
"Nanaaaaa..!!!"
braak..braak..braak
Suara gaduh terdengar menggema kuat dari rumah sederhana yang tampak dijaga oleh beberapa petugas polisi berbadan tegap lengkap dengan atributnya. Para petugas yang tengah berjaga itu pun saling melempar pandang satu sama lain. Pagi yang tenang seketika berubah menjadi kebisingan yang luar biasa dikarenakan suara cempreng seorang wanita.
Wanita itu adalah Ratna Fahruddin Budiman, ibu kandung Nana yang terkenal cerewet dan bawel. Sudah lebih dari tiga puluh menit Ratna berdiri didepan pintu kamar anak gadisnya seraya berteriak memanggil putrinya dengan suara cempreng khasnya. Entah sudah berapa kali, ia menggedor kamar putrinya, tetapi tidak terdengar sahutan apapun dari dalam.
Sementara itu yang dipanggil terlihat masih dengan santainya berendam seraya memejamkan mata di bathtub kesayangannya. Eitts, bukan memejamkan mata tapi lebih tepatnya sedang tertidur pulas dengan sebuah dengkuran kecil terdengar dari mulutnya yang tampak menganga lebar.
Awalnya Nana hanya ingin berendam untuk merilekskan dirinya akibat kegiatan begadang semalamannya. Dengan berendam ia berharap rasa lelahnya akan berkurang. Namun, tanpa sadar ia justru tertidur pulas di dalam bathtub dan tidak menyadari bahwa ibunya sedang berteriak sekuat tenaga memanggil namanya didepan pintu kamar.
Semalaman Nana tidak bisa tidur sebab memikirkan tentang dirinya yang akan mulai bekerja di kantor Irfan hari ini. Bekerja dibawah perintah seorang bos adalah hal yang paling tidak disukainya. Memikirkan hal itu sukses membuat matanya terjaga semalaman.
Nana merupakan gadis berusia 25 tahun. Ia adalah anak bungsu dari dua orang bersaudara. Abangnya adalah seorang anggota TNI-AD berpangkat kapten yang sedang ditugaskan di sebuah desa yang terletak di Provinsi Kalimantan Barat untuk menjaga perbatasan Indonesia disana.
Hidup dalam lingkungan keluarga militer membuat Nana merasa sangat terkekang sebab ia tidak dapat melakukan apapun sesuai dengan apa yang diinginkannya. Semua hal dalam hidupnya telah diatur oleh ayahnya, mulai dari pendidikan, pekerjaan bahkan pernikahan. Sungguh membosankan.
Profesi Nana yang merupakan seorang model itu pun tak luput dari pertentangan keras ayahnya. Namun, tanpa kenal menyerah, Nana akhirnya berhasil meyakinkan ayahnya meskipun sang ayah mengajukan beberapa syarat tidak masuk akal pada Nana selama ia menjalani profesi modelnya itu. Salah satunya adalah larangan untuk pulang larut malam dan berkeliaran dengan pakaian minim dimanapun ia berada.
Bagaimana nasib hidupnya kelak semua telah digariskan oleh ayahnya, sang Jenderal otoriter.
"Nanaaaaa...!!!"
Ratna pun kembali mengeluarkan suara menggelegarnya untuk memanggil anak bungsunya tersebut. Suara cemprengnya kali ini berhasil membangunkan Nana dari tidurnya.
Nana segera bangkit dari bathtub kemudian berjalan tergesa-gesa ke arah pintu. Sesaat setelah pintu kamarnya terbuka, Ratna langsung memarahi Nana habis-habisan. Nana hanya diam mendengarkan amarah ibunya.
Lima belas menit kemudian, Nana telah selesai berpakaian. Ia mengenakan kemeja putih dan rok hitam selutut. Nana berjalan menghampiri ayah dan ibunya di meja makan.
Nana memberi hormat pada ayahnya. Selanjutnya, ia menarik kursi yang ada didepannya.
Ayah berdehem singkat, "Sesuai peraturan. Terlambat lima belas menit, tidak ada sarapan."
"Tapi, Yah-"
"Tidak ada tapi-tapi!. Peraturan tetap peraturan." Ayah melotot tajam ke arah Nana.
Nana menundukkan kepalanya. Kalimat ayahnya adalah titah yang tidak dapat dibantah sedikitpun.
----------
Ditempat lain, Riza dan Dilla terlihat sedang menikmati sarapan pagi mereka dalam kebisuan. Hening. Tak bersuara. Hanya dentingan sendok dan garpu yang saling beradu nyaring sebagai pemecah keheningan. Sesekali mereka melirik satu sama lain dengan mulut yang masih juga enggan menyapa. Sikap diam tak jelasnya Riza, membuat Dilla semakin bertambah bingung dan serba salah.
