My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/60



Thomas tampak berdiri mematung membelakangi pintu kamar Aldrich. Entah apa yang dipikirkan oleh Thomas, terlihat Thomas menerawang jauh memandang ke arah jendela kaca yang ada didepannya.


“Thomaaas!!” teriak Aldrich dari dalam kamar.


“Thomaaas!!” Aldrich kembali berteriak. Namun, sepertinya Thomas terlalu sibuk dengan lamunannya sehingga tidak mendengarkan teriakan Aldrich yang sedari tadi memanggil namanya.


Sementara itu, di dalam kamar, Aldrich lagi-lagi menggerutu kesal karena Thomas yang tidak kunjung menjawab panggilannya sejak tadi. Sanking tidak sabarnya, Aldrich pun segera membuka pintu dengan kasar, kemudian berjalan mendekat ke arah Thomas yang terlihat masih berdiri tegak membelakangi kamar Aldrich.


Aldrich menggeleng lalu menepuk bahu Thomas. Refleks Thomas memelintir tangan Aldrich hingga membuat Aldrich berteriak kesakitan. Saat menyadari bahwa yang tengah berteriak adalah Aldrich, Thomas pun cepat-cepat melepaskan pelintiran tangannya. Sesaat setelah Thomas melepaskan tangannya, Aldrich menatap Thomas dengan kesal.


“Maafkan saya, Tuan.” Thomas menunduk ketakutan.


Aldrich hanya mampu mendengus kesal dan tidak membalas sedikitpun perbuatan Thomas barusan. Pasalnya, Aldrich sama sekali tidak menguasai ilmu bela diri apapun hingga dapat dipastikan jika ia membalas, maka ia-lah yang akan habis oleh Thomas yang notabene menguasai segala jenis ilmu bela diri ditambah lagi dengan bentuk badan Thomas yang sangat kekar dan berotot. Membuat Aldrich bergidik ngeri hanya dengan membayangkannya.


“Kau ini ditugaskan oleh Daddy untuk menjagaku. Bisa-bisanya kau menghajarku seperti tadi,” bentak Aldrich dengan berkacak pinggang.


“Maafkan saya, Tuan. Saya terkejut dan refleks sebab tiba-tiba Tuan memegang bahu saya. Sekali lagi saya minta maaf, Tuan.” Thomas menundukkan kepalanya dalam.


Aldrich masih memegangi tangannya yang terasa sedikit nyeri bekas dari cengkeraman tangan Thomas, “Sudahlah, aku bosan mendengar kata-kata maafmu. Apa mulutmu itu tidak bisa mengucapkan kata-kata lain selain ‘maaf’?. Menyebalkan sekali,” gerutu Aldrich yang masih terlihat kesal.


Thomas semakin menunduk dalam.


“Bereskan kamarku sana!. Hari ini aku mau jalan-jalan ke luar. Kau tinggal saja di rumah, tidak perlu mengikutiku. Kau bereskan saja kamarku dengan rapi.”


“Tapi, Tuan-” bantah Thomas.


Aldrich melotot tajam, “Kalau kau tidak mau diajak bekerjasama. Aku akan laporkan perbuatan kasarmu padaku tadi ke Daddy. Biar kau dipecat. Mau?” Aldrich menaikkan sudut bibirnya mencoba mengintimidasi Thomas.


Thomas terdiam.


“Bagaimana?” tanya Aldrich kembali.


“Saya mohon Tuan jangan laporkan saya kepada Tuan Besar. Saya setuju dengan permintaan Tuan. Tapi, Tuan harus janji pada saya, kalau Tuan hanya melakukan ini kali ini saja. Dan Tuan harus menjaga diri Tuan baik-baik selama di luar sana.”


“Iya. Iya,” jawab Aldrich malas.


Sesaat kemudian, Aldrich melangkah menuruni anak tangga kemudian memasuki mobil mewahnya yang telah terparkir manis di depan rumah. Thomas menatap Aldrich dari atas balkon. Mobil pun melaju kencang melintasi jalanan komplek perumahan lalu menghilang dari pandangan Thomas.


