My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/11



Rumah Riza


Hari pernikahan Dilla dan Riza akhirnya tiba.


Riza terlihat sedang mempersiapkan dirinya, ia mengenakan stelan jas modifikasi berwarna putih polos, ditambah dengan peci berwarna senada yang secara otomatis semakin menambah ketampanan Riza hari ini.


Riza bergegas menuruni anak tangga rumahnya, kemudian menghampiri mami dan papi yang sejak tadi telah menunggu kemunculannya di ruang tamu.


"Aduh, anak mami. Tampan sekali." Mami berkomentar memuji ketampanan anaknya.


Riza hanya tersenyum menatap maminya.


Papi kemudian berdehem keras lalu berbicara,


"Ayo, kita sudah terlambat!" ucapnya singkat.


Mereka pun langsung bergegas menuju lokasi dimana akad nikah akan dilangsungkan.


Tiga puluh menit kemudian mereka pun tiba di sebuah masjid besar nan megah yang akan menjadi tempat berlangsungnya prosesi akad nikah Riza dan Dilla hari ini.


Niko ternyata telah sampai terlebih dahulu di sana.


Ketika Niko melihat Riza, ia langsung menghampirinya.


Tidak lama, terlihat penghulu pernikahan pun akhirnya tiba.


Tiga puluh menit pun telah berlalu akan tetapi rombongan Dilla tidak kunjung menampakkan diri.


Orang-orang yang hadir terlihat mulai berbisik-bisik.


Kemudian mami menghampiri Riza sambil berbisik pelan, "Sayang, coba hubungi Dilla atau Laras. Kenapa mereka belum juga sampai?" ucap mami terlihat khawatir.


Riza kemudian menarik Niko ke teras masjid.


"Nik, aku minta nomor ponsel Laras. Aku mau tanya mereka sudah dimana."


"Gue nggak punya nomor Laras, Za!" jawab Niko.


"O, iya.. coba loe telefon ke nomornya si Dilla. Seingat gue, loe kan ada kasih hape kemarin sama dia. Coba loe telefon deh, nomornya!" sambung Niko kembali.


Riza terdiam, ia mendengus pelan.


"Aku lupa minta nomornya!" ucapnya singkat.


"Ya Allah!" Niko menepuk jidatnya pelan.


"Terus sekarang kita mesti gimana, bro?" sambung Niko yang mulai terlihat panik.


Di dalam masjid, penghulu sudah tidak dapat menunggu Dilla lebih lama lagi.


Penghulu pun meminta pamit undur diri kepada papi, akan tetapi papi meminta kepada penghulu agar mau menunggu lebih lama.


Penghulu akhirnya melunak.


Papi dan mami mulai terlihat panik dan gelisah.


Mereka mondar-mandir kesana kemari menunggu kedatangan Dilla.


Lalu mami menghampiri Riza kembali.


"Bagaimana sayang?" tanya mami.


Riza hanya menggeleng pelan dan menundukkan kepalanya.


Riza terdiam ditempatnya berdiri, di dalam kepalanya ia berpikir bahwa Dilla telah berubah pikiran lalu pergi meninggalkannya.


"Dia pasti sudah berubah pikiran dan pergi meninggalkanku!" batinnya.


Riza masih terus saja merasa bahwa keputusan Dilla pergi meninggalkannya kali ini karena Dilla menganggap Riza adalah orang yang aneh.


Lagi-lagi pikiran gilanya itu meracuni kepala Riza.


Riza larut dalam pikirannya sendiri.


Melihat raut wajah Riza yang terlihat sangat muram, Niko menghampiri Riza kemudian menepuk bahu Riza pelan.


"Za, loe tenang yaa. Gue yakin Dilla pasti datang!" hibur Niko.


Kedua orang tua Riza tampak kecewa dan sedih.


Sedangkan Riza hanya bisa terduduk lemas bersandar di pilar besar masjid yang megah itu, merutuki nasib malangnya.


Niko menatap temannya pilu.


Penghulu tampak sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, akhirnya ia kembali berpamitan kepada papi. Papi pun tidak menahan kepergian penghulu kali ini.


"Assalamualaikum!" Suara seseorang memecah keheningan.


"Wa'alaikumsalam!" jawab Riza sembari menegakkan kembali kepalanya.


Semua orang melihat ke arah datangnya suara.


"Dilla!" Riza menggumam.


Kebaya modifikasi berwarna putih polos terlihat membalut tubuh Dilla yang ramping, membuatnya terlihat sangat anggun dan cantik, ditambah make-up tipis yang semakin menambah kecantikan di wajahnya.


Mami dan papi langsung berdiri menyambut kedatangan Dilla dan rombongannya.


Mami memeluk Dilla erat, lalu mengajak Dilla dan rombongan untuk duduk.


Dilla meminta maaf atas keterlambatannya, ia bercerita pada mami bahwa sewaktu di jalan, ban mobil yang menjemput mereka mendadak bocor sehingga mereka memutuskan menunggu taksi.


Setelah tiga puluh menit menunggu, barulah taksi muncul. Itulah penyebab mereka terlambat datang.


"Sekali lagi Dilla mohon maaf ya, Mi!" Dilla terlihat bersalah.


Penghulu yang hendak beranjak pergi pun terlihat duduk kembali.


