
“Berhenti menertawakanku seperti itu!. Tidak ada yang lucu!” kesal Riza dengan mata yang membuka lebar.
Menatap ke arah langit-langit kamar. Merebahkan tubuhnya di atas sebuah tikar pandan berukuran kecil bersisian dengan tempat tidur Dilla. Menyisakan ujung kakinya yang tampak terjulur ke lantai disebabkan postur tubuh tingginya yang tak mampu di jangkau oleh benda tipis yang saat ini tengah menempel di punggungnya lekat.
Setelah lebih kurang sepuluh menit berdebat sengit dengan istrinya, dengan berat hati Riza pun harus rela tidur di sana malam ini.
Aku tidak habis pikir. Bagaimana bisa aku jatuh hati pada gadis keras kepala seperti dia!. Lihat, dia masih terus saja menertawakanku!.
Riza menatap kesal ke arah Dilla yang tampak tertawa mengejek ke arahnya. Sudah sedari tadi Dilla seperti itu. Menertawakan kejadian yang menurutnya sangat menggelikan. “Saya masih ndak habis pikir!” ujarnya dengan masih terkekeh pelan dari atas sebuah tempat tidur besi yang terlihat sudah mulai usang dan berkarat.
Suara deritannya pun dapat terdengar dengan jelas setiap kali Dilla menggeser tubuhnya untuk kembali menatap wajah kesal Riza yang menurutnya sangat menggemaskan.
Riza memiringkan tubuhnya kemudian menarik bantal yang berada di bawah kepalanya. Berusaha menghindari tatapan mengejek Dilla. “Tidur dan berhenti menertawakanku!” ucapnya dari balik bantal yang kini sudah menutupi wajahnya.
Dilla tersenyum kecil, “Mas lucu, sih. Takut sama kecoa sampai segitunya.” Dilla kembali tertawa. “Mas itukan laki-laki, masa laki-laki takut sama kecoa!” cibirnya penuh ejekan.
Riza menarik bantal yang menutup wajahnya lalu bangkit dari tidurnya, “Dengar. Aku tidak takut sedikitpun pada hewan menjijikkan itu. Jadi berhentilah tertawa!” kilah Riza penuh kekesalan.
Dilla kembali tertawa.
“Berhenti tertawa. Aku mau tidur!” ketusnya singkat kemudian kembali berbaring dan memiringkan tubuhnya membelakangi Dilla.
Ndak takut kok teriaknya kencang banget!
Ha..ha..ha, batinnya.
Dua jam pun berlalu, Riza tampak meringkuk memeluk tubuhnya mencoba bertahan dari udara dingin yang tiba-tiba menyergapnya saat malam sudah mulai memasuki dini hari. Riza menarik selimutnya hingga menutupi kepala. Menelusup ke dalam selimut berusaha menghadang dinginnya lantai tempat ia berbaring saat ini.
“Astaga. Kenapa dingin sekali?” gumamnya lirih dari balik selimut.
Tiga puluh menit mencoba bertahan akhirnya pertahanan Riza pun runtuh. Seketika ia bangkit dan bergegas naik ke atas tempat tidur. Dengan mata setengah terbuka, Riza dapat melihat Dilla yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Riza memiringkan tubuhnya menghadap Dilla. Memandang wajah yang sangat cantik alami itu tanpa berkedip. Tangannya tampak menyisir rambut Dilla dengan lembut.
Tiba-tiba Dilla menggeser tubuhnya lalu mendekap Riza erat bagaikan memeluk guling. Membenamkan wajahnya di dada bidang Riza sambil mengendus pelan.
Kebiasaan buruk Dilla saat tertidur pun muncul kembali. Dilla terlihat mulai menggerayangi tubuh Riza dengan jemari lentiknya. Membuat Riza gelagapan dan
menelan ludahnya berulang kali.
Kendalikan dirimu, Riza. Kendalikan
dirimu.
Dengan cepat, tangan Riza segera melepas dekapan erat Dilla sebelum pikirannya mulai menggila. Saat dekapan Dilla terlepas, Riza langsung meraih guling yang berada di bawah kakinya lalu menaruhnya di tengah-tengah untuk menghindari hal-hal yang sudah sejak lama diinginkannya terjadi.
Hingga malam berganti pagi, ternyata Dilla tidak menyadari sedikitpun bahwa semalaman Riza tidur bersamanya dengan memeluknya erat sebab saat subuh tiba, Riza bangun terlebih dahulu dari pada Dilla sehingga Riza dapat bernafas lega karena ia berhasil terhindar dari kemarahan gadis keras kepala itu.
Di dapur, terlihat Dilla sedang sibuk mempersiapkan sarapan pagi bersama dengan Syifa. Sementara Riza terlihat sedang duduk sendirian di teras depan rumah Dilla.
Membiarkan udara segar menembus paru-parunya sambil tersenyum simpul
memandang ke arah beberapa petak sawah menghijau yang terhampar luas dari tempat ia memandang. Cuitan burung yang bernyanyi merdu semakin menambah indahnya suasana pagi Riza saat ini. Suasana yang sangat jarang ditemuinya di ibukota.
Sesaat kemudian, terlihat Dilla menghampiri Riza dengan membawa secangkir teh hangat dan singkong goreng buatannya lalu duduk di kursi, bersebelahan dengan Riza.
“Gimana, Mas. Desa saya indah, kan?” Dilla membuka percakapan.
Dilla ikut tersenyum, “Habiskan sarapannya, Mas. Setelah itu, saya akan mengajak mas ke tempat yang lebih indah lagi. Tempat menakjubkan yang tidak akan pernah mas temui di Jakarta,” ajaknya kemudian.