Tak berapa lama, tibalah Aldrich di depan rumah Riza. Aldrich mencoba membuka gerbang, tetapi gerbang terlihat terkunci rapat. Alhasil, Aldrich pun hanya bisa pasrah menerima kenyataan bahwa rencananya untuk bertemu dengan Dilla hari ini kembali gagal.


Di tempat lain, Dilla terlihat sedang bersama Laras meracik dan memasak soto Semarang di rumah Laras. Hari ini Laras sengaja membuka warung sotonya sedikit agak lama sebab ia harus menunggu kedatangan Dilla terlebih dahulu tadi pagi. Kini Laras sudah mahir dalam memasak soto Semarang berkat resep yang pernah dituliskan oleh Dilla tempo hari. Dilla tersenyum bahagia dan tidak menyangka bahwa resep soto Semarangnya berhasil ia wariskan kepada Laras. Kebahagiaan mereka pagi itu pun berlanjut, seperti wanita pada umumnya, ketika bertemu pasti akan menceritakan banyak hal. Tak terkecuali, bagi Laras dan Dilla yang terlihat sedang sibuk berbincang sembari mempersiapkan masakan mereka.


“Bagaimana kabar ibu kamu, Dilla?”


“Alhamdulillah ibu baik, Mbak.”


“Syukurlah.”


“Hm.. Mbak, saya mau tanya. Tapi, mbak jangan ketawa ya. Janji loh?”


“Iya. Memangnya kamu mau tanya apa?”


“Mbak pernah ndak ditembak sama almarhum suami mbak?


“Maksudnya?”


“Maksud saya, almarhum suami mbak pernah nyatain cinta. Pernah ndak, Mbak?”


Laras menautkan alisnya, “Ya pasti pernah lah. Sebelum menikah, mbak dan mendiang suami mbak itu kan sudah saling kenal sejak lama.”


Laras tertawa, “Ini pasti ada apa-apanya. Kenapa?. Apa Riza nyatain cinta sama kamu?”


Dilla diam.


Laras melanjutkan, “Pertanyaan kamu itu lucu tau nggak. Kalau setelah menikah, suami itu menyatakan cinta ya pasti sudah biasa dong Dilla. Itu artinya dia bahagia memiliki kamu dan ingin kamu terus ada disampingnya. Itu juga salah satu pemanis dalam rumah tangga. Walaupun sering berantem, berdebat bahkan adu mulut sekalipun pasti ada masanya pasangan suami istri itu saling sayang-sayangan dan mesra-mesraan. Adakalanya kalimat-kalimat cinta dan rayuan itu penting buat penambah kehangatan dalam rumah tangga. Begitu. Jadi beneran Riza nyatain cinta sama kamu?”


Dilla gelagapan, “Hah?” Dilla tersenyum malu lalu melanjutkan, “Tapi kan mbak, bukannya laki-laki itu kalau ngomongnya tiba-tiba manis terus ngerayu bahkan bilang cinta cuma karena ada maunya. Bener toh Mbak?”


Laras kembali tertawa, “Rata-rata pasangan pasti melakukan itu memang karena ada maunya. Mau buat pasangannya seneng dan bahagia. Lagian mana ada sih pasangan yang mau berantem terus-terusan."


Dilla bertanya kembali, “Terus kan mbak, pasti mereka ngomong gitu juga ke perempuan lain di luar sana. Laki-laki itu memang ndak bisa di percaya. Kalau mereka itu udah dapet apa yang mereka mau, pasti deh kita itu dilupain trus dibuang. Awalnya aja bilang cintalah, sayanglah. Ujung-ujungnya--”


Laras menoleh ke arah Dilla, “Hussh. Kamu ini ngomong apa?. Jangan terlalu berprasangka buruk. Yang mbak tahu, tidak semua laki-laki seperti itu. Coba deh buka mata hati kamu tanpa prasangka apapun. Lihat segalanya itu lebih dekat supaya kamu bisa melihat dunia dari sisi yang berbeda.”


Dilla terdiam cukup lama mencoba mencerna kata-kata Laras barusan.