Berkali-kali Dilla mencoba mengajak Riza berbincang dengan melemparkan berbagai lelucon receh andalannya pada Riza, dengan harapan Riza akan membalas leluconnya tersebut. Namun, hasilnya nihil. Riza tetap saja diam dan tidak merespon apapun perkataan Dilla. Membuat Dilla tak henti-hentinya mengelus dada dan mendesah berat.
Dilla sebenarnya sudah merasa gerah dengan sikap Riza pagi ini tapi ia masih berusaha menahan mulutnya untuk tidak bertengkar dengan Riza.
Dilla berjalan menyusul langkah Riza menuju garasi, " Mas, bekalnya ketinggalan!" teriak Dilla.
Tiba-tiba Riza membalikkan badannya. Membuat Dilla hampir menabrak dada bidang suaminya itu. Riza segera mengambil bekal dari tangan Dilla tanpa berkata apapun kemudian membalikkan tubuhnya kembali.
Dilla menyalip tubuh Riza kemudian berdiri dihadapannya, "Mas ini kenapa, sih?. Ada masalah apa sebenarnya?" Bola mata Dilla bergerak-gerak memandang wajah Riza penuh tanda tanya.
Riza masih diam tidak bergeming.
tiiin...
Suara klakson mobil yang berbunyi nyaring seketika menghentikan perselisihan kecil mereka. Mereka menoleh secara bersamaan kearah datangnya suara. Sebuah mobil sedan hitam terlihat berhenti tepat di depan rumah Riza. Si pengemudi membuka pintu mobilnya. Raut wajah Riza seketika berubah masam saat melihat siapa sosok yang keluar dari mobil sedan hitam tersebut.
Dilla menyambut kedatangan tamu tak diundang pagi itu dengan tatapan heran. Tamu itu pun berjalan mendekat kearah mereka.
"Pagi, Dilla!" ujarnya dengan tersenyum lebar.
"Ada apa, Mas?. Pagi-pagi kok sudah kesini?" tanya Dilla penasaran.
Riza melihat ke arah Fahmi dengan tatapan membidik tajam kearahnya. Bukannya takut, melainkan Fahmi justru semakin gencar mendekat ke arah Dilla.
"Aku mau jemput kamu. Sekalian ada yang mau aku omongin," ujarnya.
"Masalah apa, Mas?" Dilla mengernyitkan dahinya.
"Nanti aku cerita di mobil. Ayo kita berangkat sekarang, nanti kamu telat." Fahmi menarik Dilla seraya merangkul lengan Dilla.
Riza memperhatikan tingkah Fahmi dari tempatnya berdiri.
Dilla yang merasa risih dengan perlakuan Fahmi tersebut, berusaha menepis tangan Fahmi untuk melepaskan lengannya. Namun, Fahmi justru semakin mengeratkan gerakan tangannya di lengan Dilla.
Riza yang sudah tidak mampu menahan sesak di dadanya, segera berjalan menghampiri Fahmi lalu menyentuh bahu Fahmi erat. Seketika Fahmi menoleh kearahnya.
Buuk!!!
Riza meninju Fahmi tepat di pipinya. Membuat Dilla terperangah dan melotot kaget. Pasalnya Riza tidak pernah sekasar itu pada siapapun. Kalau pun Riza marah atau tersinggung, ia hanya akan diam saja tanpa menyakiti atau melakukan kekerasan.
"Jangan pernah menyentuh istriku seenaknya!" ujarnya dingin dengan tatapan tajam dan rahang yang mengeras.
"Brengsek!!" ujar Fahmi seraya mengerang kesakitan.
Riza menatap Fahmi dengan tangan yang masih mengepal erat. Dilla memandang wajah Riza sekilas. Terlihat olehnya sorot mata Riza yang tidak biasa. Riza tampak benar-benar marah kali ini.
Sesaat kemudian, Fahmi terlihat ingin melayangkan tinjunya untuk membalas pukulan Riza, secepat kilat Dilla berdiri didepan Riza untuk menghalangi tangan Fahmi. Tanpa sengaja tangan kekar Fahmi meninju tepat pipi mulus Dilla hingga membuat tubuh Dilla lunglai ke samping. Dengan sigap Riza menangkap tubuh lemah istrinya itu. Pandangan Dilla mulai mengabur. Sesaat kemudian, Dilla pun jatuh pingsan tak sadarkan diri didalam pelukan Riza.
Riza segera membopong Dilla masuk kedalam rumah lalu mengusir Fahmi dengan kasar dari rumahnya. Dengan menahan kekesalan, Fahmi pun akhirnya berlalu pergi meninggalkan rumah Riza.