My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/65



Tok..tok..


Suara ketukan pintu terdengar nyaring. Riza yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi segera menoleh ke arah datangnya suara. Dengan masih mengenakan handuk piyamanya, ia berjalan perlahan dengan menyampirkan terlebih dahulu sebuah handuk putih di bahunya.


Tampak seorang pria berdiri tegak dihadapannya sesaat setelah pintu sedikit terbuka.


“Selamat malam, Pak!. Maaf mengganggu.”


“Hemm. Ada apa?” jawab Riza singkat.


“Para Investor telah menunggu bapak di bawah.” Pria itu berucap lirih.


“Kamu saja yang ikut acara makan malam itu. Saya capek. Mau istirahat.” Riza menjawab datar.


“Maaf, Pak. Tapi mereka ingin agar bapak ikut serta bersama dengan mereka sebagai perpisahan sebab besok pagi mereka akan segera kembali ke Australia.”


Riza mendesah berat. Sejak mendengar ajakan para investor itu tadi sore. Batinnya sudah meronta ingin menolak permintaan konyol para investor asing itu. Namun, mengingat bahwa saat ini mereka sudah menjalin kerjasama, terpaksa Riza harus mengalah demi kepentingan Rumah Sakit yang di pimpinnya.


“Ya, sudah. Sebentar lagi saya turun!”


“Baik, Pak. Saya permisi.” Pria tersebut pergi meninggalkan kamar Riza.


Riza menutup pintu lalu melangkahkan kakinya dengan berat menuju ke arah lemari pakaian. Merasa sangat sebal sebab ia harus menghabiskan makan malamnya bersama dengan banyak orang terlebih lagi orang-orang tersebut bukanlah orang-orang terdekatnya yang sudah pasti hal itu membuat Riza merasa tidak nyaman. Padahal saat ini Riza sedang butuh waktu untuk sendiri dikarenakan sejak tadi pagi, ia sudah disibukkan dengan bermacam-macam jadwal pekerjaan yang tak ada habisnya. Membuat energi dan mood-nya habis terkuras. Untuk memulihkannya ia butuh kesendirian. Namun, sepertinya hal itu mustahil dilakukannya saat ini.


Sesampainya di ruang ganti, Riza terlihat mengenakan pakaiannya dengan tampang lesu tak bersemangat. Menarik jas hitamnya dari dalam lemari lalu mengenakannya sambil berjalan menuju ke arah pintu.


Setelah keluar dari kamar, Riza segera menaiki lift untuk menuju restoran yang berada di dalam hotel. Melihat banyaknya orang yang hadir di sana, sekali lagi membuatnya mendesah berat sebab ia sudah mulai merasa tidak nyaman. Ia pun segera duduk di kursi menyantap makan malamnya dengan diam membisu sambil sesekali memainkan gawai di tangannya untuk mengusir ketidaknyamanan yang menghinggapinya saat ini. Dengan menampilkan wajah tak bergairah, Riza tersenyum simpul saat beberapa orang menyapanya di meja makan.


Raut wajah tak bergairah itu pun seketika berubah sumringah saat melihat sebuah notif chat muncul di layar ponselnya yang berhasil membuat mood-nya meningkat secara tiba-tiba saat itu juga.


Dilla [Mas sibuk?]


Riza [Kenapa?]


Dilla [Lagi ngapain?]


Riza [Kenapa?]


Bukannya menjawab pertanyaan Dilla. Namun, Riza justru menjawab dengan melemparkan kembali pertanyaan padanya sehingga membuat Dilla geram, “Bukannya di jawab, malah nanya balik. Gimana, sih!”


Hening sesaat.


Dilla [Begini, Mas. Saya mau minta izin pulang ke desa selama tiga hari. Boleh?]


Hening kembali. Tidak ada balasan apapun dari Riza. Dilla menggumam lirih, “Yah, cuma di baca!” ujarnya dengan mendesah pelan.


Sedetik kemudian, ponsel Dilla berdering. Dengan cepat Dilla menjawab ponselnya.


“Halo. Assalamu’alaikum,” sahut Dilla.


“Wa’alaikumsalam. Kenapa tiba-tiba ingin pulang ke desa?”


“Mas, sedang tidak sibuk, kan?”


“Jawab saja pertanyaanku. Jangan balik bertanya!”


Dilla mengelus dadanya pelan, Sabar, Dilla. Sabar, batinnya.


“Tidak ada apa-apa. Saya hanya kangen sama ibu dan Syifa, mumpung selama tiga hari ke depan saya tidak ada mata kuliah. Jadi, saya putuskan untuk pulang ke kampung. Begitu, Mas. Boleh ndak?” Dilla menggigit bibir bawahnya cemas menunggu jawaban Riza yang tampak membisu di ujung sana.


“Pergilah. Aku izinkan,” jawab Riza singkat.


“Alhamdulillah. Terima kasih ya, Mas.” Dilla tersenyum sumringah.


