
Setengah jam berlalu akhirnya Aldrich pun sadarkan diri. Thomas menatap tuannya yang masih meringis sedikit kesakitan itu dengan tatapan khawatir.
"Ini Tuan. Silahkan diminum. Syukurlah tuan sudah sadar."
Thomas menyodorkan segelas air pada Aldrich. Dengan perlahan Aldrich meneguk air tersebut untuk melegakan dahaga di tenggorokannya.
"Bawakan aku makanan. Aku lapar," ucap Aldrich saat mengembalikan gelas air yang kosong pada Thomas.
"Baiklah Tuan. Tuan tunggu disini. Saya akan kembali."
"Hemm."
Thomas segera melangkah keluar kamar Aldrich untuk menemui Henzhie yang tengah melamun di ruang tamu menghadap ke arah jendela besar rumah mereka.
Thomas memperhatikan Henzhie dari kejauhan. Henzhie tampak sedih dan murung.
Dahi Thomas mengernyit saat melihat Henzhie menghela nafas berat seperti ada sesuatu yang ia pikirkan.
Benar saja, Suasana hati Henzhie saat ini memang sedang kacau setelah beberapa saat lalu ia mengetahui kalau Riza adalah suami yang selama ini Dilla cari.
Dunia memang tidak adil. Bagaimana bisa pria yang ia sukai sejak lama ternyata sudah menikah. Wajar saja kalau Riza menikah, Riza orang yang baik dan pasti banyak gadis yang menginginkannya untuk menjadi seorang suami.
Thomas menyentuh bahu Henzhie lembut, membuat Henzhie sedikit terperanjat dari lamunan. Ia memutar tubuhnya seketika menghadap Thomas.
"Ada apa, Thom?"
"Kau baik-baik saja?"
Henzhie mengangguk dengan senyuman tipis. Thomas memperhatikan gerak-gerik Henzhie dengan seksama dan semakin yakin kalau ada sesuatu yang aneh dengan saudarinya itu.
"Jangan melihatku seperti itu. Aku baik-baik saja, Thom. Kau tidak perlu cemas. Bagaimana keadaan Aldrich?"
"Tuan Aldrich sudah sadar. Terima kasih sudah menolongnya. Tidak sia-sia aku mempunyai dokter pribadi di rumah ini," ujar Thomas tersenyum.
Henzhie membalas senyuman Thomas.
"Tapi, Thom sampai kapan dia disini?"
"Kau tenang saja. Aku akan berusaha membujuk Tuan Aldrich agar pindah dari rumah ini. Oh ya, dimana nona Dilla?"
"Ada di kamar sedang bersama suaminya."
"Mereka sudah bertemu?"
Henzhie mengangguk dengan wajah yang menekuk sedih.
Aku tidak tahu harus ikut bahagia atau sedih melihat mereka, bisik Henzhie dalam hati.
"Apa makan malam sudah siap?" tanya Thomas melanjutkan.
Henzhie tidak menjawab. Ia masih larut dalam lamunannya.
Thomas kembali menyentuh bahu adiknya hingga membuat Henzhie terkesiap.
"Apa yang sedang kau pikirkan?. Kau baik-baik saja kan?. Kau tidak perlu cemas tentang Tuan Aldrich. Aku akan membujuknya bagaimanapun caranya. Kau tenang saja."
Henzhie tersenyum tipis.
Beralih ke kamar Dilla.
Setelah Riza mandi dan berganti pakaian. Dilla mengajak Riza duduk di pinggiran ranjang. Kebahagiaan tampak jelas di wajah Dilla saat ini.
Jejak air mata masih terlihat di pipi gadis itu saat memandang wajah pria yang ada didepannya. Berulangkali ia mengusap wajah tirus suaminya dan mengecup punggung tangan pemilik hatinya itu dengan lembut.
Serangkaian hal yang sudah lama ingin ia lakukan. Entah sudah berapa kali ia mengucapkan rasa syukurnya kepada Tuhan. Ia masih tidak percaya bahwa akhirnya ia dapat memandang wajah yang teramat dirindukannya itu.
"Mas baik-baik saja kan, Mas?. Mas kok kurusan?" ucap Dilla khawatir.
"Saya cemas tahu nyariin mas di Belanda. Saya seneng akhirnya bisa ketemu sama Mas. Mas jangan pergi lagi, ya?. Jangan tinggalkan saya lagi. Saya nggak sanggup hidup tanpa kamu, Mas."
Riza hanya diam dan menatap wajah istrinya lekat tanpa berkata apapun. Entah kenapa, ia merasakan sebuah gejolak dalam dirinya yang membuatnya merasa nyaman dan bahagia dengan tiap sentuhan gadis itu.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Riza lemah sambil menatap Dilla intens.
Riza melanjutkan, "Kenapa kamu selalu muncul dimanapun?. Bahkan dalam mimpiku."
