
Sesampainya di kamar, perlahan Riza membaringkan Dilla di ranjang.
Riza membelai rambut Dilla lembut seraya berkata, "Istirahatlah. Dan ingat, jangan pernah melakukan hal bodoh yang dapat melukaimu seperti tadi. Kamu tidak boleh terluka tanpa seizin dariku."
cup...
Riza mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Dilla. Dilla membeku seketika. Sesaat kemudian, Riza berlalu pergi meninggalkan Dilla dengan sebuah senyum manis di bibirnya.
Perkataan Riza barusan kembali terngiang di telinga Dilla. Entah mengapa, ucapan Riza kali ini terdengar sangat manis dan merdu di telinganya.
Kamu tidak boleh terluka tanpa seizin dariku!. Akh, mas Riza apaan sih. Hemm..
Dilla mesem-mesem seraya berguling-guling kegirangan di ranjang besar miliknya. Seketika rasa sakit di pipinya menghilang.
Setelah menutup pintu kamar Dilla, Riza bergegas menuruni anak tangga menuju ke arah garasi untuk mengambil tas ransel milik Dilla yang masih teronggok di sana.
Sesaat setelah mengambil tas, Riza merasakan getaran dari balik saku tas milik Dilla. Riza meraih ponsel Dilla. Terlihat nama Bu Kades di layar. Riza pun segera menjawab panggilan telepon tersebut.
"Halo, Assalamu'alaikum kak!" terdengar suara Syifa dibalik ponsel.
"Halo, Wa'alaikumsalam!" sambut Riza.
Syifa terlihat bingung saat mendengar suara seorang pria menjawab ponsel milik kakaknya, "Halo. Ini nomor ponselnya kak Dilla, kan?"
"Iya, ini siapa?"
"Saya Syifa adiknya. Mas siapa ya?"
"Oh, Syifa. Ini mas Riza yang bicara," jelas Riza.
"Oh, Mas Riza toh . Maaf mas, Syifa ndak tahu."
"Tidak apa."
"Sebenarnya Syifa mau bicara penting sama mas Riza. Tapi, Syifa bingung bagaimana cara ngomongnya."
"Ada apa?"
Riza mendengarkan perkataan Syifa seraya berjalan ke arah sofa dengan menenteng tas ransel milik Dilla di tangannya. Riza tampak serius dan menegakkan posisi duduknya saat mendengarkan cerita Syifa.
"Baik, Syifa. Mas mengerti. Kamu jaga saja ibu baik-baik di sana. Nanti mas akan carikan jalan keluarnya."
"Terima kasih yo, Mas. Tolong rahasiakan ini dari kakak. Pokok'e kak Dilla ndak boleh sampai tahu yo mas."
"Iya."
Riza pun membuka tas Dilla dan memasukkan kembali ponsel Dilla kedalam tasnya.
Saat memasukkan ponsel, tiba-tiba sebuah pikiran iseng muncul di kepala Riza. Riza yang penasaran dengan Dilla berniat untuk membongkar isi tas Dilla. Riza menarik ke luar buku jurnal milik Dilla dari dalam tas. Riza terkagum-kagum saat melihat buku catatan istrinya yang sangat rapi, bersih dan runtut tersebut. Terlihat Dilla memang seorang mahasiswi yang cerdas. Sesaat kemudian, perhatian Riza teralihkan pada sebuah paper bag kecil yang tersimpan rapi di dalam tas.
Riza membuka isi paper bag tersebut. Terlihat sebuah kotak kecil dengan sebuah gulungan kertas didalamnya. Dengan cepat tangan Riza membuka gulungan kertas tersebut kemudian membacanya.
[Aku mencintaimu Dilla. Selalu untuk selamanya. From: Fahmi]
Riza membuang dengan kasar kertas kecil beserta isinya tersebut ke dalam keranjang sampah.
"Dasar pria menyebalkan. Berani sekali dia menyatakan cinta pada istriku," hardik Riza kesal.
Selanjutnya, Riza mengambil secarik kertas lalu menuliskan sesuatu di sana. Entah apa yang ditulis oleh Riza diatas kertas putih itu. Seraya menulis, terlihat sebuah senyuman terbit di bibirnya. Setelah tulisannya selesai, Riza segera melipat kertas itu dengan rapi lalu menyelipkannya di dalam jurnal milik Dilla.
--------
Mobil Nana pun kini telah terparkir rapi di depan kedai. Nana mengganti pakaian tertutupnya dengan pakaian yang sedikit terbuka dan lumayan ketat sehingga menampilkan lekuk indah tubuhnya. Nana melangkah masuk dengan mengenakan kacamata hitam seraya menenteng sebuah tas tangan mungil di tangannya.
Nana melenggak lenggokkan pinggulnya bak model saat memasuki pintu. Semua mata memandang ke arahnya. Nana terlihat sangat mempesona. Nana berjalan ke arah kasir untuk memesan pesanannya lalu membayarnya.
