
Semarang
"Bagaimana, Nak?. Sudah ada kabar dari kakak dan Mas mu?" tanya ibu Dilla dengan rasa kekhawatiran yang mendalam saat memikirkan pasal puteri sulungnya yang hingga saat ini masih belum juga memberikan kabar padanya.
Syifa menggeleng lemah.
"Bagaimana ini?. Ibu khawatir sekali. Apa kakakmu tidak memberikan nomor lain yang bisa di telepon?"
Syifa kembali menggelengkan kepalanya dengan wajah tertunduk dalam. Perlahan Syifa pun mendekat ke arah ibunya lalu merangkul tubuh renta ibunya itu dengan sebuah pelukan hangat yang cukup ampuh untuk menenangkan ibunya dari rasa khawatir.
"Kita berdoa saja ya, Bu," ucap Syifa saat menyudahi pelukannya. "Syifa yakin, kakak pasti baik-baik aja disana. Kan ada Mas Riza, jadi Ibu ndak usah cemas ya."
Ibu mengangguk pelan meskipun didalam hatinya, ibu masih sangat mencemaskan bagaimana keadaan puterinya itu saat ini.
------
Surabaya
Niko merebahkan tubuhnya sembari memainkan ponsel di atas ranjang hotel setelah beberapa saat yang lalu ia selesai membersihkan diri sehabis pulang dari pemakaman.
Niko menempelkan gawai di telinga, menunggu panggilan telepon darinya tersambung di ujung sana.
"Halo." Suara parau mami terdengar di telinga Niko.
"Halo tante Anita. Ini Niko, Tan."
"Niko?!. Darimana kamu tahu nomor telepon rumah tante?"
"Dari temen. Tante apa kabar?. Gimana keadaan Riza, Tan?"
"Ba-ba-baik. Tante sama Riza baik-baik aja kok disini."
"Syukurlah. Anu, Tan. Niko mau tanya, apa Tante udah ketemu sama Dilla?"
"Maksud kamu?"
"Maksud Niko, apa Dilla udah nyampe di rumah tante?"
Mami terhenyak.
Apa?!. Jadi Dilla ke Belanda?!, batin mami.
"Soalnya Niko khawatir Tan, sejak Dilla pergi nyusulin Riza ke Belanda, Dilla nggak ngasih kabar dan nggak bisa dihubungi. Niko takut Dilla kenapa-napa, Tan."
Mami diam.
"Tante udah ketemu kan sama Dilla?. Dilla baik-baik aja kan, Tan?"
Hening.
"Halo, Tan. Halo. Halo. Tante."
"Ehmm, iya. Udah dulu ya, Niko. Nanti kita sambung lagi. Soalnya tante lagi buru-buru, mau keluar sama om."
"Oh, ya udah. Nanti Niko telepon Tante lagi. Niko kirim salam ya Tan, sama Om dan Riza."
"Oke. Bye, Niko."
"Bye, Tante."
Mami segera memutus sambungan telepon Niko hingga membuat Niko mengernyit heran.
"Aneh. Apa beneran Dilla udah ketemu Riza, ya?" gumam Niko lirih. "Ya udah deh, nanti malam gue coba telepon lagi aja."
Sedetik kemudian Niko tiba-tiba kembali mengingat pertemuannya tadi siang dengan Nana di pemakaman.
"Bukannya tuh cewek sinting diculik, ya?. Kok dia bisa disini?. Sebenernya ada hubungan apa sih tuh cewek sama almarhum Bayu?"
"Ah, bodo amatlah. Yang harus gue pikirin sekarang itu gimana kabar si Dilla di Belanda. Kalau Dilla belum ketemu Riza gimana coba?. Gue beneran takut Dilla kenapa-napa disana."
Niko menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan sembari berjalan menuju ke arah balkon kamar hotel. Matanya terpaku, menatap langit dengan helaan nafas yang terdengar berat.
