My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/100



Kesedihan masih membekas pilu hati Dilla saat ini. Sejak kepergian Riza ke Belanda, Dilla belum juga kunjung mendapatkan kabar tentang keadaan suaminya di sana. Hanya air mata sebagai penawar rasa rindunya selama ini.


Bukan tidak berusaha, tapi sepertinya takdir saja yang belum mau bekerjasama dengannya.


Berulangkali ia menelepon ponsel kedua orangtua Riza dengan harapan dapat mendengar langsung suara suaminya untuk meluapkan rasa rindu di hati yang kian tak terbendung lagi, tapi sayangnya asanya itu tak jua kunjung tersampaikan pada suaminya yang kini berada nun jauh di sana.


Kemanapun kaki gadis itu melangkah, pikirannya terus terpaut pada orang itu. Hatinya terus mengkhawatirkan dia yang ada disana. Dia sang pemilik hati gadis itu.


Apa kabarnya?. Bagaimana keadaannya?. Apakah suaminya baik-baik saja?, atau justru sebaliknya?. Bisikan itu selalu berbicara lirih dibenaknya. Silih berganti bersamaan dengan kenangan indah yang terpatri diingatannya.


Tiap helaan nafas yang ia hembuskan selalu mengingatkan dirinya akan satu orang. Orang yang sudah ikut menjadi bagian dari takdirnya. Orang yang memiliki jiwa dan raganya saat ini. Orang yang selalu ia sebut dalam setiap doa-doanya.


Rasa rindu itu kian meronta hingga membuat dadanya kian hari kian terasa sesak. Sungguh tak tertahan.


Tiga bulan sudah gadis itu menjalani hidupnya bagai kehilangan separuh jiwa dan nafas. Hidupnya berubah tak tenang dan tak karuan sejak kepergian pemilik hatinya yang entah kapan akan dapat ia temui kembali.


Tiga bulan serasa sewindu bagi gadis itu. Kesehariannya hanya dihabiskan dengan menunggu kabar dari suaminya yang entah kapan akan menghampiri.


Berulangkali ia mengusap wajah tampan yang tercetak didalam sebuah bingkai kaca itu tiada henti, seolah mengusap langsung wajah suaminya yang amat ia rindukan. Sesekali didekapnya bingkai kaca itu, seolah mendekap langsung tubuh suaminya. Dan lagi-lagi hanya air mata sebagai penawar kerinduan.


Isakan tangis yang awalnya lirih, kian terdengar memilukan hingga mampu mengiris hati siapa saja yang mendengarnya. Ia tak tahu harus dengan cara bagaimana lagi menumpahkan perasaannya saat ini.


"Mas, saya kangen. Kapan mas pulang?. Hiks. Hiks." Dilla menyeka air matanya yang kembali jatuh sambil terus mengusap lembut wajah yang berlapis bingkai kaca itu. "Mas, apa yang harus saya lakuin?. Saya nggak bisa apa-apa tanpa kamu."


Dilla terus menangis seorang diri di kamarnya.


Sementara itu, di tempat berbeda Niko sedang berbicara di ponsel dengan seseorang.


"Yah, Niko minta alamatnya Om Dirwan di Belanda."


"Kamu telepon ayah cuma mau ngomongin itu?"


"Iya."


"Ayah nggak bisa kasih informasi pribadi pasien ayah sama orang lain."


"Tapi Yah, Niko ini kan bukan orang lain. Niko ini keponakannya Om Dirwan sekaligus sahabatnya Riza dan Niko berhak tau gimana keadaan sepupu Niko."


"Kamu nggak usah sok setia kawan kayak gitu, ayah tau maksud kamu itu apa. Lebih baik sekarang kamu urus saja rumah sakit peninggalan kakek kamu dengan baik. Biar urusan Riza, ayah dan Om Dirwan saja yang uruskan."


"Tapi, Yah...."


"Tidak ada tapi-tapi. Dan ingat, kamu jangan berbuat macam-macam dengan rumah sakit itu. Jaga amanah Om Dirwan dengan baik. Mengerti?!"


"Terserah ayah."


Niko langsung memutus panggilan teleponnya dengan wajah kesal. Kemudian kembali melangkah menuruni anak tangga lengkap dengan stelan kemeja rapi dan celana panjang hitam yang melekat pas ditubuhnya.


Ponsel Niko berdering, sambil berjalan ia menjawab ponselnya.


"Iya."


Hening.


"Halo. Halo."


tut


Ponsel dimatikan secara sepihak.


"Siapa sih yang iseng nelpon pagi-pagi gini?. Ngerusak mood gue aja."


Ponsel berdering kembali. Niko berdecak kesal sebelum menjawab ponselnya.


"Halo. Siapa nih?" ucapnya sambil melahap sepotong sandwich yang ada ditangannya.


Hening.


"Halo. Halo. Eh, kalo bercanda kira-kira dong."


