My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/111



Belanda


Riza POV


Hatiku rasanya bergetar hebat setiap kali aku menatap wajah gadis yang berhasil mencuri perhatianku beberapa hari ini.


Gadis yang kerap tersenyum dengan bola mata hitam jernihnya.


Gadis yang selalu mengatakan kata-kata "istri" setiap kali aku berteriak ketakutan seolah sesuatu mengancam nyawaku. Entah bagaimana aku menjelaskan semua ini. Semua terasa rumit dan abstrak bagiku.


Namun, satu hal yang aku sadari. Aku sungguh takut kehilangan gadis bermata jernih itu. Ingin rasanya aku bertanya bagaimana kisahku sampai aku bisa menikah dengan gadis itu tapi apa daya, aku tak kuasa untuk menatap wajahnya lama sebab rasanya jantungku akan meledak saat itu juga.


Caranya berbicara, menghipnotisku untuk terus mendekat kearahnya. Sentuhan hangatnya, mencairkan kebekuan dalam diriku. Perhatiannya padaku, laksana mata air yang menyirami kegersangan hidupku.


Namun, lagi-lagi bayangan mengerikan itu muncul dan berputar-putar seperti piringan hitam di kepalaku. Merusak dan meluluh lantakkan rasa bahagia itu seketika. Hingga terpaksa membuatku menolak keberadaan gadis itu didekatku.


Seperti hari ini, lagi-lagi gadis itu hanya melihatku dari kejauhan. Dia berdiri tegak dengan sorot mata anehnya saat melihatku duduk bersama dengan Henzhie.


Diam-diam aku memperhatikannya dari tempat dudukku saat ini. Sesekali aku tersenyum ke arahnya. Namun, sepertinya gadis itu tidak memperhatikanku. Dia terlalu sibuk memandang ke arah Henzhie.


Aku terkesiap dan menghentikan senyumanku saat manik mataku melihat seseorang menghampiri gadis itu. Ya, kulihat Thomas, kakak Henzhie sedang berbicara dengan gadis itu. Lagi-lagi perasaan aneh menggetarkan dadaku. Entah kenapa, aku sangat tidak suka melihat bagaimana ekspresi Thomas setiap kali berbicara dengan gadis itu.


Aku tidak mau gadis itu hilang dari pandanganku. Aku tidak suka melihat Thomas berbicara sedekat itu dengannya. Walau bagaimanapun, Dilla itu istriku. Meskipun aku tidak ingat sepenuhnya akan apa yang terjadi antara aku dan dia.


Sedetik kemudian aku berpaling sebab tak kuasa menahan rasa panas di dadaku. Saat aku menoleh kembali, kulihat gadis itu sudah tidak ada disana.


"Ada apa Riza?" suara Henzhie menyadarkanku.


"Oh. Tidak ada apa-apa. Henzhie bisa aku bertanya sesuatu?" tanyaku padanya.


"Tentu saja."


Aku menegakkan dudukku dan menghadap Henzhie, "Beberapa hari ini dadaku rasanya nyeri dan sakit. Seperti ada sesuatu yang menusuk jantungku. Apa ini efek dari obat yang selalu kamu berikan padaku?" tanyaku penasaran.


Jujur saja sejak aku meminum obat yang diresepkan oleh Henzhie padaku, aku merasa lebih baik. Aku bisa mengendalikan emosi dan pikiranku yang sebelumnya sempat membuatku seperti menjadi bukan diriku.


Henzhie memang gadis yang pintar dan cerdas. Dia membuatku sangat nyaman saat aku ingin bercerita dan bertanya tentang apapun. Mungkin karena profesi Henzhie yang merupakan seorang dokter, membuatku selalu nyaman berada didekatnya. Selain itu dia sudah seperti ibu bagiku.


Aku sempat terkejut ketika Henzhie menegaskan padaku tentang penyakit apa yang aku derita. Aku akui mentalku memang mulai terganggu sejak aku melihat kedua orangtuaku tewas terbunuh tepat didepan mataku.


