My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/61



Malam harinya, Dilla langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Bekerja di warung seharian membuat sekujur tubuhnya terasa letih dan remuk redam. Memang sudah lama sekali Dilla memutuskan untuk tidak membantu Laras lagi di warung sebab semua waktu, pikiran dan tenaga Dilla telah habis terkuras oleh jadwal kuliahnya yang padat merayap.


Meskipun Dilla sudah merasa sangat lelah, akan tetapi ia tampak masih tetap terjaga meskipun jam sudah menunjukkan pukul 22.45 WIB. Entah kenapa Dilla terlihat belum juga menunjukkan tanda-tanda mengantuk padahal tubuhnya sudah sangat lelah seharian ini.


Dilla terlihat berguling ke sana ke mari sambil sesekali melirik ke arah ponsel miliknya yang tergeletak di sisi tempat tidur. Hingga hari berganti malam, Riza tidak kunjung menghubungi Dilla sekalipun. Membuat Dilla tampak gelisah tak menentu memikirkan Riza yang jauh di sana.


Sesaat kemudian, Dilla menyambar ponselnya, “Telepon tidak ya?” Dilla menggenggam erat ponsel yang kini sudah berada ditangannya.


Dilla terlihat ragu,“Mau telepon tapi takut. Tidak telepon tapi-“ Dilla diam sejenak lalu menghembuskan nafas berat, “Aaaggghhh....!!, Bagaimana ini?” Dilla menggenggam erat ponsel di tangannya seraya membenamkan wajahnya ke dalam selimut yang membalut tubuhnya.


Ponsel tiba-tiba berdering. Seketika Dilla mendongak melihat siapa yang menghubunginya saat ini. Matanya membulat. Perlahan ia duduk kemudian menggeser tanda berwarna hijau di layar. Dilla berdehem singkat dan tersenyum tipis.


“Halo. Assalamu’alaikum,Mas Riza,” sahutnya lembut.


Riza terperanjat. Seketika jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara


lembut Dilla menyebut namanya. Pasalnya, selama mereka menikah tidak pernah sekalipun Dilla melakukan itu.


“Wa’alaikumsalam,” Riza menjawab datar berusaha menstabilkan degup jantungnya.


Dilla tersenyum tipis, “Mas sudah sampai?”


“Hemm. Aku sudah sampai dengan selamat di hotel. Jangan tidur terlalu larut. Ingat, jaga kesehatanmu baik-baik. Assalamu’alaikum,” ujar Riza dengan satu tarikan nafas.


Dilla menjawab lirih, “Wa’alaikumsalam.”


Panggilan pun berakhir dengan singkat dan padat. Dilla menaruh kembali ponselnya di sisi tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya kembali. Akhirnya, ia dapat bernafas lega setelah tahu bahwa Riza telah sampai di tujuan dengan selamat. Sesaat kemudian, Dilla mulai merasa mengantuk. Ia pun memejamkan mata perlahan. Sedetik kemudian, ponsel terdengar kembali berdering.


Dilla meraih ponselnya dengan mata yang masih terpejam, “Iya, Mas?” sahutnya.


“Aku lupa menyampaikan satu hal lagi,” sahut Riza datar.


“Hemm!. Apa?” jawabnya singkat.


Riza memulai kalimatnya, “Aku hanya ingin mengatakan kalau sampai hari ini aku masih mencintaimu. Jangan lupakan itu,” ujar Riza singkat dari seberang ponsel.


Dilla terhenyak. Seketika matanya membuka lebar saat mendengar Riza kembali mengucapkan kata-kata cinta untuknya, “Mas, jangan mulai lagi, ya!” ketusnya kemudian.


Riza tertawa kecil, “Ya sudah, tidurlah. Jangan lupa doakan aku!” ujarnya kembali dari seberang.


Dilla menautkan alisnya, “Doakan apa?” tanyanya bingung.


“Doakan agar aku dapat menahan rinduku di sini.”


