My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/45



“Maaf. Saya sudah tidak bisa melakukan ini lagi!. Pekerjaan saya bisa jadi taruhannya kalau sampai saya tertangkap.” Suara lelaki paruh baya tampak ketakutan dan gelisah seraya menggenggam erat ponsel di tangannya.


Tampak wajah seringai yang berasal dari lawan bicara lelaki tersebut, “Jangan main-main denganku. Aku bisa melenyapkanmu kapanpun aku mau!” ancam lelaki itu masih dengan seringai menakutkannya.


Meski pun lelaki paruh baya itu berada jauh dari si penelepon. Namun, ia dapat merasakan dengan jelas bagaimana menyeramkannya raut wajah orang yang menghubunginya malam itu. Cepat-cepat ia memutus sambungan teleponnya. Kemudian berbalik dan melangkah.


Brakkkkk....


Sebuah mobil silver berkecepatan tinggi sengaja menabrakkan diri ke arah si lelaki paruh baya.


Tubuh lelaki itu pun terpental jauh dan tergeletak bersimbah darah. Seketika darah mengucur deras dari hidung, mulut, telinga dan pelipis matanya. Dengan nafas yang tersengal, ia mencoba mengeluarkan suara untuk meminta bantuan. Sepertinya lelaki itu sudah tahu hal buruk apa yang akan terjadi padanya setelah ini.


Sesaat kemudian dari dalam mobil, muncullah sosok pria berjaket hitam dengan masker yang tampak menutupi separuh wajahnya hingga hanya menyisakan sepasang sorot mata keji  pada setiap guratan mata itu. Pria bermasker dengan postur tubuh sama persis seperti yang dilihat oleh Riza tempo hari sewaktu di rumah sakit.


“Si-Si-Siapa kamu?” tanya si lelaki paruh baya dengan nafas yang dapat dihitung tiap tarikan dan hembusannya.


Lelaki yang tergeletak itu pun berusaha mengerahkan tenaganya yang masih tersisa untuk mencoba meraih lengan si pria bermasker yang kini tengah setengah berjongkok di hadapannya. Si pria bermasker tersebut tampak tidak bergeming sedikitpun saat mendengar rintihan minta tolong dari si lelaki paruh baya itu. Ia membiarkan lelaki paruh baya itu meregang nyawa kehabisan darah karena memang itulah tujuan si pria bermasker itu datang menemuinya.


“Kasihan sekali kau Pak Tua!. Malam ini akan menjadi malam terakhirmu di dunia!!” ucapnya dingin seraya menarik pelatuk dari pistol yang sedari tadi di pegangnya.


Dooor!!!


Dooor!!!


Dua buah peluru tepat bersarang di kepala lelaki malang itu. Selanjutnya, si pria bermasker menyeret kasar mayat si lelaki itu ke dalam bagasi mobil kemudian melajukan mobilnya kencang membelah kesunyian malam.


Sesampainya di jembatan, tubuh tak bernyawa si lelaki paruh baya itu pun di lemparkan secara tak manusiawi ke dalam jurang. Si Pemilik guratan mata keji itu pun tampak menyeringai di balik masker yang menutupi sebagian wajahnya.


---------


Riza sedang bersama Dilla di ruang kerja. Seperti biasa mereka kembali menyelesaikan naskah novel Riza.


“Masih lama lagi yo mas?” tanya Dilla yang sepertinya sudah mengantuk berat.


“Sebentar!” jawab Riza cuek.


“Hoammm...”


Dilla tak henti-hentinya menguap menahan rasa kantuk yang menyerang pelupuk matanya. Tanpa Dilla ketahui bahwa sebenarnya sedari tadi Riza belum menuangkan ide apapun untuk naskahnya dikarenakan Riza sangat gugup sehingga membuatnya tidak mampu berkonsentrasi pada naskah novelnya. Setiap kali Riza menyentuh jemari Dilla, jantungnya berdebar tak menentu dan pikiran anehnya mulai menggila kembali. Entah sudah berapa kali Riza membatin merutuki dirinya malam ini. Jika terus seperti ini mustahil novelnya dapat rampung tepat waktu.


