
Riza segera menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya saat setelah hampir dua jam lamanya ia harus berhadapan dengan para dewan direksi untuk memberikan penjelasan pasal foto-foto kebersamaan dirinya dengan Andyra yang kini telah tersebar luas di media. Lagi-lagi Riza harus dipusingkan oleh hal-hal seperti itu.
Dalam rapat dadakan tersebut, sebahagian besar dewan direksi bersepakat menyuruh agar Riza mundur saja dari jabatannya sebagai bentuk pertanggungjawaban darinya karena telah mempermalukan nama rumah sakit. Riza pun segera pergi meninggalkan ruangan. Tidak mau meladeni gagasan dewan direksi yang sangat membuat telinganya memanas itu.
Tidak hanya sampai disitu, ternyata papi pun mengetahui hal tersebut. Belum lagi Riza tiba diruangannya, ia sudah menerima panggilan dari papi yang tiba-tiba mengamuk dan marah besar padanya hingga menyebabkan mereka bertengkar hebat di telepon. Riza menarik nafas dalam seraya memijat dahinya pelan saat mengingat harinya yang sangat kacau pagi ini.
Saat sedang sibuk berkutat menyelesaikan pekerjaannya yang sudah selama lima hari belakangan ditinggalkannya. Suara ketukan pintu menghentikan aktivitas Riza.
Raut wajah Riza seketika berubah menjadi tegang saat melihat dua orang anggota kepolisian berdiri tegak di depan matanya. Dengan sopan Riza mempersilakan mereka masuk. Ketegangan masih terpancar dari matanya karena rasa penasarannya akan hal penting apa yang akan disampaikan oleh polisi padanya hingga petugas polisi menghampiri dirinya di kantor.
Polisi menjelaskan bahwa pelaku pembunuhan Sofian telah tertangkap. Ternyata pembunuhnya merupakan seorang anggota mafia sekaligus pembunuh bayaran yang memang sengaja disuruh oleh seseorang untuk membunuh Sofian.
Polisi menambahkan bahwa pelaku juga mengaku sebagai dalang yang membuat kekacauan perihal bom yang terjadi di rumah sakit. Mendengar hal itu, Riza melotot kaget. Ia pun meminta pada polisi untuk memberinya izin bertemu dengan orang tersebut karena ingin memastikan apakah benar orang tersebut yang dilihatnya sewaktu di lorong rumah sakit.
Tak lama berbincang, polisi pun pamit undur diri. Setelah kepergian polisi, Riza kembali menyandarkan tubuhnya untuk menenangkan pikirannya sejenak.
----
Dilla sedang berada di kampusnya, memulai kuliahnya seperti biasa. Sesaat kemudian, Kiki datang menghampiri Dilla yang sedang asyik membaca buku di kelas. Kiki menanyakan perihal liburan Dilla selama tiga hari di desa. Saat Dilla menceritakan pasal liburannya yang secara tidak sengaja bertemu dengan Riza, Kiki tiba-tiba teringat dengan kabar berita yang dilihatnya di berita online mengenai kedekatan Riza dengan seorang wanita yang tak lain merupakan Andyra.
Kiki menyodorkan ponselnya, memperlihatkan berita online tersebut pada Dilla yang sontak membuat dada Dilla seketika kembali memanas saat melihat foto-foto yang menampakkan kedekatan Riza dan Andyra di masa lalu sewaktu mereka masih berpacaran dulu.
Meskipun Riza telah menjelaskan padanya semalam, akan tetapi saat melihat bagaimana kemesraan Riza dan Andyra di foto-foto tersebut membuat hatinya kembali cenat cenut terbakar cemburu sehingga ia pun melupakan niatnya untuk menjelaskan pada Kiki. Wajah Dilla cemberut kesal. Kiki pun menasehati Dilla agar jangan sampai cemburu buta pada Riza karena Riza sudah menjelaskan pada media bahwa foto-foto tersebut hanyalah masa lalu Riza saja jadi Dilla tidak perlu khawatir akan hal itu.
