My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/42



Setelah tiba di rumah sakit, Riza langsung mengadakan rapat dadakan dengan para kepala bagian. Rapat yang membahas tentang peristiwa bom kemarin.


Di dalam rapat, Riza memerintahkan kepada kepala bagian IT untuk menyerahkan data rekaman sistem keamanan yang terpasang di pintu masuk gedung utama dan juga pintu setiap ruangan yang ada di dalam gedung untuk mengetahui siapa saja yang masuk ke dalam setiap waktunya.


Saat menyampaikan perintah, Riza melirik sekilas ke arah kursi rapat milik kepala bagian keamanan yang terlihat kosong.


Selanjutnya, Riza memerintahkan agar kepala bagian administrasi kantor untuk memeriksa ruang penyimpanan arsip. Memastikan bahwa tidak ada berkas yang hilang dari sana.


"Serahkan semua laporan yang saya minta hari ini juga!!" tegas Riza.


"Baik Pak," jawab mereka serempak.


Sebelum mengakhiri rapat, Riza menegaskan kepada semua orang yang ada di sana untuk lebih fokus dan profesional dalam bekerja apabila mereka tidak mau dipecat olehnya. Riza menatap tajam satu persatu orang yang duduk di dalam ruangan. Sementara mereka yang di tatap hanya dapat tertunduk dalam.


Riza mengakhiri rapat kemudian pergi meninggalkan ruangan dengan tatapan dan ekspresi wajah datar.


Riza berjalan cepat menuju ruang kerjanya. Sesampainya di ruangan, ia menyandarkan tubuhnya di kursi. Pikirannya mulai menerawang perihal kejadian yang terjadi kemarin. Siapa orang itu? dan apa tujuannya?, Riza terus menerus memikirkan hal tersebut.


Riza menghubungi kepala HRD untuk menanyakan mengenai keberadaan Sofian, si kepala bagian keamanan. Kepala HRD pun menjawab bahwa Sofian masih mengambil cuti dengan alasan menjenguk ibunya yang sedang sakit-sakitan di kampung. Dengan tegas Riza memerintahkan kepada kepala HRD agar menyuruh Sofian untuk segera menghadap Riza besok.


Setelah mengakhiri panggilan teleponnya, Riza pun mulai menyibukkan diri dengan tumpukan berkas yang tergeletak di atas meja.


Getaran ponsel seketika menghentikan kegiatan Riza. Riza melirik sejenak ke arah layar, kemudian menjawab ponselnya.


"Iya, Pi," ucapnya singkat.


"Riza, bagaimana keadaan disana?, kamu baik-baik saja kan?. Papi mendengar ada teror bom di rumah sakit. Apa itu benar?" terdengar suara papi dari balik ponsel.


"Alhamdulillah. Riza baik-baik saja, Pi. Papi tahu kabar itu dari mana?" ucap Riza sembari melirik ke arah laptop yang ada didepannya.


"Papi diberitahu Om Darma. Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya papi selidik.


Riza pun mulai bercerita detail kepada papi mengenai peristiwa tersebut.


"Baiklah kalau begitu. Papi mengerti. Papi akan menyuruh orang suruhan papi untuk menyelidiki kasus ini diam-diam."


"Tidak perlu Pi. Riza bisa atasi masalah ini sendiri. Lagipula ada polisi yang membantu menangani kasus ini."


"Baiklah kalau begitu."


"Bagaimana kabar mami dan papi di Belanda?."


"Kami sehat-sehat saja disini. Bagaimana dengan kabar Dilla?"


"Dilla baik-baik saja,Pi."


"Baguslah kalau begitu. Papi lega. Kamu jaga diri baik-baik di sana."


"Insya Allah, Pi. Salam buat mami."


Setelah mengakhiri panggilan telepon dari papi, Riza pun kembali sibuk dengan berkas-berkas yang ada di atas meja.


Saat tengah berkonsentrasi dengan berkas di tangannya, tiba-tiba ponsel Riza kembali bergetar.


Kali ini Niko yang menelepon Riza. Niko menghubungi Riza untuk memberitahu perihal Irfan yang meminta Riza untuk segera mengirimkan naskah novel secepatnya. Riza mendengarkan ucapan Niko dengan seksama. Niko juga menyebutkan pasal Irfan yang mengancam akan memutuskan kontrak Riza jika dalam dua bulan ini Riza belum juga mengirimkan naskah novelnya. Riza tidak menjawab. Ia hanya diam dan mendengus pelan.