Dilla membeku. Kalimat Riza barusan berhasil memunculkan semburat merah di pipi mulusnya. Membuat jantungnya berdebar kencang tak menentu. Dilla tampak tersipu malu. Namun, lagi-lagi ia mencoba sekuat tenaga menepis jauh-jauh perasaan yang mulai menggelitik hatinya itu.


Riza mengakhiri panggilan teleponnya, “Selamat malam. Assalamu’alaikum, istriku.”


“Wa’alaikumsalam,” ucap Dilla singkat terdengar sangat lirih.


Dilla menaruh ponsel kembali di sisi tempat tidur kemudian menarik selimutnya hingga sebatas dada. Menatap ke arah langit-langit kamarnya dengan pikiran yang mulai menerawang entah kemana. Sesaat kemudian, Dilla kembali memejamkan mata, melepaskan penatnya hari ini.


Nun jauh di sana, Riza juga terlihat masih terjaga. Ia tersenyum manis, menggenggam


"Sepertinya kamu tidak mendoakanku dengan benar di sana. Buktinya aku justru semakin merindukanmu di sini," gumamnya lirih seraya tersenyum.


Sementara itu di tempat berbeda, Aldrich terlihat berdiri tegak memegangi terali besi balkon kamarnya. Menatap jauh ke atas langit malam yang tampak dipenuhi kerlap-kerlip indahnya bintang. Malam ini matanya kembali sulit terpejam. Pikirannya masih terpaut pada Dilla dan mimpinya akhir-akhir ini.


Aldrich mulai merasa bingung dengan apa yang terjadi, bertanya-tanya dalam hati, apakah benar Dilla adalah sosok gadis belia yang selalu muncul dalam mimpinya?. Rasa penasaran yang mendalam itu pun mulai menghantuinya.


Mengingat sosok Dilla, membuat dada kirinya terasa kembali nyeri dan berdebar kencang. Tanpa ia sadari, bulir bening menetes dari sudut matanya. Aldrich menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir itu dengan pandangan nanar. Lama-kelamaan air mata itu semakin deras mengalir, tak mampu dikendalikannya.


Sambil memegangi dadanya, ia menggumam lirih, “Kenapa tiba-tiba aku merasa sangat sedih?. Rasanya sakit sekali di sini,” ujarnya masih memegangi dadanya.


Di lantai bawah, tampak Thomas menerima panggilan telepon dari Adam.


Thomas menautkan kedua alisnya “Maafkan saya,Tuan. Saya belum berhasil membujuk Tuan muda untuk pindah dari sini. Tuan muda selalu saja menolak dan marah setiap kali saya membahas hal tersebut,” jawabnya menjelaskan.


“Dasar tidak becus!. Ya sudah, lanjutkan tugasmu. Awasi dan jaga Aldrich baik-baik. Sisanya biar aku yang uruskan. Satu lagi, jauhkan gadis itu dari Aldrich. Aku tidak mau sesuatu terjadi pada putraku.” Adam menegaskan ucapannya.


“Baik, Tuan.” Aldrich mengangguk mengiyakan.


Sesaat setelah panggiilan berakhir, Thomas mengerutkan dahinya tampak berpikir. Ia mengingat kembali kejadian beberapa jam yang lalu.


Flashback


Sesaat setelah Aldrich melajukan mobilnya menjauh dari rumah. Thomas berbalik lalu menuruni anak tangga dengan langkah terburu-buru. Dengan secepat kilat, ia melajukan mobilnya keluar dari garasi.


Tanpa sepengetahuan Aldrich, diam-diam Thomas membuntuti mobil yang dikendarai oleh Aldrich kemanapun mobil tersebut melaju termasuk saat Aldrich singgah di rumah Riza, saat mobil menelusuri jalanan tanpa arah dan tujuan hingga saat Aldrich berhenti tepat di depan sebuah warung pinggir jalan, Thomas masih tetap betah membuntuti Tuan-nya itu dari belakang. Saat Aldrich memasuki warung, Thomas menepikan mobilnya tak jauh dari sana.


