My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/95



CERAI.


Barisan huruf yang tak pernah gadis itu bayangkan kini mengaung di telinganya. Sebuah kata yang mengisyaratkan akan adanya perpisahan yang pastinya tak mungkin mampu ia terima begitu saja.


Gadis itu masih diam membisu padahal ucapan pria paruh baya didepannya sudah mengudara lebih dari lima belas menit yang lalu. Kedua telapak tangannya yang mulai dingin tampak bertumpu lemah memeluk kedua lututnya. Ia membeku, tak mampu bergeming sedikitpun dari tempat duduknya.


Ia sungguh tidak siap dengan semua ini. Mana mungkin ia sanggup untuk berpisah dengan suaminya. Pria yang selama ini telah menjadi bagian dari takdirnya. Pria yang tak mungkin pernah ia lepaskan meski dalam mimpi sekalipun.


Gadis itu menyampirkan beberapa helai rambutnya yang terjuntai saat ia mencoba mengatur kesedihan yang tak tertahankan dalam hatinya. Wajahnya kini sudah menengadah, jejak air mata tampak masih membasahi kelopak mata indahnya.


Bola matanya menatap lekat kedua iris mata coklat gelap pria paruh baya didepannya itu dengan tatapan tak berdaya.


"Nggak. Dilla nggak mau, Pi. Dilla nggak mau cerai dari mas Riza. Dilla nggak mau." Tolaknya kali ini. Memelas untuk dikasihani.


"Kalau kamu memang sayang sama Riza. Ceraikanlah dia, Dilla. Papi mohon." Sorot mata papi tak kalah memelas darinya.


Gadis itu menggeleng lemah. Tetap pada pendiriannya untuk mempertahankan pernikahannya.


Sesaat kemudian, gadis lemah itu bersimpuh di hadapan ayah mertuanya dengan tangis memilukan. Membiarkan lututnya mencium lantai keramik yang ada didasar sana tanpa beralaskan apapun.


"Dilla mohon, Pi. Jangan lakuin ini sama Dilla. Dilla rela kok nunggu mas Riza sampai kapanpun. Dilla rela, tapi Dilla mohon sama papi, jangan minta Dilla untuk cerai dari mas Riza, Pi. Dilla mengemis sama papi."


Papi terdiam.


Di kejauhan, Riza terlihat kembali menjatuhkan bulir bening dari matanya.


Dilla menangkup kedua tangannya memohon didepan papi, "Dilla janji nggak akan minta ikut ke Belanda, Pi. Papi sama mami boleh bawa mas Riza. Dilla rela ditinggal sendirian disini, tapi Dilla mohon, jangan minta Dilla untuk cerai dari mas Riza, Pi. Dilla nggak mau ngelakuin itu."


Dengan posisi masih berlutut, gadis itu kembali memohon belas kasihan pria paruh baya didepannya. Baginya pernikahannya lebih berharga dari harga dirinya saat ini.


"Dilla mohon, Pi."


"Papi tidak punya pilihan lain. Kamu harus melakukan ini. Papi tidak ingin melihat kalian tersiksa karena status ini karena papi tidak tahu kapan Riza akan sembuh sepenuhnya. Jadi, lebih baik kalian bercerai saja. Itu lebih baik untuk kalian berdua."


Dilla memeluk kedua kaki mertuanya dengan bahu yang tampak bergetar hebat dan isakan yang terdengar pilu sesaat setelah pria itu berdiri dan menjauhkan tubuhnya dari Dilla.


"Dilla nggak mau, Pi. Jangan hukum Dilla kayak gini, Pi. Dilla minta ampun sama papi."


"Papi minta maaf, Dilla." Suara papi lemah.


Sambil berlutut, gadis itu menengadah menatap wajah renta pria tersebut dengan tatapan mengiba berharap hati pria renta itu melunak.


Sedetik kemudian, tampak mami mendekat kemudian menarik pergelangan tangan Dilla hingga memaksa lutut gadis itu menegak seketika. Dengan tarikan kasar, mami memaksa jemari lemah gadis itu menggenggam pena yang tergeletak di atas meja lalu dengan bentakan keras mami menyuruh Dilla membubuhkan tanda tangan di atas kertas gugatan yang telah disiapkan oleh mertuanya itu.


Sekuat tenaga gadis itu bertahan untuk tidak menggerakkan tangannya hingga membuat ibu mertuanya itu tampak meradang.


"Apa salah Dilla, Mi?. Jangan lakuin ini sama Dilla, Mi."


Mami menoleh dan menatap tajam kearahnya.


Sesaat berikutnya, mami mendorong tubuh gadis itu dengan kasar hingga gadis itu terjerembab di sofa yang mereka duduki sesaat lalu. Makian demi makian pun kembali terdengar di telinga gadis itu.


"Dasar keras kepala. Kamu dengar!. Mulai saat ini, tinggalkan puteraku selamanya. Mengerti?!" Mami melotot tajam ke arah Dilla.


