
Dilla dan Riza akhirnya tiba di rumah kediaman Mami dan Papi Riza. Dengan wajah sumringah, Mami membukakan pintu untuk sepasang suami istri itu.
Mami pun langsung menarik lengan Riza untuk segera masuk ke dalam rumah dan dengan sengaja meninggalkan Dilla diluar tanpa menyapa atau mempersilakan gadis cantik itu untuk masuk.
Riza sempat menolak dan berkata kalau barang-barang mereka masih tertinggal diluar. Namun, Mami justru meneriaki Dilla agar membawa semua barang-barang mereka masuk ke dalam rumah. Yah, Mami memang sengaja melakukan itu sebagai bentuk rasa tidak sukanya pada menantu perempuannya itu.
Setibanya didalam rumah, Papi langsung memeluk Riza dan menanyakan bagaimana kondisi kesehatannya saat ini. Riza pun menjawab kalau dia sudah lebih baik dari sebelumnya. Mendengar itu, Mami dan Papi pun tersenyum lega.
Papi juga menyampaikan pada Riza kalau ia merasa bahagia akhirnya Riza mau kembali tinggal di rumah mereka. Riza pun membalas dengan sebuah senyuman simpul di wajahnya.
Tak lama, muncullah Dilla dengan dua tas besar di tangannya. Dengan terseok-seok, ia membawa tas berat itu masuk ke dalam rumah. Tanpa ada seorangpun yang peduli dengan kedatangannya saat itu, termasuk suaminya sendiri.
Sanking asyiknya mengobrol dengan Mami dan Papi, Riza sampai lupa kalau ia meninggalkan istri kesayangannya di belakang. Melihat itu, Dilla pun hanya mendesah berat.
Dalam benaknya, ia sudah tau mimpi buruk apa yang akan terjadi padanya nanti selama ia tinggal di rumah mertuanya. Mimpi buruk yang ternyata datang lebih cepat dari dugaannya.
Dilla kemudian berdehem keras untuk mengalihkan perhatian semua orang yang ada disana. Riza dan orangtuanya pun serentak menoleh ke arah Dilla.
Dilla kemudian mendekat dan menyapa kedua orangtua Riza.
Papi menyambut dengan senyum hangatnya, sementara Mami, tidak perlu ditanya seperti apa ekspresi wajahnya saat ini.
Setelah bersalaman dengan kedua mertuanya, Riza pun kemudian menarik Dilla untuk duduk disebelahnya. Berhimpitan diantara Riza dan Mami. Wajah Mami pun berubah semakin ketat.
Duduk bersebelahan dengan orang yang tidak disukai merupakan mimpi buruk bagi Mami saat ini.
Sama halnya dengan Mami, Dilla pun tampak sangat tidak nyaman dengan tempat duduknya itu.
Dilla kemudian berbisik di telinga Riza, "Mas, aku mau ke toilet," ucapnya beralasan.
"Baik, ayo aku antar," sahut Riza.
Setelahnya Riza pun langsung berkata pada Papi, "Om, Riza permisi mau anterin Dilla ke toilet dulu."
Belum sempat Papi menjawab, Mami sudah berdiri dan berkata, "Kamu duduk aja disini temenin Papi kamu, biar Mami yang anterin Dilla ke toilet. Ayo, Dilla."
Dengan terpaksa, Dilla pun mengikuti Mami dari belakang.
Mami pun menunjukkan letak toilet kepada Dilla, setelah sebelumnya melancarkan serangan tajamnya terlebih dahulu.
"Disini kamu jangan manja, yah. Ke toilet aja minta ditemenin Riza. Riza itu baru dateng, dia masih capek. Masa kamu suruh-suruh dia terus. Kamu mau buat anak saya sakit lagi. Iya?!"
Dilla menggeleng lemah.
"Ya udah, sana masuk!!. Bikin repot aja!" sarkas Mami tajam.
Selanjutnya Dilla pun melangkah masuk ke dalam bilik toilet. Ia menutup pintu perlahan dengan rasa sesak di dadanya. Belum sehari ia tinggal di rumah mertuanya itu, tapi ibu mertuanya sudah tampak begitu sangat kesal padanya.
Dengan berjalan santai, Mami pun kembali bergabung dengan Riza dan Papi di ruang tamu, tanpa menunggu Dilla keluar dari toilet terlebih dahulu.
Riza pun kemudian menanyakan keberadaan Dilla pada Mami, akan tetapi Mami justru menjawab kalau Dilla masih berada didalam toilet dan meminta Mami untuk tidak menunggu dirinya. Mendengar itu, Riza pun hanya mengangguk pelan lalu melanjutkan kembali obrolannya dengan Papi.
Tak lama, saat keluar dari toilet, Dilla tampak kaget sebab tidak menemukan keberadaan Mami disana. Kebetulan letak toilet yang ditunjukkan Mami pada Dilla berada lumayan jauh dari ruang tamu. Lebih tepatnya berada di kamar belakang rumah dinas kediaman Papi.
Dilla celingukan mencari arah ruang tamu. Selain memiliki sikap pelupa, Dilla juga kurang baik dalam hal mengingat arah. Itulah yang sering menyebabkan ia menjadi mudah tersesat jika berada di tempat asing.
"Cari siape, Non?" tanya seorang pria dengan suara berat miliknya.
Dilla kemudian menoleh ke arah suara.