“Kamu menghubungiku hanya untuk menanyakan itu?. Tidak ada yang lain?” tanya Riza penuh harap.


“Emm.” Dilla tampak berpikir. “Jangan lupa oleh-olehnya. Ha..ha..ha.”


“Hanya itu?” tanya Riza lagi.


“Iya.”


“Tidak ada yang lain?”


“Ndak ada.”


Riza mendesah berat, “Apa kamu tidak merindukanku di sini?”


Riza tertawa kecil, “Wa’alaikumsalam.”


Sebuah senyuman masih terukir di wajah Riza saat ia meletakkan kembali gawainya di sisi piring makannya. Mendengar suara Dilla membuat perasaannya menjadi sedikit lebih baik. Akhirnya ia dapat menikmati makan malamnya dan sejenak menghilangkan ketidaknyamanannya.


---------


Keesokan harinya.


Saat hari menjelang gelap, Dilla akhirnya tiba di desa. Sudah sejak lama ia ingin kembali ke kampung halamannya. Entah kenapa, akhir-akhir ini ia sangat merindukan tanah kelahirannya itu, terkhusus ibu dan adiknya. Suasana desa yang asri dan sejuk menyambut kedatangan Dilla. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, ia tak henti-hentinya tersenyum. Membayangkan selama tiga hari ini ia akan menikmati liburan bersama dengan ibu dan adiknya.


“Assalamu’alaikum,” teriak Dilla dari depan pintu.


“Wa’alaikumsalam.” Terdengar suara sahutan dari dalam.


Dilla pun segera masuk ke dalam rumah lalu memeluk ibu dan adiknya yang sedang duduk di ruang tamu seolah menunggu kedatangannya. Semua rasa rindu dalam hatinya pun mulai tertumpahkan. Dilla memeluk ibu dan adiknya dengan erat. Saat tengah asyik-asyiknya berpelukan, mata Dilla tiba-tiba membulat saat melihat sosok seorang pria tengah berdiri di depannya. Sosok yang sangat ia kenal dan tidak asing di matanya. Dilla melepaskan pelukannya, memandang ke arah sosok pria tersebut dengan ekspresi keterkejutan dan mulut yang menganga lebar.


Pria itu menjentikkan jarinya di depan wajah Dilla, “Hentikan tatapan aneh itu!. Aku ini suamimu bukan hantu,” ucapnya datar.


Mulut Dilla mengatup, ia tersadar, “Mas kok bisa di sini?” tanyanya dengan mata yang masih membuka lebar.


Syifa pun ikut tertawa saat melihat ekspresi keterkejutan kakaknya, “Kakak ndak tahu opo?. Mas Riza itu memang sudah janji mau datang ke sini sejak kemarin-kemarin. Kakak saja yang ndak bilang-bilang kalau mau datang ke sini.” Syifa terkekeh mengejek kakaknya.


Dilla tidak menggubris ocehan adiknya. Masih sibuk memandang ke arah Riza tidak percaya.


Ibu pun ikut tersenyum, “Sudah. Sudah. Jangan memandangi nak Riza seperti itu. Kamu taruh dulu barang-barang kamu di kamar. Habis itu kita makan malam.” Suara lembut ibu menimpali keterkejutan Dilla.


Dilla segera berjalan menuju ke dalam kamarnya. Melongo dengan tampang bingungnya, diikuti oleh Riza dari belakang.


“Bukannya mas bilang ada pekerjaan selama lima hari di luar kota?. Kenapa tiba-tiba ada di sini?” tanya Dilla sesaat setelah memasuki kamarnya.


Riza duduk di tepi ranjang, memandang ke arah Dilla dengan tersenyum, “Selama dua hari ini aku ada di Semarang mengadakan pertemuan dengan beberapa investor asing. Aku memang berencana datang ke sini setelah semua pekerjaanku itu selesai.  Maaf tidak memberitahumu sebelumnya,” pungkas Riza kemudian.


Dilla menghampiri Riza di ranjang, “Oh. Begitu, toh!. Iya, saya maafin. Tapi, janji!. Lain kali jangan seperti itu lagi ya, Mas!. Mas tahu jantung saya tadi mau copot pas lihat mas tiba-tiba ada di sini. Kalau saya mati gimana?”


“Ssssttt. Hentikan kata-kata konyol itu. Kamu mau melihatku menjadi duda?”


Dilla tertawa, “Ya sudah. Saya minta maaf. Lalu bagaimana hasil pertemuannya,


Mas?” tanya Dilla penasaran.


“Pertemuan itu berjalan lancar. Aku akhirnya bisa menjalin kerjasama dengan mereka.” Riza tersenyum kecil memandang ke arah Dilla yang duduk di sebelahnya, “Bagaimana menurutmu?. Tidakkah aku ini sangat bagus dalam segala hal?. Bahkan bernegosiasi dengan investor sekelas mereka saja aku bisa. Kamu seharusnya beruntung memiliki aku!” puji Riza pada diri sendiri.