“Apa ada tempat seperti itu?” ujar Riza masih memandang lurus ke depan.
“Percaya saja sama saya. Saya jamin, mas pasti suka.” Dilla meyakinkan Riza.
“Baiklah.”
Riza pun segera menyeruput tehnya lalu melahap singkong goreng buatan Dilla yang tersaji di atas piring dengan perlahan. Setelah itu, mereka pun bergegas pergi ke tempat yang dikatakan oleh Dilla barusan. Di jalan, Dilla menyapa setiap orang yang ditemuinya dengan ramah. Seolah Dilla mengenal semua orang di desanya dengan baik. Dalam diam Riza menatapnya penuh kekaguman.
“Masih jauh?” tanya Riza saat mereka berjalan menapaki jalanan setapak
berbatu, mengikuti langkah Dilla yang berjalan di depannya.
“Tenang saja, Mas. Sebentar lagi sampai, kok.” Dilla berteriak dari depan.
Riza terus mengikuti langkah Dilla. Tak lama langkah Dilla pun terhenti tepat di depan sebuah danau berair jernih dengan deretan gunung dan bukit kecil terhampar indah di depannya. Memanjakan mata siapapun yang melihatnya, tak terkecuali Riza yang tampak terpana. Memuji ciptaan Tuhan itu dengan lirih. Pemandangan indah itu seketika menyejukkan matanya. Membuat hatinya terasa tenang dan damai.
“Bagaimana bisa ada tempat seperti ini di sini?” gumamnya sambil tersenyum.
“Gimana, Mas?. Indah, kan?” Dilla menoleh ke arah Riza sambil tersenyum bahagia.
“Iya!” jawab Riza terpana.
Dilla segera menarik tangan Riza menuju ke arah pinggiran danau lalu duduk bersebelahan dengan Riza di sana.
“Disini itu tempat favorit saya. Setiap kali saya sedih atau ingin sendiri saya pasti selalu ke sini.” Dilla mulai bercerita dengan memandang lurus ke depan bersamaan dengan Riza yang terlihat masih tersenyum.
“Di tempat ini saya memulai impian saya. Berkhayal memeluk deretan gunung indah di depan sana sambil memikirkan hal-hal menyenangkan,” ujar Dilla seraya membuka lebar kedua tangannya. “Tapi, sesaat saya lupa sesuatu. Saya terlalu terpana dengan keindahan gunung-gunung itu tanpa menyadari adanya sebuah danau dalam yang sewaktu-waktu siap menenggelamkan saya hingga ke dasar. ” Dillla mendesah berat.
Riza menoleh dan menatap Dilla dengan menautkan kedua alisnya. Mencoba mencerna kalimat tersirat yang terlontar dari bibir tipis istrinya itu. Kegundahan terlukis jelas di wajah Dilla.
Dilla melanjutkan, “Saya terlalu takut untuk menyeberangi danau itu. Saya takut nantinya saya akan tenggelam dan tidak mampu kembali ke permukaan.” Dilla tersenyum getir kali ini.
Riza memperhatikan raut wajah gundah itu dengan seksama. Tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wajah gadis yang duduk sejajar dengannya itu. Mencoba menyelami kerisauan yang terlukis jelas di sana. Dengan kembali memandang lurus ke depan, Riza pun berkata, “Jika kesedihanmu terlalu dalam, percayakan hatimu padaku. Biarkan kesedihan itu jatuh di pundakku,” ucap Riza datar. Seketika gadis itu menoleh padanya.
“Yang perlu kamu lakukan hanya menggenggam tanganku dan mengikutiku. Danau sedalam apapun tak akan menenggelamkanmu sebab ada aku di sisimu yang memastikan kalau kamu tidak akan tenggelam ataupun tersesat kehilangan arah. Hingga akhirnya kamu tiba di gunung itu dan menemukan kebahagiaanmu di sana.” Riza tersenyum simpul sesaat setelah mengakhiri kalimatnya.
Dilla diam terpaku. Menatap wajah pria yang ada disampingnya lekat. Perasaan hangat mengaliri dadanya. Tiba-tiba Riza menoleh sehingga pandangan mereka pun bertemu. Tatapan teduh dan senyuman hangat itu semakin membuat Dilla terhanyut dalam kehangatan. Sama halnya dengan Riza yang tampak masih betah memandang wajah gadis yang ada di hadapannya itu dengan tatapan lembut.
Sesaat kemudian, Riza memandang ke arah danau kembali lalu merebahkan kepala gadis yang masih diam membisu itu di pundaknya. Menghapuskan jarak di antara mereka.
Seketika kegundahan yang menghiasi wajah gadis itu menghilang dan menguap
terbawa angin. Kehangatan telah melelehkan dinginnya hati Dilla yang terlihat tersenyum simpul memandang ke arah danau bersamaan dengan pria yang ada di sebelahnya.
Gadis itu merangkul lengan pria di sampingnya dengan erat. Membuat pria yang ada di sebelahnya terperanjat kaget dengan perlakuan tak biasa itu.
Dari seberang, terlihat sepasang mata memandang ke arah punggung mereka dengan menahan amarah di dadanya.
“Kamu lihat!.” Kia menggumam lirih ke arah sebuah foto di tangannya. “Gadis tidak tahu diri itu sudah berbagi tempat yang paling kamu sukai dengan pria lain. Kamu sudah mengorbankan seluruh hidupmu demi dia, tapi apa balasannya atas pengorbananmu itu?. Dia bahkan tidak mengingatmu sama sekali.” Kia menyeka bulir bening yang mulai membasahi pipinya dengan kasar seraya menyunggingkan sebuah senyuman pahit di bibirnya.