
Papi memanggil Riza ke ruang kerja Papi. Disana Papi mengatakan kalau ia telah menemukan pekerjaan yang cocok untuk Riza. Sebagai seorang dokter magang di sebuah rumah sakit swasta milik salah satu kolega Papi di Belanda.
Bukannya senang, Riza justru terlihat ragu.
"Kamu kenapa?. Sepertinya kamu tidak terlihat senang?"
Riza diam sejenak sebelum menjawab, "Begini Om, bukannya Riza tidak senang dengan tawaran Om, tapi Riza merasa kalau Riza tidak cocok dengan pekerjaan itu."
"Kenapa kamu merasa seperti itu?"
"Riza merasa tidak cocok saja, karena sejak awal Riza tidak pernah ada niat untuk menjadi dokter. Awalnya Riza mengiyakan hanya untuk membalas budi Om dan Tante saja."
"Jadi apa rencana kamu?" tatap Papi ke arah Riza.
"Riza ingin melamar pekerjaan di perusahaan percetakan saja Om. Siapa tau ada lowongan untuk menjadi penulis."
Dirwan menimpali, tampak Dirwan tidak setuju dengan keputusan Riza.
"Dengar Riza. Kamu itu lulusan terbaik fakultas kedokteran di Belanda, masa kamu mau jadi penulis?. Apa kamu tidak mempertimbangkan bagaimana perasaan mendiang ayah kamu?. Sewaktu masih hidup, ayah kamu sangat berharap supaya kamu menjadi dokter dan meneruskan rumah sakit peninggalan kakekmu. Apa kamu tidak kasihan pada mendiang ayahmu?"
Riza diam.
"Papi tidak memaksa kamu, tapi papi harap kamu bisa memanfaatkan kepintaran dan kecerdasan kamu untuk kepentingan orang banyak. Suka menulis-kan tidak harus jadi penulis. Menulis bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Jadikan itu hobi, bukan pekerjaan--"
Riza masih diam.
"Papi minta kamu mau mengubah keputusan kamu. Kalau kamu jadi penulis, apa kamu yakin mampu mencukupi kebutuhan Dilla dan calon bayi kalian?, belum lagi kamu harus membayar hutang."
Riza menjawab, "Kasih Riza waktu Om. Saat ini Riza masih belum bisa memutuskan."
"Baiklah. Papi mengerti. Kamu bisa pikirkan hal ini baik-baik," sahut papi sambil menepuk bahu Riza pelan.
Sementara itu, disisi lain Riza terlihat bingung dengan keputusannya.
Riza tampak kembali ke kamarnya dengan langkah kaki lemah. Ia menghela nafas panjang sebelum membuka pintu kamar.
Saat pintu terbuka, tampak Dilla telah tertidur pulas di atas ranjang tanpa mengenakan selimut. Melihat hal itu, dengan segera Riza menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.
Riza mengusap puncak kepala Dilla dengan lembut sambil terus memikirkan omongan papi. Dilihatnya wajah cantik didepannya itu dengan seksama, sambil sesekali ujung matanya menatap perut yang berisikan bakal anaknya kelak.
...----------------...
Mami kemudian mendekap erat pigura foto itu di dadanya sambil sesekali menyeka bulir bening di pipinya.
Dari belakang pigura itu terangkai susunan huruf.
BAYU
Ya, wajah itu adalah Bayu. Putera semata wayang Anita dan Dirwan yang telah lama meninggal dunia.
Entah mengapa malam itu Anita teringat dengan almarhum puteranya. Didalam hati ia berdoa pada Tuhan agar Tuhan mengampuni dosa puteranya itu. Meskipun Anita tahu, dosa yang telah Bayu perbuat sebagian besar juga merupakan akibat kesalahan Anita dan Dirwan.
...----------------...
Keesokan paginya, awan mendung tampak menyelimuti kota. Suara gemuruh yang saling bersautan seolah memberi pertanda kalau cuaca saat ini sedang tidak bersahabat.
Hujan deras pun mengawali hari Riza dan Dilla pagi itu. Dilla tampak tersenyum saat melihat Riza yang masih tertidur pulas disampingnya.
Riza yang biasanya selalu bangun lebih awal dari Dilla, hari ini terlihat tertidur sangat pulas. Wajar saja, sebab semalaman Riza tidak bisa tidur karena terus memikirkan kata-kata papi.
Sementara itu, didalam kamar Mami dan Papi tengah berbincang serius.
"Mami mau ke Indonesia," ucap mami tiba-tiba.
"Apalagi ini Mi?, kenapa mami tiba-tiba mau ke Indonesia segala?"
"Mami mau ke makam Bayu. Tadi malam mami bermimpi melihat Bayu sedang menangis sambil terus memeluk Mami," ungkap Mami mulai emosional.
"Tapi Mi, Papi sedang banyak urusan pekerjaan yang tidak bisa papi tinggalkan. Bagaimana kalau kita pergi minggu depan?"
"Ya ampun papi, kenapa sih papi itu selalu mementingkan pekerjaan papi daripada mami?"
"Mi, pekerjaan papi ini bukan pekerjaan main-main. Papi nggak bisa seenaknya dan semudah itu buat meninggalkan pekerjaan papi disini."
Mami diam.
"Papi sudah terlambat, nanti kita bicara lagi," tutur papi mengakhiri perbincangan mereka.