My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/91



Belanda


Papi terlihat berdiri tegak di balik kaca besar yang menjulang tinggi didepannya. Memandang keindahan bunga tulip berwarna-warni yang tumbuh bermekaran di sekitar halaman. Papi menghela nafas berat sesaat setelah duduk dan menyandarkan tubuhnya di kursi yang mematung di sudut ruangan.


Hanya alunan musik instrumental yang menemani papi sore itu. Papi menutup matanya mencoba menikmati alunan musik berharap musik indah yang mencapai telinganya akan memberikan ketenangan dan kedamaian dalam pikirannya yang mulai carut marut tak tentu arah.


Sentuhan hangat di lengan papi yang mulai keriput menyentak mata papi untuk membuka, tampak mami berdiri tegak di depan papi dengan wajah yang tak kalah cemas saat menyadari kegundahan di wajah suaminya.


"Papi kenapa?. Tidak biasanya papi duduk diam seperti ini."


Papi menarik nafasnya dalam lalu membuangnya dengan hembusan berat yang benar-benar membuat mami semakin bertambah bingung melihatnya.


"Papi hanya memikirkan putra kita, Mi."


"Riza?. Ada apa dengan Riza, Pi?" Mami segera duduk di samping papi lalu menatap lekat wajah suaminya.


"Apa sebaiknya kita ceritakan saja yang sebenarnya pada Riza tentang dirinya dan masa lalunya, Mi?. Papi tidak bisa menyembunyikan ini lagi."


Wajah mami menegang, "Jangan, Pi. Riza tidak boleh sampai ingat peristiwa menyakitkan itu. Kita sudah bersusah payah memberikan pengobatan pada Riza agar Riza melupakan peristiwa itu. Mami tidak mau melihat Riza terpuruk seperti dulu."


"Papi takut, Mi. Papi tidak mau jika Riza nantinya tahu hal ini dari orang lain. Lalu dia marah dan membenci kita. Bukankah lebih baik kita ceritakan saja semuanya, Mi."


"Pokoknya mami tidak setuju. Mami belum siap kehilangan putra mami lagi. Jadi mami harap, papi pikirkan hal ini baik-baik." Mami segera berdiri dari duduknya lalu melangkah pergi meninggalkan papi."


"Tapi, Mi--"


Papi kembali menarik nafas sesaat setelah kepergian Mami yang penuh amarah. Tarikan nafas panjang papi seketika membuat udara masuk melewati paru-parunya. Sesaat kemudian, papi menghembuskan nafasnya berat untuk melepaskan sesak dan penat di dadanya. Papi tampak sangat dilema. Penyesalan terlihat terus menerus menghantui pikirannya saat ini.


-----


Jakarta


Didalam kamar, Dilla tampak sedang sibuk mengamati satu persatu produk-produk kecantikan yang ia beli tadi sore. Serangkaian produk yang kini sudah berjajar rapi di meja riasnya.


"Aku akan pakai kalian semua. Aku tidak sabar melihat seberapa baik kalian padaku. Lakukan yang terbaik, buat mas Riza tambah cinta, ya. Hi..hi..hi." Dilla cengar-cengir bak kuda. Berbicara pada produk yang mematung di depannya itu seorang diri.


Tiba-tiba, terbesit di pikiran Dilla untuk memakai produk tersebut sesaat sebelum memulai malam romantisnya dengan Riza. Mata Dilla tampak berbinar saat membayangkan hal-hal menyenangkan yang akan terjadi pada malam romantisnya bersama Riza.


Riza sungguh telah mengobrak-abrik jiwa polosnya. Entah mengapa, pikirannya tak bisa jauh-jauh dari suaminya itu.


Sesaat kemudian, Dilla menegakkan posisi duduknya lalu meraih salah satu kemasan produk yang ada didepannya. Dilla segera membaui aroma yang menyeruak dari dalam kemasan berlapis kaca tersebut.


Tapi, jangan salah. Meskipun Dilla tahu bahwa produk yang dibelinya itu merupakan produk perawatan kulit dan tubuh, akan tetapi ia tidak tahu cara pakainya sebab memang Dilla tidak pernah menggunakan produk-produk semacam itu sebelumnya.


Dilla pun mulai komat-kamit membaca aturan pakai produk tersebut, otaknya mulai berputar menterjemahkan satu persatu tulisan asing yang tertera di sana.