Gadis itu pun segera bersimpuh dan memeluk kedua kaki ibu mertuanya dengan tangis sesenggukan yang sudah tak mampu lagi ia tahan.


"Nggak, Mi. Dilla nggak mau ninggalin mas Riza. Mas Riza itu suami Dilla, Mi. Dilla sayang sama mas Riza. Dilla minta belas kasihan mami, kasihanilah Dilla, Mi. Ampun, Mi."


Mami langsung meremas kuat bahu gadis itu, memaksanya untuk berdiri tegak dihadapan wanita paruh baya itu sesaat setelah gadis itu menyelesaikan kalimatnya.


Mami menatap wajah ketakutan yang ada didepannya itu dengan geram, "Dengar!. Pria yang kamu sebut suami itu, dia adalah puteraku dan nasib puteraku jadi sangat menyedihkan seperti ini, itu semua gara-gara kamu!" ujarnya penuh kebencian.


Dilla terhenyak.


Tiba-tiba mami menarik lengan Dilla berjalan mendekati ranjang tempat dimana Riza berbaring. Sekali lagi mami mendorong lalu menghempas kasar tubuh gadis tak berdaya itu hingga membuat dahi gadis itu terluka saat membentur siku yang berada di sisi ranjang.


Papi pun segera mendekat untuk menghentikan amukan istrinya. "Tenanglah, Mi?!"


Ruangan yang seharusnya tenang itu, seketika gaduh. Mami yang sudah gelap mata tak lagi mempedulikan dimana keberadaannya saat ini.


"Kamu lihat!!. Lihat baik-baik, apa yang sudah kamu lakukan pada puteraku. Seperti itu cara kamu menyayangi suamimu!!!" acung mami pada Dilla.


"Dilla minta maaf, Mi. Ampun." Lagi-lagi ia memohon pengampunan dari wanita paruh baya didepannya. Bukannya mereda, akan tetapi wanita paruh baya itu justru tampak semakin meradang.


"Diam!!"


Mami terus saja membentak gadis itu dengan keras tanpa mempedulikan bagaimana wajah gadis itu yang terlihat setengah memucat dibalik kepalanya yang tertunduk dalam. Nasib gadis itu benar-benar miris kali ini.


Sambil menangis, Dilla mendekat ke arah Riza lalu memeluk tubuh suaminya yang masih terlelap itu dengan erat. " Mas, bangun mas. Tolong saya, Mas. Saya takut." Dilla sesenggukan di dada hangat suaminya. Menumpahkan segala ketakutannya saat ini.


Dilla terus meraung disana beberapa saat sebelum mami mendekat kembali lalu menarik tubuh gadis itu menjauh dari Riza. Sekuat tenaga mami melayangkan telapak tangannya tepat mendarat di pipi kiri Dilla sesaat setelah mami memaksa gadis itu melepas pelukan dari tubuh suaminya. Tamparan mami membekas seketika.


"Sudah kubilang, jauhi puteraku. Jauhi dia!. Pergi sekarang juga!. Pergi!!!!!" usir mami yang tanpa ampun mendorong tubuh Dilla hingga terjengkal di muka pintu.


"Ampun, Mi," ujar gadis itu bersimpuh kembali di kaki ibu mertuanya saat ia berhasil menerobos masuk sesaat sebelum pintu tertutup rapat.


Dilla tampak terduduk lemas dilantai dengan tangis sesenggukannya sesaat setelah pintu menutup rapat.


"Mas, Rizaaaaaa. Maaasss!" ratapnya sesenggukan dari balik pintu sambil memutar gagang pintu didepannya yang ternyata telah terkunci dari dalam.


Pupus sudah harapannya saat itu juga.


-------


Sementara itu, di tempat berbeda tampak Niko sedang duduk santai sambil berbincang dengan seorang pria. Sesekali dahi Niko mengernyit disela-sela pembicaraannya dengan pria paruh baya tersebut.


Pria paruh baya itu tak lain merupakan ayah kandung Niko yang bernama Dendi Hermono Pramudya.


Dendi merupakan seorang dokter psikiater yang baru saja kembali dari luar kota. Ia memang lebih banyak menghabiskan waktunya di luar Jakarta sebab ia harus mengurus klinik miliknya yang berada jauh di luar pulau Jawa. Dalam sebulan, ia hanya tinggal selama satu minggu saja di sini.


Lokasi klinik yang terbilang sangat jauh, membuatnya harus rela berpisah dari keluarga tercinta. Tak ayal hal itu membuat Niko langsung merecoki ayahnya itu dengan segudang pembicaraan sesaat setelah ayahnya kembali ke rumah.


Disela-sela pembicaraan mereka, Niko pun bercerita mengenai kondisi Riza saat ini. Kondisi yang sangat mengganggu pikirannya.


"Gitu, Yah. Udah seminggu Riza nggak sadar. Niko juga nggak ngerti apa sebenarnya yang terjadi sama Riza. Kok bisa dia pingsan dan sekarang malah koma."