Riza menoleh ke arah Dilla yang kini telah tertidur lelap dengan bersandarkan lengan di atas meja kerja Riza. Membuat Riza semakin tidak mampu berkonsentrasi saat menatap wajah ayu istrinya yang tengah terlelap disampingnya itu. Kebucinan benar-benar telah melanda dirinya. Maklum saja Riza tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Baru Dilla-lah gadis pertama yang berhasil mengusik jiwa Riza.


Riza memandang wajah Dilla yang terlelap tanpa berkedip sedikitpun. Sayup-sayup terdengar nada-nada indah dan alunan melodi terngiang di telinga Riza. Suasana romantis seketika menghangatkan hatinya. Dipandanginya wajah gadis incaran hatinya itu lekat-lekat. Bertanya di dalam hati, apa sebenarnya yang ada pada Dilla yang membuatnya terpikat?, apa yang menarik dari gadis sederhana itu sehingga mampu mengusik jiwanya?. Riza pun mulai menggumam lirih.


“Bentuk hidungnya biasa saja, sama seperti bentuk hidung pada umumnya. Bulu matanya pun tidak lentik sama sekali. Alis matanya pun biasa saja tidak ada yang spesial.” Riza menggerakkan tangannya memindai setiap bagian wajah Dilla.


“Bibirnya...” Riza diam.


Riza menghentikan gerakan tangannya tepat saat memindai bibir Dilla. Bibir tipis berwarna pink natural yang selalu tampak mempesona meskipun tanpa polesan.


Riza tersenyum sumringah saat menyentuh bibir Dilla.  Lagi-lagi pikiran gilanya itu berseteru dengan


akal sehatnya.


cup...


Sebuah ciuman lembut mendarat di bibir ranum nan lembut itu.


Sesaat kemudian Dilla pun membuka matanya. Dengan cepat Riza berdiri dari duduknya kemudian melangkah keluar dari ruang kerja miliknya.


“Bangunlah. Kita lanjutkan lagi besok!” ujar Riza sedikit gugup.


Dilla mengerjap-ngerjapkan matanya. Dengan setengah sadar, ia bangkit berdiri dari duduknya dan melangkah menuju kamar tamu. Riza menghalangi Dilla di depan pintu.


“Opo lagi toh mas?” tanya Dilla masih dengan setengah sadar.


“Masuk ke kamarku!” perintah Riza.


Dilla melengos pergi menuju kamar tamu seraya menggeleng pelan.


Ucapan Riza seketika membuat kesadaran Dilla terpanggil sepenuhnya. Dilla pun mulai menerawang, mencoba memastikan bahwa ucapan Riza benar.


“Ndak, sepertinya saya ndak pernah berjanji seperti itu!”


Riza mengarahkan jari kelingkingnya ke arah Dilla.


“Jika jari kelingking kita sudah bertaut, itu artinya kita sudah mengikat perjanjian. Sekarang aku menagih janjimu. Aku sengaja mengatakannya dalam bahasa Belanda agar kamu tidak banyak membantah ucapanku.”


Riza berbisik di telinga Dilla, “Kalau kamu mengingkari janji jari kelingking ini, hidupmu akan ditimpa kesialan seumur hidup. Mau hidupmu sial?”


“Justru kesialan saya akan dimulai malam ini kalau saya tidur di kamar Mas. Sudahlah saya mau tidur!” tegas Dilla tak mengacuhkan ucapan Riza.


Dilla melenggang masuk ke dalam kamarnya. Secepat kilat Riza pun berlari masuk ke dalam kamar itu. Pertengkaran kecil pun terjadi di antara mereka. Dengan sekuat tenaga Dilla menarik Riza keluar dari kamar akan tetapi Riza tidak bergeming sedikitpun. Riza justru mendekap tubuh Dilla dan menggendongnya bak karung beras lalu menghempaskannya ke tempat tidur. Dilla bangkit dan kembali berusaha mendorong Riza keluar dari kamarnya.


