My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/15



Dilla masih melirik tajam ke arah Riza menahan kesalnya, sementara Riza tampak asik menikmati masakan mami dengan suara dentingan sendok dan garpu yang beradu di atas piring. Mami tersenyum memperhatikan gerak-gerik pasangan pengantin baru itu dari tempat duduknya.


Tiba-tiba papi membuka percakapan,


"Bagaimana kuliah kamu, Dilla?"


Dilla terkejut saat namanya disebut oleh ayah mertuanya itu. Ia pun langsung menghentikan gerakan tangannya saat hendak memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.


"Ehm. Alhamdulillah lancar, Pi."


Papi mengangguk pelan.


"Baguslah kalau begitu, pertahankan prestasi kamu. Jangan melakukan hal-hal aneh yang bisa membuat orang tua kamu malu," ucap papi melirik Riza.


"Pikirkan semua secara matang sebelum mengambil keputusan, jangan buat orang tua kamu kecewa," sambungnya.


Riza melirik ke arah papi, terlihat Riza tahu ke mana arah pembicaraan papi. Mami pun melirik ke arah suaminya itu kemudian melirik ke arah Riza.


Sementara Dilla berbisik didalam hati, "Maksud papi iki opo toh?"


Dilla sedikit aneh dengan sikap papi, namun ia langsung membuang jauh pikiran anehnya itu.


"Insya Allah, Pi!" jawab Dilla.


"Lusa, mami dan papi akan pulang ke Belanda. Tidak tahu kapan akan kembali lagi ke sini. Jadi kalian baik-baik di Jakarta."


Dilla dan Riza mengangguk mengiyakan.


Tidak lama setelah mengatakan itu, papi pun menyelesaikan makan malamnya kemudian beranjak menaiki tangga menuju ke kamar.


Riza menatap kepergian papi dengan sorot mata kesedihan seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan, namun ia masih ragu untuk membuka suaranya.


"Sepertinya papi masih marah padaku!" batinnya.


Melihat Riza yang sedari tadi diam saja, membuat Dilla bingung.


Lamunan Riza pun seketika buyar mendengar suara Dilla memanggil namanya.


"Mas Riza!" Dilla menyentuh lengan kekar Riza pelan.


Riza pun tersadar.


"Mas, kenapa?" sambung Dilla.


"Aku sudah kenyang." Riza kemudian berdiri dan beranjak dari tempat duduknya.


Dilla dan mami menatap kepergian Riza heran.


Akhirnya mami dan Dilla pun menyelesaikan makan malamnya. Mami terlihat ingin membereskan meja makan, namun Dilla melarang mami.


"Mami istirahat saja, biar Dilla yang bereskan," cegah Dilla.


"Kamu tidak apa-apa, membereskan ini sendirian?"


"Tidak apa-apa mami, Dilla sudah biasa. Lagi pula ini sudah tugas Dilla sebagai menantu mami," jawab Dilla sambil tersenyum.


Mami tersenyum, "Ya sudah kalau begitu."


Setelah itu mami pun beranjak menaiki tangga menuju ke kamarnya meninggalkan Dilla yang tampak sedang sibuk membereskan meja makan.


Dilla mendesah pelan melihat banyaknya tumpukan piring kotor di bak pencucian piring, "Tugas seorang istri sungguhlah berat," keluhnya di dalam hati.


Mami terlihat sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Ketika hendak memutar gagang pintu, ia mendengar suara Riza dari balik pintu.


"Riza?" bisik mami lirih.


Terdengar suara Riza sedang berbicara dengan papi.


"Kenapa sebelumnya tidak bilang pada Riza kalau mami dan papi mau pulang lusa, Pi?" tanya Riza.


Papi berdehem keras lalu menyeringai, "Bukankah kamu sudah tidak menganggap kami sebagai orangtuamu?"


Riza diam.


"Kalau kamu cuma mau membahas itu, kamu keluar saja. Aku mau istirahat!" ucap papi ketus. Papi kemudian berbalik dan melangkah menuju ranjang.


Mata Riza bergetar berusaha menahan tangisnya, seketika kejadian tiga tahun lalu kembali terbayang di benaknya.


"Lagi-lagi papi mengusir Riza setiap kali papi marah!" suara Riza terdengar bergetar.


"Dasar anak kurang ajar, berani sekali kamu bicara seperti itu padaku!!!" Suara papi meninggi hingga membuat Dilla yang sedang mencuci piring kotor di dapur seketika berhenti dari kegiatannya itu, Dilla menolehkan wajahnya ke arah datangnya suara.


"Seperti suara papi. Ada apa ya?" lirihnya.


Karena penasaran dengan apa yang sedang terjadi, Dilla pun langsung bergegas menaiki tangga.


Dilla melihat mami berdiri mematung di depan pintu.


"Sedang apa mami berdiri di sana?" lirihnya kembali.


Dilla kemudian melangkahkan kakinya bermaksud hendak menghampiri mami.


"Apa sebenarnya salah Riza pada papi?" Suara Riza itu pun seketika menghentikan langkah Dilla.


