
Di ruang tamu, Riza tampak tengah duduk sambil merebahkan kepalanya di sandaran sofa. Berulang kali ia melemparkan pandangannya ke arah tangga. Menunggu kemunculan istri cantiknya yang tidak kunjung menampakkan diri. Setelan kemeja hitam dibalut jas berwarna abu dan celana panjang berwarna senada yang dikenakannya saat ini tampak membuat penampilannya semakin gagah dan tampan.
Suara derap langkah sepasang sepatu high heels terdengar nyaring menuruni anak tangga. Memaksa pandangan Riza untuk beralih ke sumber suara. Setelah tiga puluh menit lamanya menunggu, yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Terlihat seorang gadis berjalan ke arahnya dengan sangat anggun. Gaun berwarna hitam yang dikenakannya melekat sangat pas di tubuh ramping gadis itu.
Ditambah lagi tatanan rambut indahnya yang dibentuk dengan sedemikian rupa otomatis semakin menambah pancaran kecantikan sang gadis. Jantung Riza berdebar semakin cepat saat derap langkah gadis itu semakin mendekat padanya. Gadis itu menyihirnya seketika.
"Ayo, Mas!" ujar Dilla dengan senyum sumringahnya saat langkahnya terhenti tepat di depan Riza yang masih terperangah.
Mata Riza membuka lebar. Memindai tampilan memukau istrinya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Polesan make up di wajah Dilla pun tak luput dari pandangan Riza. Dilla terlihat sangat berbeda dari biasanya.
Astaga. Kenapa dia berdandan seperti ini?, bisik Riza dalam hati. Memandang tak berkedip ke arah istrinya yang terlihat sangat mempesona itu.
Dilla menautkan alisnya, saat melihat tatapan tak biasa dari Riza.
"Kenapa, Mas?. Aneh, ya?" tanya Dilla merasa aneh dengan penampilannya.
Pertanyaan Dilla itu langsung mendapat anggukan cepat dari Riza. "Iya, aneh. Sangat aneh," sahut Riza datar.
Dilla cemberut.
Dengan tersenyum tipis, Riza mendaratkan sebuah kecupan singkat tepat di bibir ranum istrinya yang tengah cemberut kesal itu. Membuat gadis didepannya itu terperanjat dan tersipu malu. Semburat merah muncul di kedua pipinya.
"Setelah di sana kamu jangan jauh-jauh dari aku," ujarnya tersenyum sesaat setelah mengakhiri kecupan singkatnya.
"Kenapa?" tanya Dilla masih dengan wajah malunya.
"Soalnya aku takut nanti kamu diambil orang."
"Maksudnya, Mas?. Diculik?" tanyanya lagi.
Riza mengiyakan. "Pokoknya kamu turuti saja perintahku."
Dilla menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil menuju ke lokasi tempat berlangsungnya acara perayaan ulang tahun kantor penerbitan Irfan.
Akhirnya Riza setuju untuk datang menghadiri acara perayaan ulang tahun kantor penerbitan Irfan malam ini. Setelah sebelumnya, pasangan suami istri itu sempat bersitegang dan berdebat cukup lama hanya untuk membuat Riza setuju dengan ajakan Dilla.
Setelah tiba di sana, Riza dan Dilla langsung di sambut dengan hangat oleh Irfan. Para karyawan yang lain juga turut menyambut kedatangan Riza yang pastinya sangat tidak menyangka bahwa Riza akan datang ke acara itu.
Mereka langsung disuguhi banyak pertanyaan dari rekan-rekan Riza yang merupakan sesama penulis yang juga turut hadir di acara kali ini. Riza hanya menjawab singkat dan datar saat rekan-rekannya itu bertanya padanya.
Disebelahnya tampak Dilla berdiri tegak sembari merangkul lengan pria disampingnya, memperhatikan raut wajah datar itu dalam diamnya.
Beberapa saat kemudian, Irfan mendekat ke arah Riza dan Dilla.
"Bisa kita bicara empat mata, Riza?" ajak Irfan pada Riza.
Riza segera berbisik di telinga Dilla, "Aku pergi sebentar. Kamu tunggulah di sini. Jangan kemana-mana."
Dilla mengangguk.
Riza segera berjalan mengikuti langkah Irfan dari belakang. Sesaat setelah kepergian Riza, Dilla pun segera berjalan perlahan menuju ke arah meja dengan membawa segelas air di tangannya.
Saat berjalan, dari arah berlawanan Nana datang dan tiba-tiba menabrak tubuh mungil Dilla, hingga membuat Dilla terjengkal dan jatuh terjerembab ke lantai. Seketika semua mata tertuju ke arahnya termasuk Nana akan tetapi Nana hanya menoleh sekilas lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah depan dengan menampilkan seringai mengejek ke arah Dilla sesaat sebelum melangkahkan kakinya kembali.
Dilla menatap sebal ke arah Nana. Dengan kesal, Dilla pun berusaha untuk bangkit akan tetapi sepatu high heels yang dikenakannya membuatnya sangat sulit untuk berdiri. Berulang kali ia mencoba tapi hasilnya tetap sama. Dilla tetap tak bisa bangkit dari atas lantai.
Tiba-tiba tangan seorang pria terulur ke arahnya, Dilla pun menerima uluran tangan pria tersebut. Dengan sigap pria itu menarik tangan Dilla untuk membantunya berdiri.