Dilla pun hanya mampu mendesah berat untuk menenangkan pikirannya yang gelisah.
Sesaat kemudian, Ponsel Dilla bergetar. Ia pun segera menjawab panggilan yang berasal dari Niko. Niko menghubungi Dilla untuk meminta tolong pada Dilla agar membujuk Riza untuk datang menghadiri pesta perayaan ulang tahun kantor penerbit Irfan sebab Riza mengatakan pada Niko bahwa ia menolak untuk datang.
Niko juga menjelaskan pada Dilla bahwa acara tersebut penting untuk keberlangsungan karier Riza nantinya. Dilla pun berjanji pada Niko akan mencoba membujuk Riza sesaat sebelum menyudahi panggilan teleponnya, meskipun ia tidak tahu bagaimana caranya membujuk suaminya itu nantinya.
Sore harinya, Riza pulang lebih awal sebab ia harus ke kantor polisi terlebih dahulu untuk menemui pelaku pembunuhan Sofian. Sesampainya di sana, Riza langsung menemui orang tersebut.
Kini Riza telah berhadapan dengan orang tersebut, orang yang tak lain dan tak bukan merupakan orang yang sama yang pernah ditemui oleh Thomas tempo hari sewaktu di warung Laras. Masih dengan seringai menakutkannya orang tersebut menatap Riza dengan tajam.
"Mau apa menemuiku?" tanya pria tersebut dengan suara lantang.
Riza diam dan memperhatikan orang tersebut dengan seksama. Mencoba memanggil memorinya kembali untuk mengingat-ingat seperti apa postur tubuh pria yang ditemuinya sewaktu di lorong rumah sakit. Setelah yakin, Riza pun menatap tajam pria tersebut.
"Kenapa kamu meneror rumah sakit yang aku pimpin dan kenapa kamu membunuh Sofian?" tanya Riza lantang tanpa berkedip.
Pria tersebut tertawa terbahak saat melihat ekspresi Riza yang sepertinya tidak takut sedikitpun dengan tatapan tajam pria tersebut yang sungguh menyeramkan, tatapan iblis yang sepertinya bisa melakukan apa saja.
"Kamu bertanya padaku, kenapa?. Kamu salah bertanya seperti itu padaku. Aku ini hanyalah boneka yang selalu patuh pada tuannya." Pria itu kembali tertawa.
Riza mengepalkan tangannya geram saat mendengar pria didepannya yang sengaja mengejek dan menertawakan dirinya.
"Orang-orang seperti kalian, tidak akan menganggap orang seperti aku ini manusia. Dengan seenaknya, kalian menyuruhku lalu membayarku. Setelah kalian mendapatkan apa yang kalian mau, kalian justru membuangku seperti kotoran. Orang-orang seperti kalian sungguh menjijikkan!" sarkas pria tersebut.
Riza mengeraskan rahangnya, "Dasar sampah!. Berhentilah bicara omong kosong. Cepat katakan sekarang juga, siapa yang menyuruhmu melakukan ini semua?. Kamu tahu, bagaimana menderitanya keluarga dari orang yang kamu bunuh?!" bentak Riza.
"Bapak Riza Rifky Pramudya yang terhormat." Pria tersebut menyebutkan nama belakang Riza yang merupakan nama belakang keluarganya. Nama yang jarang digunakan dan diperkenalkan Riza pada orang lain.
"Sejak kapan anda mulai peduli dengan urusan orang lain?. Hah?!. Ah, saya tahu. Mungkin, sejak anda menikah dengan istri anda yang cantik itu. Gadis malang yang anda nikahi bukan karena cinta tapi karena kesepakatan bodoh untuk menyelamatkan karier menulis anda yang selalu ditentang keras oleh ayah anda, Dirwan Rifky Pramudya. Ciih, keluarga Pramudya memang sangat memuakkan. Puihhh!!"
Pria tersebut terus saja mengolok-olok keluarga besar Riza hingga membuat Riza tersulut emosi. Riza segera mencengkeram kerah baju pesakitan yang dikenakan oleh pria didepannya itu dengan kuat.
