
"Kondisi pak Riza sudah membaik dan stabil. Mungkin beberapa hari lagi dia bisa dibawa pulang," tutur dokter muda yang biasa merawat Riza setelah beberapa saat yang lalu memeriksa keadaan Riza pasca siuman.
Tampak Riza masih duduk lemas bersandarkan pada sisi ranjang. Wajahnya terlihat pucat dengan pandangan mata kosong. Sesekali ia mengerjap melihat orang-orang yang ada disekelilingnya.
"Riza kenapa, Om?" tanyanya kembali pada papi.
Papi hanya diam tak bersuara.
Sudah satu jam sejak siuman, Riza terus memanggil kedua orangtuanya itu dengan sebutan om dan tante. Tak ayal, hal itu membuat Niko menatap ke arah Riza dengan tampang heran dan penuh tanda tanya.
"Ini mami, bukan tante. Dengar Riza, aku ini ibumu, sayang. Kamu itu puteraku."
Dahi Riza mengernyit bingung. Ia menautkan kedua alisnya menatap ke arah mami dengan tatapan linglung.
Papi menoleh ke arah dokter, "Bisa kita bicara sebentar, Dok?"
"Silahkan, Pak."
"Mari, Dok"
Papi keluar dari kamar rawat Riza bersama dengan dokter disampingnya. Mereka melangkah menuju ruangan dokter tersebut.
Setibanya di ruangan, papi memberondong dokter dengan banyak pertanyaan.
"Begini dok, kalau memang Riza baik-baik saja. Kenapa Riza tidak mengingat kami sebagai orang tuanya?. Apa sebenarnya yang terjadi pada Riza?"
"Maaf, Pak Dirwan. Mengenai hal itu, saya tidak bisa berkomentar terlalu banyak. Secara medis Pak Riza memang dalam kondisi baik. Beliau sehat. Sangat sehat."
"Kalau memang dia betul-betul sehat, kenapa dia tidak ingat sama sekali pada kedua orangtuanya sendiri?. Bahkan dia seperti orang bingung dan linglung." Papi kembali mengulang pertanyaannya.
"Mengenai hal itu, saya rasa bapak lebih baik berkonsultasi dengan psikiater saja jika sudah menyangkut kondisi psikis beliau."
"Maksud dokter?"
"Pasien pasca koma pasti akan mengalami hal-hal yang mungkin bisa mengganggu kesehatan mental dan psikisnya sebab selama beberapa waktu otak dan sistem syaraf pasien tidak bekerja sebagaimana mestinya. Jadi, saya sarankan agar bapak berkonsultasi pada dokter yang ahli di bidang tersebut."
Papi terdiam. Ia tampak berpikir cukup lama sebelum mengangguk dan mengiyakan saran dari dokter.
"Baiklah, Dok."
Sesaat kemudian, papi keluar dan berjalan menuju kamar Riza. Di depan pintu tampak Dilla sedang mengintip dari balik pintu tak berani melangkah masuk lebih jauh lagi ke dalam kamar.
Flashback
"Siapa kamu?" tanya Riza pada Dilla sesaat setelah sadar dari komanya.
Dilla terperanjat dan langsung melepas dekapan di tubuh Riza.
Mata Dilla mulai berkaca-kaca saat menyadari wajah bingung suaminya. "Saya Dilla, Mas."
Dahi Riza mengernyit, "Dilla?. Dilla siapa?" tanyanya lagi.
Dilla menatap mata Riza lekat, "Saya Dilla, Mas. Istri Mas."
Kedua alis Riza kembali bertaut menatap Dilla dengan datar.
Sedetik kemudian, Dilla berniat menyentuh wajah Riza. Saat tangan gadis itu hampir sampai untuk menyentuh wajah suaminya, dengan kasar Riza justru menghempaskan tangan Dilla kemudian mendorong tubuh istrinya itu hingga terjatuh ke lantai.
Dilla tersentak dan meringis kesakitan. Bukan tubuhnya yang sakit, melainkan hatinya. Hatinya terasa sangat teramat sakit karena perlakuan tak terduga suaminya barusan.
Niko segera menghampiri Dilla kemudian membantunya berdiri.
"Dasar gadis gila. Berani-beraninya kamu menyentuhku seenaknya. Dasar kurang ajar!" sinisnya pada Dilla sambil melirik tajam ke arahnya.
"Lo apa-apaan sih, Za?. Dia ini istri lo."
"Jangan ikut campur. Jauhkan gadis aneh itu dariku."
Niko terhenyak. Pasalnya sahabatnya itu terlihat seperti orang lain, tidak seperti Riza yang biasanya.
Bukan hanya Niko, Dilla pun juga merasakan hal yang sama. Dilla merasa ada sesuatu yang berbeda dalam diri Riza. Dalam diam, Dilla menatap lama ke arah suaminya itu. Riza yang biasanya sangat lemah lembut dan penyayang kini memang terlihat sangat berbeda. Riza yang ada didepannya saat ini, entah kenapa terlihat sangat kasar dan pemarah.
