My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/131



Pria berkacamata dengan balutan jas putih menatap Riza yang tampak cemas di sisi ranjang tempat Dilla terbaring tak sadarkan diri.


Pria bule itu pun tersenyum simpul sesaat sebelum mendekat ke arah Riza lalu berkata, "Selamat Tuan Riza. Istri anda saat ini sedang hamil."


Riza menatap wajah dokter bule itu lama. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dokter itu sampaikan. Tidak hanya Riza, bahkan Niko yang berada di samping Riza pun menunjukkan ekspresi wajah yang serupa dengan sahabatnya itu.


Riza kemudian bersuara, "Sebentar, Dok. Kalau boleh saya tau kira-kira usia kehamilannya sudah berapa lama?"


"Kalau menurut analisa saya, usia kehamilan istri anda sudah memasuki minggu ke empat. Namun, untuk lebih memastikan hal ini, silahkan anda datang bersama istri anda ke rumah sakit untuk mendapat pemeriksaan lebih lanjut. Saya permisi."


Riza hanya mengangguk pelan untuk mempersilahkan dokter itu berlalu pergi.


Niko kemudian berkata, "Selamat ya, Bro. Bentar lagi lo bakal jadi ayah. Nggak nyangka gue," ucapnya seraya memeluk Riza. Namun, Riza hanya diam tak berkata apapun. Keterkejutan terpampang jelas di wajah pria itu.


Satu jam kemudian


"Apa?!. Dilla selingkuh?" ucap Niko ke arah Riza. Dengan dahi mengernyit, Niko menggeleng tidak percaya.


"Hemm. Selama aku ada di Belanda, ternyata Dilla sering berhubungan dengan Aldrich."


"Hah?!. Aldrich?!" ucap Niko terperanjat.


"Tempo hari aku lihat foto-foto mereka berdua dari handphone Tante Anita. Mereka kelihatan dekat sekali. Sewaktu aku dan Dilla tinggal di rumah Aldrich, aku juga sering melihat kedekatan mereka. Sikap Dilla ke Aldrich juga sangat berbeda jauh dengan sikap Dilla ke aku."


"Maksud Lo?"


"Kalo Dilla di dekat Aldrich, Dilla bisa cerita semuanya, apapun itu. Beda sekali saat Dilla ada bersama ku, dia terlihat seperti memikirkan sesuatu. Setiap kali aku bertanya, dia selalu menghindar dan mengalihkan pembicaraan kami."


Riza menghembuskan nafas panjang, "Hal itulah yang membuat aku ragu padanya."


"Jadi, lo curiga kalo anak diperut Dilla itu bukan anak lo?, gitu?" sahut Niko.


Riza diam.


"Gini ya. Gue bukannya mau ikut campur sama urusan rumah tangga Lo, tapi kecurigaan Lo itu nggak masuk akal, Men. Gue berani garansi kalo Dilla itu nggak punya hubungan apa-apa sama tuh bule. Aduh, parah lo, Za. Parah. Parah. Bisa-bisanya lo mikir kalo anak diperut Dilla itu bukan anak lo. Nggak habis pikir gue sama logika gilak lo itu."


Riza tidak menjawab, ia tampak bimbang dengan pikirannya saat ini.


Tanpa mereka sadari, isak tangis mulai terdengar dari bibir manis Dilla yang sedari tadi mendengar semua percakapan Riza dan Niko dari balik dinding kamarnya.


Niko melanjutkan, "Za, Dilla itu istri lo. Harusnya lo percaya dong sama dia."


"Entahlah, Nik. Aku nggak tau harus percaya sama siapa sekarang. Aku benar-benar nggak bisa ingat kejadian apa yang terjadi sama aku dan Dilla sebelum aku datang ke Belanda. Aku juga udah hampir gila memikirkan ini."


Niko meyakinkan Riza kembali, "Pokoknya apapun yang terjadi sebelum lo datang ke Belanda nggak ada hubungannya sama sekali sama semua omong kosong ini. Dilla itu sayang banget sama lo, Riza. Bisa-bisanya lo nuduh dia macem-macem sama orang lain. Nggak habis pikir gue. Percaya sama gue, Dilla itu nggak bakal pernah selingkuh dari Lo."


Riza menjawab, "Udahlah, Nik. Stop ikut campur sama urusan rumah tangga ku. Lebih baik kamu beresin aja masalah Bayu, terus kamu pulang ke Indonesia."


Dahi Niko mengernyit, "Eh, maksud lo apa, Za?. Kok lo jadi bawa-bawa nama Bayu?!" singgung Niko. Niko tampak tersulut emosi.


Riza kemudian mendekat lalu dengan cepat meninju Niko dengan sekali pukulan tepat mengenai wajah pria didepannya. Sesaat berikutnya, Riza pun mencengkeram kuat kerah kemeja Niko sambil berkata, "Jangan bilang kamu udah lupa sama apa yang terjadi sama Bayu. Apa aku harus meninju wajahmu dulu baru kamu ingat, hah?!" bentak Riza tepat di wajah Niko.


