
Puncak dari cerita Joe adalah ternyata Dirwan mengajak seorang temannya juga dalam insiden tersebut. Dirwan meminta temannya itu untuk membantunya melancarkan rencana jahatnya.
Karena terhimpit ekonomi akhirnya teman Dirwan itu pun bersedia membantu. Dan Joe baru mengetahui beberapa waktu lalu kalau teman Dirwan itu kini telah menjadi besannya.
"Maksudmu teman Dirwan adalah orang tua Dilla?!" tanya Aldrich.
Joe mengangguk.
Aldrich berdiri seketika. Menyadari apa yang sebenarnya terjadi, membuat Aldrich terlihat sangat syok. Terlebih saat mengetahui kalau ayah Dilla terlibat dengan insiden yang merenggut nyawa ayah kandung suaminya.
Aldrich tidak bisa membayangkan akan seperti apa Dilla nantinya jika ia mengetahui hal ini.
Aldrich akhirnya juga tahu kenapa Joe berniat membunuhnya sewaktu di rumah sakit. Ternyata itu semua adalah rencana Dirwan.
Setelah Dirwan bertemu dengan Aldrich, Dirwan langsung menyuruh Joe datang ke Belanda untuk membunuh Aldrich sebab Dirwan takut semua perbuatannya di masa lalu akan terungkap dengan adanya kehadiran Aldrich di dekat Riza.
Selain itu, permusuhan Dirwan dan Adam juga menjadi salah satu pemicu bagi Dirwan untuk membulatkan rencananya menghabisi Aldrich.
Joe yang dendam pada Adam, akhirnya menyetujui perintah Dirwan. Dengan begini Adam akan mendapatkan pelajaran berharga karena sudah berani menjebloskan Joe ke dalam penjara.
Setelah mengetahui bahwa rencananya menghabisi Aldrich dengan mengirimkan video tersebut gagal, Joe pun nekat menemui Aldrich di rumah sakit. Namun, sial nya ada Thomas yang menjaga Aldrich disana.
Ilmu bela diri Joe yang kalah jauh dibandingkan Thomas membuatnya tidak berkutik sama sekali. Hingga akhirnya, Joe pun disekap oleh Thomas di tempat sekarang ini.
...----------------...
Di kediaman Keluarga Riza, Niko datang menemui Dilla di kamarnya. Wajah Dilla terlihat pucat sebab sejak tadi ia muntah tiada henti. Niko menaruh nampan di atas tempat tidur kemudian mulai menyuapi Dilla untuk menyuruhnya makan. Namun, gadis itu menolak.
"Makan dong Dilla. Lo nggak kasian sama bayi di perut lo. Udah deh, lo nggak usah mikirin Riza. Sekarang lebih baik lo makan ya."
Niko melayangkan sesendok nasi ke mulut Dilla. Dilla tampak masih enggan membuka mulut. Niko mengangguk pelan, mengisyaratkan agar Dilla menurut. Akhirnya Dilla membuka mulut dan mengunyah makanan tersebut perlahan.
"Besok gue balik ke Indonesia. Lo baik-baik disini ya. Jangan sedih terus, pikirin bayi di perut lo."
Dilla mengangguk mengiyakan.
Niko mengusap kepala Dilla penuh kasih sayang seperti sayangnya abang kepada adik perempuannya.
"Kalo si kampret itu udah nggak marah lagi. Ajak dia ke Indonesia."
Dilla mengangguk kembali.
Niko memberikan sesuap lagi pada Dilla dan Dilla menyambutnya sambil tersenyum. Dalam hatinya, sebenarnya ia tidak ingin pria yang sudah seperti saudara kandungnya itu kembali ke Indonesia. Namun, mau bagaimana Niko harus kembali sebab ia berkewajiban mengurus rumah sakit orang tua Riza.
Begitupun dengan Niko. Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan gadis lemah itu sendirian disini. Hatinya tidak rela.
Entah kapan, mereka bisa bertemu kembali.
Di ruangan berbeda, Dirwan tampak gusar. Ia terus mondar-mandir sambil memegang ponsel di tangannya. Bagaimana tidak, sudah beberapa hari sejak ia menugaskan Joe menghabisi Aldrich, Joe tidak bisa dihubungi.
