
Satu jam setelah pergumulan sepasang suami istri itu berakhir, Dilla terlihat membuka matanya perlahan. Samar-samar ia melihat wajah lelap suaminya berada tepat disampingnya. Wajah pemilik hati dan raganya saat ini. Dilla tersenyum kecil saat mendengar dengkuran halus terdengar jelas dari setiap hembusan nafas Riza yang sedang terlelap. Riza benar-benar tertidur dengan pulasnya.
Dilla kembali mengingat bagaimana pergulatan mesra yang terjadi diantara mereka saat Riza menyalurkan hasratnya pada Dilla. Dilla sangat menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Riza saat menggagahinya beberapa waktu yang lalu. Meskipun sekujur tubuhnya terasa remuk redam setelah penyatuan mereka berakhir. Namun, sensasi luar biasa masih terus saja membekas di benak Dilla. Maklum saja ini merupakan pengalaman pertama baginya.
Perlakuan Riza yang menggagahinya dengan sangat lembut seketika menghilangkan semua ketakutan Dilla yang selama ini selalu mengira bahwa saat pertama kali melakukan hubungan suami istri pasti akan terasa sangat menyakitkan. Saat ia merasakannya sendiri ternyata itu tidaklah berefek terlalu buruk padanya.
Tanpa sadar, jemari Dilla sudah bergerak menyisir lembut rambut hitam pekat suaminya dengan senyuman yang terus mengembang di wajahnya sejak tadi. Perasaannya membuncah terlebih saat melihat wajah tenang dan damai suaminya yang masih terpejam disisinya itu.
Didalam hati, Dilla berharap perasaan kasih dan sayang ini akan selalu tertanam di hati mereka masing-masing hingga maut memisahkan. Dilla juga berikrar dalam benaknya untuk selalu setia menjaga dan melindungi suaminya itu apapun yang terjadi walaupun seharusnya itu merupakan tugas Riza sebagai seorang suami.
Perasaannya pun semakin menggebu, hingga tanpa sadar ia pun semakin menggeser tubuh polosnya mendekat lalu mendekap erat tubuh polos suaminya. Hingga setiap bagian tubuh mereka saling menempel kembali satu sama lain.
Tanpa malu-malu, Dilla meraba setiap inci otot tubuh nan kekar suaminya itu dengan jemari lentiknya. Wajahnya pun sudah terbenam sepenuhnya di dada hangat suaminya hingga aroma tubuh Riza pun dapat tercium dengan jelas. Aroma yang selalu berhasil membuatnya mabuk kepayang. Tak hanya sampai disitu, Dilla juga mengendus dan menciumi leher serta dada bidang suaminya itu hingga membuat Riza tersadar dari tidurnya saat merasakan sesuatu menjalari setiap bagian tubuhnya yang membuatnya merasa geli.
Riza mengerjap beberapa kali sesaat sebelum menangkap sosok istrinya yang sedang tersenyum seraya menggerakkan jemari lentiknya meraba dada bidang Riza dengan sorot mata yang sulit diartikan. Sorot mata aneh yang baru pertama kali dilihat Riza.
"Tidurlah," ujar Riza lirih dengan suara beratnya.
Seketika Dilla menghentikan aktivitas nakalnya lalu mendongak menatap wajah Riza yang tampak memejamkan matanya kembali sesaat kemudian.
"Mas?!" sapa Dilla dengan nada menggoda.
"Hemm," sahut Riza lirih.
"Mau lagi. Boleh, ya?!" tanya Dilla dengan tatapan penuh harap.
Riza menarik Dilla ke dalam pelukannya lalu mencium puncak kepala istrinya, "Sudah cukup untuk malam ini. Tidurlah."
Tak lama dengkuran lirih pun kembali terdengar dari mulut Riza sesaat setelah Riza menyelesaikan kalimatnya yang membuat senyuman Dilla menghilang seketika.
Karena kesal, Dilla pun segera melepaskan kedua lengan kekar Riza yang sedang memeluknya kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Riza. Dilla mengumpat kesal dari balik selimut yang membalut tubuhnya. Hingga akhirnya ia pun tertidur dengan pulas.
