My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/21



Selang seling suara Adzan Subuh pun membangunkan Riza dari tidurnya. Riza membuka matanya perlahan. Ia melirik ke arah selimut yang menutupinya.


Riza menyapu ruang kerjanya mencari sosok Dilla tetapi ia tidak menemukan sosok yang dicarinya itu disana.


Riza mengucek-ngucek matanya pelan, kemudian beranjak keluar menuju kamar tidurnya.


Saat Riza memasuki kamarnya, ia mendapati Dilla sedang tertidur pulas di sofa. Riza pun langsung menutupi tubuh Dilla dengan selimut yang ia bawa.


Riza kemudian bergegas mempersiapkan dirinya untuk melaksanakan shalat.


Tak berselang lama, tampak Dilla juga membuka matanya perlahan. Ia terlihat bingung saat menyadari ada sebuah selimut hangat membalut tubuhnya.


"Hooaammm." Dilla menggeliatkan tubuhnya di sofa.


Samar-samar ia melihat Riza yang sangat khusyuk dalam shalatnya. Dilla menatap Riza dari kejauhan mulai ujung rambut hingga ujung kaki.


Setelah puas memandangi Riza, Dilla pun beranjak dari sofa untuk bersiap-siap melaksanakan shalat.


Setelah selesai shalat, Dilla menghampiri Riza yang kini telah berada di ruang kerjanya. Terlihat Riza tengah sibuk berkutat di depan laptop menyusun draft novelnya.


Dilla menaruh secangkir teh di atas meja.


"Bagaimana mas?. Sudah selesai?" sapa Dilla.


Riza tidak menjawab sapaan Dilla, matanya masih fokus melihat ke arah layar. Melihat Riza yang terlihat sangat sibuk, Dilla pun memutuskan meninggalkan Riza seorang diri.


Saat Dilla sedang memasak sarapan pagi di dapur, ia berhenti sejenak karena suara bel pintu yang berbunyi.


Dilla pun langsung bergegas membuka pintu.


Ternyata itu Niko.


"Hai, Dilla. Riza mana?" tanya Niko.


"Mas Riza sedang mengerjakan naskah novel di ruang kerjanya mas. Ayo masuk, Mas!" Dilla mempersilakan Niko masuk.


"Mas silahkan langsung naik saja," sambung Dilla.


"Nggak usah deh Dilla, gue nunggu di sini aja." Niko langsung duduk di sofa putih yang ada di ruang tamu.


Dilla pun mengangguk mengerti.


Sambil menunggu Riza, Niko pun menyalakan televisi menonton siaran berita favoritnya. Sementara Dilla kembali melanjutkan kegiatan memasaknya di dapur.


Akhirnya kegiatan memasak Dilla pun selesai. Dilla terlihat menyiapkan menu sarapan mereka hari ini di atas meja makan. Selanjutnya Dilla pun menemui Riza di ruang kerjanya untuk mengajak Riza sarapan.


Tak lupa Dilla juga mengajak Niko untuk sarapan pagi bersama.


"Hmmm. Ya ampun Dilla, masakan loe ini sumpah enak banget. Boleh dong gue sering-sering kesini, makan masakan loe tiap hari!" ucap Niko sambil mengunyah makanan di mulutnya.


"Boleh mas." Dilla mengiyakan sembari tersenyum.


Riza melihat Niko sekilas kemudian menggelengkan kepalanya pelan.


"Makanya mas Niko cari istri, biar ada yang masakin makanan enak setiap hari," ucap Dilla sembari memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Gue mah nggak usah nyari juga udah banyak yang ngantri. Ha..ha..ha." Niko tertawa memperlihatkan barisan gigi putihnya.


"Ha..ha..ha.., mas Niko..mas Niko," kekeh Dilla sembari menggelengkan kepalanya pelan.


Di sela-sela makan mereka, Dilla tampak tertawa dengan lelucon yang dibuat oleh Niko. Sesekali Dilla menutup mulutnya dengan telapak tangannya berusaha menahan gelak tawanya.


Riza menatap ke arah Dilla, ia berbisik di dalam hati.


"Kenapa dia terlihat bahagia sekali hari ini?. Ada apa dengannya?"


tingtong...


tingtong...


Dilla dan Niko seketika menghentikan tawa mereka, saat mendengar suara bel pintu berbunyi.


"Sebentar ya mas!"


Dilla langsung beranjak dari duduknya untuk membuka pintu. Tampak sosok tamu tidak diundang tengah menunggu di balik pintu.


"Mas Fahmi?" Dilla membelalakkan matanya saat melihat sosok Fahmi yang sedang berdiri dihadapannya


Terlihat Fahmi memegang sekotak cokelat dan sebuket bunga mawar di tangannya.


"Surprise!!!" Fahmi sedikit berteriak.


Dilla menautkan kedua alisnya, bingung.


"Selamat ulang tahun Dilla. Ini buat kamu!" Fahmi memberikan sekotak cokelat dan buket bunga yang sedari tadi dipegangnya kepada Dilla.


Dilla terperanjat, ia tidak menyangka ternyata Fahmi masih mengingat tanggal kelahirannya.


Ternyata hari ini adalah hari ulang tahun Dilla, itulah yang menyebabkan Dilla terlihat bahagia sejak tadi.


Dilla kemudian meraih hadiah pemberian Fahmi.


"Terima kasih, Mas!" sahutnya sambil tersenyum.


