
Jakarta
Nana tampak berdiri dengan kepala tertunduk di depan atasannya yang terlihat sangat marah dan kesal. Hanya meja sebagai pembatas keduanya. Sudah sepuluh menit Nana seperti itu. Menerima suara amukan Niko yang cukup memekakkan telinga. Dari balik kepalanya yang tertunduk, Nana mencibir Niko dengan suara lirih hampir tak terdengar. Ingin rasanya ia membentak Niko balik. Namun, jika ia melakukan itu sudah pasti Niko akan semakin bertambah marah.
“Loe itu punya otak nggak?!” bentak Niko sambil mengarahkan jari telunjuk ke kepalanya.“Kerjaan loe kagak ada yang beres!” Niko menggebrak meja dengan kuat. Membuat Nana tersentak kaget.
“Maaf, pak!” Nana akhirnya bersuara.
Niko mendengus kesal. Berkacak pinggang seraya memijat dahinya pelan.
Nana berbisik lirih dalam hatinya, Dasar cowok stres. Taunya marah mulu. Untung di kantor. Coba kalau nggak, udah gue garuk tuh muka nyebelin!. Sial banget nasib gue, punya atasan kayak loe!.
Tak lama berselang, Irfan mengetuk pintu ruangan Niko. Sehingga menghentikan sejenak amukannya pada Nana.
“Saya boleh masuk?” tanyanya dari depan pintu yang sedikit membuka.
“Hemm!” jawab Niko singkat.
Irfan melirik sekilas ke arah Nana, “Kamu kenapa, Nana?” tanyanya pada Nana yang masih berdiri tegak berhadapan dengan Niko.
Nana menoleh, “Biasa Om, orang gila!” ujarnya lirih.
Niko menatap Nana tajam, “Apa loe bilang?” Meskipun samar-samar Niko dapat mendengar jelas ucapan Nana barusan.
Nana menunduk kembali, Buset. Tuh cowok stres denger lagi!
Irfan pun tertawa sejenak. Sesaat kemudian, ia pun tersadar akan tujuannya datang ke ruangan Niko. Irfan pun segera berbicara pada Niko. Irfan berpesan agar Niko mengundang Riza untuk datang ke pesta perayaan ulang tahun perusahaannya.
Nana menajamkan pendengarannya.
Gue nggak salah denger, kan?. Om Irfan barusan nyebut nama Riza. Oh My God, ternyata pangeran gue itu penulis di sini?. Sumpah demi kepala botaknya Om Irfan, gue seneng banget!
Nana mesem-mesem tak jelas saat mendengar fakta baru mengenai pangeran tampannya.
Niko terlihat masih berbincang dengan Irfan mengabaikan Nana yang mulai tersenyum sumringah. Niko pun menjelaskan pada Irfan bahwa Riza pasti menolak untuk datang sebab seperti tahun-tahun sebelumnya Riza tidak akan pernah menghadiri acara-acara seperti itu. Namun, Irfan tetap menyuruh Niko agar membujuknya untuk datang kali ini. Seperti biasa, Irfan mengancam dengan mengatasnamakan kontrak pekerjaan. Niko pun akhirnya mengiyakan saja perintah Irfan. Setelah itu Irfan pun berlalu pergi meninggalkan ruangan Niko.
Nana segera menghampiri Niko sesaat setelah kepergian Irfan.
“Pak!. Riza yang disebut barusan itu, Riza Rifky, kan?. Si penulis itu. Iya, kan?” tanya Nana dengan hebohnya.
“Hemm. Kenapa emangnya?. Loe mau gangguin dia lagi?. Loe jangan macem-macem,ya!” tanya Niko sambil bersedekap.
Nana menggeleng cepat. Sebenarnya Nana bisa saja bertanya ini dan itu tentang Riza pada Niko. Namun, ia terlalu gengsi untuk itu. Alhasil ia pun bertekad mendapatkan informasi dengan usahanya sendiri. Dan syukurnya nasib baik masih berpihak padanya. Nana pun mulai memikirkan langkah selanjutnya untuk mulai mendekati sang pangeran.
Niko menoyor kepala Nana. Membuat Nana tersadar dari khayalannya.
“Loe ngapain masih di sini?. Balik sono ke meja loe!” usir Niko.