-------
Di tempat lain, terlihat Thomas berdiri tegak di depan ruang tunggu ruang ICU setelah beberapa waktu yang lalu ia berhasil mengantarkan Aldrich ke rumah sakit dengan selamat. Rumah sakit yang biasa menangani perawatan tuannya selama mereka tinggal di Indonesia. Kondisi Aldrich yang sepertinya memburuk membuat para dokter harus menempatkannya sementara di ruang ICU.
Wajah Thomas terlihat sangat cemas dan gusar. Thomas terus bergulat dengan pikirannya saat mempertimbangkan apakah harus memberi kabar pada ayah Aldrich perihal kondisi Aldrich saat ini atau tidak. Thomas tampak ragu sebab jika ayah Aldrich sampai tahu masalah ini pasti Thomas akan binasa saat itu juga. Sementara, Thomas masih memiliki banyak hal yang harus dilakukannya. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk tidak memberitahu masalah ini pada Adam.
Sesaat kemudian, Thomas melangkahkan kakinya menuju kantin untuk sedikit menyegarkan tenggorokannya yang sedari tadi sudah kering. Thomas berjalan perlahan sampai tiba-tiba sesuatu menghentikan langkah kakinya. Mata Thomas membulat saat menangkap sosok seorang wanita dengan pakaian perawat lengkap tengah berjalan dari arah berlawanan.
Wajah Thomas memutar saat sosok itu berjalan melewatinya.
"Bukannya dia...." Thomas menghentikan suara lirihnya. Wajahnya kembali menegang.
"Kia!" sosok wanita itu berbalik saat seorang perawat wanita menghampirinya.
Thomas memperhatikan wajah Kia dari tempat ia berdiri masih dengan wajah tegang dan gusar. Seketika ia melupakan rasa hausnya saat itu juga.
"Apa gadis itu bekerja di sini?" gumamnya lagi.
Setelah selesai berbincang dengan perawat wanita tadi, Kia pun segera melangkah kembali. Thomas membuntuti langkah Kia dari belakang. Hingga akhirnya, langkah Thomas terhenti tepat saat Kia menghentikan langkahnya di depan ruang ICU. Setelah memindai Id Card miliknya, Kia pun langsung melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.
Thomas pun mulai berbisik kembali, "Ah, dasar bodoh. Untuk apa aku khawatir, dia juga pasti tidak akan mengenali tuan muda."
Setelah meyakinkan dirinya, sesaat kemudian Thomas pun segera berbalik lalu kembali berjalan menuju kantin.
Sementara itu, sesampainya di dalam ruang ICU. Kia langsung menyapa rekannya dengan ramah. Kebetulan hari ini giliran Kia yang berjaga di ruangan ICU. Rekan Kia sempat kesal sebab Kia yang datang terlambat sehingga rekannya harus lembur menunggu kedatangannya. Kia pun meminta maaf dengan lembut sambil tersenyum saat memasangkan perlengkapan steril khusus ruangan ICU di tubuhnya. Sosok Kia tampak sangat berbeda dengan sosok Kia menyebalkan yang ada di desa.
Sesaat setelah rekan Kia beranjak, Kia pun segera berkeliling untuk memeriksa satu persatu kondisi pasien di ruangan tersebut. Hingga tibalah saat Kia menghampiri ranjang tempat Aldrich berbaring. Aldrich terlihat sangat memprihatinkan dengan kondisi tubuh lemah dan banyaknya selang yang menjalari hidung, mulut dan dadanya.
Kia membaca biodata Aldrich di dalam jurnal rekam medis yang sedari tadi ia bawa. Kia sempat terkejut saat mengetahui usia dan jenis penyakit yang diderita oleh pasiennya itu.
"Astaga. Dia masih terlalu muda untuk punya penyakit seperti ini!" gumamnya.
Kia pun memandang wajah Aldrich dengan seksama, entah mengapa tiba-tiba dadanya berdetak kencang saat tanpa sengaja tangannya menyentuh punggung tangan Aldrich saat membenarkan letak jarum infus yang menempel di pergelangan tangan Aldrich.
"Dasar. Membuat kaget saja," umpatnya kemudian.
------
Didalam kamar, Riza terlihat sudah rapi dan tampan dengan setelan kemeja putih dan celana panjang kain berwarna cokelat muda yang membalut tubuh tegapnya. Riza yang tengah sibuk bersiap-siap, tidak menyadari bahwa dari kejauhan Dilla tampak memindai tubuh suaminya itu dengan senyuman tak biasa. Pikiran nakal terus saja bergelantungan di otak Dilla.