Kegusaran papi membuat mami terus-menerus melihat ke arah suaminya itu.
"Papi kenapa sih?" tanya mami.
"Oh, nggak kenapa-kenapa Mi. Papi cuma lagi mikirin soal kerjaan."
"Masalah Dilla bagaimana, Pi?" Mami kembali menyinggung tentang menantunya itu.
"Masalah itu kita omongin besok aja ya Mami. Sekarang papi lagi sibuk. Oke?!"
Mami pun kemudian keluar dan menemui Riza di kamar tamu.
Sejak kejadian kemarin, Riza tetap kekeh tidak mau kembali ke kamar tidurnya bersama Dilla. Walaupun sebenarnya hatinya sangat ingin untuk pergi menemui istrinya itu. Namun, ego membuatnya enggan ditambah lagi gosokan dari mami yang semakin membuatnya benci pada istrinya sendiri.
"Sayang, kok kamu disini?!. Kamu nggak mau ngobrol-ngobrol sama Niko. Besok kan Niko pulang ke Indonesia."
"Nggak ah Tan. Riza males," jawab Riza menanggapi.
"Loh, kok gitu sih. Kita kan belum tau kapan Niko balik lagi kesini."
"Biarin aja deh, Tan. Nggak usah balik kesini lagi juga nggak pa-pa."
"Kamu kenapa?. Berantem sama Niko?"
"Memangnya urusan Bayu udah selesai Tan?. Kok Niko udah mau balik?" hardiknya.
"Niko udah nyelesaiin semuanya. Kamu jangan lama-lama marahnya. Kasian Niko."
"Baguslah. Memang harusnya dia yang urus itu semua. Soalnya kan dia yang udah bikin Bayu celaka," Riza tampak masih kesal pada Niko.
Mami melihat kekesalan di mata Riza, dengan cepat ia memeluk puteranya itu dengan lembut lalu mengusap rambut hitam Riza.
Riza hanya terpaku saat mendapat perlakuan tidak biasa dari Anita itu.
...----------------...
"Apa rencana tuan selanjutnya?"
"Aku harus menemui Riza di rumah orangtuanya."
"Tidak, Tuan. Itu berbahaya. Jangan sampai Tuan bertemu dengan Dirwan."
"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Apa kau tidak dengar apa yang dikatakan oleh Joe. Dirwan itu sangat berbahaya. Dan aku tidak mau sesuatu yang buruk menimpa Dilla. Aku akan melindungi gadis itu sebagai balas budiku kepada Raja."
"Tuan tenanglah. Tidak akan terjadi apapun pada Dilla. Bukankah suaminya ada disana?. Lagipula sepertinya Dirwan sangat menyayangi dia. Percayalah Tuan, dia akan baik-baik saja."
Aldrich menarik nafas dalam. Sepertinya apa yang dikatakan Thomas benar. Tidak ada yang perlu ia khawatirkan sebab Dilla memiliki Riza di dekatnya.
"Apa kau sudah menemukan ponselku?"
Thomas mengingat sesuatu. Thomas mengatakan beberapa hari lalu ia menanyakan perihal ponsel Aldrich pada Henzhie, Henzhie berkata kalau ponsel Aldrich sepertinya dipegang oleh Dilla waktu itu.
"What?!" seru Aldrich.
"Astaga. Ini benar-benar gila. Aggghhhhh!!!"
Aldrich mengacak rambutnya frustasi, sementara Thomas hanya menatap Aldrich dengan wajah bingung.
"Sekarang juga kau pergi ke rumah Riza dan ambil ponselku segera."
"Tapi Tuan, saya tidak mungkin kesana. Bagaimana jika Tuan Adam menemukan saya?. Saya tidak mau tertangkap Tuan."
Aldrich berpikir kalau yang dikatakan Thomas ada benarnya. Jika Thomas sampai tertangkap, maka semuanya akan berakhir. Aldrich tidak akan bisa melanjutkan rencananya.
Aldrich melipat kedua tangannya didepan dada sambil memikirkan sesuatu. Selang beberapa menit, Aldrich berkata, "Bagaimana kalau Henzhie?!" serunya tiba-tiba.