Kejadian mengerikan itu akan selalu aku ingat sepanjang hidup. Meskipun dulunya aku memiliki pengalaman buruk akan sikap kedua orangtuaku padaku. Namun, aku sangat menyayangi mereka. Kehilangan mereka merupakan pukulan terberat dalam hidupku.


Setelah kedua orangtuaku meninggal, aku diasuh oleh Om Dirwan dan Tante Anita. Yang aku ingat mereka orang yang baik dan perhatian. Aku bisa melihat kalau mereka itu sangat menyayangi dan menjagaku melebihi anak kandung mereka sendiri, Bayu.


Selama tinggal bersama mereka, aku kerap marah tanpa sebab dan alasan. Aku selalu mengurung diriku di kamar dan menolak kehadiran siapapun yang ingin mendekatiku. Peristiwa mengerikan itu selalu menghantuiku dimanapun aku berada.


Hingga akhirnya, Om Dirwan dan Tante Anita membawaku menemui Om Dendi. Apa yang terjadi setelahnya, aku tidak ingat apapun.


"Tidak perlu cemas. Mungkin kamu hanya butuh istirahat yang lebih banyak," jawab Henzhie atas pertanyaanku barusan.


"Syukurlah," jawabku singkat.


Aku diam sesaat. Pikiranku kembali berlarian. Aku mulai gelisah saat mataku tak melihat sosok gadis itu. Cukup lama aku menunggu, tapi gadis itu tidak kunjung muncul. Rasanya aku ingin menyusul gadis itu segera.


Selanjutnya aku pun memutuskan berdiri dari tempat dudukku. Aku berlarian kesana-kemari mencari keberadaan Thomas dan gadis bermata jernih yang sukses membuatku gelisah tak menentu sedari tadi. Mungkin dengan melihatnya, perasaanku akan menjadi lebih baik.


Langkahku terhenti saat aku melihat Thomas sedang duduk berduaan dengannya di ruang tamu.


Dan lagi-lagi, ekspresi Thomas saat menatap gadis itu, membuatku geram.


Dadaku pun kembali memanas saat aku melihat Thomas dengan lancang mendaratkan telapak tangannya di atas bahu istriku. Sekali lagi rasa takut kehilangan itu kembali menyerangku.


Mataku terus menatap interaksi mereka. Hingga tanpa sadar, aku pun sudah berdiri tegak di belakang Thomas dan menghempaskan tangan lancangnya dari sana.


Aku masih menatap Thomas tajam. Tanpa berbicara aku memperingatkannya untuk tidak mendekati gadisku lagi. Entah kenapa, kekesalan itu masih saja menghinggapi dadaku.


Hingga saat jemari lembut gadis itu menarikku ke arahnya lalu menatapku dengan mata jernih miliknya. Aku terpesona. Kali ini aku tidak memalingkan wajahku. Aku ingin menatap wajah itu lama.


Aku tertegun saat merasakan sentuhan hangat di atas punggung tanganku.


Dengan cepat, aku menarik lengannya saat ia berusaha menghindari tatapanku dengan alasan mengambil segelas teh hangat di dapur. Suara lemahnya terdengar mengalun merdu di telingaku.


Aku mengunci tatapannya sekali lagi sesaat sebelum merebahkan kepalanya di sandaran bahuku. Tiba-tiba gadis itu memelukku. Pelukan yang membuatku sangat nyaman dan bahagia. Aku pun tersenyum.


Aku benar-benar hilang kendali. Sekuat tenaga aku bertahan, meskipun bayangan mengerikan itu kembali muncul di kepalaku tapi aku tidak mau melewatkan begitu saja momen indah ini bersama dengannya.


Author POV


Dilla melepaskan pelukan mesranya. Luapan kebahagiaan tampak jelas di wajahnya saat manik mata indahnya kembali menatap mata suaminya lekat.


