
"Apa-apaan sih Lo, Na?!. Gue kan udah bilang jangan singgung prasangka bodoh Bayu itu didepan bokap gue?!!" Niko mulai tersulut.
Sementara Ayah Niko terlihat sangat terkejut dengan apa yang baru saja disampaikan Nana.
"Pokoknya gue bakal usut kasus ini sampai selesai. Gue nggak bisa lihat Bayu nggak tenang disana gara-gara ini," sahut Nana.
"Maksud Lo apa?!"
"Om, saya pergi dulu. Makasih udah mau nyeritain semuanya. Saya pamit."
Dendi masih terlihat bingung.
"Sebentar!" suara Dendi menghentikan langkah Nana.
Nana memutar tubuhnya.
Dendi berkata, "Apa benar Bayu yang berkata seperti itu?"
"Hemm," Nana mengangguk mantap dengan sorot mata tajam, setelahnya ia pun pergi meninggalkan Niko dan Dendi dibelakang.
Niko mengungkapkan pada ayahnya kalau ayahnya tidak usah percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nana karena ia yakin semua itu hanyalah halusinasi Bayu saja.
Niko tetap kekeh kalau Dirwan tidak mungkin melakukan hal sekeji itu pada Ayah Riza. Niko meyakinkan ayahnya kalau semua yang dikatakan Nana tidak memiliki bukti yang konkrit. Jadi ayah Niko tidak perlu khawatir dengan yang diucapkan Nana.
Dendi menghela nafas panjang, "Sepertinya ayah perlu bicara dengan Om Dirwan."
Sesaat berikutnya, Dendi bergegas pergi ke kamarnya meninggalkan Niko seorang diri disana.
Niko meraup wajahnya kasar. Ia frustasi, tidak tahu harus melakukan apa kali ini.
...****************...
Dilla terlihat bahagia saat Riza menghadiahkan Dilla sebuah liontin dengan berhiaskan huruf 'R' diatasnya.
Dilla mengecup pipi Riza dan tersenyum lalu berkata, "Kalungnya bagus."
"Kamu suka?" tanya Riza sambil memeluk Dilla.
"Suka," jawab Dilla dalam pelukan Riza.
Riza pun terpaksa melepaskan pelukannya saat Anita tiba-tiba menarik Riza dari sisi Dilla.
"Ada apa Tante?!" tanya Riza heran.
"Bisa kamu keluar?. Saya mau bicara sama anak saya!" ketus Anita kearah Dilla.
Dilla menatap Riza yang tampak mengisyaratkan agar Dilla menunggunya diluar. Dengan berat hati, Dilla pun pergi dari sana.
Tanpa basa-basi Anita mulai mencecar Riza, "Mami dengar dari papi, kamu mau pindah dari rumah ini. Apa benar begitu?"
"Hemm," jawab Riza dengan anggukan.
"Mami nggak setuju!" tukas Anita.
"Kenapa?"
"Pokoknya mami nggak setuju. TITIK!!"
"Tante, Riza itu udah berumahtangga, jadi sudah seharusnya Riza itu mandiri tanpa harus selamanya bergantung sama Om dan Tante."
"Tapi sayang, kamu itu masih sakit. Kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana?. Mami nggak rela lihat kamu menderita sayang."
"Riza pasti baik-baik aja Tan. Lagipula Dilla kan ada, Dilla bisa jagain Riza sama seperti om dan tante."
"Mami nggak percaya sama gadis itu!"
Anita terus membujuk Riza untuk mengubah keputusannya pindah dari rumah mereka. Namun, dengan sekuat tenaga Riza mencoba meyakinkan Anita kalau keputusan yang diambil olehnya sudah bulat dan matang.
"Pokoknya mami nggak rela. Kalau kamu tetap kekeh mau keluar dari rumah ini. Langkahi dulu mayat mami," peringatan terakhir Anita pada Riza.
Riza diam mematung sementara Anita melotot tajam ke arah Dilla yang berdiri didepan pintu sesaat sebelum meninggalkan mereka berdua disana.
Riza diam cukup lama sesaat sebelum ia berteriak frustasi dan meninju cermin rias didepannya yang otomatis membuat tangan Riza terluka terkena serpihan kaca. Dengan bergegas, Dilla pun menghampiri Riza.
Riza berteriak sekuat tenaga. Melihat itu Dilla hanya mampu menangis, tak tahu harus berbuat apa.