"Itukan suara mas Riza?" batinnya.


Dilla berpijak di atas salah satu anak tangga, mendengarkan dengan seksama suara Riza dari balik pintu dalam diamnya.


"Kalau memang papi merasa apa yang Riza lakukan salah, tidak bisakah papi memaafkan Riza?" Suara Riza terdengar kembali.


"Sudah tiga tahun, Pi. Apa masih kurang hukuman papi pada Riza?" Riza mendekati papi perlahan.


plak....


Suara telapak tangan papi menampar keras pipi Riza.


Sontak Mami langsung menutupi mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya.


Meskipun mami berdiri di balik pintu namun mami seolah dapat melihat dengan jelas seperti apa kemarahan papi kali ini.


Dilla mengerutkan dahinya, bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang terjadi antara ayah mertua dan suaminya itu.


"Cukup!!!!" bentak papi seraya mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Riza.


Terlihat bulir air mata mengalir di kedua pipi Riza, Riza pun dengan cepat menghapus jejak air mata itu dari wajah tampannya.


Selanjutnya Riza membalikkan tubuhnya, berlalu pergi meninggalkan papi. Riza memutar gagang pintu lalu menariknya.


Saat melangkahkan kakinya keluar kamar, Riza sedikit terperanjat melihat mami yang tengah berdiri didepannya. Tanpa berkata apapun Riza berlalu meninggalkan mami.


Selangkah kemudian Riza juga melihat Dilla yang sedang berdiri mematung di dekat tangga. Riza menatap Dilla lama, kemudian ia melangkahkan kaki kembali menuju ke kamarnya.


Dilla memperhatikan punggung runcing Riza hingga masuk ke dalam kamar. Dilla merasa bingung apa yang harus ia lakukan, karena ia tidak pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya dalam hidupnya.


Akhirnya tanpa berpikir panjang, Dilla melangkah menuju kamar Riza. Memutar gagang pintu berharap pintu tidak terkunci.


Nasib baik bagi Dilla, ternyata Riza tidak mengunci pintunya. Dilla masuk ke dalam kamar Riza, terlihat Riza sedang duduk di pinggir ranjang menundukkan kepalanya dalam. Riza terdengar terisak.


"Mas Riza menangis?" batin Dilla.


Dilla mendekati Riza dengan perlahan. Tanpa berkata apapun, Dilla duduk di sebelah Riza sambil menepuk pelan punggung suaminya itu, mencoba menenangkannya. Tiba-tiba Riza terlihat melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang ramping Dilla membuat Dilla sedikit menggeser posisi duduknya, kemudian Riza menyandarkan kepalanya di dada Dilla, membuat Dilla seketika membulatkan matanya.


Riza mendekap Dilla lembut. Riza menutup mata, menahan kesedihan di hatinya.


Dilla dapat merasakan nafas hangat Riza mendesah pelan di dadanya. Didalam hati Dilla terus bertanya-tanya apa sebenarnya yang memicu papi hingga marah seperti tadi kepada Riza.


Setelah sedikit tenang, Riza membuka matanya. Kemudian melepaskan rangkulannya dari pinggang ramping Dilla. Riza menggeser duduknya menjauh.


Dilla menatap Riza lekat, "Mas baik-baik saja?" tanya Dilla.


Riza hanya diam membisu dan menundukkan wajahnya, lalu ia menyeka air mata di pipinya. Riza tidak menatap Dilla karena ia tidak mau Dilla bertanya lebih jauh kepadanya tentang kejadian tadi sebab Riza tidak mau menjelaskan apapun pada Dilla.


Saat ini yang ia butuhkan hanya sendiri, sendiri dan sendiri. Melihat Riza yang diam saja, Dilla pun mengerti lalu berkata,


"Ya sudah, mas istirahat saja dulu. Saya mau turun kebawah melanjutkan pekerjaan saya di dapur," ucap Dilla.


Dilla pun beranjak dari duduknya kemudian berlalu meninggalkan Riza yang masih diam membisu seorang diri di dalam kamarnya.


Tidak berapa lama, Dilla pun telah menyelesaikan pekerjaannya di dapur. Ia bergegas menaiki tangga menuju ke kamar Riza untuk beristirahat melepaskan lelahnya seharian ini.


Saat membuka pintu kamar, Dilla mendapati Riza tengah tertidur pulas di atas ranjang. Dilla pun menutup pintu perlahan agar Riza tidak terbangun.


Dilla memperhatikan wajah suaminya dengan seksama lalu menggumam pelan, "Selamat tidur mas, semoga mimpi indah."


Setelah itu, Dilla beranjak menuju kamar mandi. Setelah membersihkan diri, Dilla terlihat mencari selimut kesana kemari mengelilingi kamar Riza. Namun Dilla tidak menemukan satupun selimut di kamar sebesar itu, akhirnya Dilla memutuskan tidur di sofa panjang yang ada di kamar Riza tanpa memakai selimut.


Selang beberapa menit, Dilla pun akhirnya memejamkan matanya untuk menyongsong mimpinya malam itu.