"Loh, Mas Niko?!. Astaga. Saya kira tadi siapa."
Niko tertawa, "Masa sama orang ganteng lupa sih."
"Bukan gitu loh, Mas. Saya pikir Mas udah pulang ke Indonesia. Soalnya saya nggak lihat Mas tadi di depan."
Niko pun hanya cengengesan tak jelas ke arah Dilla.
"Iya. Soalnya gue baru bangun tidur. Hehehehe. Lo sendiri, tadi ngapain dari sono?"
"Oh, saya habis dari toilet Mas. Terus saya mau ke ruang tamu, tapi saya lupa arahnya kemana."
"Ya ampun Dilla, lo ngapain ke toilet sono. Kenapa nggak ke toilet depan aja, sih?. Lagian toilet ini tuh toilet buat pembokat. Ada-ada aja lo."
"Pembokat itu opo toh, Mas?
"Pembokat itu artinya pembantu, Non. Asisten Rumah Tangga."
"Memangnya kalau toiletnya pembantu kenapa toh, Mas. Yang penting sama-sama toilet toh," tutur Dilla dengan polosnya.
"Mas sendiri ngapain kesini?"
"Ada deh. Mau tau aja lo. Ya udah, ikut gue, kita ke ruang tamu."
Niko pun kemudian berjalan bersisian menuju ruang tamu bersama dengan Dilla. Sepanjang jalan mereka saling mengobrol dan bercanda. Sikap Niko yang supel membuat Dilla sangat nyaman untuk bercerita dan tertawa bahkan setelah bertemu Niko, ia sampai melupakan kesedihannya sesaat lalu.
Tak hanya itu, sampai-sampai Dilla lupa kalau sekarang dia sedang berada di kediaman singa yang sewaktu-waktu siap untuk menerkamnya kapanpun.
Sanking kerasnya, suara bahagia Dilla pun terdengar hingga ke ruang tamu. Suara khas tertawa Dilla yang membuat Riza sempat tertegun.
Riza berbisik dalam hati.
Selama didekatnya, aku belum pernah mendengarnya tertawa sebahagia itu. Syukurlah kalau dia senang berada disini.
Sesaat berikutnya, senyuman Riza menghilang saat ia melihat Dilla berjalan disebelah Niko. Dilla terlihat tertawa dengan sangat bahagia. Tawa yang dihiasi barisan gigi putih kelinci milik Dilla.
Saat melihat Riza, dengan wajah sumringah, Niko kemudian menghampiri pemuda itu dan memeluknya dengan hangat.
"Apa kabar, bro?"
"Baik," jawab Riza datar.
Sesaat berikutnya, Riza melepaskan pelukan Niko lalu menarik Dilla kedekatnya.
"Welcome, bro di rumah lo yang udah lama nggak lo tinggalin," ujar Niko semangat. Namun, Riza justru tak mengindahkan ucapan selamat Niko.
"Kamu dari mana aja?. Ke toilet kok lama banget."
"Iya, Mas. Tadi tuh saya nyasar, nggak tahu jalannya itu kemana. Untung saya ketemu sama Mas Niko."
"Lagian kamu ngapain tadi pake sok-sokan nggak mau ditungguin sama Tante Anita."
"...," Dilla tampak bingung dengan ucapan Riza.
Riza melanjutkan, "Kamu ngobrolin apa sama Niko?. Ketawa sampe kenceng gitu. Kayaknya kamu bahagia banget pindah kesini."
Dilla diam, tak menjawab.
Niko pun menepuk bahu Riza, "Lo udah sarapan belum?. Ayok sarapan bareng gue."
"Aku udah sarapan."
Dilla membatin, Mas Riza kapan sarapannya yah?
Niko menanggapi, "Biasa aja kali lo jawabnya. Ya udah deh, kalo gitu gue sarapan bareng bini lo aja. Lo belum sarapan kan?" tanya Niko pada Dilla.
Dilla menggeleng.
"Cakep!!. Itu tandanya kita sehati," tutur Niko lagi.
Niko dan Dilla pun sama-sama tersenyum. Senyuman yang sukses membuat Riza terbakar api cemburu didadanya.
"Kamu mau kemana?" cegah Riza dengan cepat saat melihat Dilla yang hendak melangkah pergi mengikuti Niko.
"Sarapan," jawab Dilla.
"Sarapannya nanti aja," ucap Riza singkat. "Sekarang kamu ikut aku!" perintahnya.
Dilla diam mendengarkan.
"Kamu mau kemana sih Riza?. Kita kan belum selesai ngobrolnya," sambung Mami.
Riza tidak menjawab.
Papi menengahi, "Sudahlah, Mi. Biarin Riza dan Dilla istirahat dulu. Mereka pasti capek."
Mami pun pasrah.
Setelahnya Riza kemudian berjalan melewati Mami dan Papi setelah sesaat sebelumnya menarik lengan Dilla untuk mengikuti langkahnya. Sementara itu, Niko hanya menggeleng pelan melihat sikap aneh Riza kali ini.
"Tunggu, Mas. Tasnya ketinggalan!" ucap Dilla pada Riza sambil berjalan.
"Kamu nggak usah khawatir. Nanti juga ada yang bawa!!!"
Dilla pun hanya bisa pasrah mengikuti suami tampannya itu membawanya menuju ke arah kamar mereka.