Tanpa ba-bi-bu-be-bo lagi, Nana pun segera berlari keluar dari ruangan Niko.
“Dasar cewek gila!” gumam Niko kemudian.
------------------
Desa
Setengah jam berlalu, bahu Riza terasa semakin berat. Ia pun segera menoleh dan mendapati Dilla sedang memejamkan matanya. Tertidur pulas di bahu lebarnya dengan wajah tenang. Senyum manis melengkung di wajah Riza saat mendapati wajah cantik tersebut bergelayutan manja di bahunya.
Dengan lembut Riza menangkup kepala Dilla lalu merebahkannya perlahan dalam pangkuannya. Menopang kepala kecil itu dengan lengan kekarnya sebagai pengganjal kepala Dilla sehingga ia dapat melihat dengan jelas wajah cantik bidadari hatinya itu sepuasnya. Sesaat kemudian, Riza mengangkat sedikit lengannya, membuat kepala gadis yang ditopang oleh tangan kekar itu pun ikut terangkat mendekat ke arah wajah tampannya. Sebuah ciuman hangat mendarat di bibir ranum bidadarinya itu. Mengecupnya singkat dan penuh kelembutan. Danau indah didepannya menjadi saksi bisu gejolak rasanya saat ini.
Hembusan semilir angin dan kicauan burung seakan berdawai merdu melantunkan melodi indah yang terdengar sangat syahdu di telinga. Hembusan angin sepoi-sepoi, membuat rambut indah sang bidadari menari-nari mengikuti arah hembusan angin. Riza menyisihkan beberapa helai rambut bidadarinya itu ke belakang telinga agar tak menutupi pandangannya.
Sementara itu, sosok gadis lain tampak masih betah berdiri di seberang mereka, mengawasi setiap gerakan dua insan didepannya itu dengan tatapan penuh kebencian. Kebencian yang jelas mengarah pada gadis yang tampak masih tertidur pulas bak putri tidur di negeri dongeng itu. Kebencian yang sangat dalam hingga menyesakkan dadanya. Niatnya untuk menepi seorang diri di danau indah tersebut pun menjadi teralihkan saat melihat sosok gadis yang sangat di bencinya itu muncul di hadapannya.
“Dasar gadis tidak tahu diri. Aku sangat membencimu. Sangat!” geramnya penuh kebencian dengan satu tangan yang mengepal kuat. Sementara, tangan satunya terlihat menggenggam erat sebuah foto yang menampakkan wajah seorang pemuda dengan senyuman indah mempesona.
Saat matahari hampir menjulang tegak setinggi tiang. Riza segera membangunkan Dilla dari pangkuannya. Membuat Dilla tersentak kaget saat menyadari suara berat Riza yang memanggil namanya. Seketika ia bangkit lalu menegakkan tubuhnya yang semula berbaring menjadi duduk bersila.
“Sudah puas tidurnya?. Kalau sudah. Ayo, kita pulang!” ujar Riza pelan.
Dilla manggut-manggut kemudian berdiri mengikuti langkah Riza yang sudah terlebih dahulu berjalan didepannya. Mereka kembali menapaki jalan berbatu dengan saling diam membisu. Hingga suara berat Riza memecah keheningan diantara keduanya.
“Selain aku, apa ada orang lain yang pernah kamu ajak ke tempat itu sebelumnya?” tanya Riza tiba-tiba.
Akhirnya pertanyaan itu lolos dari bibirnya. Pertanyaan yang sudah sejak tadi ingin ia tanyakan pada Dilla. Hanya saja, ia menunggu waktu yang tepat untuk berbicara. Tak disangka, pertanyaan itu akhirnya melesat mulus dari bibirnya. Pertanyaan yang berhasil membuat Dilla menghentikan langkahnya dan diam mematung di belakang. Merasa sulit untuk menjawab. Sebab, lagi-lagi Dilla kembali mengingat sosok itu. Sosok sahabat sekaligus saudara baginya. Sosok yang selalu terukir indah dalam ingatan dan kenangannya.
Karena Dilla yang tidak kunjung menjawab. Riza pun segera membalikkan tubuhnya. Memastikan bahwa Dilla baik-baik saja di sana. Ia menghampiri Dilla lalu menautkan jemari hangatnya pada jemari lentik gadis yang masih larut dalam kenangannya itu. Menggenggam jemarinya erat dan melangkah perlahan melewati jalan setapak berbatu di depan mereka.
