
Didalam mobilnya, Nana masih menggerutu kesal saat mengingat perkataan Niko sewaktu di kedai kopi yang dengan lantangnya menyinggung tentang pekerjaan ayah Nana.
"Awas loe ya!. Dasar cowok stres!" serunya penuh emosi.
Tiga puluh menit berselang, tibalah Nana di kantor penerbitan milik Irfan. Nana melenggak lenggokkan pinggulnya memasuki gedung perkantoran yang terlihat sangat besar dan luas. Sebagai salah satu perusahaan penerbitan terbesar di Asia, gedung milik Irfan memang terlihat sangat megah dengan desain arsitektural yang modern. Sangat bonafit.
Nana berjalan dengan anggunnya menuju meja informasi. Semua mata memandang ke arahnya sebab pakaian yang dikenakan oleh Nana lumayan ketat dan terbuka sehingga menampilkan lekuk indah tubuhnya. Hampir semua orang berbisik-bisik seraya menatap ke arah Nana. Pasalnya di kantor tersebut sangat jarang sekali seorang wanita mengenakan pakaian terbuka seperti itu.
Sesampainya di meja informasi, seorang karyawan wanita segera mengantarkan Nana ke ruangan Irfan. Setibanya di depan ruangan Irfan, Nana langsung masuk menemui Irfan.
"Halo, Om." Nana melepas kacamata hitam yang sedari tadi dipakainya.
"Nana." Irfan menyambut Nana dengan ramah.
"Om apa kabar?" tanya Nana seraya duduk di sofa.
"Baik. Ayah kamu bagaimana?. Sehat?" Irfan menghampiri Nana.
"Sehat banget, Om. Masih marah mulu tiap hari."
Irfan tertawa menggeleng, "Kamu jangan begitu. Ayah kamu marah itu karena sayang sama kamu."
"Iya, sanking sayangnya makanya aku bisa sampai ke sini," ketus Nana.
Irfan kembali tertawa, "Kamu ini. Jadi gimana, kamu sudah siap bekerja disini?"
Nana menaikkan bahunya malas. Selanjutnya Irfan menelepon seseorang untuk datang menghadap ke ruangannya. Tak berapa lama, pintu ruangan Irfan diketuk.
tok..
tok..
"Masuk!"
Niko masuk dan menghampiri Irfan yang terlihat sedang duduk bersama dengan Nana. Kebetulan Nana duduk berhadapan dengan Irfan, sehingga Niko tidak dapat melihat wajah Nana saat pertama kali Niko memasuki ruangan.
"Nah, Nana ini Niko atasan kamu selama magang di kantor ini dan Niko ini Nana karyawan magang disini."
Nana menoleh ke arah Niko seraya mengulurkan tangannya tanpa melihat wajah lawan bicaranya, "Selamat pagi, Pak. Nama saya Nafrianha Chalondra. Panggil saya Nana."
Niko terlihat mengerutkan keningnya dan tidak membalas uluran tangan Nana.
"Jadi, nama loe Nana!" hardik Niko sedikit menyeringai seraya bersedekap menatap ke arah Nana.
Nana mendongak.
Mata Nana membulat, "Elo?. Kok loe bisa disini?" ujarnya seraya menunjuk Niko dengan tampang tidak percaya.
Niko tidak menjawab.
"Mulai sekarang Nana akan bekerja dibawah perintah kamu. Saya harap kamu bisa membimbing dia dengan baik," ujar Irfan seraya menepuk pelan bahu Niko.
Niko mengerutkan dahinya, "Tapi, Mas. Dia ini cewek gila. Bisa ikutan gila saya kalau harus bimbing dia tiap hari. Nggak, nggak. Saya nggak mau," sanggah Niko.
"Eh, jangan sembarangan ngomong loe, ya!. Jaga mulut loe!" Nana mulai tersulut emosi.
Niko mengangkat sudut bibirnya seraya menatap Nana dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nana membalas tatapan Niko dengan sinis.
"Justru karena dia gila makanya saya minta kamu yang bimbing. Secara kalian berdua itu sama gilanya." Irfan tertawa.
"Ha.Ha.Ha. Nggak lucu!" Niko tertawa garing.
"Om Irfan!" Nana memanyunkan bibirnya.
Irfan kembali tertawa.
Bisa banget sih, si semprul nyuruh gue ngurusin nih mak lampir. Bisa hancur dah karir gue disini ngurusin cewek bar-bar kayak gini.
Niko menatap tajam ke arah Nana.
Kenapa sih gue harus ketemu sama cowok ambyar ini lagi?. Apes banget nasib gue!
Nana membalas tatapan Niko tak kalah tajamnya.
-------
Di tempat lain, Riza terlihat mendatangi Dilla di kamarnya dengan membawa sebuah kotak obat. Riza mendekat lalu duduk di pinggir ranjang berhadapan dengan Dilla.
Riza mengeluarkan salep untuk mengobati lebam di pipi Dilla. Dilla tertegun menatap wajah tampan Riza saat Riza mengobati pipinya dengan cekatan.
"Berhenti menatapku seperti itu!"
"Tegakkan kepalamu!"
