My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/108



Mobil sport metalik Thomas berhenti tepat di depan gerbang rumahnya. Thomas segera keluar dari mobil meninggalkan Aldrich dan Riza yang masih saling diam membisu disana.


Thomas berlari kecil lalu membuka pintu utama. Kedatangan Thomas itu pun segera disambut oleh Henzhie. Henzhie menatap Thomas heran.


"Kenapa mobilmu masih diluar?" tanya Henzhie sedikit melirik ke arah mobil yang masih terparkir didepan gerbang.


"Dengar. Tuan Aldrich akan menginap di rumah ini. Jadi, siapkan kamar untuknya."


"Apa?!. Orang menyebalkan itu akan tinggal di rumah ini. Berapa lama?"


"Tidak tahu," jawab Thomas singkat.


"Astaga. Kau gila?!. Kenapa kau membawanya kesini, Thom?"


"Berhentilah menggerutu. Oh, ya dimana nona Dilla?"


"Kau selalu seperti ini. Selalu melakukan sesuatu sesuka hatimu tanpa berbicara dulu padaku," ujar Henzhie kesal.


"Aku tanya dimana nona Dilla?" tanya Thomas kembali.


"Dia ada di kamar. Mungkin sedang tidur. Kenapa kau membawa semua orang aneh ke rumah kita, Thom?. Apa rumah ini panti sosial?" tambah Henzhie dengan wajah cemberut kesal.


"Diamlah."


Tiiin..tiiin


Suara klakson panjang terdengar dari mobil Thomas. Dua bersaudara itu pun segera menoleh ke arah suara.


Henzhie menatap Thomas kesal kemudian bergegas pergi untuk mempersiapkan kamar Aldrich.


Sesaat berikutnya Thomas pun segera berlari menuju ke arah mobil dan duduk di kursi kemudi. Sementara wajah Aldrich sudah kesal bukan main.


"Cepat parkirkan mobil ini. Aku ingin istirahat," ketus Aldrich.


Thomas diam.


Aldrich menoleh pada Riza, "Kau tahu. Mau dia bicara ataupun diam seperti itu. Dia sangat menyebalkan. Aku tidak percaya orang seperti dia bisa jadi pelayanku," gerutu Aldrich sanking kesalnya pada Thomas.


Riza tampak diam saja saat mendengar kalimat sarkas Aldrich barusan.


Tak lama, mobil pun sudah terparkir rapi didepan rumah Thomas. Thomas bergegas mengambil kursi roda dan barang-barang milik Aldrich lalu memapah Aldrich duduk di kursi roda dan bergegas mendorongnya menuju rumah.


Saat berpapasan dengan Aldrich, Henzhie tidak menyapa sama sekali. Henzhie hanya melirik Aldrich sekilas dengan menampakkan wajah kesal dan jengkel ke arah pria itu.


Aldrich yang memang sudah terbiasa dengan perlakuan adik pelayannya itu terlihat tidak terlalu ambil pusing dengan sikap Henzhie padanya.


"Kau lihat apa?. Cepat bawa pria yang ada disana masuk ke dalam rumah," ketus Thomas pada adiknya.


Henzhie melirik ke arah mobil, "Siapa?"


"Nanti juga kau akan tahu. Cepatlah."


Thomas kembali mendorong kursi roda Aldrich.


Henzhie berjalan malas ke arah mobil. Ia pun langsung membuka pintu mobil tempat dimana Riza duduk. Henzhie sedikit terperanjat.


Siapa orang ini?, telisik Henzhie dalam hatinya.


Henzhie mendengus kesal, "Hei, Tuan. Keluarlah. Ikut denganku."


Riza menatap ke arah Henzhie. Pandangan mata mereka beradu. Mata Henzhie bergerak-gerak kecil seolah mengingat sesuatu. Sesaat kemudian, ia terperangah kaget.


"Astaga, kau Riza kan?. Riza Rifky. Iya, kan?" ujar Henzhie heboh dengan senyum tipis terukir di wajah cantiknya saat menyadari siapa orang yang ia temui sore itu.


"Aku Henzhie. Apa kau masih ingat padaku?"


Riza menatap Henzhie bingung.


Menyadari hal itu, cepat-cepat ia menyudahi tatapannya saat itu juga lalu berbalik membelakangi Riza yang masih menatap bingung ke arah Henzhie.


Henzhie meraba dadanya yang terasa berdetak kencang, Ayolah Henzhie. Sudah lima tahun berlalu dan kau masih menyukainya?. Hentikan kekonyolanmu ini**!!, rutuknya dalam hati sambil melirik sekilas pada Riza.


Henzhie menarik nafas dalam untuk menenangkan detak jantungnya yang masih berdegup.


