
Keesokan paginya, tampak mami dan papi tengah berbincang serius di dalam kamar. Sudah berulangkali mami menghindari pembicaraan papi pagi itu dengan alasan ingin segera sarapan. Namun, papi terus saja memborbardir mami dengan banyak pertanyaan.
"Apa sebenarnya yang Mami mau dari Riza?. Papi perhatikan Mami selalu saja ikut campur dengan urusan rumah tangga Riza. Sudahlah, Mi. Biarkan Riza menjalani rumah tangganya dengan tenang. Kita sebagai orang tua lebih baik mendoakan mereka saja."
"Riza itu putra Mami, Pi. Sampai kapanpun nggak ada yang bisa pisahin Riza dari Mami."
"Siapa yang mau memisahkan Mami dari Riza?!" cecar Papi.
"Siapa lagi kalau bukan Dilla. Mami nyesel dulu menikahkan Riza dengan Dilla. Mami pikir Dilla itu bisa kasih kebahagiaan ke Riza, tapi nyatanya nggak. Papi bayangin, waktu Riza lagi berjuang sembuh dari penyakitnya, Dilla malah selingkuh sama pria lain. Mami nggak rela, Pi. Mami nggak mau, anak kita jadi depresi lagi kayak dulu. Mami nggak mau Riza nantinya bunuh diri seperti Bayu. Mami nggak mau, Pi."
Papi menatap lembut wajah Mami yang mulai dibasahi air mata.
"Papi mengerti perasaan Mami. Bukan hanya Mami, Papi juga takut hal buruk terjadi sama Riza. Tapi kita bisa apa Mi?. Lagipula belum tentu Dilla seperti apa yang Mami tuduhkan. Kalau Mami terus seperti ini, kasihan Riza, kasihan dia, emosi Riza justru akan jadi terganggu dan dia akan semakin sulit untuk sembuh."
"Tapi Mami takut, Pi. Mami takut kejadian waktu itu terulang lagi. Mami takut. Pi, tolong. Tolong Papi ngomong sama Riza. Suruh supaya Riza cepet-cepet ceraikan Dilla," tutur Mami memohon pada suaminya.
"Mana mungkin Papi melakukan itu. Dilla itu sedang hamil anaknya Riza, Mi. Kasihan kan dia."
"Dilla itu udah selingkuh, Pi. Papi masih percaya kalau anak yang ada dalam kandungan Dilla itu anaknya Riza?!"
Papi terdiam.
...----------------...
Beralih ke rumah sakit tempat Aldrich dirawat. Ternyata kondisi Aldrich yang sudah mulai membaik membuatnya sudah diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit. Tampak pelayan baru Aldrich sedang menyiapkan pakaian dan barang-barang Aldrich untuk dibawa pulang.
Aldrich melihat punggung pelayan barunya itu seraya memikirkan sesuatu.
"Semuanya sudah beres, Tuan. Mari kita pulang," ujar pelayan Aldrich saat hendak mendorong kursi roda yang diduduki oleh Aldrich.
"Sudah berapa lama kau bekerja dengan ayahku?" tanya Aldrich membuka percakapan.
Sambil mendorong kursi roda Aldrich, pelayan itu pun berkata, "Hmm, sekitar sepuluh tahun, Tuan."
"Tapi, sepertinya aku tidak pernah melihatmu sebelumnya," lanjut Aldrich dengan penuh tanda tanya.
"Saya baru kembali ke Belanda dua hari lalu saat Tuan Adam meminta saya untuk menjaga Tuan."
"Pantas saja," jawab Aldrich singkat kemudian melanjutkan, "Ngomong-ngomong kau berasal darimana?. Kalau aku lihat, wajahmu tidak seperti orang Eropa."
"Saya lahir dan besar di Indonesia Tuan," jawab pelayan itu tenang.
Aldrich yang mendengar itu pun langsung mengungkapkan kesukaannya pada Indonesia dan keinginannya untuk pulang ke negara itu secepatnya yang disambut dengan baik oleh pelayanannya yang masih terus mendorong Aldrich hingga akhirnya kini mereka sudah tiba di Lobby.
"Apa kau kenal dengan Thomas?. Dia adalah pelayanku sebelumnya," tanya Aldrich ingin tahu.
Pelayan itu menyahut, "Saya kenal dengan Thomas. Dia itu pelayan kepercayaan Tuan Adam. Dia orang yang sangat keren dan juga baik hati. Saya sangat menyukai sosoknya."
Aldrich mengernyit dan berbisik dalam hati, Dia sama sekali tidak keren atau baik hati. Asal kau tahu, Thomas itu sangatlah menyebalkan. Coba saja kau bergaul lebih lama dengan dia, aku jamin kau pasti akan jadi gila.
"Stop!" teriak Aldrich tiba-tiba yang sontak membuat pelayan dibelakangnya menghentikan laju kursi roda seketika.
"Ada apa, Tuan?"
"Begini, sepertinya aku lupa sesuatu," ucap Aldrich.
"Sesuatu apa itu, Tuan?" ujar pelayan itu bingung.
"Ck, Aku tidak tahu itu apa. Yang pastinya sesuatu itu tertinggal di dalam ruang kamarku. Cepat kau ambilkan!" suruh Aldrich kesal.
"Kau pikir aku gila?!" bentak Aldrich.
Tanpa bertanya lebih jauh, pelayan itu pun bergegas kembali ke kamar Aldrich dan seketika meninggalkan Aldrich sendirian di depan lift.
