
Setelah Dilla berhasil menenangkan pikiran akibat tingkah memalukannya tadi, Dilla akhirnya keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya.
Dilla pun melihat Riza telah tertidur pulas di ranjang.
Karena takut malu untuk kedua kalinya, maka Dilla dengan secepat kilat langsung berlari ke arah lemari mengambil pakaian untuknya.
Saat Dilla membuka lemari, Dilla melotot kaget mendapati sebuah lingerie hitam dengan potongan yang sangat terbuka tampak tergantung di dalam lemari seolah menyambut kedatangannya.
Dilla mengambil lingerie tersebut lalu menggumam pelan, "Bagaimana ada pakaian seperti ini disini?"
Flashback
Mami memesan sebuah kamar pengantin untuk Dilla dan Riza sehari sebelumnya. Lalu mami mendekorasi seluruh ruangan kamar itu khusus untuk Dilla dan Riza.
Ketika mami menaruh pakaian untuk Riza di dalam lemari, tak lupa mami juga menaruh sebuah lingerie hitam khusus untuk Dilla.
Flashback End
Dilla mengobrak-abrik isi lemari namun ia hanya menemukan pakaian milik Riza dan tidak menemukan satu pakaian pun untuknya disana selain lingerie kurang bahan tersebut.
Dilla mendesah pelan.
Akhirnya dengan berat hati, Dilla memakai pakaian tersebut. Dilla menatap pantulan dirinya di cermin dengan perasaan malu karena pakaian yang ia kenakan sangatlah minim sehingga memperlihatkan lekuk indah tubuhnya.
"Baju ini terbuka sekali?. Tapi mau bagaimana, aku tidak punya baju lain!" batin Dilla.
Terlihat Dilla menarik selimut tebal yang tersimpan di dalam lemari kemudian menggelarnya di lantai, Dilla memutuskan tidur disana.
Mata Dilla pun terpejam.
Dua jam kemudian, Dilla merasakan udara dingin menusuk sekujur tubuhnya sehingga ia semakin menarik selimutnya dalam untuk mengurangi rasa dingin di tubuhnya. Akan tetapi tebalnya selimut tidak mampu mengalahkan dingin yang di rasakan olehnya malam itu.
Dengan setengah sadar, Dilla merangkak naik ke atas ranjang, menarik bedcover untuk menutupi tubuhnya kemudian ia kembali memejamkan mata.
Pukul 04.30 dini hari, Riza tersadar dan membuka matanya perlahan.
Setelah matanya membuka penuh, betapa terkejutnya ia mendapati Dilla tengah tertidur pulas di sampingnya mengenakan pakaian minim yang memperlihatkan lekuk tubuh Dilla.
Seketika Riza memalingkan wajahnya dan langsung beranjak ke kamar mandi untuk bersiap-siap melaksanakan shalat Subuh.
Selanjutnya perlahan Dilla pun juga ikut membuka mata dan bangun dari mimpi indahnya, "Hooaaammm..."
Dilla mengucek-ngucek matanya lalu berkata dalam hati, "Kenapa aku bisa tidur di atas sini ya?"
Dilla kemudian menyapu seisi kamar mencari sosok Riza, "Mas Riza mana?. Masih Subuh kok sudah tidak ada?" gumam Dilla dengan suara serak khas bangun tidur.
Karena ingin menunaikan shalat Subuh, Dilla pun langsung beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
Saat Dilla berada di depan pintu kamar mandi, tiba-tiba pintu terbuka.
Riza keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan handuk kimono mengikat pinggangnya.
Seketika aroma tubuh Riza menguap menembus hidung Dilla, "Hmm..., mas Riza wangi sekali." Dilla membatin.
Riza seketika menahan nafas dan berusaha mengendalikan pikirannya saat melihat Dilla dengan pakaian minimnya sedang berdiri didepannya, sesaat kemudian ia pun langsung beranjak pergi meninggalkan Dilla sambil berkata, "Mandi dan ganti pakaian minim mu itu, mataku sakit melihatnya!"
Saat menyadari ucapan Riza, Dilla langsung menyilangkan tangannya di dada.
Seketika Dilla langsung berlari dan masuk ke dalam kamar mandi. Didalam kamar mandi Dilla terlihat mengingat sesuatu.
Dilla menepuk jidatnya pelan. "Dasar pelupa!" gumamnya
Ia kemudian membuka pintu dan langsung berlari marathon untuk mengambil handuknya yang ia tinggalkan di dalam lemari tadi malam.
Setelah itu ia masuk kembali ke dalam kamar mandi. Dilla tampak bersandar di balik pintu dan memegangi dadanya, mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah akibat berlari.
Setelah nafasnya teratur, barulah Dilla mengguyur tubuhnya dengan air hangat.
"Akh, segarnya!" gumam Dilla.