Dilla membenarkan posisi gaunnya yang sedikit berantakan sesaat setelah ia berdiri tegak didepan pria itu.
"Terima kasih," ujarnya tanpa menatap pria didepannya.
"Kamu baik-baik saja?" sahut pria itu setelah melepaskan tangan Dilla.
Matanya membulat kaget saat mendapati sosok Aldrich didepannya. "Mister?!. Loh, Mister kok bisa di sini?" tanya Dilla lagi pada Aldrich.
"Loh, ternyata kamu?!. Kamu sedang apa di sini?" Aldrich bertanya balik, tak kalah kagetnya dari Dilla. Aldrich memindai penampilan Dilla yang tampak berbeda dari biasanya.
"Saya jadi tamu undangan di sini, Mister. Mister sendiri ngapain?"
"Aku jadi pengisi acara di sini. Nggak nyangka, kita ketemu di sini."
Aldrich dan Dilla sama-sama tersenyum.
"Kamu beneran baik-baik aja kan?. Tidak ada yang terluka?" tanya Aldrich kemudian.
Dilla mengangguk.
"Wanita itu benar-benar kurang ajar. Dia sudah membuatmu terjatuh tapi tidak mau membantu atau meminta maaf sedikitpun." Aldrich menatap tajam ke arah Nana.
"Sudahlah, Mister. Saya ndak apa-apa, kok."
"Tidak. Aku tidak suka melihat orang yang bertindak semena-mena seperti ini. Aku harus berbuat sesuatu."
Sesaat kemudian, Aldrich pun segera menghampiri Nana yang diikuti oleh Dilla dari belakang. Meskipun Dilla sudah berusaha mencegah Aldrich, akan tetapi Aldrich tetap bersikeras untuk menghampiri Nana. Nana memutar tubuhnya saat merasakan sesuatu menyentuh bahunya. Ia menatap Aldrich dan Dilla dengan tatapan angkuh.
"Ada apa, ya?" tanya Nana singkat.
"Nona sudah menabrak teman saya tadi. Saya minta Nona segera meminta maaf pada teman saya," sinis Aldrich pada Nana.
"Heh?!. Minta maaf?. Hello?!. Emang loe siapa nyuruh gue minta maaf segala?!. Emangnya ada bukti kalau gue yang nabrak teman loe?. Temen loe ini aja kali yang jalannya nggak pake mata!. Terus malah nuduh gue!" sarkas Nana.
"Mbak jangan sembarangan ngomong, ya. Saya ndak pernah nuduh siapapun." Dilla menanggapi.
Nana memutar bola matanya jengah. "Apa loe bilang?. Mbak?!. Lancang banget mulut loe manggil gue mbak!. Dasar udik. Bisa nggak sih, nggak usah ngomong pake logat ndeso loe itu. Kampungan!"
Tenggorokan Dilla terasa tercekat. Air mata nyaris jatuh dari sudut matanya saat mendengar ujaran angkuh bercampur hinaan dari Nana, gadis yang sama sekali tak dikenalnya yang kini tengah memandang ke arahnya dengan tampang menyebalkan khasnya. Tampang yang sungguh membuat orang kesal seketika tak terkecuali Aldrich yang masih berdiri menatap tajam ke arah Nana.
"Jaga mulutmu!. Dasar wanita tidak punya sopan santun. Bukannya minta maaf, malah menghina orang." Aldrich menatap tajam ke arah Nana.
Nana hanya tersenyum mengejek ke arah Aldrich.
"Sudah, Mister. Kita pergi saja dari sini. Bisa gila kita meladeni orang gila. Dasar wong edan!" sarkas Dilla sesaat sebelum menarik tangan Aldrich, membawanya menjauh dari Nana.
"Dasar sinting!" gerutu Aldrich pada Nana sebelum melangkahkan kakinya.
"Apa loe bilang?!" teriak Nana kemudian.
Dari kejauhan, Riza menatap tajam ke arah Aldrich dan Dilla. Matanya tertuju pada tangan Dilla yang menggenggam erat tangan Aldrich. Dengan langkah cepat, Riza pun segera menghampiri Dilla dan Aldrich.
"Ada apa ini?" tanyanya datar sesaat setelah berhenti tepat di depan Dilla dan Aldrich dengan mata yang masih betah memandangi pegangan tangan Dilla pada Aldrich.
Dilla hanya diam membisu menatap ke arah Riza.
Secepat kilat, Riza menarik Dilla ke arahnya. Seketika tangan kirinya merangkul erat pinggang ramping Dilla seraya menatap Aldrich dengan tampang sangat tidak bersahabat.
Tampangnya sungguh sangat menyebalkan. Dia menatapku seolah aku ini pencuri yang akan mencuri miliknya, batin Aldrich.
Aldrich pun menanggapi, "Tidak perlu marah. Santai saja. Aku hanya menolong Dilla barusan."
Riza hanya menatap Aldrich sekilas, lalu berlalu pergi meninggalkan Aldrich di belakang dengan masih merangkul erat pinggang istrinya.
Aldrich hanya diam dan menggeleng saat menatap Riza dan Dilla dari belakang.
Sikapnya benar-benar konsisten hingga akhir. Menyebalkan sekali!, tambah Aldrich dalam batinnya.