Saat Riza tengah memasangkan dasi di lehernya, secepat kilat Dilla mendekat ke arah Riza lalu menarik dasi yang menggantung di leher suaminya itu. Senyuman Dilla terlihat sangat aneh di mata Riza.
"Kamu kenapa?" tanya Riza sesaat setelah Dilla meraih dasi di lehernya.
"Ndak kenapa-napa. Saya hanya mau memasangkan dasi saja." Dilla cengengesan tidak jelas saat memasangkan dasi di leher suaminya hingga membuat Riza menautkan kedua alisnya.
"Mas!" ujarnya lagi.
"Hemm."
"Nanti pulangnya jangan lama-lama, ya!" Dilla mengisyaratkan sesuatu pada Riza yang membuat Riza tertawa kecil.
"Kenapa?" tanya Riza, kura-kura dalam perahu.
"Ndak ada. Saya cuma mau mas pulang cepat saja. Soalnya kalau mas pulangnya lama, nanti mas kan capek. Saya itu ndak mau lihat mas capek." Dilla kembali tersenyum aneh setelah menyelesaikan kalimatnya.
Riza menggeleng saat mendengar kalimat tidak masuk akal Dilla padanya.
Tak lama, dasi pun telah melekat di leher Riza dan menggantung dengan sempurna di sana.
"Terima kasih," ujar Riza sesaat kemudian.
Tiba-tiba Dilla menangkup wajah Riza lalu mendaratkan sebuah ciuman hangat di bibir Riza hingga membuat Riza membulatkan matanya. Namun, tak lama Riza segera mengakhiri ciuman hangat tersebut. Wajah Dilla seketika cemberut kesal.
Entah mengapa sejak peristiwa tadi malam, Dilla terus saja menempel pada Riza tiada henti hingga membuat Riza agak sedikit kewalahan saat menghadapi sikap tak biasa istrinya itu.
"Cepatlah bersiap-siap. Nanti kita terlambat." Riza segera bergegas melepaskan diri dari pelukan erat Dilla. Pelukan hangat yang sebenarnya membuat Riza cukup terpengaruh untuk meladeni tingkah nakal istrinya pagi ini. Namun, Riza segera mengembalikan kesadarannya secepat mungkin mengingat ia harus segera berangkat ke rumah sakit.
"Iya!" jawab Dilla tak rela.
Saat mereka tiba di meja makan, Dilla tampak melayani Riza dengan sebaik mungkin. Dengan sigap, Dilla menyajikan sarapan untuk Riza dengan tersenyum lebar bahkan sebelum Dilla duduk di kursinya, sempat-sempatnya Dilla mencium pipi kanan Riza saat Riza sedang bersiap memasukkan sesendok nasi gurih ke dalam mulutnya.
Riza menatap Dilla tajam. "Cepat habiskan sarapanmu dan berhentilah bertingkah aneh."
Dilla segera menunduk dan menghentikan kelakuan genitnya lalu dengan cepat menghabiskan sarapan di piringnya. Riza tersenyum tipis melihat ke arah Dilla yang tampak menekuk kesal wajahnya.
"Hari ini aku akan usahakan pulang secepat mungkin. Aku akan menjemputmu di kampus. Jadi, segera habiskan sarapanmu."
Dilla langsung tersenyum sumringah, "Bener, Mas?" tanyanya dengan heboh.
"Hemm!" sahut Riza sebelum menyeruput tehnya.
"Asyik!" Dilla terkekeh kecil lalu melirik Riza sekilas.
Dengan cepat, Riza berdiri saat Dilla semakin mendekat dan berniat mencium pipi Riza kembali.
"Ayo, berangkat!. Aku tunggu di mobil."
Riza segera melangkah pergi menuju garasi meninggalkan Dilla di belakangnya. Riza memegangi dadanya yang sedari tadi berdetak cepat saat ia mencoba sekuat tenaga untuk tidak mengindahkan kelakuan genit Dilla yang membuat pikirannya mulai menggila.
Kendalikan dirimu, Riza. Tahan.
Riza menoleh ke belakang sejenak lalu kembali berjalan.
Bagaimana bisa aku menahan diri kalau dia terus saja bertingkah seperti itu?, umpatnya dalam hati seraya berjalan menuju mobil. Umpatan yang terlontar saat mengingat kelakuan genit Dilla padanya pagi ini.