"Jangan berani-beraninya kamu menghina keluargaku seperti itu!" geramnya.
Pria tersebut menyeka jejak darah yang mengalir di sudut bibirnya, "Brengsek!!" ujarnya menatap tajam kearah Riza.
"Semua keluarga Pramudya memang brengsek!" tambahnya.
Petugas polisi menghentikan gerakan tangan Riza saat ia hendak melayangkan kepalan tangannya kembali mengarah ke wajah pria tersebut, "Lepas!. Lepas!" Riza meronta-ronta saat polisi menarik tubuh Riza menjauh dari pria tersebut.
Pria tersebut kembali tertawa dan menyeringai dengan senyum menyeramkan. "Semua kartu AS keluargamu ada di tanganku. Jika kamu mau membantuku bebas dari sini, aku akan menceritakan semuanya. Jika tidak, lihat saja apa yang akan aku lakukan nantinya."
Riza menatap tajam pria tersebut.
"Ah!. Satu lagi." Pria itu menambahkan, "Untung kamu cepat menemuiku, aku akan memberikan satu nasehat. Kalau kamu mau istrimu itu selamat, jauhkan istrimu yang cantik itu dari anggota keluarga Wijaya. Keluarga itu sama memuakkannya dengan keluargamu."
"Siapa itu keluarga Wijaya?!. Katakan?!" bentak Riza yang sudah mulai terpancing.
"Tanyakan saja hal itu pada ayahmu, siapa itu keluarga Wijaya. Semoga saja dia mau menjawab. Dan aku minta pikirkan tawaranku tadi baik-baik." Pria itu menarik sudut bibirnya sekilas sebelum berlalu pergi meninggalkan Riza.
Riza menautkan alisnya. Mengepalkan tangannya memikirkan maksud tersirat dari setiap perkataan pria itu padanya.
Riza mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumahnya. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Riza segera bergegas masuk ke dalam rumah tanpa menyapa Dilla yang berdiri dan menatap heran ke arah Riza.
Riza segera menuju dapur untuk mengambil air mineral, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai kalut sepanjang perjalanan saat kata-kata pria tersebut terngiang kembali di telinganya.
Dilla menghampiri Riza saat melihat kegusaran di wajah suaminya.
"Mas, kenapa?. Ada apa?"
Riza menggeleng dengan kepala yang tertunduk.
Dilla segera menarik wajah Riza, menangkup wajah tersebut agar menatap matanya. Dilla menatap Riza lekat. Mata Dilla membulat saat melihat wajah Riza yang terlihat memar di beberapa bagian.
"Muka mas kenapa?. Ada masalah apa ini?. Hemm?!" tanya Dilla sembari mengusap lembut pipi Riza yang mulai membiru.
Riza tidak meringis sedikitpun saat jemari lembut Dilla mengusap lembut pipinya. Ia justru tersenyum lalu segera menarik Dilla ke dalam pelukannya.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
"Mas yakin baik-baik saja?"
"Hemm," jawab Riza singkat.
Dilla menepuk pelan pundak Riza untuk menenangkannya. Pelukan Dilla merupakan obat mujarab bagi Riza. Sejenak, Riza pun melupakan peristiwa buruk yang dialaminya seharian ini.
Riza menyudahi pelukannya kemudian mendaratkan sebuah kecupan singkat di kening Dilla.
"Bersiaplah. Malam ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana, Mas?"
Riza tersenyum manis, "Rahasia. Ayo, kita segera siap-siap."
"Tapi--" Dilla menunjuk wajah Riza dengan tatapan khawatir.
"Sudah. Ayo!"
Riza pun segera melangkah menaiki anak tangga dengan merangkul mesra pinggang istrinya dengan tangan yang terlihat menggerayangi bagian belakang istrinya itu dengan nakal. Membuat Dilla berulang kali mendorong Riza untuk melepaskan rangkulan nakalnya. Namun, Riza tetap saja meneruskan aktivitas nakalnya itu tanpa mempedulikan Dilla yang cemberut kesal dan menatap tajam kearahnya.