Sepeninggal pelayan tadi, Aldrich pun celingukan. Tak lama Thomas muncul. Thomas pun segera membawa Aldrich masuk ke dalam lift menuju parkiran kemudian mereka melaju kencang dengan mengendarai mobil milik Aldrich yang sudah siap sejak tadi. Akhirnya Aldrich pun berhasil kabur dari ayahnya kembali.
Didalam mobil, Aldrich membanggakan dirinya yang terlihat lihai dan pandai dalam berakting. Mendengar ocehan Aldrich, Thomas hanya cengengesan dari balik kemudinya.
Tiba-tiba Aldrich berkata, "Setelah aku pikir-pikir, sepertinya kau tidak terlalu terkenal. Buktinya saat aku bertanya tentang dirimu, pelayan tadi tidak tahu apa-apa."
Thomas hanya tersenyum simpul dan tidak menanggapi perkataan Aldrich. Bisa-bisanya Aldrich mengatakan hal itu, padahal jelas-jelas Thomas ada di belakang mereka sejak tadi, yang sudah pasti Thomas mendengar semua percakapan Aldrich dan pelayan barunya.
"Beraninya Joe mendatangi ku di rumah sakit. Dia pikir dia itu siapa?!" gerutu Aldrich geram.
Thomas menanggapi, "Sepertinya Joe tahu sesuatu tentang Tuan Adam. Sejak tadi malam dia terus saja memohon agar saya tidak memberitahu Tuan Adam kalau dia ada di Belanda. Dia terlihat sangat ketakutan."
Aldrich mengangguk mengerti, "Baiklah. Kita temui Joe. Aku ingin tahu rahasia apa yang diketahuinya tentang ayahku."
...------------...
Saat sarapan pagi, atmosfer meja makan tampak sangat dingin. Terlihat Riza dan Niko menikmati sarapan mereka dalam kebisuan. Dua orang sahabat itu tidak saling bertegur sapa sejak kejadian tadi malam.
Niko yang biasanya cuek dan masa bodoh terlihat melirik ke arah Riza dengan wajah kesal sebab ia masih mengingat perkataan Riza tadi malam. Niko menyadari bahwa saat ini Riza pasti tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Bayu beberapa tahun silam sebab Riza tidak mengingat apapun sejak ayahnya menyembuhkan depresi Riza yang dulu.
Dengan kata lain Riza hanya mengingat bahwa penyebab kematian Bayu adalah Niko, padahal Niko hanyalah sebagai kambing hitam saja. Niko harus rela mengorbankan dirinya demi kesembuhan sepupunya itu. Ia harus berlapang dada untuk dituduh seumur hidupnya atas hal yang sama sekali bukanlah menjadi tanggung jawabnya.
Kalau saja Riza tahu apa penyebab Bayu nekat menghabisi nyawanya sendiri saat itu, mungkin Riza tidak akan mampu untuk terus melanjutkan hidupnya hingga saat ini.
Suara sendok yang beradu dengan piring, membuyarkan lamunan Niko. Niko mendongak dan melihat Riza sudah berlalu pergi meninggalkannya tanpa mengatakan apapun.
Niko diam seraya memandangi punggung bidang Riza dengan tatapan sedih.
Niko berkata lirih, "Gue rela lo benci gue seumur hidup, tapi gue nggak akan biarin lo kehilangan hidup lo lagi untuk kedua kalinya."
Riza pergi menemui Dilla di kamarnya. Namun, Dilla tidak ada disana. Saat akan melangkah keluar kamar, Riza mendengar suara Dilla yang sedang muntah-muntah dari arah kamar mandi.
Riza mendekat ke arah pintu kamar mandi, ia mengetuk pintu beberapa kali sebelum berkata, "Ayo, kita ke rumah sakit. Saya tunggu kamu dibawah," ucap Riza datar dari depan pintu.
Riza tanpa sengaja memperhatikan wajah Dilla yang tampak pucat sesaat setelah Dilla membuka pintu.
Entah sudah berapa kali gadis itu menumpahkan isi perutnya pagi ini, terlihat tubuhnya sangat kesakitan ditambah dengan wajah yang lesu dan tidak bergairah.
Dilla berkata sambil memegangi perutnya, "Iya, Mas. Ayo berangkat," lirih Dilla dengan suara terdengar lemah.
Dengan berjalan perlahan, Dilla mengambil tas miliknya. Sebenarnya ia sudah tidak ada tenaga dan daya lagi untuk pergi kemanapun hari ini. Namun, sebagai seorang isteri sudah seharusnya ia menuruti semua perkataan suaminya, jika dengan cara ini bisa membuktikan bahwa ia tidak bersalah.
Dari belakang, Riza terus memperhatikan Dilla yang tengah berjalan menuruni anak tangga didepannya. Sesekali Dilla memegangi kepalanya dan menutup mulutnya untuk menahan rasa mual yang meronta dari dalam sana.
"Tunggu!" teriak Riza tiba-tiba.
Mendengar itu, Dilla pun berbalik, "Kenapa Mas?" lirihnya.
Seketika Riza menggendong Dilla yang sontak membuat Dilla membeku.
Dilla menatap Riza lama sementara pria itu tidak mengatakan apapun. Seketika semua rasa sakit Dilla hilang. Dilla pun tidak menyia-nyiakan momen ini, ia kemudian mendekatkan wajahnya dalam pelukan Riza hingga ia dapat mencium dengan jelas aroma tubuh pria yang saat ini sedang menggendongnya itu. Momen ini sukses membuat air matanya menetes seketika.