"Saya Dilla. Saya istri kamu, Mas. Kamu ingat kan?"
"Dilla?. Aku tidak ingat sama sekali, kalau aku pernah menikah. Bagaimana bisa aku punya istri?"
Deg!!!
Kalimat Riza bagaikan duri tajam yang menusuk hati Dilla. Ia tidak menyangka bahwa ternyata suaminya itu belum sembuh sepenuhnya.
Dilla mengungkapkan kesedihan hatinya dengan air mata yang kembali menetes dari sudut matanya saat menyadari bahwa Riza masih dalam kondisi tidak baik.
Riza mengusap pipi Dilla untuk menghapus jejak air mata yang mengaliri wajah istrinya itu. Dilla menyambut perlakuan Riza dengan sebuah senyuman manis di wajahnya. Senyuman yang menggetarkan hati Riza saat itu juga.
Sekelebat bayangan aneh pun kembali muncul. Bayangan momen kebersamaan mereka terlihat jelas diingatan Riza. Bayangan yang selalu muncul dan menemani pikirannya dimana pun ia berada.
Riza meringis kesakitan saat merasakan rasa sakit yang kembali menyerang kepalanya.
"Mas. Mas kenapa?" Dilla mulai khawatir.
Tiba-tiba Riza mendorong Dilla menjauh dari hadapannya hingga membuat Dilla tersentak kaget.
"Pergi. Pergi!!!" teriak Riza ketakutan.
"Kamu kenapa, Mas?"
"Menjauh dariku. Jangan mendekat!!!"
Riza berlari ke arah pintu lalu menarik gagang pintu didepannya. Tepat saat itu, Henzhie sedang berjalan ke arah kamar. Riza terus berlari dan berteriak hingga tanpa sadar menabrak Henzhie hingga mereka berdua jatuh tersungkur ke lantai dengan posisi Riza berada di atas Henzhie.
Mata Henzhie membelalak kaget saat menyadari siapa orang yang berada diatas tubuhnya saat ini.
Beberapa detik Henzhie merasakan jantungnya berdegup kencang saat menatap wajah Riza sebelum akhirnya Dilla menarik Riza bangkit berdiri dari atas tubuh Henzhie.
"Mas. Mas, baik-baik saja kan?"
Sesaat berikutnya, Dilla membantu Henzhie bangkit, "Kamu baik-baik saja kan?"
Henzhie mengiyakan.
Dilla kembali mendekat pada Riza. Namun, Riza justru mendekat ke arah Henzhie dan mendorong Dilla menjauh darinya. Riza berlindung di belakang Henzhie.
Melihat itu Henzhie pun menjadi bingung.
"Ada apa ini?" tanya Henzhie pada Dilla.
"Jauhkan dia. Dia orang jahat," Tunjuk Riza ke arah Dilla.
Dilla terdiam.
Henzhie menautkan alisnya. Ia semakin bertambah bingung. Otaknya tidak mampu mencerna apa yang terjadi pada kedua insan itu saat ini.
"Mas. Mas kenapa?. Saya bukan orang jahat. Saya isteri kamu, Mas."
Tanpa sadar Riza merangkul pinggul Henzhie dari belakang selayaknya seorang anak yang meminta perlindungan dari ibunya. Tak ayal, hal itu membuat Henzhie membeku dan terpaku di atas lantai tempatnya berdiri saat ini. Wajah Henzhie pun kian bersemu merah.
Dilla mendekat dan berusaha melepaskan rangkulan Riza di tubuh Henzhie dengan air mata yang sudah menetes di pipinya. Namun, Riza tak bergeming sedikitpun meskipun Dilla sudah berusaha membujuk dan berbicara lembut padanya.
Sesaat kemudian, Henzhie memutar tubuhnya menghadap Riza. Henzhie berbicara pada Riza menggunakan bahasa Belanda, membuat Dilla sangat kesulitan untuk memahami pembicaraan kedua orang tersebut.
Dilla memperhatikan Riza lekat. Terlihat dari gerak-geriknya, sepertinya Riza sudah mulai sedikit tenang.
Henzhie menoleh kembali pada Dilla, "Sebentar, ya. Kamu tunggu disini."
"Tapi--" jawab Dilla lemah.
"Aku bawa dia ke kamar dulu. Kamu jangan ikut."
Henzhie pun segera mengajak Riza kembali ke kamar. Mata Dilla tak berpaling sedikitpun dari lengan Riza yang tampak merangkul pinggang ramping Henzhie dari belakang.
"Tapi--" gumam Dilla lirih dan sedih ketika melihat kedua insan itu melintas dihadapannya.
Riza melirik Dilla sekilas dengan sorot mata yang sulit diartikan saat matanya kembali beradu tatap dengan bola mata indah istrinya.
Dilla hanya diam mematung sambil memandang punggung Henzhie dan Riza yang semakin menjauh meninggalkannya di belakang.