Bahkan sorot mata teduh yang biasa memanjakannya dengan penuh cinta kini berubah menjadi sangat menyeramkan. Sorot mata itu sangat menakutkan. Sorot mata yang tidak pernah dilihat oleh Dilla sebelumnya.
Dilla membisu dan berdiri gemetar sambil menautkan kedua jemari tangannya. Kedua kakinya terasa lumpuh dan tak mampu berpijak lebih lama. Dilla pun terduduk lemas kembali di lantai. Otaknya tidak mampu berpikir.
Kamu kenapa, Mas?. Aku ini istrimu, bisik Dilla dalam hati.
Dilla terus melihat ke arah Riza. Keadaan yang terjadi saat ini sangat sulit dicerna olehnya.
Sesaat berikutnya, Riza merasakan sakit yang luar biasa dikepalanya. Ia mengaduh kesakitan. Tak lama ia pun pingsan tak sadarkan diri.
Semua orang langsung panik. Seketika Dilla berdiri dan mendekat ke arah Riza.
"Mas. Mas!" ujarnya.
Mami melotot tajam ke arah Dilla. "Pergi kamu dari sini!" ucapnya singkat kemudian kembali beralih pada Riza.
Mami menepuk pelan pipi Riza, "Riza. Riza. Niko, lekas panggil dokter ke sini. Cepat!!" seru mami dengan paniknya.
"I-iya, Tante."
Niko pun segera berlari keluar memanggil dokter. Selang beberapa waktu, dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan Riza.
Sementara itu, terlihat Dilla hanya mampu mematung di sudut ruangan. Memandang ke arah Riza dari jauh sebab merasa takut dengan amukan mami padanya.
Benar saja, sedetik berikutnya mami menatap Dilla tajam lalu menyeret dan menghempaskan lengan gadis malang itu tepat di depan pintu. Lagi-lagi mami mengusir Dilla dari sana.
Dilla kembali meratap dan meraung sejadi-jadinya. Ia memelas tiada henti pada ibu mertuanya untuk memberinya kesempatan agar dapat bertemu lebih lama dengan suaminya.
"Sudah aku bilang. Jangan pernah menemui putraku, lagi!!. Pergi dari sini." Mami menghempas pintu tepat didepan wajah Dilla.
Dilla kembali sesenggukan. Tidak tahu harus berbuat apa kali ini.
Flashback End
"Kenapa kamu masih disini?"
Dilla tersentak saat mendengar suara papi yang tiba-tiba.
Gadis itu menangkup kedua tangannya memohon, "Pi, Dilla mohon kasih izin Dilla buat masuk, Pi. Dilla mau lihat mas Riza di dalam."
"Lebih baik kamu sekarang pulang saja. Biarkan Riza istirahat dulu. Besok kamu boleh datang lagi kesini. Papi janji akan membiarkan kamu untuk bertemu dengan Riza sepuasnya."
"Nggak, Pi. Dilla mau ketemu mas Riza sekarang. Mas Riza sakit apa sebenarnya, Pi?"
Papi terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.
"Niko. Niko." Papi berteriak memanggil Niko dari luar.
"Sekarang kamu bawa Dilla pulang ke rumah."
Niko mengiyakan saja perintah papi.
Dilla menggeleng. "Nggak, Mas. Saya nggak mau!" tegas Dilla kearah Niko.
Dengan cepat, Niko menarik Dilla untuk ikut bersamanya.. Tangan Niko menggenggam kuat lengan Dilla yang terus menerus meronta. Setibanya di parkiran, Niko langsung membuka pintu mobil kemudian menginjak gasnya sedalam mungkin menjauh dari sana.
"Kenapa mas bawa saya pulang?. Saya nggak mau pulang, Mas."
"Lo tenang, ya."
"Gimana saya bisa tenang. Mas nggak lihat perlakuan mas Riza tadi?. Sebenarnya mas Riza kenapa, Mas?"
"Lebih baik, lo ikut gue sekarang ke rumah gue."
"Mau ngapain?"
"Nanti gue jelasin."
Niko pun memacu mobilnya secepat mungkin melintasi jalanan ibukota. Sementara Dilla hanya mampu duduk diam di samping Niko.
-------
"Apa kata dokter, Pi?" tanya mami sesaat setelah papi memasuki kamar.
Papi melirik ke arah Riza sejenak lalu menarik lengan mami untuk mengikuti langkahnya keluar dari kamar rawat Riza.
"Ikut papi."
Papi menarik nafas berat lalu menghembuskannya perlahan setelah duduk di kursi tunggu yang berada tepat di depan kamar Riza. Sesaat kemudian, papi pun bersuara.