Pasangan suami istri itu pun saling menyelam dan larut dalam samudera kasih yang terlukis jelas pada sorot mata mereka masing-masing.


Tiada kata dan suara. Hanya senyuman manis yang terlihat di wajah keduanya.


Hening.


Tiba-tiba Riza mendekat lalu mengecup pipi gadis yang ada didepannya. Kecupan singkat yang sukses membuat Dilla tersipu malu, sudah lama sekali ia tidak merasakan kejutan tiba-tiba dari Riza seperti itu.


Tepat saat itu, Aldrich muncul dan melewati mereka. Dengan rasa sedih Aldrich pun segera berbalik untuk mengendalikan perasaan pilu yang tiba-tiba muncul dalam dirinya.


Saat Aldrich tiba di dalam kamar, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Masih dengan perasaan sedih yang menyelimuti, Aldrich memegangi dadanya kembali.


Aldrich mengusap jejak air mata di pipinya saat melihat Thomas masuk ke dalam kamar.


"Kau dari mana saja?" tanya Aldrich.


"Maafkan saya Tuan. Tuan butuh sesuatu?"


"Kau tahu, aku sedang kesal. Aku ingin marah saat ini. Kapan kita kembali ke Indonesia?. Tidak ada yang bisa aku lakukan disini. Aku bosan, aku ingin berkebun."


Kenapa Tuan Aldrich tiba-tiba berkata seperti itu?, batin Thomas.


"Kau tuli?. Jawab aku!!"


"Saya tidak bisa membawa Tuan kembali ke sana."


Aldrich melotot pada Thomas.


"Kalau Tuan mau, saya bisa carikan rumah dengan halaman yang luas di kota ini agar Tuan bisa berkebun sepuasnya. Bagaimana Tuan?" Thomas memberikan penawaran.


Aldrich melipat tangannya didepan dada.


"Berapa lama aku harus menunggu?"


"Beri saya waktu tiga hari untuk mencari rumah yang Tuan inginkan. Untuk sementara ini, bagaimana kalau Tuan tinggal dulu di hotel."


"Tidak perlu. Aku masih bisa menunggu."


Setelahnya Thomas pun kembali mengingatkan Aldrich untuk tidak bertemu lagi dengan Dilla sebab bagaimanapun juga, tidak baik untuk Aldrich terus menerus muncul didepan seorang wanita yang telah bersuami.


Sontak hal itu kembali membuat Aldrich mengingat kejadian yang dilihatnya tadi. Aldrich pun marah lalu mengusir Thomas dari kamarnya. Dengan terpaksa, Thomas pun melangkah keluar dari kamar Aldrich.


"Aldrich mengajakmu pergi kemana lagi, Thom?" tanya Henzhie saat berpapasan dengan Thomas di tangga.


"Jangan mencampuri urusanku. Patuhi saja apa yang aku katakan padamu. Jauhi Tuan Riza. Jangan membuat hati gadis lain terluka karena tingkah konyolmu itu."


"Apa?!. Kau menyebutku konyol. Aku menyukai Riza. Apa itu sebuah kekonyolan bagimu?"


"Iya. Mendekati pria beristri merupakan sebuah kekonyolan bagiku. Jadi, berhentilah."


Henzhie menaikkan sudut bibirnya, "Memangnya apa hakmu bicara seperti itu padaku?!. Sejak kapan kau peduli dengan apa yang aku lakukan?. Bukankah selama ini yang kau pedulikan hanya Aldrich, Aldrich dan Aldrich?"


Thomas terdiam.


Henzhie melanjutkan, "Berhentilah mencampuri urusanku. Urus saja urusanmu sendiri!" bentak Henzhie setengah kesal pada Thomas.


Henzhie berlalu pergi meninggalkan Thomas yang membeku di atas anak tangga tempatnya berpijak saat ini.