My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/105



Jakarta


Malam kedua acara gathering perayaan ulang tahun rumah sakit berjalan dengan sangat akrab.


Pihak rumah sakit memang sengaja memilih hotel yang berada sedikit jauh dari kota dengan maksud untuk mencari suasana dan udara yang sedikit berbeda dari tempat dimana mereka biasa bekerja.


Setelah acara malam itu berakhir, semua staf dan karyawan segera kembali ke kamar untuk melepas penat mereka seharian ini.


Karena belum mengantuk, Niko memutuskan pergi ke bar hotel yang berada di lantai dasar. Niko segera mendudukkan dirinya di kursi bar sesaat setelah tiba di sana.


Dari kejauhan, tampak seorang pria sedang menatap gerak-gerik Niko. Niko terperanjat saat merasakan sesuatu menyentuh pundaknya.


Niko berbalik dan mendapati sosok Fahmi di sana. Seperti biasa, Niko menyapa Fahmi dengan gaya basa-basi khasnya. Sementara Fahmi terlihat menatap tajam ke arah Niko dengan tatapan sinis dan emosi yang tertahan.


Tanpa aba-aba, Fahmi mengarahkan tinjunya pada Niko.


"Apa-apaan, Lo?!" umpat Niko sambil memegang bekas pukulan Fahmi di wajahnya.


"Ini balesannya karena lo dan Riza brengsek itu udah bikin hidup Dilla menderita."


"Nyantai dong, bro. Maksud lo apaan?"


"Nggak usah pura-pura **** lo ya brengsek. Lo sama sepupu lo itu memang nggak bisa dipercaya. Dulunya gue sempet mau ngerelain Dilla, tapi sekarang gue berubah pikiran. Gue nggak bakal lepasin Dilla kali ini. Gue bakal dapetin dia gimanapun caranya."


Niko menaikkan sudut bibirnya, "Dasar sinting. Gue tanya sama lo, sejak kapan lo lepasin Dilla, hah?. Lo kira gue nggak tau, apa yang lo lakuin ke Dilla pas Riza di luar kota kemarin?. Lo ngedeketin Dilla udah kayak benalu tau nggak lo. Nyadar dong lo bro, Dilla itu istri orang. Emangnya nggak ada perempuan lain apa?, sampe istri orang lo embat juga!"


Fahmi terbahak, "Dilla itu milik gue sampe kapanpun. Lo pikir sepupu lo yang nggak waras itu bisa jagain Dilla. Sepupu lo itu gila. Dia nggak pantes buat Dilla, dia itu pantesnya masuk rumah sakit jiwa."


Niko menatap Fahmi tajam dengan wajah yang merah padam, menahan amarah di dadanya, "Berani-beraninya lo bilang kalo Riza itu gila. Dasar laki-laki brengsek."


Kali ini, Niko melayangkan tinjunya pada Fahmi dengan sekuat tenaga. Tubuh Fahmi mendarat di atas dinginnya lantai bar tempat ia berdiri.


Fahmi berdiri kemudian melesatkan tinjunya kembali. Namun, dengan cepat Niko menangkap kepalan tangan Fahmi yang nyaris mengenai wajahnya.


Niko mencengkeram jemari Fahmi sekuat tenaga dengan tatapan amarah yang terlihat jelas di matanya.


Sementara itu di tempat lain, Kia terlihat melamun di ruang kerjanya. Ia kembali mengingat pertemuannya tadi sore dengan seorang pria yang tidak ia kenal.


Flashback


Di taman rumah sakit, Kia bertabrakan dengan seorang pria bertopi dengan masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya.


Pria itu tak lain ialah Joe. Pembunuh bayaran sekaligus orang suruhan Adam - ayah Aldrich. Joe menjadi buron sejak ia berhasil kabur dari penjara beberapa waktu lalu.


Joe kabur saat mengetahui kabar dari salah satu rekannya bahwa dirinya akan dilenyapkan oleh ayah Aldrich.


Adam yang awalnya berjanji untuk membebaskan Joe justru berniat akan menghabisi nyawa si pembunuh bayaran itu.


Joe yang merasa dikhianati oleh Adam, lebih memilih kabur dari tahanan daripada harus mati di tangan bosnya itu.


"Maaf," ucap Kia pada Joe sambil memberikan dua buah map milik Joe yang terjatuh di tanah.


Joe tersenyum sepintas dari balik masker yang ia kenakan. Meskipun terhalang oleh masker, tapi Kia dapat melihat dengan jelas senyuman Joe dari guratan mata pria didepannya itu.