Dilla menggaruk kepalanya bingung, "Apa sih artinya?"


Sesaat kemudian, Dilla bangkit kemudian beranjak keluar kamar dengan membawa salah satu produk yang disabetnya dari atas meja.


Dilla mengetuk pintu ruang kerja Riza, setelah mendapat sahutan dari dalam barulah Dilla melangkah masuk menghampiri Riza.


"Mas, masih sibuk?"


"Hemm. Kenapa?" Riza menoleh ke arah Dilla.


Dilla segera duduk di samping Riza lalu menyodorkan kemasan produk yang dibawanya tepat di depan wajah Riza. Riza pun meraih produk tersebut dan mulai membaca satu persatu tulisan yang ada didalamnya.


"Itu produk yang saya ceritakan sama mas. Saya mau pakai, tapi nggak tahu caranya soalnya semua kata-katanya pakai bahasa Inggris. Saya minta tolong mas terjemahkan, biar saya tulis di sini," ujar Dilla yang sudah bersiap-siap dengan pulpen dan kertas di tangannya.


Riza memusatkan perhatian pada tulisan yang tertera di sana. Sesaat kemudian, Riza memberikan produk tersebut kembali pada Dilla. "Buang benda ini. Jangan dipakai."


"Lah, kenapa, Mas?"


"Benda ini mengandung banyak bahan berbahaya yang tidak baik untuk kulitmu."


"Hah?!. Beneran, Mas?" Dilla melotot kaget.


Riza mengiyakan keterkejutan Dilla.


"Tapi, kalau memang ini berbahaya, kenapa perempuan edan itu mau pakai ini, ya?"


"Perempuan edan siapa?"


"Aku tidak peduli dengan kulit perempuan lain. Mau kulitnya seperti apa, tidak ada hubungannya denganku. Aku hanya peduli padamu. Lebih baik, uang yang aku berikan, kamu pergunakan untuk pendidikanmu daripada membeli sesuatu yang tidak berguna. Lagi pula, kamu tidak perlu repot-repot melihat bagaimana orang lain. Setiap orang itu punya daya tariknya tersendiri, tidak perlu memaksakan dirimu untuk berubah hanya karena ikut-ikutan orang. Lebih baik sekarang, buang benda ini dan jangan dipakai. Mengerti?!"


Dilla mengiyakan saja perkataan Riza meskipun sebenarnya dalam benaknya ia merasa sangat tidak rela untuk membuang produk yang bahkan belum disentuhnya sedikitpun. Dilla pun hanya bisa pasrah menuruti perintah Riza lalu segera beranjak kembali ke dalam kamar, meninggalkan Riza yang tampak kembali sibuk berkutat dengan laptopnya.


-----


Di tempat lain, Thomas tampak masih setia menunggu Aldrich di depan ruang ICU. Thomas masih memikirkan kata-kata dokter pasal kesehatan Aldrich beberapa waktu yang lalu.


Dokter mengatakan bahwa pencangkokan jantung yang berhasil dilakukan lima tahun lalu mulai berefek samping pada Aldrich. Jantung yang awalnya baik-baik saja, kini mulai menunjukkan tanda-tanda yang tidak biasa. Dokter pun bertanya apakah akhir-akhir ini Aldrich mengalami syok atau kejadian yang memicu emosi dari dalam dirinya.


Thomas pun menjawab dengan menggelengkan kepalanya singkat sebab dari yang ia perhatikan Aldrich terlihat baik-baik saja bahkan Aldrich tampak sangat bahagia, terlebih lagi saat Aldrich bertemu dengan Dilla. Tanpa Thomas sadari bahwa rasa bahagia itulah yang memicu emosi Aldrich muncul ke permukaan.


Mendengar itu, Dokter pun menyarankan agar Aldrich segera di bawa ke luar negeri untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik. Thomas pun mengangguk mengiyakan.


Tanpa menunggu lama, Thomas pun segera bergerak untuk mendapatkan rujukan agar dapat memindahkan Aldrich ke rumah sakit yang ada di Belanda. Hanya itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa Aldrich saat ini. Surat rujukan pun telah di setujui. Dua hari lagi, Thomas akan segera membawa Aldrich ke Belanda tanpa sepengetahuan Adam.