Irfan yang terus menerus memaksanya untuk segera menyelesaikan novelnya membuat Riza sedikit kesal. Pasalnya Irfan tidak tahu bagaimana sulitnya seorang penulis sepertinya untuk mencari ide dan inspirasi. Dan pastinya Irfan tidak akan mau tahu hal itu.


Riza sudah menjadi penulis kontrak di kantor penerbitan Irfan selama lebih kurang tiga tahun belakangan. Menjadi penulis kontrak di kantor penerbitan milik Irfan merupakan impiannya sejak ia memulai studi S2 nya saat di Inggris. Itulah jalan hidup yang Riza pilih hingga menyebabkan dirinya di usir oleh papi tiga tahun lalu.


Kantor penerbitan Irfan merupakan salah satu kantor penerbitan buku dan novel terbesar di Asia. Setiap novel maupun buku yang diterbitkan oleh kantor tersebut akan selalu laris manis dan menjadi incaran para produser film baik lokal maupun internasional.


Riza memulai karir menulisnya dari nol. Mengirimkan naskah novel berkali-kali ke kantor penerbitan tersebut hingga akhirnya ia berhasil diterima sebagai penulis kontrak di sana.


Riza berusaha sangat keras untuk tetap bisa menulis meskipun kepribadian introvert yang ia miliki terkadang menjadi kendala baginya untuk mencari ide dan inspirasi. Meskipun begitu, Riza selalu berusaha bertahan karena menulis merupakan kegiatan yang selalu membuatnya merasa nyaman.


Setelah mengakhiri panggilan telepon Niko, Riza memijat keningnya pelan dan menghela nafas berat. Riza menghempaskan berkas di atas meja dengan kasar. Ia tampak sangat stres.


-----


Dilla sedang berada di kampus. Hari ini kuliah Dilla berakhir lebih cepat dari biasanya. Dilla pun berniat mengajak Kiki untuk menemaninya berbelanja keperluan dapur di Swalayan dekat rumah Riza. Akan tetapi, Kiki menyarankan kepada Dilla agar berbelanja di salah satu mall terbesar di Jakarta saja. Hitung-hitung untuk sekalian melepaskan penat mereka sehabis kuliah. Dilla pun setuju.


Setibanya di sana, Dilla dan Kiki pun mulai berbelanja keperluan dapur. Saat hendak membayar, Dilla terlihat lupa dengan pin kartu yang disebutkan oleh Riza tadi pagi. Dilla mencoba mengingat. Namun, hasilnya nihil. Selanjutnya, Dilla mengambil ponsel dan langsung menghubungi Riza.


----


Sementara itu, diwaktu yang sama dan tempat yang berbeda.


Riza tampak sedang membaca laporan yang diberikan oleh para kepala bagian padanya. Laporan yang diperintahkan Riza sewaktu rapat pagi tadi. Riza tampak berkonsentrasi tingkat dewa saat menelaah isi laporan yang ada ditangannya.


drrrttt...


drrrttt...


Riza meraih ponselnya yang bergetar di atas meja kemudian menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya itu tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari kertas laporan yang ada di tangannya.


"Halo," jawabnya singkat.


"Begini mas. Hmmm, saya lupa pin yang...."


"082000." Dengan cepat Riza memotong ucapan Dilla.


Setelah itu, Riza mengalihkan kertas dari pandangannya dan mulai berkonsentrasi untuk menceramahi Dilla perihal sifat pelupanya. Riza menasehati Dilla agar segera mengubah sifat buruk tersebut sebab suatu saat sifat itu akan berakibat buruk padanya jika ia terus memeliharanya. Riza pun terus berbicara panjang lebar. Seketika Dilla mengakhiri panggilan teleponnya.


tut...


tut...


Riza hanya menarik nafas dalam kemudian menggumam,


"Dasar istri keras kepala, sulit sekali dinasehati." Riza menggeleng pelan menatap layar ponselnya.


"Mau bagaimana lagi, sudah terlanjur sayang," sambungnya seraya tersenyum manis.


Selanjutnya, Riza pun kembali melanjutkan aktivitasnya.


----


Setelah selesai berbelanja, Dilla dan Kiki menitipkan barang belanjaan mereka di tempat penitipan barang. Agar mereka dapat dengan leluasa berkeliling di mall.


