My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/34



Desa


"Siapa yang datang nak?" tanya ibu Dilla.


"Mas Riza bu, nanyain kak Dilla," jawab Syifa.


"Aneh sekali. Bukankah kakakmu sudah pulang sejak semalam?" Ibu mulai bertanya.


"Syifa juga merasa seperti itu bu. Apalagi tadi Syifa perhatikan mas Riza seperti cemas dan khawatir."


"Terus sewaktu Syifa ajak masuk juga ndak mau. Mas Riza kelihatan buru-buru sekali, Bu!" sambung Syifa kembali


"Perasaan ibu jadi tidak enak!" ujar ibu menerawang.


Ibu pun terlihat mulai khawatir dan bertanya-tanya dalam hati.


"Coba kamu telepon kakak kamu nak. Ibu takut kakak kamu kenapa-napa di jalan."


"Iya bu."


Syifa pun langsung bergegas menuju rumah Bu Kades untuk menelepon Dilla.


------


tut...


tut...


tut...


[Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi]


Sudah kesekian kalinya Riza mencoba menghubungi Dilla. Tersambung tetapi tidak diangkat. Membuat Riza bertambah frustasi.


"Angkat..angkat. Please!" ujar Riza ketika sedang duduk menunggu keberangkatan pesawatnya di bandara.


Penerbangan yang dipesan oleh Riza baru akan berangkat dua jam lagi. Selama dua jam itu, Riza menghabiskan waktunya dengan terus menerus mengirim pesan dan menghubungi ponsel Dilla.


Riza bertambah cemas dan panik. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada Dilla. Mengingat perjalanan darat Dilla dari desa menuju Jakarta yang terbilang cukup jauh.


Riza bahkan tidak berpamitan langsung kepada ibu Dilla saat di desa. Sebab, Riza tidak mau ibu Dilla nantinya akan cemas saat tahu bahwa ternyata sampai hari ini Dilla belum juga tiba di rumah Riza. Ia tidak tahu harus menjawab apa nantinya jikalau ibu Dilla bertanya mengenai keberadaan Dilla. Sementara ia sendiri saja tidak tahu Dilla saat ini ada dimana.


Sanking paniknya, Riza sampai melupakan rasa lapar yang menerpanya. Riza yang memang belum menyentuh makanan sedari pagi, mulai merasakan nyeri di perutnya akan tetapi ia mencoba untuk tidak menghiraukan rasa sakitnya.


Terlihat wajahnya mulai memucat dan keringat dingin pun mulai membasahi wajahnya. Ia terlihat menghubungi Dilla sambil sesekali menyeka keringatnya.


Tak terasa waktu keberangkatan pesawat Riza pun tiba. Dengan terpaksa, ia harus berhenti menghubungi Dilla.


Saat di dalam pesawat, Riza tak henti-hentinya memikirkan tentang Dilla. Ingin rasanya ia tiba di Jakarta secepat mungkin.


Sesekali Riza terlihat meringis sambil mencengkeram perutnya. Ia mengerutkan keningnya mencoba menahan rasa sakit yang menyerangnya.


Pesawat akhirnya tiba di Jakarta. Riza terlihat berjalan gontai keluar dari bandara dengan wajah yang sudah pucat pasi. Pandangannya pun mulai mengabur. Kemudian....


Bruukk!


Riza jatuh tersungkur tepat di depan pintu keluar bandara. Riza tergolek lemas tak berdaya di lantai.


Seorang wanita muda yang berjalan tepat di belakangnya seketika langsung menghampiri Riza. Ia kemudian berjongkok dan menepuk-nepuk pipi Riza pelan.


"Hei, bangunlah. Kamu baik-baik saja?"


Riza membuka matanya perlahan. Samar-samar ia melihat sosok Dilla muncul di hadapannya.


"Dilla!" sapanya dengan suara pelan.


"Akhirnya kamu pulang!" Dengan tak berdaya, Riza berusaha menahan matanya agar tidak terpejam.


Racauan Riza terdengar semakin melemah. Tak lama, Riza pun memejamkan mata dan tak sadarkan diri.


"Tolong..!!"


"Tolong..!!"


Wanita itu pun berteriak kebingungan. Membuat orang-orang yang berada disekitarnya seketika mengerubungi Riza.


Tak lama dua orang petugas keamanan terlihat mendekati kerumunan.


"Minggir!. Minggir!" Seorang petugas bertubuh kekar memecah kerumunan di depannya.


Petugas pun memasuki kerumunan dan melihat ke arah Riza.


"Ada apa ini?" ujarnya.


Terlihat seorang wanita, mendudukkan kepala Riza di pangkuannya.


"Cepat hubungi rumah sakit terdekat!" sambung petugas tersebut kepada rekannya yang berdiri tepat di sebelahnya.


"Nona, kamu ikutlah bersama kami ke rumah sakit!" ajak salah satu petugas.


"Hah?!" jawab wanita tersebut kaget.


Tak berapa lama, dua orang petugas kesehatan pun akhirnya tiba. Riza langsung dilarikan ke rumah sakit saat itu juga.


-------


Dilla menjawab dengan menggelengkan kepalanya singkat.


Sudah semalaman Dilla seperti itu. Ia hanya duduk manis dan membisu. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Pikirannya jauh menjelajah.


"Kamu bertengkar lagi sama mas Riza?" Kiki menatap ke arah sahabatnya yang sedari tadi diam membisu itu.