"Boleh aku masuk?" tanya Fahmi kembali.


Riza dan Niko melihat ke arah pintu, kebetulan meja makan Riza berada dekat dengan ruang tamu. Sehingga mereka dapat langsung melihat dengan jelas siapa tamu yang datang pagi itu.


"Dia lagi.. dia lagi..!" batin Riza jengkel.


Riza melihat sekilas ke arah Dilla yang berjalan sambil memegang sekotak cokelat dan sebuket bunga mawar ditangannya.


"Ngapain tu anak ke sini?" gumam Niko.


Semenjak kejadian di resepsi pernikahan Dilla dan Riza tempo hari. Entah mengapa Niko menjadi sedikit sensitif setiap kali melihat Fahmi.


Niko pun menajamkan pendengarannya saat mendengar Dilla dan Fahmi berbicara.


"Emm, mas sudah sarapan?, kalau belum mari mas sarapan dulu!" ajak Dilla.


Niko yang mendengar pembicaraan Dilla dan Fahmi barusan, langsung buru-buru menghabiskan semangkuk nasi goreng buatan Dilla yang tersaji di atas meja hingga tak bersisa.


Tampak Fahmi mengikuti langkah kaki Dilla menuju meja makan. Saat mendekati meja, Fahmi melihat tajam ke arah Riza.


"Pagi semua!" sapa Fahmi.


"Pagi. Loe Fahmi kan?" tanya Niko berbasa basi.


Fahmi mengangguk mengiyakan.


"Silahkan duduk, Mas!" ucap Dilla.


Fahmi pun duduk di kursi.


Saat hendak menyajikan sarapan untuk Fahmi, Dilla terlihat kaget.


"Loh, nasi gorengnya sudah habis?", tanya Dilla.


"Iya Dilla. Gue yang ngehabisin, soalnya masakan loe enak banget. Gue jadi nambah terus-terusan deh. Ha...ha...ha." Niko tertawa garing.


Sementara Riza terlihat menyunggingkan senyum kecil di bibirnya saat menyeruput secangkir teh yang ada di tangannya.


"Maaf ya mas Fahmi sarapannya habis." Dilla merasa tidak enak.


Fahmi memegang bahu Dilla, "Tidak apa Dilla. Aku juga belum lapar kok!" ucap Fahmi.


Riza memperhatikan tingkah Fahmi dalam diamnya.


"Kalau begitu saya buatkan mas teh saja, sebentar ya mas!"


Dilla kemudian menyuguhkan secangkir teh untuk Fahmi.


"Minum, Mas!" ucap Dilla mempersilahkan.


Fahmi pun langsung menyeruput teh buatan Dilla.


"Rasa teh buatan kamu ternyata masih sama seperti dulu, selalu pas di lidah aku." Fahmi tersenyum menatap Dilla.


Riza melihat Fahmi sekilas lalu menautkan alisnya, berusaha mencerna kata-kata Fahmi barusan.


"Ngomong-ngomong, aku dan Kiki udah booking restoran buat rayain ulang tahun kamu hari ini. Kamu siap-siap ya, nanti malam aku jemput jam tujuh!" Fahmi kembali menyeruput minumannya.


Dilla kaget mendengar ucapan Fahmi. Ia menatap sekilas ke arah Riza yang terlihat tengah menyeruput minumannya.


"Insya Allah ya mas!. Nanti sore aku kabari lagi."


"Oke deh. Kalau gitu aku pamit, aku ada bimbingan skripsi. Bye, Dilla!" Fahmi berdiri dari duduknya.


"Aku tunggu loh kabar dari kamu," ucap Fahmi kembali sembari tersenyum menatap Dilla.


"Iya, Mas!" sahutnya.


Dilla pun mengantar Fahmi sampai ke depan pintu hingga Fahmi masuk ke dalam mobilnya kemudian hilang di kejauhan.


"Loe kenapa nggak bilang sih, kalau hari ini loe ulang tahun?" ucap Niko saat Dilla kembali ke meja makan.


"Cuma ulang tahun saja toh mas, tidak ada yang spesial," jawab Dilla sembari mengambil segelas air mineral di depannya.


Niko mengulurkan tangannya mengucapkan selamat ulang tahun pada Dilla. Dilla menyambut uluran tangan Niko.


Sementara Riza terlihat hanya diam dan tidak mengucapkan sepatah katapun pada Dilla.


Dilla kemudian membereskan piring-piring yang ada di meja makan.


Dilla sekilas menatap ke arah Riza yang masih duduk di kursinya. Ia pun membuka suara.


"Mas, boleh tidak saya pergi dengan Kiki dan mas Fahmi nanti malam?" tanya Dilla yang terlihat sibuk mondar-mandir membereskan meja makan.


Riza tampak berpikir sejenak kemudian menyeruput tehnya perlahan.


Riza pun menanggapi, "Pergilah. Aku tidak akan ikut campur dengan urusan pribadimu!" ucapnya.


Riza bangkit dari duduknya kemudian melangkah pergi meninggalkan meja makan.


"Terima kasih, Mas." Dilla tersenyum lebar.


Riza berhenti tepat di sebelah Dilla, ia melirik sejenak ke arah cokelat dan buket bunga yang tergeletak di atas meja makan.


Selanjutnya Riza berjalan menaiki anak tangga, Niko pun mengikuti langkah kaki Riza dari belakang.