My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/85



"Riza, I love you!" Nana meracau dengan keadaan setengah sadarnya. Duduk menyandarkan tubuhnya di jok depan bersebelahan dengan Niko yang sedang berkonsentrasi dibalik kemudi mobil kesayangannya menyusuri kesunyian malam menuju ke rumah Nana.


"Riza, I love you!" racau Nana lagi yang langsung mendapatkan jitakan kecil dari Niko di kepalanya.


Dengan wajah kesal bercampur jengkel Niko mengumpat ke arah Nana tiada henti. Sudah sejak lima belas menit yang lalu ia seperti itu, mengumpati wanita mabuk yang ada di sebelahnya yang tak henti-hentinya meracau pasal sepupunya sejak pesta berakhir beberapa saat yang lalu.


Sebelum pesta berakhir beberapa waktu lalu, Nana terus saja menenggak wine yang tersaji di sana dengan membabi buta tanpa jeda sedikitpun hingga membuat dirinya menjadi mabuk berat seperti saat ini. Berbeda halnya dengan Niko yang memang sudah terbiasa dengan hal-hal berbau alkohol dan minuman keras. Minuman keras apapun tak akan mampu mengalahkan seorang Niko.


Kalau bukan karena Irfan yang memaksanya untuk mengantarkan Nana, sudah pasti Niko tak mungkin sudi untuk suka rela mengantarkan wanita yang sering disebutnya gila itu ke rumahnya.


"Ngerepotin gue aja, loe!. Dasar!" umpatnya lagi dan lagi.


Tiba-tiba Nana membuka matanya masih dengan separuh kesadarannya ia pun berbicara, "Loe mau bawa gue kemana?" tanyanya lirih saat menyadari Niko sedang mengemudi di jok sebelahnya.


"Ke kolong jembatan," singkat Niko menanggapi.


"Oh!. Riza mana?" tanyanya kembali.


"Noh, di kantong gue!" jawab Niko asal.


Dengan cepat, Nana menarik saku kemeja Niko hingga membuat roda kemudi yang dipegang Niko berputar tak menentu. Niko berteriak panik berusaha melepaskan tangan Nana dari sakunya. Namun, Nana tak bergeming. Ia justru semakin menarik kemeja Niko untuk mengintip Riza di sakunya.


Nana menoyor kepala Niko saat tidak mendapati Riza di sana, "Sialan, Loe!. Berani-beraninya ngebohongin gue!. Awas loe!" Nana kembali bersandar di sandaran jok dan kembali menutup matanya. Suara dengkuran halus seketika membuat Niko tertawa. Baru saja Nana berbicara tapi kini ia sudah tertidur dengan pulas bahkan mendengkur.


Niko semakin tertawa keras saat melihat Nana yang tertidur pulas dengan mata setengah menutup dan mulut yang menganga lebar. Momen itu pun segera diabadikannya ke dalam ponsel sebagai tameng jika Nana berkelakuan menyebalkan lagi didepannya maka Niko akan menjadikan potret dirinya yang tengah tertidur itu untuk mengancam Nana.


Tak lama kemudian, mobil pun berhenti tepat di depan rumah Nana. Niko mengedarkan pandangannya, menelisik rumah didepannya dengan wajah heran.


"Gue nggak salah alamat, kan?" Niko kembali mengecek ponselnya, melihat kembali alamat lengkap Nana yang diberikan oleh Irfan padanya sebelum Niko membawa Nana beberapa saat yang lalu.


"Bener, ini alamatnya. Kenapa rumah nih cewek ada banyak banget polisi." Niko menggumam lirih di balik kemudi.


Seorang penjaga berseragam polisi lengkap menghampiri mobil Niko lalu mengetuk kaca jendela mobilnya beberapa kali. Niko terperanjat kaget, seketika ia menurunkan setengah kaca mobilnya.


"Selamat malam!" ucap petugas pada Niko.


"Malem, pak."


"Ada apa berhenti di sini?. Anda tahu, anda memasuki wilayah terlarang. Kalau anda tidak berkepentingan, anda silahkan meninggalkan tempat ini."


"Maaf, pak. Saya cuma mau mengantarkan cewek gila, eh maksud saya Nana ke sini. Iya, pak. Apa bener ini rumahnya Nafrianha Chalondra, Pak?"


"Benar!. Memangnya kenapa?. Ada apa dengan putri Pak Jenderal?"


Jenderal?!.


Tanpa berlama-lama, Niko pun segera meminta agar penjaga membawa Nana masuk ke dalam rumahnya. Namun, penjaga menolak dengan tegas sebab penjaga tersebut tidak berani memapah Nana yang notabene merupakan anak atasannya.