Seketika air mata Dilla luruh. Membuat kepalanya tertunduk dalam. Cepat-cepat Dilla menyeka air matanya. Ia tidak mau Kiki melihatnya menangis.


Kiki menghela nafas pelan. Ia mengiba melihat ke arah Dilla. Meskipun ia tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi antara Dilla dan Riza tetapi ia dapat merasakan kesedihan di wajah Dilla sejak Dilla tiba-tiba datang mengetuk pintu kamar kostnya tadi malam.


Dilla meminta untuk menginap beberapa hari di kost Kiki. Kiki pun mengizinkan, toh dia juga hanya tinggal sendirian. Kost Kiki berada tidak jauh dari kampus. Kost khusus wanita yang menyediakan fasilitas kamar terbilang cukup nyaman untuk ditempati. Meskipun Dilla baru pertama kali datang ke sini, tapi Dilla sudah mulai merasa betah.


Dilla menekuk kakinya di atas kursi rotan yang ada di teras.


"Ya sudah, kamu tunggu di sini biar aku beli makan siang dulu."


Kiki beranjak pergi meninggalkan Dilla. Ia sengaja memberikan ruang pada Dilla untuk menyendiri agar Dilla dapat menenangkan pikirannya sejenak. Sesaat setelah kepergian Kiki, Dilla pun langsung menangis sesegukan tak karuan.


Untung saja, kondisi kost-kostan Kiki sedang sepi sebab semua penghuni kamar yang indekost disana sedang sibuk melakukan aktivitasnya masing-masing, seperti bekerja ataupun kuliah. Jadi, ia tidak perlu malu sebab tidak akan ada yang melihat betapa jelek wajahnya saat sedang menangis.


Tangis Dilla terdengar tertahan. Entah mengapa, dadanya terasa sesak setiap kali mengingat perkataan Riza.


Bagi Dilla yang hanyalah seorang gadis miskin, perkataan Riza tempo hari sungguh sangat melukai harga dirinya.


Dilla melirik ke arah ponsel yang sedari tadi dipegangnya. Tiga puluh panggilan tak terjawab dan sepuluh pesan dari Riza muncul di layar.


Dilla hanya termangu menatap ke arah layar ponselnya dengan mata yang mulai sembab.


--------


"Dilla..."


"Dilla..."


Riza menggumam pelan sesaat sebelum membuka matanya. Dengan cepat bola matanya memindai sekeliling ruangan tempat dimana ia terbangun.


Saat mata Riza telah terbuka dengan sempurna, ia melihat seorang wanita tengah menatap dirinya. Entah sejak kapan wanita itu berdiri disana.


"Akhirnya kamu bangun juga!" sapa wanita itu.


Riza mengerjap-ngerjapkan matanya heran menatap wanita yang ada di depannya.


"Kamu tadi pingsan di bandara. Aku dan petugas membawa kamu ke sini. Sudah hampir empat jam kamu tertidur.", sambung wanita itu.


Riza hanya diam. Ia terlihat malas menanggapi perkataan wanita asing yang ada di depannya.


"Sebentar ya aku panggil dokter dulu!" jawab wanita itu cepat.


Wanita tersebut pun keluar. Tak berapa lama, dokter beserta wanita tersebut memasuki ruangan untuk memeriksa keadaan Riza.


"Syukurlah keadaan anda sudah stabil. Saya akan catatkan resep. Silahkan anda tebus di apotek," kata dokter.


"Terima kasih dokter. Apa saya sudah boleh pulang sekarang?" sahut Riza


"Karena kondisi anda sudah stabil, saya kira anda sudah boleh pulang. Jangan lupa minum obat dan perbanyak istirahat."


"Baik dokter. Terima kasih!" ucapnya.


Dokter pun berlalu pergi meninggalkan Riza.


"Akhirnya dokter ngebolehin kamu pulang," ucap wanita tersebut.


Riza yang malas berbasa-basi segera beranjak turun dari ranjang tanpa menanggapi ucapan wanita di sebelahnya.


"Oh, iya. Kenalin aku Nana!" Nana menyodorkan tangannya pada Riza.


Riza berhenti kemudian melirik sekilas tangan Nana yang terulur.


"Aku Riza. Terima kasih sudah membawaku ke sini!" ucap Riza datar tanpa menyambut uluran tangan Nana.


Nana menatap Riza lama.


"Ganteng sih. Tapi sombong banget!" batinnya.


Riza segera berlalu pergi meninggalkan Nana yang masih mematung dengan tangan terulur.


Sebelum keluar, Riza menyelesaikan administrasi rumah sakit terlebih dahulu. Nana terus mengikuti langkah Riza dari belakang.


"Oke. Sampai ketemu lagi Riza!" Nana tersenyum ke arah Riza sesaat setelah Riza menyelesaikan administrasinya.


Nana pun pergi meninggalkan Riza dengan melambaikan tangan ke arahnya. Sementara Riza hanya diam saja dengan wajah datarnya.


Riza pulang dengan menaiki taksi. Saat melewati pintu keluar rumah sakit, ia melihat Nana sedang berdiri di pinggir jalan.


Supir taksi menepikan mobilnya. Riza turun dan menghampiri Nana.


"Ayo ikut taksi ku!. Aku antar!." ucap Riza datar.


"Terima kasih!" jawab Nana tersenyum.


Didalam taksi, mereka hanya diam. Sesekali Nana melirik ke arah Riza.


"Aku ralat ucapanku. Ternyata dia orang yang baik!" batinnya saat melirik ke arah Riza.