"Hanya ada satu orang yang selalu saya ajak ke tempat itu sebelumnya,” racau Dilla lirih sambil terus berjalan di belakang Riza.
“Siapa?. Syifa?” ujar Riza masih menuntun langkah Dilla di depan.
“Bukan!” jawabnya lirih. Dilla pun mendesah pelan. Teringat akan kenangannya kembali.
Riza berbalik, “Lalu?” tanyanya tak sabar. Riza yang tidak pernah peduli dengan kehidupan pribadi seseorang merasa sangat penasaran dengan kehidupan gadis yang ada di depannya itu. Ingin menguak sorot mata yang berubah lara sesaat setelah ia melontarkan pertanyaannya.
Sementara itu, Kia masih setia mengawasi dan mengikuti langkah mereka dari belakang. Melangkah secara sembunyi-sembunyi tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari dua insan yang ada di depannya.
“Ada hubungan apa mereka sebenarnya?. Sepertinya mereka sangat dekat sekali. Bahkan Dokter Riza menginap di rumah gadis tidak tahu diri itu dan menciumnya di danau. Aku mesti segera cari tahu!” gumamnya seorang diri.
Riza masih menatap Dilla lekat.
Sedetik kemudian Dilla pun bersuara, “Bukan siapa-siapa. Sudahlah, Mas. Ndak penting. Ndak perlu diomongin juga!” elaknya dengan menyunggingkan sebuah senyum terpaksa di sana.
Riza membalas senyum palsu Dilla dengan sebuah senyum datar di wajahnya. Mereka pun kembali berjalan menuju rumah. Mereka pun akhirnya tiba di rumah saat matahari tepat berada di atas kepala. Riza duduk di depan teras untuk melepaskan rasa lelahnya. Sementara Dilla segera masuk ke dalam rumah mengambil segelas air untuk Riza yang sepertinya sangat kehausan karena perjalanan panjang mereka setengah harian ini.
Tampak Syifa keluar dari kamar, lalu berjalan menghampiri Riza. Syifa duduk di kursi berhadapan dengan Riza.
“Bagaimana, Mas?. Mas sudah punya jalan keluarnya?”
“Hemm. Mas sudah memikirkan hal itu. Mas akan usahakan untuk bernegosiasi dengan mereka dan melunasi hutang ibu. Kamu tenang saja, tidak perlu khawatir."
“Terima kasih ya, Mas sudah mau membantu ibu saya.”
“Jangan bicara seperti itu. Ibu kamu adalah ibu Mas Riza juga. Dan kamu sudah mas anggap seperti adik mas sendiri. Jadi, kamu tidak perlu sungkan sama mas.” Riza tersenyum. “Jadi, kapan kita kesana?”
“Sehabis makan siang saja, Mas. Bagaimana?. Tapi, mas jangan bilang-bilang ke kak Dilla, ya!. Kita pergi berdua saja.”
“Siap, bos.” Riza tersenyum kecil.
Syifa dan Riza pun mulai terlihat akrab selayaknya adik dan abang. Membuat Dilla turut tersenyum saat keluar dari dalam rumah dengan membawa segelas air lalu menyerahkannya pada Riza.
“Duh, kayaknya lagi bahagia sekali. Ada apa, sih?” sambar Dilla.
“Rahasia dong. Mau tahu aja!” Syifa tersenyum mengejek.
Riza tersenyum sambil meminum airnya.
“Oh. Jadi sekarang kamu sudah pintar ya main rahasia-rahasiaan sama kakak.”
“Ini cuma antara Syifa sama Mas Riza saja. Kakak ndak perlu tahu. Ayo, mas kita makan siang dulu!” elak Syifa. Takut kalau kakaknya semakin banyak bertanya.
Dilla cemberut kesal. Riza berdiri lalu mencubit hidung Dilla. Meninggalkan bekas kemerahan di sana.
“Sudah. Jangan terus bertanya dan cemberut seperti itu. Ayo kita masuk!. Aku sudah lapar.” Riza pun menarik lengan Dilla memasuki rumah. Terlihat wajah Dilla yang masih menekuk kesal di belakang.