Thomas memperhatikan Aldrich dari dalam mobil hitamnya. Ia memperhatikan setiap pergerakan Aldrich dari kejauhan. Sedetik kemudian, pandangan Thomas teralihkan pada seorang pria berkacamata hitam yang tampak mencurigakan. Pria itu terlihat duduk di dalam warung tak jauh dari meja Aldrich dan Dilla.


Pria itu tampak memperhatikan kedua orang tersebut dari tempat duduknya dengan pandangan mengintai. Meskipun pria itu mencoba terlihat biasa saja, akan tetapi Thomas dapat melihat dengan


jelas bagaimana gerak-gerik mencurigakan pria tersebut saat memandang ke arah dua orang yang ada didepannya. Sesaat kemudian, pria tersebut mengeluarkan ponselnya lalu mengarahkannya ke arah Dilla dan Aldrich.


Thomas menautkan kedua alisnya. Masih memperhatikan setiap pergerakan pria tersebut dari kejauhan. Tak lama berselang, pria tersebut keluar dari warung kemudian berjalan santai menuju ke dalam sebuah gang kecil. Thomas segera keluar dari mobilnya dan mengejar pria tersebut.


Thomas mendekati pria itu perlahan sesaat sebelum pria itu menaiki motornya. Thomas menepuk bahu pria mencurigakan itu pelan. Pria itu menoleh dan menatap Thomas dari balik kacamata hitamnya.


Sesaat kemudian, Thomas mengunci pergelangan tangan kanan pria tersebut kebelakang. Pria itu membuka kacamata hitamnya lalu tersenyum dengan seringai menakutkan. Ia membuka kuncian Thomas lalu berbalik dan menendang Thomas dengan kuat hingga membuat Thomas jatuh tersungkur ke tanah.


Sejurus kemudian, pria itu melayangkan tinjunya ke arah Thomas. Namun, Thomas berhasil mengelak. Tak habis akal, pria itu melayangkan pukulan dan tendangan dengan gerakan cepat dan gesit secara bertubi-tubi ke arah Thomas. Lagi-lagi Thomas menepis setiap pukulan dan tendangan pria itu dengan gerakan yang tak kalah cepat dan gesit hingga membuat pria itu sedikit kewalahan. Tiba-tiba pria tersebut mengeluarkan sebuah pistol dari belakang saku celananya dan mengarahkannya ke arah Thomas.


Seketika Thomas terdiam di tempat seraya mengangkat kedua tangannya ke udara. Mata Thomas membuka lebar, memperhatikan setiap guratan wajah pria yang tengah menodongkan senjata mematikan itu ke arahnya. Pria itu kembali menyeringai menakutkan sebelum melepaskan sebuah tembakan ke arah Thomas.


Untung saja, Thomas berhasil menghindari peluru pria itu dengan gerakan gesitnya, membuat pria itu menautkan alisnya bingung. Beberapa detik kemudian, pria itu menaiki motornya dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi ke arah berlawanan. Thomas menatap kepergian pria itu dengan tatapan tajam.


Flashback Off


Hingga saat ini pun, Thomas masih memikirkan perihal pria mencurigakan tersebut. Mengingat bagaimana pria itu melawan dirinya dengan pukulan dan tendangan yang lumayan cepat dan gesit serta saat pria itu tiba-tiba menodongkan sebuah pistol tepat mengarah padanya.


Thomas pun kembali terbayang akan seringai menakutkan pria itu sesaat sebelum pria itu melepaskan sebuah tembakan ke arahnya.


Thomas mengerutkan dahinya, “Siapa dia sebenarnya?. Melihat bagaimana caranya menangkis pukulan dan tendanganku, aku rasa dia bukanlah orang sembarangan. Apa mungkin-” Thomas menghentikan ucapannya, matanya membuka lebar menampilkan sorot mata keterkejutan di sana.