Didalam hati, Thomas berharap keputusannya kali ini tidaklah salah. Menyelamatkan nyawa Aldrich merupakan prioritas utamanya saat ini meskipun ia tahu bahwa konsekuensi besar akan diterimanya nanti kalau sampai Adam tahu apa yang terjadi pada puteranya saat ini.


-------


"Bro, tumben loe nggak minum. Nggak kayak biasanya," tegur seorang teman Niko yang tengah duduk bersebelahan dengannya saat meraih gelas koktail yang disodorkan oleh bartender didepannya.


Niko menaikkan sudut bibirnya. "Gue lagi nggak mood." Wajah Niko tampak gundah. Niko yang biasanya ceria dan selalu bersemangat terlihat berbeda malam ini.


"Tumben banget. Loe kenapa, bro?"


Niko tidak menjawab. Ia hanya mendesah berat sambil menekuk wajahnya dalam.


Prang!!!


Suara pecahan beling mengalihkan perhatian Niko dan temannya. Seketika mereka menoleh ke sumber suara. Niko menangkap sosok Nana sedang berdiri ketakutan tak berdaya di hadapan seorang pria sesaat setelah pandangannya teralihkan.


Pria itu berdecak, "Dasar wanita nggak tahu diri. Berani banget loe bentak-bentak gue. Loe itu nggak usah berlagak sok suci, deh. Gue kasih loe satu kesempatan, kalau loe mau karier loe selamat, tidur sama gue malam ini."


Nana membelalakkan matanya.


Rasa perih seketika membekas di pipi pria bertubuh tinggi itu. Tamparan keras dari Nana tampak membuat pria itu meradang. Bukannya sadar, pria itu justru semakin melotot tajam ke arah Nana yang terlihat sangat ketakutan. Nana berusaha meronta melepaskan diri saat tangan pria itu mencengkeram kuat lengannya.


Sementara itu, dari kejauhan Niko hanya memandang drama dua orang itu dengan tampang malas. Niko pun segera berpaling dan membuang pandangannya, tak mau melihat drama membosankan yang ada didepannya itu terlalu lama.


Suara teriakan Nana seketika membuat Niko kembali mengalihkan pandangannya.


"Gila, tuh orang. Dia mukul cewek, bro!" ujar teman Niko kemudian yang disambut dengan tampang geram di wajah Niko.


Niko segera berdiri dan langsung menghampiri dua orang itu. Niko langsung memelintir tangan pria itu, tepat sebelum pria itu kembali melayangkan tinjunya pada Nana.


"Loe baik-baik aja?" tanya Niko pada Nana yang terlihat ketakutan. Niko memperhatikan wajah Nana yang memar.


"Dasar banci. Beraninya mukul cewek!" Niko menggeram dan mengepalkan tangannya kemudian dengan cepat meninju wajah pria yang tampak melotot tajam ke arahnya.


Hingga akhirnya, baku hantam pun tak terelakkan.


Tiba-tiba lima orang rekan pria itu menghampiri Niko. Niko berdecak sebal, "Loe-loe pada mau main keroyokan. Dasar banci loe!" umpatnya kemudian.


"Kalau berani, loe lawan gue satu-satu!"


Teman Niko pun segera bangkit untuk membantu Niko yang terlihat mulai kewalahan. Tak butuh waktu lama, bagi Niko dan temannya untuk menghabisi semua lawan mereka saat itu. Akhirnya pria itu kabur bersama dengan rekan-rekannya.


Sesaat kemudian, Niko segera menghampiri Nana yang tampak meringkuk ketakutan.


"Ayo, ke rumah sakit. Biar gue anter!"


Nana hanya diam saja saat Niko menarik lengannya ke luar bar menuju ke arah parkiran. Niko segera melajukan mobilnya sesaat setelah mesin mobil menyala.


Niko melirik khawatir ke arah Nana yang terlihat masih diam membisu. Nana yang biasanya sangat galak dan sombong terlihat tidak berkutik bak ayam sayur.


Tiba-tiba Nana menangis terisak. Niko yang tengah berkonsentrasi pada kemudinya langsung kaget saat mendengar suara isakan tangis dari bibir Nana.


Niko pun mulai panik, menanyakan ini dan itu pada Nana dengan bingungnya. Tangis Nana pun semakin kencang, membuat Niko semakin bertambah panik di balik kemudinya.