Setelah selesai mandi, Dilla terlihat bingung memikirkan pakaian apa yang harus ia pakai, karena ia sama sekali tidak memiliki pakaian lain selain lingerie yang dipakainya tadi malam.
Tanpa berpikir panjang, Dilla langsung keluar dengan hanya melilitkan handuk di tubuhnya dan membiarkan rambut basahnya terurai.
Riza telah menyelesaikan shalat Subuh nya.
Dilla sedikit tertegun melihat Riza yang terlihat sangat tampan dengan mengenakan sarung dan peci di kepalanya.
Saat Riza membalikkan badan, Riza kaget melihat Dilla sedang berdiri menatapnya.
Dilla kemudian menghampiri Riza "Mas, kenapa tidak menunggu saya?. Kita kan bisa shalat Subuh berjamaah?" tanya Dilla.
Riza hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Dilla.
Dilla kembali bertanya, "Mas punya pakaian lain tidak?. Soalnya saya tidak punya pakaian lain untuk dipakai, Mas!"
Riza terlihat berjalan menuju lemari pakaian, lalu memberikan salah satu pakaiannya yang ada di lemari kepada Dilla.
"Pakai ini untuk sementara!" katanya singkat.
"Terima kasih, Mas." Dilla tersenyum senang.
Pakaian yang diberikan Riza ternyata sangat kebesaran di tubuh Dilla alhasil membuat Dilla terlihat seperti orang-orangan sawah.
Dilla kelihatan tidak nyaman dengan pakaian yang dipakainya, namun ia berusaha menerima keadaannya saat ini.
Akhirnya Dilla pun telah selesai melaksanakan shalat Subuh nya.
tok...
tok...
tok...
"Pagi, sayang!"
"Pagi,mami!"
"Kalian siap-siap ya, sehabis sarapan pagi kita langsung pulang!"
"Baik, Mi!"
Selesai sarapan pagi, mereka semua pun bergegas meninggalkan hotel.
Dalam perjalanan pulang, Mami meminta Dilla untuk ikut bersama mami tinggal di rumah Riza. Namun Dilla menolak dan mengatakan bahwa ia ingin tinggal beberapa hari di rumah Laras. Ia ingin menghabiskan waktu bersama ibu dan adiknya sebelum kepulangan mereka ke desa.
"Tapi sayang, bagaimana dengan Riza?. Kamu sudah minta izin sama suami kamu?"
Riza terlihat diam saja seolah tidak mendengar pembicaraan Dilla dan mami.
Dilla kemudian meminta izin kepada Riza yang duduk disebelahnya.
"Bagaimana mas?" tanya Dilla
"Ehm." Riza mengiyakan.
Dilla tersenyum lega.
Akhirnya untuk beberapa hari Dilla akan tinggal sementara di rumah Laras.
--------------
Dua hari kemudian, Niko datang menemui Riza di rumahnya. Terlihat Mami membukakan pintu untuk Niko.
"Selamat pagi, tante!" sapa Niko
"Selamat pagi, Niko!"
"Riza ada, Tan?"
"Ada, dia lagi di kamarnya. Masuk saja!"
Niko langsung bergegas menaiki tangga menuju ke kamar Riza.
tok...
tok...
tok...
Riza melirik ke arah pintu, terlihat Niko menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Gue boleh masuk, bro?"
"Iya!"
"Dilla mana?, Kok nggak kelihatan?"
"Di rumah Laras!"
"Oh!" jawab Niko.
Niko pun memulai lelucon recehnya,
"Ngomong-ngomong gimana bro malam pertama kemarin?, cerita dong ke gue, biar gue ada pengalaman gitu. Ha...ha...ha."
Riza membalas lelucon receh Niko dengan menatap tajam ke arahnya.
"Kalau tidak ada urusan lagi, kamu pulang sana. Aku capek, mau istirahat!" Riza merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"Gitu banget sih Loe!!!" Niko menarik kursi yang ada didekatnya.
Riza berpura-pura tertidur dan menutup matanya.
"Gini lho bro, si Irfan semprul itu terus aja nanyain ke gue kapan loe bakal nyerahin naskah novel loe," cerita Niko.
Mendengar itu Riza langsung membuka matanya.
"Emang resek tuh orang, kagak sabar banget!" sambung Niko kesal.
Riza terlihat mengerutkan dahinya.
"Jadi langkah loe selanjutnya apa bro?"
Riza beranjak dari tempat tidurnya, kemudian mengambil jaket di dalam lemari pakaiannya.
Niko memperhatikan setiap langkah dan gerakan Riza. Ia menatap ke arah Riza dengan tatapan penuh keanehan.
"Woi. Ngapain sih Loe?"
"Kamu bawa mobil kan?"
Niko mengangguk mengiyakan.
Selanjutnya, Riza langsung bergegas ke luar kamarnya meninggalkan Niko yang mematung di tempat duduknya.
"Loe mau kemana, Za?", Niko berlari mengejar Riza dari belakang.