Dilla tertawa terbahak, “Sejak kapan Mas jadi narsis begini?. Geli tahu, Mas. Ndak cocok sama sekali.”


Riza tertawa kecil, “Tapi, memang begitulah kenyataannya. Aku mampu melakukan apapun termasuk membuatmu jatuh hati padaku. Jadi berhati-hatilah.” Riza tersenyum menggoda.


“Mas jangan mulai lagi, ya!”


Riza menggeser tubuhnya mendekat ke arah Dilla lalu memeluknya erat, “Aku senang. Akhirnya aku bisa melihat wajahmu secara langsung. Dua hari tidak melihatmu membuatku sungguh rindu.” Dilla membeku di pelukan Riza. Jantungnya mulai kembali berdetak tak karuan. Entah mengapa, Dilla selalu tidak mampu menolak setiap kali Riza memeluknya dengan hangat seperti itu. Sekuat tenaga Dilla mencoba mengendalikan perasaannya.


Kendalikan dirimu, Dilla. Tahan. Ayolah, Dilla. Dia memelukmu hanya karena ada maunya. Jangan terlalu cepat membuka hati. Pikirkanlah hal-hal menyedihkan. Ingat. Semua laki-laki itu sama. Jangan sampai dirimu jatuh ke lubang yang sama. Jatuh itu sakit rasanya. Jadi, kendalikan dirimu.


Riza semakin mengeratkan pelukannya. Menyibak rambut panjang Dilla dengan lembut kemudian mengecup leher istrinya itu beberapa kali, membuat Dilla menaikkan sedikit bahunya geli, “Kenapa kamu lama sekali?. Aku sudah menunggumu sejak tadi di sini,” bisik Riza di telinga Dilla. Kemudian menyesapi tengkuk leher istrinya itu dalam.


Mata indah Dilla seketika membulat dan bulu kuduknya merinding dengan pergerakan Riza yang berusaha menggodanya itu. Dilla mencoba mendorong Riza untuk melepaskan diri. Namun, nihil. Riza justru semakin mengeratkan pelukannya, "Tetaplah seperti ini. Sebentar saja. Aku mohon." Riza menambahi.


Ah!. Apa ini?. Kenapa aku justru merasa kupu-kupu beterbangan di dadaku?. Aku tidak bisa membayangkan hal-hal menyedihkan kalau begini. Tidak. Tidak. Aku harus melakukan sesuatu. Sebelum perasaan yang tak seharusnya ini menguasaiku. Ingat Dilla. Jangan membuka hatimu terlalu cepat. Semua laki-laki itu sama.


Dilla terus berbisik dalam hatinya. Tak lama kemudian, ia mendorong Riza dengan kuat hingga akhirnya pelukan mereka pun terlepas. Dengan cepat ia bangkit dari duduknya, “Mas keluar saja!” usir Dilla dengan sedikit canggung seraya membuang pandangannya ke sembarang arah.


Riza tersenyum simpul lalu berdiri menghadap ke arah Dilla, “Kenapa?”


Dilla memundurkan langkahnya dengan masih membuang pandangannya, tak berani menatap Riza, “Mas keluar saja duluan. Nanti saya menyusul. Saya mau menyusun barang-barang bawaan saya dulu.” Dilla beralasan.


Riza menggenggam lengan Dilla dan langsung menariknya keluar kamar, “Ayo, kita makan. Nanti aku bantu membereskan barang-barangmu.”


“Ndak perlu, Mas. Saya bisa sendiri,” tolaknya.


Riza tidak mengindahkan kata-kata Dilla. Ia justru semakin menarik Dilla menuju ke arah meja makan sederhana berbahan kayu yang ada di dapur. Ibu dan Syifa telah terlebih dahulu duduk di sana. Riza tersenyum kecil saat memandang wajah ayu Dilla yang sedang melayaninya dengan canggung di meja makan. Mereka berempat pun segera menyantap makanan yang tersaji di atas meja dengan lahap. Berulang kali Riza memuji masakan ibu Dilla membuat Dilla menatap Riza tajam.


Mencurigakan sekali!. Dia ke sini pasti hanya mau cari muka di depan ibu supaya aku mengubah keputusanku untuk menerima dia. Tidak. Tidak. Aku tidak boleh kecolongan kali ini. Kalau sampai ibu yang membujukku, mana bisa aku menolak. Aku harus berhati-hati. Semua laki-laki itu memang sama saja. Tidak bisa dipercaya.


Saat Dilla sedang sibuk dengan pikiran anehnya. Tiba-tiba Riza mengalihkan pandangannya ke arah Dilla, buru-buru Dilla membuang pandangannya dan menyantap makanannya kembali. Riza kembali tersenyum kecil melihat tingkah menggemaskan Dilla.