“Ya sudah. Ayo, kita berangkat. Nanti keburu siang!” ajak Laras membuyarkan pikiran Dilla yang mulai menerawang jauh.


Di tempat lain, Aldrich terlihat mengendarai mobilnya tanpa arah dan tujuan. Sesekali terdengar ia berteriak keras dan bernyanyi di dalam mobilnya mengikuti irama musik retro yang dinyalakannya sejak tadi. Karena merasa lapar, Aldrich pun memperlambat laju kendaraannya mencoba mencari-cari tempat makan yang enak disekitarnya menggunakan mesin pencarian internet yang ada di gawainya. Aldrich mengetik sesuatu di sana.


Laras dan Dilla kini telah berada di warung. Terlihat warung sangat padat pembeli. Ternyata warung Laras cukup tersohor hingga banyak orang yang rela mengantri lama hanya untuk memesan makanan khususnya soto Semarang di sana. Termasuk Aldrich yang terlihat ikut mengantri di warung tersebut. Semua mata pengunjung tertuju pada Aldrich. Wajah blasterannya membuat orang tercengang karena tidak biasanya seorang bule makan di warung pinggir jalan seperti itu.


Hingga akhirnya tibalah giliran Aldrich untuk memesan makanan. Aldrich terkejut sekaligus bahagia saat melihat Dilla berdiri dihadapannya.


“Dilla?. Kamu ngapain disini?” tanya Aldrich tersenyum sumringah.


“Lah, saya kan bantu-bantu di sini, Mister. Mister ngapain di sini?. Ndak nyangka bisa ketemu Mister di sini!" jawab Dilla seraya tersenyum.


Aldrich membuka kacamata hitamnya dan menarik kursi untuk duduk, “Ya makanlah. Aku juga tidak menyangka, akhirnya bisa ketemu sama kamu. Pantas saja sewaktu aku ke rumahmu, tidak ada orang. Ternyata kamu di sini.”


“Loh, Mister datang ke rumah saya?”


“Iya, tadinya aku ingin mengajakmu berkeliling, tapi kamu tidak ada di rumah. Kemarin juga aku ke rumahmu, tapi pria aneh yang mengaku suamimu tiba tiba mengusirku dengan galaknya. Menyebalkan sekali,” ucap Aldrich.


Dilla melotot kaget, “Hah?"


Ya ampun, mas Riza benar-benar, batin Dilla.


Dilla melanjutkan, "Ya sudah, Mister. Ndak usah dipikirkan. Oh iya, Mister mau pesan apa?”


“Emm. Aku pesan soto Semarang saja. Katanya soto di sini terkenal enak. Aku jadi ingin mencobanya.”


“Ya sudah. Mister tunggu sebentar ya. Biar saya siapkan.”


Selang beberapa waktu, Dilla pun datang dengan membawa sebuah nampan berisikan semangkuk soto Semarang beserta segelas teh hangat untuk Aldrich. Aldrich pun menyantap makanan yang terhidang di atas meja dengan lahap.


“Bagaimana, Mister?. Enak toh?” tanya Dilla saat kembali menghampiri Aldrich di mejanya.


Aldrich mengangguk, “Sejak tinggal di Indonesia, aku memang sangat suka sekali dengan soto Semarang. Tapi, baru kali ini aku mencicipi soto Semarang yang rasanya sangat enak dan sesuai dengan seleraku.”


Dilla tertawa, “Ah, Mister berlebihan. Kalau Mister mau, Mister boleh kok kapan-kapan main ke rumah saya. Nanti akan saya buatkan soto Semarang khusus buat Mister.”


“Benarkah?” Mata Aldrich membuka lebar.


Dilla mengangguk seraya tersenyum lebar, hingga menampilkan jajaran gigi putih kelinci miliknya yang persis sama seperti yang dilihat oleh Aldrich dalam mimpinya beberapa hari belakangan. Aldrich termangu menatap Dilla yang tampak masih tersenyum lebar ke arahnya. Tanpa mereka sadari, seorang pria dengan kacamata hitam pekat terlihat mengawasi gerak-gerik mereka dari kejauhan.