Ayah Niko tampak diam dan melamun cukup lama sesaat setelah mendengar kalimat puteranya. Hingga membuat Niko terpaksa menepuk punggung tangan ayahnya untuk membuat ayahnya itu tersadar dari lamunannya.


"Ya elah, kenapa ayah jadi ngelamun?"


"Nggak. Ayah nggak ngelamun, kok."


Niko berdecak dan menggeleng singkat lalu melanjutkan kalimatnya, "Terus, pas Niko telepon Om Dirwan buat ngabari soal Riza, Om Dirwan ngomongin hal yang menurut Niko itu aneh banget."


"Aneh bagaimana?"


"Om Dirwan bilang ke Niko kalo kejutan atau pesta ulang tahun kayak gitu bisa ngebunuh Riza. Aneh kan, Yah?. Bener, nggak?"


Dendi terdiam kembali. Matanya menatap lama wajah penuh tanda tanya putera semata wayangnya itu. Ia tahu betul bagaimana watak puteranya jika sudah penasaran. Puteranya itu akan terus membanjirinya dengan berbagai pertanyaan sampai rasa penasaran puteranya itu terjawab.


Dendi berdehem, "Menurut ayah, mungkin waktu itu om Dirwan lagi panik makanya dia ngomong kayak gitu. Tidak ada yang perlu kamu pikirkan." Dendi berdiri dari duduknya. "Ayah capek, ayah mau istirahat dulu."


"Tunggu dong, Yah. Niko kan belum selesai ngomongnya."


"Sudahlah, kita lanjutkan nanti saja. Ayah mau tidur."


Pria paruh baya itu pun segera melangkah meninggalkan Niko yang masih menatap langkahnya dengan tampang tidak puas akan jawaban darinya barusan.


Niko sempat mengeluh karena sikap ayahnya yang seolah menghindari pertanyaan yang ia lontarkan sehingga membuatnya terus dihantui oleh rasa penasaran yang masih tak terjawab.


Sesaat berikutnya, ponsel Niko bergetar. Gawai pipih itu menghentikan sejenak rasa penasarannya yang menggunung.


"Halo. Kenapa, Dill?" sahut Niko sesaat setelah menempelkan gawai di telinganya.


Terdengar suara tangis sesenggukan dari Dilla di seberang sana. "Ma-mas. Hiks,hiks. To-tolong sa-ya. Hiks,hiks."


"Lo, kenapa?. Halo. Halo."


Niko terlihat panik.


Sementara itu, didalam kamar tampak Dendi juga sedang mengobrol di gawai pipihnya dengan wajah serius. Sesekali ia menghela nafas berat dan memijat pelipisnya pelan.


-----


Di rumah sakit, mami masih menangis di sisi ranjang pembaringan puteranya. Jemarinya terus membelai lembut wajah dan rambut puteranya itu secara bergantian. Hatinya sungguh hancur saat melihat kondisi puteranya saat ini. Seminggu sudah puteranya itu terbaring lemah disana tanpa respon apapun.


Satu jam berselang, suara pintu yang terbuka mengalihkan sejenak pandangan wanita paruh baya itu dari wajah puteranya. Terlihat didepan matanya, Dilla melangkah mendekat ke arahnya bersama dengan Niko.


Dilla menyembunyikan wajahnya dibalik bahu lebar pria didepannya sambil menggenggam kuat kemeja pria tersebut.


Mami menatap sosok yang ada dibalik punggung Niko dengan tajam.


"Mau apa lagi kamu kesini?. Pergi kamu dari sini." Mami terlihat mulai murka. Kebencian tak beralasan itu benar-benar telah menguasai hati mami sampai-sampai Niko pun tercengang dibuatnya.


Niko berniat membela Dilla. Namun, belum sempat Niko bersuara, suara rintihan terdengar dari sudut bibir Riza. Seketika mereka menoleh dan mendekat ke arah empunya suara.


Tampak Riza mengerang lirih dan menggerakkan jemarinya pelan yang diikuti gerakan matanya yang membuka sedikit demi sedikit.


Silau cahaya lampu seketika menusuk kedua bola matanya saat kedua mata indah itu akan membuka sempurna. Kedua mata itu mengerjap beberapa kali lalu bergerak-gerak kecil membiarkan berkas cahaya itu membias sempurna didalam sana.


Semua orang tersenyum takjub ke arah Riza. Riza memperhatikan satu persatu wajah yang ada dihadapannya sesaat setelah matanya membuka sempurna.


"Mas," ucap Dilla dengan senyum bahagia di wajahnya.


Riza kembali mengerjapkan matanya, "Hemm," sahutnya lemah. Sahutan yang membuat gadis itu bertambah bahagia.


Dilla pun langsung mendekap Riza untuk meluapkan rasa bahagianya saat mendengar suaminya itu merespon ucapannya.


Tiba-tiba Riza bersuara kembali, "Kamu siapa?" tanyanya dengan suara serak yang hampir tak terdengar.