Beralih ke kamar Riza dan Dilla. Dilla yang masih syok dengan percakapan Riza dan Niko pun tak kuasa menahan rasa sesak di dadanya. Ia tak pernah menyangka kalau Riza akan meragukannya seperti ini.


Melihat Riza yang masuk ke dalam kamar, dengan cepat Dilla menyeka air matanya. Wajah Riza tampak merah padam terbakar amarah.


Tanpa menanyakan keadaan Dilla, Riza berkata, "Mulai malam ini, aku mau tidur di kamar tamu!" ucapnya ketus sambil mengambil beberapa helai pakaian miliknya dari dalam lemari.


Mendengar hal itu, dengan cepat Dilla menghampiri Riza dan memeluk erat tubuh suaminya itu seraya menahan isak tangis di matanya.


Pelukan hangat Dilla, perlahan meluluhkan hati Riza yang tersulut emosi.


Dilla berkata, "Mungkin Mas udah bosen sama apa yang saya katakan, tapi saya bener-bener nggak ada hubungan apa-apa sama Mister. Sungguh. Tolong jangan marah lagi Mas. Saya nggak sanggup kalo harus jauh-jauhan terus seperti ini."


Dilla terus merayu dan mengiba. Namun, sepertinya kata-kata Dilla belum bisa mendinginkan Riza sebab lagi-lagi rasa cemburu dan curiga kembali memenuhi dada Riza hingga memancing kembali amarahnya pada Dilla.


Perlahan Riza melepaskan dekapan Dilla dari tubuhnya. Riza memutar tubuhnya lalu berkata sinis, "Besok kita ke rumah sakit. Kita test DNA untuk mastiin bayi siapa yang ada di rahim kamu sekarang."


"Maksudnya kamu nggak percaya kalau ini anak kamu?"


"Yah, siapa tau bayi yang ada di perut kamu itu anak orang lain."


"Tega kamu ya Mas, tega kamu nuduh aku sekeji itu. Ini itu anak kamu, Mas. Anak kita," ungkap Dilla sesenggukan.


"Ah, sudahlah. Aku pusing. Aku mau tidur!. Minggir!" ketus Riza sambil berlalu pergi meninggalkan Dilla yang hanya mampu menangis melihat perlakuan kasar suaminya itu padanya.


Dua jam kemudian


Hingga malam hampir memasuki dini hari, mata Riza belum juga mampu terlelap. Pikirannya terus terpaut pada Dilla. Wajah gadis itu terus mengusik pikiran Riza, hingga membuat pemuda itu merasa frustasi.


"Apa perlakuanku tidak terlalu kasar padanya?. Bagaimana kalau dia terus-menerus menangis semalaman?. Dia kan sedang hamil," gumamnya.


Riza terus mencoba memejamkan mata, tetapi sepertinya matanya sulit untuk diajak bekerjasama malam ini. Riza menoleh ke arah samping. Ia membayangkan wajah Dilla yang tertidur lelap dengan berbantalkan lengan kekar miliknya.


Pemuda itu menatap bayangan istrinya lama, sesaat sebelum ia menarik nafas frustasi kembali. Bagaimana tidak, baru kali ini ia tidur tanpa ditemani oleh sosok Dilla disisinya.


"Aaggghhhhh. Aku itu kan lagi marah sama Dilla, tapi kenapa aku kebayang wajah dia terus?" ucap Riza kesal.


Riza meraih gelas di atas nakas. Riza langsung meneguk air yang ada didalam gelas hingga habis tak bersisa. Karena dahaganya belum juga sirna, akhirnya ia pun bergegas keluar kamar untuk mengambil air.


Saat berjalan ke arah dapur, Riza melihat pintu kamar Dilla tidak tertutup dengan rapat. Awalnya ia tidak peduli dan terus saja berjalan. Namun, setibanya di dapur, ia kembali teringat dengan apa yang dilihatnya tadi.


Tak lama, ia pun segera bergegas menuju ke arah kamar Dilla.


Riza menutup pintu perlahan, tapi sesaat kemudian ia membuka pintu itu kembali. Dari depan pintu, ia melihat Dilla yang sedang tertidur meringkuk di atas ranjang.


Karena tidak tega, Riza pun masuk kedalam kamar untuk menarik selimut ke atas tubuh Dilla. Dari dekat dilihatnya wajah pucat yang dihiasi dengan mata sembab itu dengan seksama. Jejak air mata tampak masih menempel di pipi gadis itu. Melihat itu, hati Riza terasa pilu. Hatinya terenyuh melihat wajah gadis didepannya.


Riza menghembuskan nafas panjang seraya menyeka bekas air mata di pipi Dilla kemudian menyisir rambut lurus istrinya itu perlahan, sesaat sebelum ia meninggalkan kamar dan menutup pintu.