan panjang kepada Riza. Riza meraih jas tersebut.


Riza melepaskan hoodie yang di pakainya kemudian mengenakan jas yang diberikan oleh Om Darma.


Jas itu terlihat melekat pas di tubuh kekar Riza. Membuat Riza terlihat sangat berwibawa.


"Ayo, ikut Om. Om akan memperkenalkan kamu kepada seluruh staf dan karyawan yang ada di sini!"


Om Darma mengajak Riza berkeliling rumah sakit untuk memperkenalkan Riza kepada seluruh staf dan karyawan. Para perawat dan dokter terlihat berbisik-bisik saat melihat Riza. Sepertinya seluruh pegawai di rumah sakit telah mendengar kabar mengenai kedatangan Riza pagi ini.


Setelah itu, Om Darma membawa Riza menuju ke sebuah ruangan.


Om Darma mengajak Riza masuk ke dalam ruangan tersebut.


Riza mengedarkan pandangannya menatap banyaknya pasang mata yang sepertinya telah lama menunggu kedatangannya.


Terlihat jelas dihadapannya, para dewan direksi dan para kepala departemen rumah sakit telah berkumpul di ruangan tersebut.


Om Darma dan Riza menaiki podium. Om Darma mendekatkan mic podium yang ada di depannya.


"Selamat pagi semua. Mohon perhatiannya. Saya berbicara disini mewakili pemilik rumah sakit. Perkenalkan ini Dokter Riza Rifky. Beliaulah pengganti saya, yang akan meneruskan jabatan saya sebagai direktur di rumah sakit ini!" ucap Om Darma.


"Itu direktur baru di rumah sakit ini?, masih muda sekali?!"


"Masih muda begitu, apa pantas jadi direktur?!"


"Padahal belum tahu bagaimana kapasitas dan kompetensinya, tapi sudah jadi direktur?!"


"Bocah seperti dia jadi direktur disini?, yang benar saja?!"


"Semoga saja bocah ingusan seperti dia tidak merepotkan kita nantinya!"


Riza menajamkan pendengarannya. Samar-samar ia mendengar kalau orang-orang yang ada di depannya tengah berbisik dan berghibah tentang dirinya. Namun, Riza tidak ambil pusing dengan cuitan orang-orang tersebut. Ia terlihat biasa saja.


"Beliau ini lulusan terbaik Magister Manajemen Rumah Sakit dari salah satu universitas terbaik di Inggris," sambung Om Darma.


"Saya berharap rumah sakit ini dapat berkembang menjadi lebih baik dibawah kepemimpinan beliau."


"Saya persilahkan kepada dokter Riza untuk memberikan kata sambutan!"


Riza menarik nafas panjang. Ia menatap tajam ke arah audiens yang ada di depannya. Ia pun mulai berbicara.


"Selamat pagi semua. Saya tidak akan berbasa-basi. Saya sadar bahwa saya ini masih muda dan belum memiliki pengalaman apapun di rumah sakit ini. Namun, bukan berarti saya tidak berkompeten ataupun tidak berkapasitas. Satu hal lagi, meskipun saya terlihat masih ingusan, saya tidak akan merepotkan anda sekalian apabila anda mau bekerja dengan baik secara profesional di bawah kepemimpinan saya nantinya. Terima kasih!" tegas Riza.


Kata sambutan dari Riza membuat semua audiens yang ada di depannya terpaku. Mereka spontan bertepuk tangan menyambut Riza.


Om Darma terlihat mengangguk mantap.


Selanjutnya, Om Darma dan Riza turun dari podium. Mereka saling bersalaman dan melemparkan senyuman ke arah para dewan direksi dan para kepala departemen rumah sakit.


Tanpa Riza sadari, sepasang bola mata berwarna cokelat memperhatikan gerak-geriknya sedari tadi dari kejauhan. Tampak bibirnya menyunggingkan senyuman saat melihat ke arah Riza.