------
Belanda
Di rumah sakit, pihak polisi masih terus menginterogasi Riza. Sudah satu jam polisi mencoba menanyai pria didepannya itu dengan berbagai pertanyaan ini dan itu. Namun, Riza hanya diam seribu bahasa. Hingga membuat polisi tampak murka dan tak henti memaki pria didepan mereka itu.
"Hei, Tuan. Setidaknya sebutkan siapa namamu pada kami. Apa kau bisu?. Kau tidak mengerti apa yang aku katakan?. Bicaralah."
Riza diam dengan tatapan bingung.
"Borgol saja dia. Kita bawa dia ke kantor polisi. Merepotkan saja," ucap seorang opsir polisi berbadan tegap kepada rekan sesama polisi yang berdiri disebelahnya.
Opsir polisi bermata hazel itu pun segera mengeluarkan borgol miliknya. Riza hanya diam saja saat polisi memborgol pergelangan tangannya dan memaksanya untuk ikut bersama dua opsir polisi itu.
Di salah satu ruangan, Thomas sedang bersiap untuk membawa Aldrich keluar dari rumah sakit. Dengan sigap Thomas mendorong kursi roda yang diduduki oleh Aldrich perlahan keluar dari ruangan.
"Ah, akhirnya aku keluar dari tempat menyebalkan ini. Aku tidak percaya, waktu tiga bulan berhargaku harus aku habiskan di tempat ini. Aku benci aroma rumah sakit. Semoga aku tidak kembali lagi kesini."
"Saya ikut senang Tuan sudah bisa pulang," balas Thomas.
"Tidak perlu menunjukkan rasa empati mu kepadaku. Aku tidak butuh. Kau pikir aku akan mengucapkan terima kasih. Jangan harap."
Thomas tersenyum tipis sembari mendorong kursi roda Aldrich.
Thomas menghentikan laju kursi roda.
"Ada apa Tuan?"
"Bukankah itu suami Dilla yang galak itu. Sedang apa dia disini?. Kenapa ada polisi disana?"
Thomas memandang ke arah mata Aldrich memandang.
"Tunggu!" teriak Aldrich hingga membuat dua orang opsir polisi itu memutar tubuh mereka ke arah Aldrich.
Thomas segera melajukan kembali kursi roda Aldrich mendekat ke arah polisi.
"Selamat sore, pak," sapa Aldrich.
"Selamat sore, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" sahut opsir polisi dengan sopan.
"Maaf, pak. Mau dibawa kemana orang ini?"
"Anda siapa?. Apa anda mengenal orang ini?"
Aldrich mengiyakan.
"Kebetulan dia teman saya dari Indonesia. Ada apa dengan dia, Pak?" ujar Aldrich sambil menunjukkan tanda pengenal miliknya.
Polisi melihat tanda pengenal Aldrich lalu menjelaskan panjang lebar pada Aldrich perihal Riza.
Sambil mendengarkan penjelasan polisi, Aldrich memperhatikan penampilan Riza dari kepala hingga ujung kaki. Riza terlihat berbeda dari Riza yang ia kenal.
Wajah tirus Riza yang setengah memucat dengan mata cekung dan lingkaran hitam dibawah mata itu pun tak luput dari pandangan Aldrich.
Apa yang terjadi dengan pria ini?. Apa yang dilakukannya di Belanda?. Lalu, Dilla. Dimana Dilla?, batin Aldrich sembari terus memperhatikan Riza.
Sementara itu, Thomas pun turut berusaha untuk meyakinkan polisi agar mengizinkan Aldrich membawa Riza dengan terlebih dahulu memberikan identitas Thomas dan Riza sebagai jaminan kepada polisi.
Setelah polisi setuju, Riza pun dibawa oleh polisi menuju ke arah mobil Aldrich.
Didalam mobil, Aldrich melirik Riza yang masih diam membisu disampingnya.