Dilla menegakkan kembali kepalanya seraya memejamkan mata. Riza tersenyum simpul melihat tingkah Dilla. Dilla sedikit meringis seraya menggigit bibir bawahnya menahan rasa nyeri. Membuat konsentrasi Riza seketika buyar. Riza menelan ludahnya berusaha melenyapkan pikiran gila yang tiba-tiba saja muncul saat ia mendengar Dilla meringis sambil menggigit bibir bawahnya. Ingin rasanya ia mengulum bibir ranum tersebut. Namun, apalah daya. Riza hanya mampu berkhayal dengan pikiran liarnya.
Dilla membuka matanya perlahan.
"Mas, saya boleh tanya?" Suara lembut Dilla menyadarkan khayalan Riza.
Riza terkesiap, "Hah?. Apa?" sahut Riza gelagapan.
"Mas masih marah sama saya?"
Riza tidak menjawab.
"Mas beneran masih marah?"
"Aku tidak marah," jawab Riza datar.
Riza melanjutkan, "Aku hanya--" ucapan Riza terhenti. Ia terlihat sedikit ragu.
Riza menatap mata Dilla lekat mencoba untuk mengumpulkan kekuatan. Dilla membalas tatapan Riza penuh tanda tanya.
Aku hanya tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain, menyentuh pria lain atau mendengarmu membicarakan pria lain didepanku. Aku memang bodoh. Kenapa sulit sekali aku mengatakan ini padamu?. Bagaimana caranya agar kamu bisa tahu isi hatiku tanpa harus aku mengatakannya?
Riza masih menatap manik hitam Dilla. Dilla mengernyitkan dahinya, merasa heran sebab Riza yang tak kunjung melanjutkan ucapannya.
Sesaat kemudian, Riza menarik Dilla kedalam pelukannya hingga membuat Dilla sedikit terperanjat.
"Beristirahatlah. Tidak usah memikirkan hal itu," ujar Riza seraya mengusap lembut rambut Dilla.
"Bagaimana ndak dipikirkan mas. Soalnya diamnya mas itu buat saya jadi bingung dan serba salah," sahut Dilla.
"Aku mengerti. Maafkan aku," lanjut Riza kemudian.
Dilla tersenyum.
Hmm...Mas Riza wangi tenan. Jadi seneng dipeluk terus-terusan. Hihihi.
Riza menyudahi pelukannya kemudian pergi meninggalkan kamar. Terlihat Dilla masih diam mematung di atas ranjang.
Dilla cemberut.
Loh, kok udahan pelukannya. Peluk lagi dong, Mas. Hmmm. Sebentar!. Apa yang aku pikirkan barusan?. Bukankah seharusnya aku marah?. Kenapa aku justru minta dipeluk lagi?. Sadar Dilla. Sadar. Pukulan mas Fahmi sepertinya membuat otakku jadi mulai tidak waras.
Dilla menepuk pipinya berulang-ulang.
------
"Bagaimana Dokter?"
"Jantung anda baik-baik saja, Tuan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Anda yakin?"
Dokter paruh baya dengan jas putih yang membalutnya itu pun menjawab pertanyaan pria didepannya dengan mengangguk yakin.
"Tapi, kenapa akhir-akhir ini saya merasakan hal yang aneh."
"Maksud Tuan apa?"
Aldrich pun menceritakan pada dokter pribadinya tentang apa yang dialaminya saat ia bertemu dengan Dilla. Bagaimana jantungnya berdetak kencang, bagaimana sekelebat bayangan sering bermunculan dan bagaimana rasa sakit serta sesak yang ia rasakan setiap kali ia melihat Dilla. Seperti ia pernah bertemu dengan Dilla sebelumnya. Aldrich menceritakan itu semua pada dokter pribadinya yang tampak mendengarkan apa yang diucapkan oleh Aldrich dengan seksama.
"Apakah dia gadis yang cantik?" tanya dokter penuh selidik.
Aldrich mengangguk.
Dokter tertawa nyaring, "Tidak ada yang aneh, Tuan. Mungkin saja anda sedang jatuh cinta pada gadis itu. Itu bisa saja terjadi mengingat usia anda yang sudah pantas untuk menikah."
Aldrich mengernyitkan dahinya, "Tapi, saya baru bertemu dua kali dengan gadis itu. Bagaimana mungkin saya jatuh cinta?"
Dokter kembali tertawa, "Jatuh cinta itu dirasakan oleh hati bukan otak. Jadi diagnosis saya, jantung anda bermasalah sebab anda sedang merasakan jatuh cinta pada seorang gadis."
Aldrich diam, mencoba mencerna kata-kata dokter didepannya.
"Baiklah, Tuan. Saya permisi dulu."
Dokter pun berlalu pergi meninggalkan Aldrich yang masih diam mematung di tempat duduknya dengan seribu pertanyaan aneh di kepalanya.
Sepertinya aku harus mengganti dokter pribadiku. Aku rasa dokter spesialis jantung kali ini sudah beralih menjadi dokter spesialis cinta. Dia berbicara seperti seorang pujangga saja. Dasar aneh!