
Dilla POV
Jantungku serasa berhenti mendengar semua ini. Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Apa mungkin suamiku punya hubungan seintim itu dengan wanita lain?. Sikapnya itu tidak seperti Mas Riza yang aku kenal.
Aku bingung. Siapa yang harus aku percaya. Suami yang paling aku cintai atau gadis yang sedang menangis tersedu di depanku ini. Ah, mau gila aku rasanya mendengar semua ini. Sekali lagi aku harus menghadapi ujian dalam kehidupan rumah tanggaku.
Namun, aku tidak boleh terpengaruh begitu saja. Aku harus menjernihkan pikiranku. Aku ini isteri Mas Riza. Aku tidak boleh percaya begitu saja dengan kata-kata gadis ini.
Berulang lagi kudengar suamiku menyangkal perkataan Henzhie, ia terus memintaku untuk mempercayainya. Dan akhirnya aku pun lebih memilih mempercayai suamiku ketimbang gadis ini, akan tetapi entah kenapa aku masih saja kesal pada suamiku ini. Salah kamu sendiri Mas, tidak pernah mau menuruti kata-kataku.
"Dilla, percayalah. Aku tidak pernah melakukan semua itu. Itu semua bohong," ucapnya memelas untuk meyakinkanku.
Aku bisa mendengar kegundahan besar dari balik suara yang terdengar gemetar dan parau itu.
Sekali lagi Mas Riza menekankan kalimatnya. Aku hanya mampu menunduk dan menahan air mataku. Aku bosan terus menerus menangis. Tanpa menatap matanya, aku pun berkata, "Cukup, Mas!. Saya capek dengan semua ini!" seruku.
Mas Riza terdiam. Inilah saatnya aku membuktikan kesetiaan suamiku.
"Mas tidak usah membela diri lagi. Begini saja. Sekarang Mas tinggal pilih, Mas pilih saya atau Henzhie. Apapun keputusan Mas, saya siap."
Mas Riza terdiam, lebih tepatnya bingung dengan sikapku kali ini. Sesaat kemudian ia pun berkata, "Kamu ini bicara apa, sih?. Untuk apa aku memilih, kalau dari awal aku memang tidak punya hubungan apapun dengan dia," ucapnya tanpa ragu.
Aku senang. Ucapan Mas Riza semakin membuatku yakin terhadapnya. Aku sangat mengenal suamiku, meskipun aku tidak bisa membaca apa yang ada dalam pikirannya tapi aku percaya suamiku tidak seperti apa yang dituduhkan gadis ini.
Mas Riza tidak berbicara apapun setelah aku mengatakan itu. Ia hanya memelukku erat, yang aku balas dengan pelukan juga. Ya, aku menaruh kepercayaan besar padanya.
Aku menikmatinya. Sungguh. Rasanya semua kegundahan dan kebimbangan ku lenyap seketika.
Aku tersenyum.
Dari arah lain, kudengar suara Henzhie memecah, "Rizaa!!!!. Jangan lakukan ini padaku. Bukannya kamu bilang, kamu hanya mencintaiku. Bagaimana nasibku, bagaimana nasib anak dalam perutku ini kalau sampai kamu meninggalkan aku, Riza?"
Aku tersentak mendengar ucapannya kali ini. Apa lagi ini?, batinku meradang.
Aku pun segera melepaskan pelukan suamiku kemudian berdiri dan menghampiri gadis bule yang ada didepanku itu. Dengan sekali gerakan, aku melayangkan sebuah tamparan keras di pipinya. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menutup mulut menjijikkannya itu.
Aku pun memutar otakku kali ini, "Berhenti berbohong!!!" Aku melotot tajam padanya, "Hentikan semua kebohongan kamu itu. Kamu dengar, Mas Riza itu kan impoten. Jadi, bagaimana mungkin kamu bisa hamil!!!" seruku.
Seperti yang aku duga, Henzhie tampak kaget bukan main saat mendengar kalimat konyol ku itu. Habis mau bagaimana lagi.
Aku melanjutkan, "Kenapa?. Kamu kaget?" ucapku pada Henzhie yang masih terdiam.
Sedetik berikutnya, aku menoleh pada suamiku. Ku lihat raut keterkejutan di wajahnya.
Maaf, ya Mas. Aku terpaksa mengatakan hal bodoh ini, batinku merasa bersalah.
Aku melanjutkan, "Begini saja. Kita pergi ke rumah sakit sekarang. Aku mau tahu, kamu beneran hamil atau nggak."
"Kamu pikir aku berbohong?"
"Bisa saja."
Thomas menyahut, "Nona pikir adik saya ini pembohong?!. Walaupun awalnya saya tidak menyangka tapi saya percaya dengan apa yang Henzhie katakan."
"Masalahnya Mas, saya juga lebih percaya sama suami saya daripada adik Mas ini."
Thomas diam.
Henzhie berkata, "Tolong aku, Thom. Aku harus bagaimana sekarang?" isaknya dihadapan Thomas.
...----------------...
Author POV
Satu jam setelahnya, Thomas pun akhirnya memutuskan pergi membawa Henzhie ke rumah sakit meskipun Henzhie terus menerus menolak ajakan Thomas, tapi Thomas tetap memaksa adiknya itu untuk ikut dengannya. Thomas sempat merasa curiga dengan sikap Henzhie tersebut. Namun, ia juga terlalu percaya kalau Henzhie tidak mungkin berbohong padanya.
Sepanjang perjalanan, Thomas hanya diam dibalik kemudinya. Sementara Henzhie terlihat sangat gusar. Ia sangat takut kebohongannya terbongkar. Kalau sampai Thomas tahu ia berbohong, sudah dipastikan Thomas tidak akan memaafkannya.