Joe bergumam, "Kalian benar-benar memiliki wajah yang sama persis."


Kia terperanjat saat mendengar gumaman aneh lelaki yang tengah berdiri didepan itu.


"Maaf. Kamu bilang apa?" tanya Kia penuh selidik. Menatap wajah lelaki itu penuh curiga.


Pria didepannya hanya menyeringai tipis kemudian pergi meninggalkan Kia yang masih mematung di tempatnya berdiri.


Sesaat berikutnya, Kia mengingat sesuatu. Kata-kata pria itu tiba-tiba berdenging di telinganya.


Kalian benar-benar memiliki wajah yang sama persis.


"Kalian?!" gumam Kia sambil memandang punggung lelaki asing tersebut.


Kia pun memutuskan menyusul langkah Joe dengan sedikit berlari.


"Hei, tunggu. Berhenti!!" teriaknya sambil terus berlari mencoba mengejar langkah panjang Joe.


Tiba-tiba Joe berbalik hingga membuat Kia sedikit terhenyak.


"Siapa kamu?!" tanyanya dengan sorot mata tajam.


"Wajah kalian benar-benar sama. Kalian memang pantas disebut anak kembar."


Joe melepas topi yang ia kenakan lalu menatap tajam mata Kia. Ia tersenyum sinis dari balik masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Kia penuh penekanan mencoba memberanikan dirinya dengan mengepal kuat jemari tangannya.


"Raja. Saudara kembarmu. Aku tau dia ada dimana."


Kia melotot kaget.


"Temui aku di taman kota, besok pagi!" sambung lelaki itu dingin.


Kia diam.


"Aku akan memberikan informasi tentang Raja tergantung seberapa banyak uang yang mampu kau tawarkan padaku saat kita bertemu lagi besok pagi. Sampai jumpa."


Pria itu berbalik dan mengenakan topinya kembali lalu buru-buru berlari meninggalkan Kia.


"Berhenti. Tunggu!!" teriak Kia sekuat tenaga.


Langkah Kia terhenti saat seseorang menarik lengannya.


"Kamu mau kemana?. Kita ada pasien darurat. Ayo!" ucap rekan seprofesi Kia tiba-tiba sambil menyeret lengan Kia dibelakang.


Flashback End


-------


Belanda


Cahaya putih menerobos pupil mata Riza setelah ia sadarkan diri sesaat lalu.


"Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya seorang perawat wanita yang kebetulan berada di samping ranjang saat Riza sadarkan diri.


Riza tampak mengerjap beberapa kali sebelum menoleh kearah perawat. Perawat itu pun bergegas keluar ruangan untuk memanggil dokter.


"Bagaimana keadaan anda, Tuan?" tanya seorang dokter muda pada Riza saat tiba di ruangan.


Riza diam. Ia memperhatikan orang-orang yang ada di sekeliling dokter muda itu dengan dahi berkerut dan pandangan mata ketakutan.


Polisi mendekat, "Kami menemukan anda tergeletak di pinggir jalan. Anda sedang berada di rumah sakit. Tidak perlu takut."


Riza yang tidak membawa identitas, membuat polisi curiga. Polisi pun menduga bahwa Riza merupakan seorang imigran gelap. Pasalnya perawakan Riza dengan wajah khas orang Asia itu semakin menunjukkan bahwa ia bukanlah merupakan warga Belanda.


Polisi mulai menginterogasi Riza, "Bisa anda sebutkan siapa nama anda?. Dan anda tinggal dimana?"


Riza diam, menundukkan kepalanya lalu menggeleng pelan tanpa berkata sepatah katapun.


Polisi dan dokter saling berpandangan.


Polisi kembali berkata, "Hei, Tuan. Apa kau mengerti apa yang aku ucapkan?. Beritahu aku siapa namamu dan kau tinggal dimana. Lalu paspor. Dimana paspormu?"


Riza mulai gemetar dan semakin menunduk dalam.


Riza tidak menjawab sedikitpun. Bukannya ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh polisi, hanya saja ia bingung dengan keadaan dirinya saat ini.


"Dasar pria gila!. Membuang waktuku saja!" umpat polisi kesal.


"Tenanglah, Pak. Biarkan dia istirahat dulu. Nanti anda bisa menanyainya lagi," ujar dokter kemudian.


Polisi akhirnya keluar ruangan bersama dengan dokter. Sementara Riza, masih duduk diam di atas ranjang. Sesaat kemudian, ia mendongak dan memandang ke arah jendela. Matanya terpaku pada indahnya butiran salju yang ada dihadapannya.