Selanjutnya, Kiki mengajak Dilla untuk memanjakan diri di salon. Awalnya Dilla sempat menolak sebab ia tidak memiliki uang. Namun, karena Kiki yang akan membayar akhirnya Dilla pun setuju.


Mereka tampak memasuki salah satu salon kecantikan yang ada di sana. Tangan terampil pegawai salon terlihat mulai memanjakan mereka.


Setelah semuanya selesai mereka pun beranjak dari salon.


Terlihat Dilla muncul dengan penampilan barunya. Rambut bergelombang dengan warna cokelat karamel, ditambah dengan polesan makeup natural, sukses membuat dirinya tampak cantik dan menawan.


Selanjutnya, Kiki mengajak Dilla membeli pakaian. Berhubung ada diskon, Kiki langsung menyerbu pakaian yang ada di toko.


"Aku ambil yang ini deh. Kamu ambil yang ini juga dong, jadi kan kita bisa pakai bareng biar samaan."


"Emoh. Aku ndak mau pakai baju beginian.", tolak Dilla.


"Ayo lah Dilla. Mumpung lagi diskon."


"Tapi ini terlalu terbuka. Mas Riza pasti akan marah kalau tahu aku pakai baju seperti ini."


"Gini aja kita beli yang ini trus kita langsung pakai. Mas Riza pasti nggak bakalan tahu. Kapan lagi kita pakai baju kayak gini. Mumpung diskon. Gimana?" ucap Kiki.


Kiki terus menerus memohon pada Dilla. Dilla tampak sedikit berpikir dan akhirnya ia pun mengangguk setuju. Jadilah mereka mengenakan dress dengan potongan yang sama. Dilla memilih dress berwarna soft pink sementara Kiki memilih warna peach.


------


Saat jam makan siang tiba, Andyra mengajak Riza untuk makan di sebuah restoran yang berada di dekat rumah sakit. Restoran yang jauh dari keramaian. Sesuai dengan kriteria Riza. Mereka pun bergegas menuju restoran tersebut.


Setibanya di restoran, Riza dan Andyra memesan makanan kemudian duduk sambil sedikit berbincang.


"Bagaimana?, sudah ada kabar dari polisi?" Andyra memulai percakapan.


Riza menggeleng.


Sesaat kemudian, Riza pun melanjutkan, "Aku akan mengirimkan laporan yang aku terima tadi pagi kepada pihak kepolisian. Aku berharap pelakunya segera tertangkap.", ucap Riza.


Andyra pun mengangguk setuju. Tak berapa lama, makanan pesanan mereka pun datang.


"Beberapa hari ini aku lihat kamu tidak membawa bekal," ungkap Andyra.


"Sepertinya aku benar-benar harus mulai waspada," sahut Riza sambil menyeruput secangkir teh di tangannya.


"Kenapa?" tanya Andyra heran.


"Ada mata-mata di sekitarku." Riza berbisik pelan ke arah Andyra.


Andyra hanya tersenyum menanggapi ucapan Riza yang mengisyaratkan dirinya itu. Riza pun membalas dengan tersenyum simpul.


Tanpa sengaja pandangan Riza tertuju ke arah pintu masuk. Tampak Dilla masuk ke dalam restoran bersama dengan Kiki. Meskipun Dilla tampak berbeda dengan penampilan barunya akan tetapi Riza masih dapat mengenali Dilla dengan mudah.


Riza menatap heran ke arah Dilla. Dilla terlihat mengenakan dress potongan pendek selutut dengan menampilkan bahu dan dada yang sedikit terbuka.


"Pakaian apa yang dipakainya itu?" Riza menggumam dan menatap lurus ke depan.


Andyra menoleh ke arah mata Riza memandang.


Riza langsung bangkit dari duduknya kemudian berjalan menghampiri Dilla.


"Ada apa dengan rambut dan pakaianmu?" ucap Riza datar sambil bersedekap dan menatap tajam kearah Dilla.


Dilla dan Kiki terkejut bukan kepalang saat melihat Riza kini telah berdiri tepat di depan mereka. Ekspresi wajah mereka laksana maling yang tengah tertangkap basah.


Riza menatap tajam ke arah rambut dan pakaian Dilla. Polesan makeup yang ada di wajah Dilla pun tak luput dari pandangan Riza. Cepat-cepat Dilla menutup wajahnya dan tertunduk dalam.


"Mati aku.....!!!" bisiknya dalam hati.