"Mi, papi rasa penyakit depresi Riza kambuh lagi seperti dulu. Sepertinya sebagian sugesti yang kita tanamkan di otak Riza hilang dan tergantikan dengan memori itu."
"Memori apa maksud papi?"
"Memori menyakitkan yang membuatnya trauma di masa lalu."
"Apa?!. Ba-ba-bagaimana itu bisa terjadi, Pi?"
"Mami ingat apa kata Dendi sewaktu menyembuhkan Riza dengan metode hipnoterapinya. Papi masih ingat dengan jelas kata-katanya waktu itu."
Mami terdiam.
"Riza tidak boleh mengingat kenangan akan kejadian menyakitkan yang dialaminya waktu dulu. Kejadian menyakitkan yang sudah membuatnya jadi trauma berat," sambar mami menerawang.
Papi mengangguk, "Ya, pesta ulang tahun, kue dan lilin. Itu semua adalah kenangan menyakitkan untuk Riza. Dan kalau sampai Riza mengingat hal itu lagi, dia bisa mati. Itulah yang dikatakan Dendi pada kita, dua belas tahun yang lalu."
Mami terhenyak, "Jadi, kita harus bagaimana, Pi?. Mami tidak mau melihat Riza terpuruk seperti dulu. Terlebih lagi Riza kembali tidak mengingat kita sebagai orang tuanya?. Apa yang harus kita lakukan?"
Papi menarik nafas dalam, "Papi rasa hanya Dendi yang tau jawabannya."
----
"Assalamu'alaikum!" salam Niko dari depan pintu.
"Wa'alaikumsalam." Terdengar suara sahutan dari dalam.
Niko pun segera mempersilakan Dilla masuk ke dalam rumahnya kemudian menyuruh gadis itu duduk di sofa.
"Bentar, ya."
Dilla mengangguk.
"Yah. Ayah!. Ayaaaaahh!!" teriak Niko sepanjang langkah kakinya.
Seorang wanita menepuk pelan pundak Niko, membuat Niko menoleh seketika.
"Eh, ibu. Ayah mana, Bu?. Yah. Ayaaaaah?!"
"Huush. Kamu ini teriak-teriak udah kayak di hutan. Bikin kuping ibu sakit aja."
"Ayah mana sih, Bu?"
"Ayah kamu lagi keluar. Katanya mau jumpain temennya. Ada urusan penting."
"Yah, ayah pake acara kelayapan lagi."
"Memangnya ada apa sih?"
"Nanti aja deh Niko jelasin. Oh, iya bu, sini ikut sama Niko. Niko bawa istrinya Riza ke sini."
"Oh, ya. Kebetulan dong kalau begitu. Mana?. Ibu penasaran soalnya ibu kan belum pernah ketemu."
Niko pun langsung menggandeng lengan ibunya lalu menunjuk ke arah Dilla.
Seketika Dilla berdiri lalu mencium punggung tangan ibu Niko.
"Jadi, ini istrinya Riza. Cantik. Riza memang nggak salah pilih istri. Kenalkan, saya ibunya Niko, panggil saja saya tante Tiar. Maaf ya, tante nggak sempat datang ke pernikahan kamu dan Riza. Maklumlah Tante harus ikut sama suami tante ke luar kota."
"Nggak apa-apa tante. Terima kasih."
"Silahkan duduk. Biar tante ambil minuman dulu ke belakang."
Dilla tersenyum dan mengangguk sopan.
Sesaat kemudian, minuman ringan tersaji di atas meja lengkap dengan kudapan yang menggugah selera.
"Silahkan dicicipi. Ini semua tante yang masak. Enak, loh. Ayo, dicoba."
"Terima kasih, Tante."
Niko mengernyit, "Sejak kapan ibu jadi hobi masak?. Soalnya perasaan masakan ibu nggak pernah enak."
"Itu sih lidahnya kamu aja yang kampungan. Ayo, Dilla. Silahkan dicicipi," tawar ibu Niko.
"Jangan ding Dilla. Lebih baik nggak usah Lo makan, daripada nanti lo keracunan," tutur Niko.
Ibu Niko menepuk pundak putera usilnya, " Kamu ini apa-apaan sih?. Seneng banget bikin ibu malu."
Dilla menyunggingkan senyuman di wajahnya saat melihat interaksi ibu dan anak itu.
Mas Niko terlihat akrab sekali dengan ibunya. Seperti teman saja.
Sesaat setelah ia tersenyum, Dilla kembali teringat pada Riza. Mereka pun terus menunggu kepulangan ayah Niko sambil sesekali saling bercanda dan tertawa. Meskipun baru pertama kali bertemu tapi keramahan dan kebaikan hati ibu Niko sangat membuat Dilla merasa nyaman seperti berada bersama keluarganya sendiri.
Mereka pun terus bercerita dan saling bersenda gurau bersama. Setidaknya dengan begitu, Dilla bisa melupakan sejenak pikiran kusutnya saat ini.