Akhirnya dengan terpaksa, Niko pun bersedia memapah Nana yang sedang berjalan sempoyongan disebelahnya itu. Niko segera menghentikan langkahnya saat melihat sosok tegas dan berwibawa yang ada didepannya. Sosok itu berdiri tegap dengan sorot mata menyorot tajam ke arah Niko yang tengah memapah Nana mendekat ke arahnya. Niko pun segera menidurkan Nana di sofa lalu menutupi tubuh Nana dengan jasnya sesaat setelah membenarkan gaun Nana yang sedikit tersingkap.


Gerak-gerik Niko itu pun, tak luput dari pandangan mata Pras.


"Malam, Om!" Niko mencoba mencairkan suasana dengan berbasa-basi pada Pras. Namun, Pras hanya berdehem nyaring yang seketika membuat Niko salah tingkah.


Mata sang Jenderal pun kemudian teralih pada Nana yang terlihat meracau tidak jelas dengan kondisi tubuh tak karuan dan bau alkohol yang menyeruak seketika sesaat setelah Niko menidurkan Nana di sofa.


"Kamu siapa?" tanya Pras dengan suara garang.


"Saya Niko, Om. Bosnya Nana di kantor." Niko menjelaskan dengan santai, padahal sebenarnya ia sangat gugup dan takut saat ini.


"Ada apa dengan Nana?. Kenapa dia mabuk seperti itu?" cecar Pras dengan tatapan tajam yang mengintimidasi. Segera melontarkan pertanyaan pada Niko yang masih tegak berdiri didepannya tanpa mau berbasa-basi untuk menyuruh Niko duduk terlebih dahulu.


Niko menjawab dengan menatap mata Pras, "Sebelum pulang tadi, Nana sempat minum wine, Om. Awalnya sedikit tapi lama kelamaan-" Niko segera menghentikan omongannya saat melihat perubahan ekspresi wajah Pras yang tampak semakin meradang.


Apa gue salah ngomong?. Kalau sampe nih Jenderal ngamuk, bisa di dor gue!


Niko melanjutkan, "Emm, maksud saya Nana nggak sengaja minum Wine, Om. Jadinya gitu." Niko tersenyum canggung.


"Riza. Riza." Nana kembali meracau dan menyebut nama Riza. Pandangan Pras seketika teralih pada Nana. Sesaat kemudian, ia kembali mengalihkan pandangannya pada Niko, melotot dengan tatapan lebih tajam dari sebelumnya.


"Saya nggak tau, Om. Sumpah!" Niko menyatukan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ke udara. "Saya permisi dulu ya, Om. Malem!" Niko segera beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari Pras. Pergi meninggalkan rumah Nana dengan langkah panjang agar tiba lebih cepat di mobilnya lalu segera melajukan mobilnya dengan kencang.


Pras menatap kepergian Niko dengan wajah penasaran. Bertanya-tanya dalam hati tentang Niko. Pasalnya selama ini belum pernah ada lelaki manapun yang berani mendekati putrinya atau sekedar mengantarkan Nana pulang sebab mereka semua terlalu takut pada Pras. Pras tidak menyadari bahwa sebenarnya semua lelaki itu lebih takut pada Nana yang super galak ketimbang takut pada dirinya.


Pras masih menatap mobil Niko yang melaju perlahan. Entah mengapa, saat melihat Niko barusan, Pras merasa bahwa Niko merupakan seorang pria yang baik dan bertanggung jawab. Meskipun ia dan Niko baru bertemu untuk pertama kalinya.


-----


Beberapa jam kemudian,


Saat malam hampir memasuki dini hari, tiba-tiba Dilla membuka matanya saat merasakan tenggorokannya terasa sangat kering dan panas.


Dilla segera menyibak selimut yang membungkus tubuhnya. Saat selimut telah tersibak sepenuhnya, betapa terkejutnya Dilla saat mendapati gaun yang sedang dikenakannya telah melorot sampai pinggang.


Astaga!. Apa yang terjadi padaku?, bisiknya kaget dalam hati.


Dilla segera membenarkan gaunnya yang tampak sangat berantakan tak karuan lalu menoleh ke kanan. Tampak Riza sedang tertidur dengan pulasnya. Dilla memicingkan matanya ke arah Riza.


"Apa mas Riza-", bisiknya lirih.


Sesaat kemudian, Dilla pun segera mengenyahkan pikiran buruknya yang selalu saja mencurigai Riza yang bukan-bukan.


"Ah!. Tidak mungkin," sambungnya lagi.


