
Setelah menyiapkan sarapan, Dilla langsung beranjak menuju kamar dengan membawa nampan berisi sarapan untuk Riza.
Terlihat Riza masih tertidur pulas, Dilla meletakkan nampan tersebut di atas nakas kemudian menggoyangkan lengan Riza pelan.
Riza pun membuka matanya perlahan.
"Ayo mas sarapan dulu. Saya sudah buatkan bubur mas!" ucap Dilla.
Riza menegakkan tubuhnya bersandar di tempat tidur. Ia menolehkan wajahnya ke arah nakas dan melirik sekilas ke arah nampan yang berisikan semangkuk bubur ayam buatan Dilla.
Dilla menatap Riza sambil berbisik di dalam hati, "Tanya tidak, ya?".
Riza ternyata memperhatikan tatapan aneh Dilla, ia kemudian berkata,
"Aku baik-baik saja jadi berhentilah menatapku seperti itu!" ucap Riza lirih.
Dilla terperanjat.
"Bagaimana mas Riza bisa tahu apa yang aku pikirkan?" batin Dilla.
Sebenarnya sedari tadi Dilla ingin bertanya bagaimana kondisi Riza, apakah ia sudah merasa baikan atau belum. Namun, Dilla urung untuk bertanya kepada Riza karena ia takut Riza akan marah dan mengusirnya keluar. Makanya ia hanya berdiri mematung dan menatap Riza tanpa berkata apapun.
"Buburnya habisin ya mas. Biar mas cepat sembuh," ucap Dilla.
"Saya keluar dulu!" sambungnya.
Dilla kemudian beranjak keluar dari kamar.
Di ruang tamu, terlihat Niko tengah berbicara dengan seseorang di telepon. Dilla kemudian mendekati Niko perlahan. Karena melihat Dilla mendekat, Niko pun menyudahi panggilan teleponnya.
"Ada apa Dilla?" tanya Niko.
Dilla kemudian duduk di sofa menghadap ke arah Niko.
"Saya baru tahu kalau mas itu ternyata sepupunya mas Riza." Dilla memulai obrolannya.
Niko terkekeh pelan.
"Memangnya si Riza nggak pernah cerita?" tanya Niko.
Dilla menggelengkan kepalanya.
"Dasar si Riza!" sambung Niko.
"Dia itu emang gitu Dilla. Tertutup banget sama orang baru. Loe harap maklum aja, ya!"
Dilla menanggapi ucapan Niko dengan hanya tersenyum simpul.
"Sebenarnya mas Riza sakit apa toh mas?" tanya Dilla penasaran.
Niko kemudian bercerita kepada Dilla kalau Riza itu mengidap penyakit maag. Penyakitnya itu selalu kambuh kalau ia mengalami stress atau pola makannya tidak teratur.
Dilla mendengarkan cerita Niko dengan seksama. Ada rasa bersalah dalam diri Dilla. Dilla merasa bahwa sakit Riza kambuh dikarenakan ulah Dilla yang sengaja tidak memasak makan siang untuk Riza kemarin.
Dilla mengaku kesal dengan sikap Riza yang selalu dingin dan terkesan ketus padanya. Padahal Dilla selalu berusaha baik dan tidak pernah membantah apapun yang diperintahkan Riza.
Mendengar pengakuan Dilla membuat Niko terkekeh pelan. Ia tidak menyangka bahwa Dilla juga ternyata sama seperti dirinya yang sesekali merasa kesal dengan sikap introvert Riza.
"Gini deh, kalau loe ada uneg-uneg, loe bisa cerita ke gue. Gue pasti bakalan siap ngebantu loe!" ucap Niko.
"Beneran mas?" tanya Dilla.
"Iya. Loe bisa anggep gue kayak abang loe sendiri. Gimana?"
"Saya mau mas. Terima kasih loh mas" Dilla akhirnya tersenyum ceria.
"Siip!" balas Niko.
Didalam kamar, Riza terlihat menyantap bubur ayam buatan Dilla yang sudah dipastikan rasanya sangat enak dan pas di lidah Riza.
Tidak lama Dilla pun masuk ke dalam kamar. Ia duduk manis di sofa memperhatikan Riza yang tengah menyantap bubur buatannya.
"Hari ini kamu liburkan?"
Dilla mengangguk pelan.
Riza menyudahi sarapannya, lalu menyeka mulutnya dengan tissue yang ada di atas nakas.
Riza menoleh ke arah Dilla.
"Sesuai perjanjian kita, karena hari ini kamu libur jadi kamu harus membantuku melanjutkan penulisan novelku!"
"Emm, begini mas. Saya tidak keberatan, hanya saja mas kan baru sembuh. Lebih baik mas istirahat. Soal Novel kita lanjutkan besok saja. Bagaimana mas?" bujuk Dilla.
Belum sempat Riza menjawab, terdengar suara ketukan pintu.
tok...
tok...
Terlihat Niko menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Boleh gue masuk?"
Dilla dan Riza hanya diam. Tanpa dipersilahkan Niko langsung saja melangkah masuk ke dalam kamar.
"Dilla, gue mau ngomong empat mata sebentar sama Riza"
Dilla mengerti kemudian ia pun bergegas pergi meninggalkan Riza dan Niko.
Setelah kepergian Dilla, Niko memulai pembicaraan dengan Riza.
"Gimana keadaan loe?" tanya Niko.
Riza tidak menjawab pertanyaan Niko. Ia hanya diam dan menyandarkan tubuhnya di ranjang.