Kali ini Niko yang mematikan ponselnya. Niko sempat mengumpat kesal sebelum melahap sandwich yang tersisa setengah ditangannya lalu menghabiskan segelas susu yang ada diatas meja.


Sesaat berikutnya, ia langsung beranjak menuju garasi tanpa berpamitan pada siapapun sebab ia memang selalu tinggal sendiri di rumah. Tanpa ada seorangpun yang menyiapkan kebutuhannya.


Kedua orangtuanya sudah berangkat dua hari yang lalu ke luar kota untuk kembali mengurus klinik ayahnya yang ada di sana.


Mobil pun sudah melaju meninggalkan rumah Niko.


Satu jam kemudian, mobil Niko sudah memasuki parkiran rumah sakit. Niko memarkirkan mobilnya dengan rapi kemudian berjalan santai menuju lift.


Sebuah notifikasi chat masuk ke ponsel Niko. Niko segera merogoh ponselnya.


✓ [Pak, saya Nana. Saya mau minta tolong. Boleh?]


"Oh, jadi nih cewek stress yang nelponin gue dari tadi?. Tumben banget," gerutu Niko.


Niko membalas.


✓ [Apaan?. Lo mau minjem duit?. Sorry, gue lagi bokek.]


Nana mengumpat kesal di seberang sana. "Ciih, emang tampang gue ada tampang tukang ngutang. Kenapa sih nih cowok negatif thinking mulu sama gue?. Nyebelin banget."


✓ [Ya nggak lah, Pak. Saya mau minta tolong yang lain.]


✓ [Apaan?]


Nana bingung harus membalas chat Niko seperti apa, alhasil ia hanya diam membiarkan Niko kembali menggerutu kesal di ujung sana.


"What?. Nggak dibales?. Apa-apaan sih nih cewek gila!. Dasar sinting."


"Selamat pagi, Pak." Suara seorang karyawan wanita menghentikan umpatan Niko sejenak.


Niko membalas sapaan karyawan tersebut dengan senyuman manis. Naluri buayanya seketika muncul. Niko menggeleng takjub.


"Nggak nyangka gue. Karyawan disini ternyata cantik-cantik. Lebih cantik daripada karyawan di kantornya si Irfan. Pantesan aja si Riza betah disini. Ha..ha..ha."


Perhatian Niko teralihkan pada sosok wanita cantik yang tiba-tiba muncul dari arah berlawanan, wanita yang mencuri perhatiannya selama tiga bulan belakangan ini sejak ia ditempatkan di sana oleh Dirwan.


Niko mendekat sesaat setelah merapikan pakaiannya, "Pagi, dokter Andyra."


Andyra menoleh, "Selamat pagi, pak Niko."


Mereka melangkah beriringan menuju ke arah lift.


"Hari ini kita ada rapat. Habis rapat, makan siang bareng, yuk."


"Maaf, Pak. Saya tidak bisa." Andyra tersenyum sopan. "Oh, iya. Bagaimana keadaan pak Riza?" tanyanya kembali.


Kenapa sih, Andyra nanyain Riza mulu dari kemaren?. Curiga gue.


Niko menaikkan kedua bahunya, "Nggak tahu."


"Oh," jawab Andyra singkat kemudian melangkah keluar dari dalam lift tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Niko hingga membuat Niko sedikit tercengang.


Tiba-tiba ponsel Niko berdenting.


✓ [Saya mau minta tolong sama bapak, buat absenin saya hari ini di kantor. Saya ada urusan mendadak, Pak. Tapi, jangan sampe si botak tau, soalnya kalo dia sampe tau nanti dia pasti bakalan ngadu ke ayah saya. Mau ya, Pak. Please?!]


Niko menggeleng, "Heh. Urusan mendadak. Lagu lama, palingan juga ngurusin kerjaan model nggak jelas lo itu. Tau banget gue akal bulus lo."


Niko membalas.


✓ [Ogah. Bye.]


"Sialan!" gerutu Nana di seberang telepon. Nana pun dengan cepat mengirimkan balasan pada Niko.


✓ [Brengsek lo!!! 🤬]


Niko terkekeh, merasa puas dengan kekesalan Nana yang menurutnya sangat lucu. Selangkah kemudian ia masuk ke dalam ruangannya.


-----


Belanda


"Gawat, pasien dokter Rey kembali mengamuk di ruangannya."


"Sudah berapa kali aku bilang, pasien itu harus diikat. Lihat apa yang dilakukannya kali ini. Aku sudah bosan mengurus kekacauan yang dibuatnya."


"Jangan menggerutu. Ayo, cepat."


Tiga orang perawat pria setengah berlari menuju ke sebuah ruangan.


"Tuan Riza. Saya mohon tenanglah. Saya ini dokter anda. Saya bukan orang jahat."


"Jangan mendekat. Jangan mendekat."


Tak lama, tiga orang perawat masuk ke dalam ruangan kemudian segera menyergap Riza dengan sigap. Riza berteriak dan meronta sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman kuat ketiga pria tersebut.