Aldrich menoleh lagi pada Riza kemudian berdehem pelan, "Oh, ya ngomong-ngomong dimana Dilla?. Bagaimana kabarnya?"
Riza dan Thomas sama-sama tersentak. Thomas terlihat melirik kebelakang dari kaca spion diatasnya. Sementara Riza tampak menoleh pada Aldrich dengan tatapan kosong kemudian menggumam pelan menyebutkan nama Dilla dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Ada apa dengan si galak ini?. Kenapa dari tadi dia diam saja?, batin Aldrich aneh.
Aldrich merasa heran. Pasalnya biasanya setiap kali Riza bertemu dengan Aldrich, Riza selalu memandang Aldrich dengan memasang wajah datar dan tidak bersahabat.
Tidak hanya itu, bahkan Riza akan membalas setiap ucapan Aldrich dengan ketus dan sarkas. Namun, tidak kali ini. Kali ini Riza hanya diam dan tidak menoleh bahkan tidak bergeming sedikitpun dengan ucapan Aldrich yang sudah sedari tadi ia cetuskan pada Riza.
"Apa langkah Tuan selanjutnya?. Apa yang akan kita lakukan sekarang, Tuan?" tanya Thomas tiba-tiba.
Aldrich mendengus kesal lalu mengalihkan pandangannya kearah Thomas yang sedang mengemudi didepan Aldrich.
"Diamlah. Kau tidak lihat kalau aku sedang berpikir!" jawab Aldrich setengah kesal pada Thomas.
"Maaf, Tuan."
"Apa yang harus aku lakukan sekarang pada si galak ini?" gumam Aldrich lirih.
"Bagaimana kalau Tuan Riza saya bawa ke rumah saya saja Tuan. Sementara Tuan tinggal saja di hotel. Bagaimana Tuan?"
"Apa?!. Kau gila?!. Aku tidak mau tinggal di hotel sendirian. Aku ikut ke rumahmu."
Astaga. Bagaimana ini?. Aku tidak mau Tuan Aldrich sampai bertemu dengan Nona Dilla.
"Ta-ta-tapi, Tuan."
"Kau berani membantahku?!" bentak Aldrich.
"Bukan begitu, Tuan. Hanya saja, Tuan kan tahu kalau rumah saya itu sempit dan kumuh. Tuan pasti tidak akan betah. Lebih baik Tuan tinggal di hotel saja." Kilah Thomas mencoba meyakinkan Aldrich agar menarik ucapannya barusan.
"Lalu kau lebih rela membiarkan aku mati di hotel sendirian. Begitu?!"
"Maaf, Tuan. Bukan begitu maksud saya. Begini saja, bagaimana kalau saya tinggal bersama dengan Tuan dan Tuan Riza di hotel. Bagaimana Tuan?"
Aldrich menautkan kedua alisnya, menatap Thomas dengan tatapan curiga, "Katakan sejujurnya padaku. Apa masalahmu?. Kenapa kau bersikeras sekali menyuruhku untuk tinggal di hotel?. Jawab?!"
Thomas terdiam.
"Dasar menyebalkan!" umpat Aldrich pada Thomas.
Sesaat berikutnya, Aldrich melirik kearah Riza, "Dimana Dilla?. Apa Dilla tidak ikut bersamamu kesini?" tanya Aldrich kembali.
Riza menggumam lirih menyebutkan nama istrinya.
Aldrich menajamkan telinganya sambil menatap Riza, "Kau bilang apa?"
Hening.
Aldrich mendengus kesal, "Membuat kesal saja. Orang-orang di sekelilingku benar-benar menyebalkan."
Dari balik kemudi, Thomas hanya diam mendengarkan tiap ocehan dan umpatan tuannya yang ditujukan kepada Riza.
Thomas pun tidak kuasa menahan keinginan Aldrich kali ini untuk tinggal di rumahnya. Thomas pun hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya saat Aldrich kembali bertemu dengan Dilla disana.