Setelah menyegarkan tenggorokannya di dapur, ia pun segera masuk ke dalam kamarnya lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Dilla melihat pantulan dirinya di cermin sesaat setelah ritual mandinya selesai. Tiba-tiba matanya membulat. Ia memicingkan matanya saat melihat beberapa bercak kemerahan di lehernya. Bercak kemerahan yang juga didapatkannya saat Riza yang dengan ganasnya menerjangnya tempo hari dan sudah dipastikan bercak kemerahan kali ini pun pasti merupakan ulah Riza. Sontak ia pun meradang.


Dengan terburu-buru, Dilla melilitkan handuk di tubuhnya. Rambut yang masih menyisakan beberapa tetesan air itu pun dibiarkannya terurai begitu saja. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya kesal dan marah. Dilla tidak habis pikir, bagaimana bisa Riza melakukan hal-hal tidak senonoh padanya padahal ia sedang dalam keadaan tidak sadar.


Dilla segera membangunkan Riza dengan kasar sesaat setelah ia masuk ke dalam kamar Riza. Mata Riza mengerjap beberapa kali sebelum seluruh matanya membuka lebar dan mendapati sosok Dilla tengah berdiri didepannya dengan mengenakan handuk putih yang melilit tubuh istrinya itu.


"Ada apa?" tanya Riza pelan dengan mata yang sayu karena masih mengantuk.


Dilla duduk di atas ranjang tepat di depan Riza.


"Lihat ini, Mas!" tunjuk Dilla ke arah tanda kemerahan di lehernya.


Riza hanya diam dan memicingkan matanya, memindai seluruh bagian leher Dilla yang memang terlihat banyak bercak kemerahan di sana. Samar-samar ia mencium aroma segar menyeruak saat wajahnya semakin mendekat ke arah Dilla.


Sesaat kemudian, Riza mendaratkan sebuah kecupan singkat tepat pada tanda kemerahan di leher istrinya itu. Riza tersenyum tipis setelah melancarkan kecupannya barusan kemudian kembali merebahkan tubuhnya di ranjang sebab matanya memang sangat mengantuk berat.


Mata Dilla membulat kesal sebab tingkah Riza yang sepertinya mengacuhkan kemarahannya. Dengan kasar Dilla menarik Riza untuk bangun dari tidurnya dengan maksud meminta penjelasan Riza atas tindakan tidak senonoh yang dilakukan suaminya itu padanya.


Namun, Riza justru semakin lelap dalam tidurnya dengan berbalutkan selimut yang membungkus tubuh Riza seluruhnya. Riza tampak mengabaikan omelan dan ocehan Dilla padanya. Dilla tak tinggal diam, ia pun segera memutar tubuhnya lalu duduk tepat menghadap ke arah Riza. Sesekali Dilla membenarkan lilitan handuknya yang hampir terlepas.


Tiba-tiba Riza menyibak selimut lalu menarik Dilla. Seketika Dilla terhenyak saat wajahnya tepat membentur dada bidang suaminya itu. Riza mendekap Dilla dengan erat lalu mencium lekat puncak kepala istrinya yang sedikit lembab itu dengan mata yang masih terpejam.


Riza semakin mengeratkan dekapannya, "Berhenti menggodaku seperti ini. Aku sudah berusaha menahan diri tapi kamu terus saja menarikku ke arahmu." Riza membuka matanya perlahan. "Kali ini aku tidak akan menahannya lagi."


Dilla mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba mencerna kata-kata Riza.


Apa maksudnya?, batinnya bingung.


Dengan cepat Riza membalikkan tubuhnya lalu merapatkan tubuhnya pada Dilla. Dilla yang kini sudah berada tepat dibawah Riza hanya bisa meronta saat tangan Riza tiba-tiba melepaskan lilitan handuk yang melekat di tubuh indahnya. Mata Dilla membulat. Tangannya menahan kuat handuk yang masih melekat ditubuh polosnya agar tidak tersibak oleh Riza.


"Mas mau apa?"


"Mau meminta hakku," jawab Riza singkat sambil membelai lembut wajah Dilla. "Kenapa?. Kamu takut?" tanyanya kemudian.


Dilla mengangguk cepat.


"Kalau begitu, tidurlah dan berhenti berbicara. Aku ingin istirahat."


Riza tersenyum tipis lalu melepaskan kungkungannya. Ia pun segera berbaring kembali. Dilla tampak menarik nafas lega. Tak lama, Riza pun memejamkan mata dan menyongsong mimpinya malam itu.


Sementara Dilla, dengan secepat kilat ia berlari kencang keluar dari kamar dan melupakan kemarahannya pada Riza saat itu juga.