"Taruh dia di kursi itu." Tunjuk dokter berusia lanjut itu pada tiga orang perawat didepannya.


"Lepas. Lepas!!" Riza terus berteriak dan meronta-ronta saat ketiga perawat tadi memaksanya duduk lalu mengikat kedua kaki dan lengannya dengan kencang hingga membuat Riza tak berkutik.


Riza menatap tajam semua orang yang ada didepannya dengan sorot mata penuh amarah.


Dokter mendekat perlahan, "Tuan Riza, apa anda bisa tenang sekarang?"


"Lepas. Lepas!!. Kalian semua orang jahat."


"Tenang Tuan Riza. Kami ini paramedis yang akan menyembuhkan anda. Anda tidak perlu takut. Saya dokter Rey. Hari ini anda sedang menjalani terapi dan konseling di rumah sakit ini. Lihat, tidak ada orang jahat di sini."


Riza memperhatikan sekitarnya dengan takut-takut, mencoba memahami situasinya saat ini.


"Bagaimana?. Anda sudah bisa tenang?"


Riza mengangguk.


"Baiklah. Dengar Tuan Riza, coba jawab pertanyaan saya. Siapa nama lengkap anda?"


"Ri-za. Ri-za Rif-ky," jawab Riza terbata.


"Bagus. Kenapa anda ada disini?"


Riza diam, lebih tepatnya bingung. Ia bungkam sesaat sebelum kembali berbicara, "Saya mau pulang, Dok. Saya takut."


"Takut?"


Riza mengangguk pelan.


"Marah?"


Riza mengangguk.


"Sedih?"


Riza mengangguk kembali.


"Baiklah."


Dokter pun menunjukkan tiga buah kertas gambar kearah Riza. Kertas gambar itu berisikan gambar yang berbeda.


"Gambar mana yang paling anda suka saat ini?"


Dokter memperhatikan gerakan mata Riza yang tampak menyorot tajam penuh amarah ke arah gambar sebilah pisau.


Sesaat berikutnya, dokter segera menarik gambar pisau, menjauhkannya dari pandangan Riza dan menyisakan dua gambar lainnya di sana. Sementara Riza tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari gambar pisau tersebut.


"Nah, sekarang gambar mana yang anda suka?"


Riza memperhatikan dua gambar tersebut dengan seksama. Sorot mata amarah itu berubah sedih ketika mata Riza menatap gambar kue ulang tahun didepannya. Bulir air mata jatuh menetes dari sana.


Tak lama, mata Riza beralih ke arah gambar satunya, sebuah gambar buket bunga mawar yang terlihat indah dan menarik mata. Sorot mata sedih tadi langsung berubah teduh sedetik kemudian.


"Dilla?!" lirihnya tanpa sadar hampir tak terdengar.


Sosok Dilla tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Gadis itu tampak mengembangkan senyum manis ke arah Riza.


Dahi Rey mengernyit, "Dilla?. Siapa Dilla?"


Dokter segera mencatat interaksi Riza kali ini sebab baru kali ini pasiennya itu menuturkan sebuah nama dari bibirnya selain namanya sendiri.


Selama tiga bulan menjalani pengobatan, Riza memang sulit sekali diajak berkomunikasi oleh siapapun termasuk oleh Rey, dokter psikiater Riza. Setiap menjalani konseling dengan Rey, Riza selalu saja berteriak histeris tanpa sebab dan meracau tiada henti.


Hingga akhirnya dengan sangat terpaksa, Rey pun menyarankan pada mami dan papi agar Riza menjalani beberapa terapi salah satunya terapi kejut listrik yang pastinya sangat menyiksa Riza. Terapi itu sudah dijalani oleh Riza beberapa kali semenjak ia dinyatakan mengalami depresi berat oleh Rey.


Riza tidak menjawab saat Rey kembali bertanya siapa orang yang namanya disebut oleh Riza barusan.


Rey menangkap gerakan bola mata Riza yang bergerak-gerak kecil, menyiratkan kebingungan didalamnya.


-----


Jakarta


"Bagaimana, Mas?. Apa mas sudah tahu alamat mas Riza di Belanda?"


Niko menggeleng kemudian meminum segelas kopi yang telah tersaji lima belas menit lalu didepannya.


Dilla mendesah frustasi kemudian segera berdiri dari duduknya. "Ya, sudah. Saya akan cari alamatnya sendiri. Terima kasih ya Mas atas bantuannya."


"Lo mau kemana?" teriak Niko kemudian sesaat sebelum Dilla meraih gagang pintu didepannya.


"Belanda," jawabnya singkat tanpa menoleh pada Niko.


Setelahnya, Dilla pun segera menarik gagang pintu dan pergi meninggalkan Niko yang tampak terperangah tidak percaya dengan ucapan Dilla barusan.


Aku tidak bisa menunggu lebih lama. Aku harus bertindak nekat kali ini, batin Dilla sambil terus melangkah.