"Kenapa Om Darma bisa datang ke sini?", mata Riza membidik tajam ke arah Niko yang masih berdiri tegak didepannya.
"Gue nggak ada maksud apapun, Sumpah!"
"Gue cuma panik pas Dilla tiba-tiba nelepon gue bilang kalau loe sakit."
"Terus gue refleks langsung ngehubungi Om Darma."
Niko menjelaskan panjang lebar kepada Riza. Namun, Riza hanya diam menanggapi penjelasan Niko.
"Lalu apa yang dibicarakan papi sama kamu?" Riza kembali menatap tajam ke arah Niko.
Niko terperanjat. Pasalnya darimana Riza bisa tahu kalau papi menghubungi Niko. Padahal Niko belum menceritakan apapun kepada Riza.
Melihat Niko tidak kunjung menjawab pertanyaannya, membuat Riza sedikit geram.
"Apa mulutmu itu sudah lupa bagaimana caranya berbicara?" tanya Riza yang masih menatap tajam ke arah Niko.
Melihat tatapan laser dari Riza, Niko pun hanya mampu menundukkan wajahnya dalam. Membuatnya seolah tampak seperti seorang residivis yang tertangkap basah dan tengah diinterogasi polisi.
Setelah diam beberapa saat, Niko akhirnya memulai ucapannya.
"Om cuma bilang udah saatnya loe ngurusin rumah sakit kakek."
"Soalnya Om Darma bakalan ke Australia untuk waktu yang lama dan belom tahu kapan bakal balik."
"Om minta loe jadi pimpinan di rumah sakit itu gantiin Om Darma."
Riza menarik nafas panjang dan mendesah pelan. Hal yang paling ia takutkan akhirnya terjadi. Menjadi seorang pimpinan?, itu adalah hal yang paling tidak ia inginkan.
Riza langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas, kemudian menelepon seseorang.
tut...
tut...
tut...
Terdengar suara sambungan telepon
"Halo!" Terdengar suara papi di ujung telepon.
"Halo, Pi. Papi ada waktu sebentar?, Riza mau bicara."
Papi sepertinya sudah tahu apa yang ingin dibicarakan anak semata wayangnya itu.
"Papi harap kamu memberikan berita baik kepada papi. Bicaralah!" sambung papi.
"Begini Pi, Riza mohon papi cari saja orang lain untuk menggantikan Om Darma. Riza belum siap!" ucap Riza mantap.
"Usia kamu sudah 27 tahun, tapi kamu masih belum juga siap?" tanya papi penuh penekanan.
"Apa sebenarnya masalah kamu?" sambung papi kembali.
Riza terdiam, ia menarik nafasnya dalam.
"Riza ragu, Pi!"
Papi membuka telinganya lebar mendengarkan penjelasan putranya.
"Riza merasa tidak mampu menjadi seorang pemimpin dengan sikap introvert Riza yang seperti ini!" Suara Riza bergetar.
"Jadi, Riza harap papi berhenti memaksa Riza untuk memimpin Rumah Sakit itu. Biarlah Riza memilih jalan hidup Riza sendiri, Pi!"
Terdengar teriakan papi dari ujung telepon, "Kamu ini benar-benar anak pembangkang!"
Riza terdiam.
Samar-samar Niko dapat mendengar dengan jelas teriakan papi Riza dari balik ponsel, hingga membuat Niko bergidik ketakutan.
"Habis gue kali ini!" Niko membatin.
Riza dan papi diam sejenak, tak ada suara apapun keluar dari mulut mereka.
Selanjutnya, papi menarik nafas panjang dan melanjutkan ucapannya.
"Papi tidak punya orang lain yang bisa papi percaya lagi selain kamu. Kamu putra papi satu-satunya, kamu kebanggaan papi," bujuk papi lembut.
"Papi percaya kamu pasti mampu memimpin rumah sakit itu dengan baik!" sambung papi lagi.
"Begini saja, kamu jadilah pimpinan disana selama satu tahun. Setelah itu kamu boleh berhenti dan papi akan carikan orang lain untuk menggantikan kamu."
"Bagaimana?"
Papi membujuk Riza dengan lembut berharap Riza akan mengubah pikirannya. Akhirnya Riza pun berkata,
"Baiklah, pi. Riza setuju. Mulai besok, Riza akan mencoba memimpin Rumah Sakit itu selama satu tahun!"
"Setelah itu, Riza harap papi sudah menyiapkan orang lain untuk menggantikan Riza!" sambungnya lagi.
Riza menarik nafas dalam, berharap keputusannya kali ini tidaklah salah.
"Papi bahagia mendengarnya, papi harap setelah satu tahun kamu akan mengubah pikiranmu!"
Papi tersenyum senang mendengar kalimat putranya itu.
Niko pun akhirnya bisa bernafas lega, ia merasa hidupnya terselamatkan kali ini. Karena jika saja Riza tadi menolak, maka sudah pasti Niko lah yang akan ditunjuk papi Riza menggantikan posisi Riza menjadi pimpinan di Rumah Sakit kakek mereka. Sudah pasti Niko juga tidak mau hal itu menimpanya.
Riza kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
Niko mendekati Riza perlahan.
"Kamu keluarlah, aku mau istirahat!" ucap Riza pelan.
Riza membaringkan tubuhnya di ranjang kemudian berpura-pura memejamkan matanya. Ia butuh waktu sendiri saat ini.
Niko pun mengerti kemudian ia langsung beranjak keluar dari kamar meninggalkan Riza seorang diri.