
Setibanya di kamar, Riza langsung menutup pintu kemudian mengungkung Dilla merapat ke dinding dengan kedua tangannya. Riza melotot tajam kearah Dilla, yang dibalas dengan kerutan di dahi Dilla yang menatap bingung ke arah Riza.
Riza pun terus menatap Dilla tanpa berbicara sepatah katapun. Sementara Dilla sudah menundukkan matanya karena takut dengan tatapan tajam Riza.
Dilla menunggu kalimat dari Riza sementara Riza justru menunggu kalimat dari mulut Dilla.
Adegan adu tatap Riza itu pun akhirnya berakhir, saat Riza berbalik pergi meninggalkan Dilla. Akhirnya Dilla bisa menghembuskan nafas lega sesaat setelah kepergian Riza itu.
Riza terus berjalan ke arah pintu kemudian menutup pintu kamar mereka dengan bantingan yang cukup keras yang sontak membuat Dilla mengusap dadanya karena terkejut.
Tanpa mempedulikan sikap Riza, Dilla pun memegangi perutnya yang sudah terasa sangat lapar.
"Duh, laper!" imbuhnya.
...----------------...
Di rumah sakit, terlihat Aldrich sudah mulai menggerakkan matanya perlahan. Seorang dokter yang berdiri disebelah ranjang Aldrich pun langsung menanyakan apa yang dirasakan Aldrich saat ini sesaat setelah kedua mata Aldrich terbuka sepenuhnya.
"Apa ada yang terasa sakit?"
Dokter menatap Aldrich cemas karena Aldrich yang tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
Tak lama, Aldrich pun menggeleng lemah. Melihat itu dokter pun mengerti kemudian undur diri meninggalkan Aldrich agar pemuda itu dapat beristirahat.
Sementara itu, di luar kamar, sudah ada Adam yang tampak khawatir menanti penjelasan dokter.
Dokter menjelaskan bahwa kondisi Aldrich sudah stabil. Ia juga menambahkan kalau pasien dengan riwayat pencangkokan jantung seperti Aldrich haruslah menghindari hal-hal yang dapat memicu syok bagi dirinya.
Dokter meminta agar Adam lebih berhati-hati lagi dalam menjaga Aldrich jika Adam tidak mau Aldrich kehilangan nyawanya.
"Apa Aldrich perlu melakukan pencangkokan jantung lagi?. Kalau iya, aku akan mencarikan jantung yang lain untuknya," tawar Adam.
"Saya rasa itu tidak perlu, Tuan. Saya permisi."
Adam mengangguk mengerti.
Tak lama setelah dokter pergi, Adam masuk ke kamar Aldrich. Wajahnya yang sangar seketika berubah pilu saat melihat kondisi puteranya yang tampak terbaring lemah diatas ranjang.
Bulir bening pun menetes dari pelupuk mata pria paruh baya itu. Ia menggenggam tangan puteranya dengan hangat. Sejenak air mata pun kembali menetes.
Saat Aldrich terlihat membuka mata, dengan cepat Adam melepas genggamannya lalu menyapu air mata dikedua pipinya. Ia mengubah wajahnya menjadi sangar kembali.
Aldrich menatap Adam sejenak sesaat sebelum melepas selang oksigen di hidungnya.
"Panggil Thomas kesini. Aku tidak membutuhkan siapapun."
"Dasar anak kurang ajar. Kau--"
Adam menghentikan amarahnya seketika, saat ia kembali mengingat pesan dokter padanya sesaat lalu.
Dengan menahan kekesalan, Adam keluar dari kamar Aldrich.
Adam memerintahkan anak buahnya untuk segera membawa Thomas ke rumah sakit sesuai dengan keinginan Aldrich, akan tetapi anak buah Adam justru berkata bahwa Thomas kabur dan tidak tahu dimana keberadaannya.
Mendengar itu, Adam langsung meninju anak buahnya yang tidak bisa bekerja dengan becus. Selanjutnya, Adam menyuruh mereka semua untuk mencari Thomas sebelum polisi menemukan pemuda itu terlebih dahulu.
Namun, tanpa Adam sadari, terlihat dari kejauhan Thomas sedang mengintip ke arah Adam dengan wajah yang biru lebam.
Setelah berhasil kabur dari anak buah Adam, saat pagi hari Thomas pun segera bergegas menuju ke rumahnya, akan tetapi setibanya disana ia justru tidak mendapati siapapun di rumah itu termasuk saudarinya Henzhie.
Thomas mengira semua orang sedang berada di rumah sakit untuk menjenguk Aldrich, tapi kenyataannya tidak demikian. Alhasil Thomas pun mulai merasa khawatir akan keselamatan adiknya.
Satu-satunya harapan Thomas saat ini hanyalah Aldrich. Hanya pemuda itulah yang bisa menolongnya saat ini.
Thomas celingukan didepan kamar Aldrich, memastikan agar dirinya jangan sampai ketahuan oleh penjaga yang ada disana.
Dengan cepat, ia membuka pintu lalu masuk kedalam kamar Aldrich, akan tetapi Thomas tidak menemukan keberadaan Aldrich disana.
Thomas memanggil nama Aldrich berulang kali. Namun, tidak terdengar sahutan. Sesaat kemudian Thomas terperanjat, saat seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya.
Tanpa pikir panjang Thomas pun langsung memelintir lengan orang itu.