Kemudian Riza berdiri dari tempat duduknya tadi, ia langsung membenarkan stelan jasnya.


Perlahan Riza mendekat lalu duduk berhadapan dengan penghulu.


"Bisa kita mulai?" tanya penghulu.


Riza menegakkan posisi duduknya kemudian ia mengangguk mantap.


Prosesi akad nikah pun terlihat sangat sakral dan khidmat.


Akhirnya Riza dan Dilla telah sah menjadi sepasang suami-istri.


Semua orang yang menghadiri akad nikah tersebut memberikan doa restunya untuk pasangan pengantin baru itu.


Selanjutnya acara dilanjutkan dengan resepsi pernikahan yang diadakan di ballroom sebuah


hotel berbintang.


Terlihat Irfan, Kiki dan Fahmi tampak hadir memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai malam itu.


"Selamat ya Dilla!" kata Fahmi singkat menjabat tangan Dilla.


"Terima kasih, mas!" jawab Dilla sembari tersenyum.


Namun entah apa yang merasuki Fahmi, tiba-tiba ia menarik Dilla ke dalam pelukannya. Seketika Dilla terpaku dalam pelukan Fahmi.


Melihat itu, tanpa berkata apapun, tangan kiri Riza langsung merangkul pinggang Dilla kemudian menarik Dilla ke arahnya sementara tangan satunya mendorong pelan dada Fahmi, menjauhkannya dari Dilla.


Melihat Riza merangkulkan tangannya di pinggang Dilla, membuat Fahmi terbakar amarah.


Dengan panas di dadanya, Fahmi pun langsung beranjak pergi meninggalkan mereka.


Riza berbisik di telinga Dilla, "Kau sekarang adalah istriku, jadi jaga sikapmu", ucapnya ketus sembari melepaskan rangkulannya dari pinggang Dilla.


Dilla memonyongkan bibirnya, lalu menatap tajam ke arah Riza.


"Mas Riza kenapa sih?. Menyebalkan sekali!" Dilla membatin.


Resepsi pernikahan pun akhirnya berakhir, mami dan papi mengajak Dilla dan rombongan keluarga mereka menginap di hotel malam itu.


Akan tetapi, Dilla menolak dengan alasan bahwa barang-barangnya masih tertinggal di rumah Laras.


Bukan mami namanya kalau tidak punya seribu satu jurus untuk mengalahkan kata-kata Dilla.


Hingga akhirnya Dilla pun menyerah berduel dengan mami, ia kemudian setuju menginap di hotel malam itu.


Riza dan Dilla terlihat sedang menuju kamar mereka, Riza berjalan cepat sekali di depan, meninggalkan Dilla yang terbirit-birit di belakang mengejar langkah panjang Riza.


"Mas, tunggu!" teriak Dilla.


Riza terus saja melangkahkan kakinya tanpa mempedulikan panggilan Dilla, hingga tibalah mereka di depan pintu sebuah kamar.


Dilla terlihat ngos-ngosan, mengatur nafasnya.


"Kok cepat banget toh mas jalannya!" keluh Dilla dengan nafas yang terengah-engah.


Riza terlihat diam saja saat mendengarkan keluhan Dilla.


Lalu ia merogoh saku celananya mengambil sebuah key card dari dalam sakunya.


Pintu kamarpun terbuka.


"Masuk!" perintah Riza.


Dilla kemudian melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Riza.


Dilla menggumam takjub melihat interior kamar mewah didepannya.


Terlihat sebuah tempat tidur berukuran King Size berhias seratus atau mungkin saja seribu kelopak bunga mawar di atasnya.


Melihat itu, Dilla langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur lalu menggeliatkan tubuhnya kesana-kemari sembari membaui kelopak bunga mawar di depannya.


Sementara Riza langsung beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian Riza pun telah selesai dari ritual mandinya.


Sembari mengeringkan rambut basahnya dengan handuk, Riza memperhatikan tingkah Dilla dari depan pintu kamar mandi.


Riza berdecak pelan melihat tingkah istrinya itu kemudian ia pun bersuara sembari melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian.


"Mandi sana, bersihkan tubuhmu!"


Dilla terperanjat, seketika ia berlari secepat kilat ke dalam kamar mandi.


Setibanya di kamar mandi, Dilla menghapus make-up di wajahnya lalu mengguyur tubuhnya dengan air hangat.


Seketika Dilla merasa tubuhnya rileks kembali.


Ritual mandi Dilla pun selesai, terlihat Dilla mencari sesuatu.


"Aduh, handuk aku masih di luar. Piye iki?" Dilla menepuk jidatnya pelan.


Kemudian Dilla menyembulkan kepalanya dari balik pintu celingukan mencari sosok Riza.


"Sepertinya mas Riza ndak ada, apa aku langsung keluar saja ya mengambil handuk?" batinnya.


Baru selangkah Dilla berjalan dari balik pintu, tiba-tiba Riza datang melemparkan handuk ke arahnya.


"Lain kali bawa handukmu, jangan pernah berkeliaran tanpa busana dihadapanku!" ketus Riza seraya berjalan santai di depan Dilla.


Seketika Dilla tersadar lalu berteriak dan bergegas masuk kembali ke dalam kamar mandi.


"Ya Allah Gusti, malunya aku!" batin Dilla