Sementara itu, di tempat berbeda, Dilla tampak duduk memandang ke arah jendela besar rumah Thomas. Dengan air mata yang terus mengalir, ia memandang indahnya butiran salju yang turun seiring dengan tetesan air mata yang ikut luruh dari kelopak matanya.


Sepulang dari kantor kedutaan pagi tadi, Dilla tak henti-hentinya menangis. Usaha Dilla untuk meminta alamat papi dari sana, tidak membuahkan hasil. Tak ayal hal itu, membuat hati Dilla semakin bertambah hancur. Harapannya untuk segera bertemu dengan Riza, pupus sudah.


Putihnya salju membuat Dilla ikut hanyut dan larut dalam kenangan indah yang pernah ia lalui bersama Riza dulu.


Flashback


Riza melihat Dilla terbaring di ranjang dengan selimut tebal membalut tubuh mungil istrinya.


"Kamu kenapa?. Kenapa wajah kamu pucat begitu?"


"Ndak tau, Mas. Kepala saya rasanya berat," jawab Dilla lemah dengan mata setengah terpejam.


Riza memegang kening istrinya. Ia sedikit terperanjat saat merasakan suhu panas di punggung tangannya. Menyadari Dilla demam, dengan cepat Riza membuka laci nakas kemudian mengambil obat penurun demam dari dalam kotak obat yang ada disana.


"Minum dulu."


Riza duduk disebelah Dilla lalu menyodorkan obat yang ada ditangannya pada Dilla.


Dilla membuka matanya dan menggeleng lemah, "Nggak mau, Mas. Pahit," ujarnya dengan mulut yang mengatup rapat.


"Ayo, minum obatnya. Kamu itu sedang sakit. Jangan kekanak-kanakan seperti ini. Ayo, minum."


Dilla melotot tajam pada Riza.


"Nggak!!!" Dilla langsung menenggelamkan wajahnya kedalam selimut.


"Ayo, minum obatnya!" paksa Riza lagi.


"Nggak mau, Mas. Pahit."


"Cepat minum obatnya dan berhenti bersikap seperti anak kecil. Kamu itu sudah dewasa, masa minum obat saja harus dipaksa!"


Riza menyibak selimut dari wajah Dilla. Ia terkejut saat melihat air mata sudah membasahi wajah istrinya. Dengan cepat, ia mendekap tubuh Dilla dengan penuh rasa penyesalan.


"Jangan menangis. Aku minta maaf, ya. Aku salah. Aku mohon berhentilah menangis."


Riza pun dapat merasakan dengan jelas suhu tubuh Dilla yang terasa semakin panas.


Riza memperhatikan wajah Dilla yang pasi sesaat setelah pelukan mereka berakhir.


"Berhentilah menangis. Aku tidak mau kamu bertambah sakit."


"Saya nggak mau minum obat," rengek Dilla.


"Kalau kamu tidak minum obat. Bagaimana kamu bisa sembuh?" bujuk Riza dengan lembut.


Dilla menggeleng sambil merangkul erat Riza lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Ya sudah. Aku akan buatkan kamu teh hangat. Tapi janji harus diminum."


Dilla mengangguk.


Riza segera bangkit dan berjalan menuju dapur. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan segelas teh hangat di tangannya.


Dilla segera meneguk teh yang disodorkan oleh Riza padanya.


Riza tampak membelai rambut istrinya sambil tersenyum. Memperhatikan wajah istrinya saat meneguk teh pemberian darinya.


"Ini teh apa, Mas?. Kok rasanya pahit, nggak kayak teh biasanya," tanya Dilla sambil menyodorkan kembali gelas yang telah kosong kearah Riza.


Riza tersenyum.


"Aku udah kasih ramuan ajaib kedalam situ. Ramuan cinta."


"Cinta kok rasanya pahit," gumam Dilla.


Riza terkekeh. "Ya sudah, ayo tidur."


Dilla mengangguk lalu membaringkan tubuhnya. Riza menarik selimut kemudian mendekap tubuh mungil itu dari belakang sambil sesekali membelai lembut rambut istrinya. Belaian lembut Riza perlahan membuat mata Dilla terpejam.


Flashback End


Air mata masih menetes dari sudut mata Dilla. Air mata pertanda kerinduan yang kian tak terbendung.


Kamu dimana, Mas?. Aku harus cari kamu kemana?, batin Dilla pilu.