Terdengar suara teriakan saat Thomas mengunci pergelangan tangan orang tadi. Ketika menyadari siapa orang yang mengusiknya, Thomas pun segera melepaskan kunciannya saat itu juga.
Karena mendengar suara teriakan Aldrich, sontak para penjaga pun bergegas masuk ke dalam kamar tepat sesaat setelah Thomas bersembunyi dibalik pintu.
"Ada apa Tuan?" tanya para penjaga pada Aldrich.
Penjaga itu pun langsung berhamburan keluar dari kamar.
Sesaat setelahnya, Aldrich memegangi dadanya yang terasa nyeri akibat berteriak.
Thomas langsung menghampiri Aldrich, "Tuan baik-baik saja?"
Aldrich meringis.
"Maafkan saya. Saya tidak bermaksud mencelakai Tuan tadi."
"Menyebalkan!" sarkas Aldrich kemudian.
Setelah kondisi Aldrich sedikit membaik, Thomas pun segera menceritakan apa yang terjadi padanya kemarin. Thomas pun meminta kepada Aldrich untuk membantunya mencari Henzhie. Karena merasa iba, Aldrich pun bersedia membantu Thomas.
Aldrich pun menanyakan tentang keberadaan Dilla. Thomas lalu menjawab kalau sejak ia disekap oleh ayah Aldrich, ia tidak tahu dimana keberadaan Dilla dan Riza saat ini.
"Apa Daddy bertemu dengan Dilla?" tanya Aldrich.
Thomas mengangguk.
Mendengar itu Aldrich mulai khawatir. Mengingat seperti apa tempramen ayahnya, Aldrich pun mulai merasa takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada Dilla, saat ayahnya tahu kalau Aldrich berhubungan dekat dengan mantan kekasih Raja itu.
"Aku mau kau menyelidiki sesuatu."
"Apa itu, Tuan?"
"Mana ponselku?. Aku akan memperlihatkan sesuatu padamu."
"Ponsel?!. Maafkan saya Tuan. Sejak kejadian kemarin saya tidak tahu ponsel Tuan ada dimana."
"What?!" ucapnya.
...----------------...
Jakarta
Selama hampir dua minggu, Kia terus mencari info tentang siapa orang yang fotonya ia terima tempo hari. Orang yang bertanggung jawab atas kematian Raja.
Namun, hasilnya nihil. Sampai saat ini, ia belum menemukan apapun. Tak ayal, hal itu membuatnya menjadi tidak tenang dalam melakukan kesehariannya.
"Kamu ngelamun lagi?" tegur salah satu rekan Kia di rumah sakit.
"Akhir-akhir ini aku lihat kamu jadi sering ngelamun. Kamu lagi banyak masalah?. Kalau ada masalah kamu bisa cerita ke aku, siapa tahu aku bisa bantu," ujar rekan seprofesi Kia yang sepertinya sudah memperhatikan sikap aneh Kia beberapa hari terakhir.
"Makasih." Kia membalas singkat. "Kayaknya aku mau ajuin cuti. Pikiranku bener-bener lagi kacau," imbuh Kia lagi.
Teman Kia menatap wajah gadis itu seolah turut merasakan kegundahan gadis didepannya.
"Kia!!!" teriak tiba-tiba kepala perawat dari ujung koridor.
Seketika Kia bangkit berdiri lalu berlari ke arah siempunya suara.
"Ada apa, Mbak?" sahut Kia.
"Daripada kerjaan kamu itu cuma ngelamun, mending sekarang kamu pergi minta catatan rekam medis pasien ini!!" Kepala Perawat menyerahkan map cokelat kearah Kia.
"Saya butuh cepat untuk dikirim ke Belanda. Buruan, nggak pake lelet." Perintahnya tegas.
"Baik, Mbak."
Kia kemudian berbalik menuju ke arah berlawanan. Sialnya, setibanya ia di ruang khusus staff rekam medis, tidak ada satu orangpun disana. Akhirnya Kia pun harus rela menunggu.
Iseng-iseng, Kia pun membuka map cokelat yang ada ditangannya. Ia membuka map itu dan membaca lembar demi lembar yang ada disana.
Awalnya semua tampak normal sebelum akhirnya mata Kia menangkap sebentuk wajah yang belakangan ini ia cari. Yah, wajah Aldrich terpampang jelas dalam form biodata pasien yang saat ini Kia pegang.
Dengan cepat, Kia mengambil ponsel miliknya lalu menjepret lembaran form itu untuk ia abadikan. Kia tidak menyangka kalau pemuda yang ia cari beberapa hari belakangan ini, pernah menjadi salah satu pasien di rumah sakit tempatnya bekerja, untunglah pencariannya selama ini akhirnya menemukan titik terang.
Tak lama, staff pun datang. Kia menyerahkan map beserta isinya pada staff yang ada didepannya.
Dengan tidak sabar, Kia pun menunggu hasil rekam medis Aldrich, akan tetapi staff yang ada disana justru menyuruh Kia untuk tidak perlu menunggu, sebab ia akan mengirimkan hasil rekam medis Aldrich kepada kepala perawat melalui email. Selanjutnya, dengan wajah kecewa, Kia pun mengangguk mengerti.
Meskipun begitu, ia tidak sepenuhnya kecewa sebab setidaknya kini ia sudah punya biodata lengkap Aldrich ditangannya.
...----------------...