Dengan takut-takut, Henzhie memulai kalimatnya, "Hentikan mobilnya, Thom."
"Ada apa?"
"Ayo, kita pulang. Tidak usah ke rumah sakit."
Henzhie mencengkeram erat sabuk pengamannya, sekuat tenaga ia berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara dan mengatakan yang sebenarnya pada Thomas.
Sementara itu, di tempat lain, Riza dan Dilla sedang bertengkar hebat di dalam kamar.
"Sekarang jawab aku. Untuk apa kamu bicara hal konyol seperti tadi didepan semua orang?. Kamu itu udah buat aku malu tau nggak!!"
"Maksud Mas apa, sih?. Saya itu terpaksa. Kalau saya nggak kayak tadi, Henzhie pasti terus-terusan fitnah kamu."
"Aku tahu, tapi harusnya kamu pikirin dong harga diri aku. Aku itu malu. Kamu nggak lihat, gimana ekspresi Thomas sama Aldrich tadi. Mereka pasti bakal beneran mikir kalau aku itu laki-laki nggak berguna."
"Habis mau gimana lagi. Mas kan tahu sendiri kalau Henzhie itu suka banget sama Mas. Jadinya saya spontan bilang kayak gitu biar dia nggak gangguin Mas lagi. Lagian Mas juga sih, saya kan udah bilang berapa kali, tapi Mas nggak pernah mau denger. Kejadiannya nggak bakalan kayak gini kalau aja Mas mau dengerin kata-kata saya untuk jauh-jauh dari dia."
"Kenapa kamu jadi nyalahin aku, sih?. Ini semua juga gara-gara kamu sama Aldrich."
"Lah, kok Mas jadi malah nyalahin saya sama Mister."
"Iya. Ini semua nggak akan terjadi kalau saja kamu tidak melarang aku ikut sama kamu dan Aldrich. Lagian kalian ngomongin apa sih, sampai aku nggak boleh ikut. Coba aja kalau aku ikut, aku pasti nggak bakal terjebak sama Henzhie kayak gini."
"Jadi, maksud Mas semua ini kesalahan saya. Saya yang salah?!. Gitu?!"
Riza terdiam.
"Ya sudah, salahin aja saya terus. Marahin aja terus, saya udah biasa kok dimarahin kayak gini. Saya yang salah, semuanya memang salah saya."
"Bukan gitu, maksud aku itu ---"
Belum lagi sempat Riza selesai bicara, Dilla sudah buru-buru keluar kamar dengan membawa rasa amarah di dadanya hingga tak mengindahkan teriakan Riza yang terus memanggilnya berulangkali.
Riza mengacak rambutnya frustasi. Sedetik kemudian ia pun segera berlari dan mengejar Dilla.
Riza menangkap lengan Dilla lalu berkata, "Tunggu dulu. Dengerin aku dulu, dong."
"Mas mau ngomong apa lagi, sih?. Masih belum puas marahin saya?"
"Aku ini suami kamu. Harusnya kamu dengerin aku sampai selesai bicara, bukannya malah pergi gitu aja."
"Saya itu capek, Mas. Terus-terusan berantem sama Mas cuma gara-gara orang lain. Dan ujung-ujungnya Mas selalu nyalahin saya. Bahkan didepan Mami pun, Mas nggak bela saya sama sekali."
"Maksud kamu apa?" Riza kembali tersulut emosi.
"Harusnya saya yang tanya, maksud Mas apa sebenarnya?. Sebentar baik, sebentar nggak. Sebentar marah, sebentar baikan. Lalu pas ada masalah kayak gini, Mas itu justru nyalahin saya."
Dilla terlihat benar-benar kesal kali ini. Matanya menatap tajam ke arah Riza tanpa berkedip.
"Kok kamu jadi marah-marah gini, sih?. Bisa nggak, kamu itu ngomongnya baik-baik, jangan marah-marah nggak jelas seperti ini."
"Ngomong baik-baik?. Mas pikir saya ini apa?. Saya punya perasaan, Mas. Apa saya nggak boleh marah sama sikap ego Mas itu."
Riza merapatkan giginya kesal sesaat sebelum meraup wajahnya lalu menarik Dilla menuju ke dalam kamar kembali. Meskipun Dilla terus meronta akan tetapi Riza tetap menarik Dilla ke dalam kamar mereka.
"Mas ini apa-apaan, sih?"
"Kamu yang apa-apaan?. Stop teriak-teriak kayak gitu. Ngeselin banget."
"Saya juga kesel tahu sama kamu. Udahlah. Nggak ada habisnya berantem sama kamu. Saya capek!!!" ucapnya seraya berjalan kembali ke arah pintu.
"Kamu mau kemana lagi?. Aku belum selesai ngomong!!!" seru Riza kearahnya.
Dilla menjawab, "Nggak usah tanya-tanya. Sebel!!!"
Dilla menginjak kaki Riza sesaat sebelum dirinya menutup pintu dengan kasar.
Braak!!!
Dilla membanting pintu tepat didepan wajah Riza yang masih meringis kesakitan seraya memegangi jari kakinya.
Sesaat berikutnya, tanpa aba-aba Dilla tiba-tiba membuka pintu. Alhasil, Riza yang masih berdiri tepat dibelakang pintu pun kembali terkena imbas kekesalan Dilla berikutnya.
Riza terdengar mengaduh kesakitan sebab hidungnya membentur pintu tepat saat Dilla masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil bantal dan selimut dari atas ranjang.
Dilla menoleh dengan wajah cemberut kearah Riza yang masih tampak kesakitan. Dilla kemudian menutup pintu kembali dengan bantingan lebih keras dari sebelumnya hingga membuat Riza kembali tersentak untuk kesekian kalinya saat melihat kemarahan isterinya itu kali ini.