“Tenanglah Dilla...., Dilla...., Syafadilla Aini!!!” teriak Riza mencoba menenangkan Dilla.


Dilla terdiam saat mendengar teriakan Riza.


“Tidurlah. Aku akan keluar dari kamar ini!” ucapnya singkat seraya berlalu pergi meninggalkan Dilla tanpa menoleh kearahnya.


Sesaat setelah kepergian Riza, Dilla langsung mengunci pintu dari dalam.


“Maafkan saya ya mas. Mas memang orang yang baik. Saya akui hal itu, tapi untuk saat ini saya belum siap untuk jatuh cinta lagi. Kalau kita terlalu dekat, saya takut akan sakit hati lagi nantinya.”


Dilla bukanlah gadis bodoh yang tidak bisa membaca gelagat dan gerak-gerik seorang pria yang sedang menyimpan rasa suka dan cinta. Perlakuan manis Riza padanya, senyum menggoda, kata-kata mesra bahkan rayuan, Dilla memahami dan menyadari itu semua. Mungkin bagi sebagian orang, Riza itu sulit ditebak. Namun, tidak bagi Dilla yang perlahan mulai mengenal sosok Riza yang sebenarnya.


Tak bisa di pungkiri bahwa Dilla memang masih menyimpan getaran di hatinya untuk Fahmi yang merupakan cinta pertamanya. Entah sampai kapan, Dilla pun tak tahu. Namun, untuk saat ini ia hanya ingin menjaga perasaannya agar tidak kembali terluka.


Dua jam kemudian.


Jam dinding menunjukkan pukul 23.00 WIB. Hujan deras kembali mengguyur ibukota.


Cetarrrrrrr......


Suara petir yang menggelegar seketika membangunkan Dilla dari tidurnya. Dilla menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, "Aku berani..berani..berani..berani." Dilla merapalkan mantra untuk mensugesti pikirannya.


Cetarrrrrrr......


Suara petir saling bersahutan dan semakin kuat menggelegar. Membuat tubuh Dilla gemetar hebat sanking takutnya. Dilla menutup matanya rapat berusaha untuk bertahan dari rasa takut itu.


Cetarrrrrrr......


"Huwaaaaaaa..!!!!!!" Dilla berteriak kencang dari balik selimutnya.


Riza yang sedang mengambil air di dapur terlonjak kaget saat mendengar teriakan Dilla. Dengan cepat Riza berlari menaiki anak tangga dengan langkah panjangnya. Memutar gagang pintu kamar yang ternyata terkunci. Riza pun menggedor-gedor pintu seraya berteriak memanggil nama Dilla.


"Huwaaaaaaa..!!!!!!" Dilla kembali berteriak.


Teriakan Dilla membuat Riza yang berada di balik pintu bertambah panik dan khawatir. Sekuat tenaga ia mendobrak pintu berkali-kali.


Pintu pun akhirnya terbuka.


Riza mendekat dan menyibak selimut Dilla.


"Huwaaaaaaa..!!!!!!"


Dilla seketika melompat kedalam pelukan Riza dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Riza mengusap lembut punggung Dilla,


"Hei, tenanglah!. Aku ada disini!" ucapnya lembut mencoba menenangkan Dilla.


Dilla menangis sesenggukan di dada Riza. Meluapkan rasa takutnya.


Selanjutnya, berakhirlah mereka tidur seranjang dengan hanya saling berpelukan erat. Sepanjang malam Dilla memeluk Riza meskipun hujan kini telah berhenti.


"Sepertinya aku akan bermimpi indah malam ini!" gumam Riza lirih seraya mengeratkan pelukannya di tubuh Dilla yang kini tengah tertidur lelap di sampingnya.