Kasir segera membuatkan pesanan Nana. Tak berselang lama, pesanan Nana pun selesai. Kasir memanggil nama Nana.
Saat Nana sedang melangkah. Tiba-tiba tak disengaja seorang pelayan wanita menabraknya hingga menumpahkan segelas kopi hangat tepat ke atas kemeja hitam yang dikenakan Nana. Nana berteriak kepanasan.
"Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja," ujar pelayan tersebut seraya menyeka kemeja Nana dengan tisu.
Nana menghempaskan tangan pelayan tersebut dengan kasar.
"Maaf. Maaf. Loe kira dengan minta maaf semua bisa selesai gitu aja!. Hah?!" sinis Nana.
"Maaf, Mbak." Pelayan terdengar mulai terisak.
"Eh, denger ya. Maaf loe itu nggak bakal bisa gantiin kemeja mahal gue yang udah loe tumpahin kopi ini, paham loe!. Dasar pelayan kampungan. Nggak becus. Panggil bos loe kesini!. Cepat!!" bentak Nana.
Tak berselang lama, datanglah seorang pria mengenakan jas biru berjalan menghampiri Nana.
"Saya manager di kedai ini. Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"
"Oh, jadi loe manager di sini. Kalau rekrut karyawan yang bener dong. Loe tau, karyawan loe ini udah numpahin kopi ke baju gue!" hardik Nana.
Manager pun kemudian berkata dengan tenang, "Maaf, Mbak. Begini saja, sebagai ganti rugi kami akan memberikan voucher gratis makan dan minum buat mbak selama satu bulan penuh dan juga mbak tidak perlu membayar pesanan mbak yang tadi."
Nana mengerutkan keningnya, "Apa loe bilang?. Loe kira gue pengemis?. Loe nggak tahu siapa gue?. Gini aja, pokoknya gue nggak mau tau, gue mau pelayan loe yang kampungan ini di pecat sekarang juga!" perintah Nana.
"Maaf. Tapi mbak tidak punya wewenang untuk memecat karyawan saya."
"Baik. Loe nggak tau gue ini siapa?. Hah?!. Gue ini model terkenal dan followers gue itu ada puluhan juta. Sekali aja gue berkoar di sosial media. Kedai kopi loe ini, gue pastiin bakalan gulung tikar. Mau loe?!" ancam Nana.
Pelayan melotot kaget. Manager menelan ludahnya ketakutan saat mendengar ancaman Nana.
"Maaf, Mbak. Jangan pecat saya mbak. Saya punya keluarga di rumah. Kalau saya di pecat keluarga saya makan apa, Mbak."
"Eh, kalau maaf loe itu ada gunanya. Buat apa ada polisi segala!. Gini aja, kalau loe nggak mau di pecat. Sekarang juga loe berlutut di depan gue!. Buruan!!" perintah Nana seraya tersenyum penuh kemenangan.
Pelayan bertambah kaget. Semua mata pengunjung mengarah ke arah mereka seraya berbisik. Bahkan sebagian pengunjung terlihat mengabadikan momen tersebut dengan telepon genggam mereka masing-masing.
Tangan pelayan wanita itu mengepal dan menggenggam kuat apron yang dikenakannya seraya sedikit menekuk lututnya untuk berlutut dihadapan Nana yang sedang berdiri angkuh didepannya.
Tiba-tiba tangan seorang pria terlihat menegakkan kembali tubuh pelayan wanita tersebut berdiri lalu berkata, "Eh, perempuan gila!. Loe tuh apa-apaan sih. Loe kagak malu apa dilihatin sama orang-orang. Emang loe tuh siapa berani nyuruh ini cewek berlutut ke elo di depan umum kayak gini."
"Loe lagi, loe lagi. Loe itu nggak usah sok pahlawan. Minggir!!" usir Nana pada Niko.
Niko sedari tadi berdiri memperhatikan tingkah Nana dari kejauhan. Niko pun segera menghampiri Nana karena ia sudah merasa tidak tahan melihat tingkah Nana yang menyebalkan dan semena-mena itu.
"Meskipun bokap loe itu pangkatnya Jenderal atau bahkan Presiden sekalipun. Kalau cewek ini di pecat, emangnya bokap loe mau biayai hidup keluarga nih cewek. Hah?!"
"Loe jangan bawa-bawa bokap gue, ya!" geramnya seraya menunjuk Niko tepat di hidungnya.
"Awas loe!" ujar Nana kemudian.
Nana pun menarik kasar pesanannya dari atas meja kasir lalu berlalu pergi meninggalkan kedai kopi itu dengan raut wajah kesalnya.
Selanjutnya, Nana membanting pintu mobil dengan kasar lalu melajukan mobilnya kencang membelah jalanan ibukota.