Bagaimana Thomas bisa kenal dengan Riza?. Setahuku pria ini sangat tertutup dengan orang lain. Tapi jujur, aku sangat senang bisa bertemu dia disini.


Sesaat kemudian dengan takut-takut, Henzhie meraih lengan Riza. Kejadian yang sama kembali terulang. Darahnya berdesir. Dengan cepat Henzhie melepaskan tangan Riza sebelum jantungnya benar-benar meledak kali ini.


"Ikutlah denganku," ujarnya dengan wajah yang sudah bersemu merah.


Tanpa berkata apapun Riza keluar dari mobil. Ia berjalan perlahan mengikuti langkah Henzhie menuju rumah.


Didalam kamar, Dilla tersentak dari tidurnya. Dadanya berdebar tak biasa.


"Ada apa, ya. Kok dadaku berdebar gini. Apa mungkin ini efek dari obat tidur yang dikasih Henzhie?" gumam Dilla sambil memegang dadanya.


Beberapa hari ini, Dilla memang mengalami insomnia parah. Hampir setiap malam ia tidak bisa tidur akibat stres memikirkan bagaimana kondisi suaminya saat ini.


"Aduh!" Aldrich meringis menahan sakit yang tiba-tiba menyerang dadanya.


"Ada apa Tuan?. Apa Tuan baik-baik saja?" tanya Thomas panik.


Aldrich tampak semakin merintih kesakitan.


Thomas pun berteriak kencang memanggil nama Henzhie hingga membuat Dilla yang masih berada di kamar kembali tersentak.


Dengan cepat Henzhie berlari menghampiri Thomas. Terlihat Aldrich menegang menahan sakit di dadanya.


Sementara itu, Dilla pun langsung bergegas keluar kamar saat mendengar suara nyaring Thomas yang terdengar sangat menggelegar seisi rumah. Thomas terlihat sangat panik.


Melihat kondisi Aldrich, dengan buru-buru Henzhie pun bergegas mengambil stetoskop miliknya yang ia taruh di kamar. Di saat yang sama, ia berpapasan dengan Dilla.


"Ada apa?" tanya Dilla saat melihat Henzhie yang terlihat panik saat mengambil stetoskop miliknya disana.


Henzhie tidak menjawab. Ia segera berlari untuk memeriksa kondisi Aldrich yang kini sudah pingsan tak sadarkan diri.


"Bagaimana?. Apa Tuan Aldrich baik-baik saja?" tanya Thomas.


Henzhie memeriksa keadaan Aldrich, "Bawa dia ke kamar. Cepat!!"


Dengan sigap Thomas pun bergegas membopong Aldrich lalu membaringkannya di ranjang diikuti oleh Henzhie dari belakang.


Sementara itu, Dilla terlihat berlari ke arah ruang tamu. Namun, Thomas dan Henzhie sudah tidak ada disana. Hanya ada seorang pria yang sedang duduk diam di sofa dengan wajah yang menunduk dalam.


Dilla menatap pria itu sekilas lalu berbalik dan melangkah. Sesaat langkahnya terhenti tiba-tiba. Hatinya seolah menyuruh tubuhnya untuk berbalik saat itu juga.


Dadanya kembali berdebar kencang. Debaran rasa yang selalu ia rasakan setiap kali ia bersama dengan belahan jiwanya.


Dilla pun memutar tubuhnya dan mendekat ke arah pria itu. Perlahan langkahnya semakin mendekat. Terus mendekat seiring dengan debaran jantungnya yang berdegup semakin kencang.


Seketika air mata kerinduan itu pun menetes dan mengalir deras, saat netra indahnya menangkap sosok pria yang selama ini ia cari. Sosok yang selama ini ia rindukan. Sosok yang sudah lama menghilang dari pandangannya.


Sosok yang selalu menjadi pelindung hati dan jiwanya.


"Mas Riza," isak tangis bahagia dan haru itu pun mengiringi gerakan jemari Dilla yang mulai menyentuh wajah tirus didepannya itu dengan lembut untuk memastikan kalau ia tidak sedang bermimpi saat ini.


Perasaannya membuncah saat pandangan mata kedua insan itu bertemu. Tatapan yang selama ini sangat Dilla rindukan kini ada dihadapannya. Sesaat waktu serasa berhenti berputar.


Sama halnya dengan Riza. Meskipun hanya diam, akan tetapi jauh di alam bawah sadarnya ia turut merasakan rasa yang sama seperti apa yang dirasakan oleh Dilla saat ini.


Pelita hati yang selama ini mereka rindukan kini telah kembali menerangi hidup mereka masing-masing.


Tanpa sadar seulas senyum hangat terlukis di wajah Riza saat memandang wajah gadis yang menggetarkan jiwanya itu.