My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/10



Hari ini kondisi Dilla sudah lebih baik dari kemarin.


Laras terlihat tidak menjaga Dilla hari ini karena ia harus berjualan di warung yang sudah tiga hari tutup.


Dilla pun hanya menghabiskan waktu sendirinya dengan menggonta-ganti siaran televisi, tidak tahu harus melakukan apa.


Tidak lama, Dilla mendengar suara pintu terbuka.


Ternyata Riza, mami dan Niko datang menjenguk Dilla hari ini.


Untung saja mereka datang sehingga Dilla tidak merasa kesepian.


"Hai, sayang." Mami memeluk Dilla.


"Hai, mami."


Ya...


Dilla mulai membiasakan diri memanggil orang tua Riza dengan sebutan mami dan papi karena mami dan papi yang memintanya.


"Bagaimana keadaan kamu hari ini?" Mami melepas pelukannya.


"Alhamdulillah sudah baikan, Mi." Dilla tersenyum.


"Syukurlah, mami bisa tenang sekarang."


"Sorry ya Dilla, gue baru bisa jenguk loe sekarang!" sapa Niko.


"Iya, mas Niko. Tidak apa-apa." Dilla tersenyum.


Sementara Riza seperti biasanya, ia tidak berbasa-basi sedikit pun pada Dilla.


Riza hanya melengos pergi menuju sofa yang berada di sudut ruangan.


Dilla memperhatikan punggung runcing Riza dari belakang.


"Maaf ya, Mi. Karena Dilla, mami jadi repot menyiapkan persiapan pernikahan sendirian."


"Nggak apa-apa sayang. Soal persiapan itu mah gampang, yang penting kamu cepat sembuh, ya!" Mami tersenyum sambil memeluk punggung tangan Dilla.


"Papi kemana, Mi?" tanya Dilla.


"Oh, papi hari ini ada urusan pekerjaan jadi tidak bisa ikut. Papi titip salam sama kamu."


Dilla mengangguk pelan.


tok..


tok..


"Permisi!" suara seseorang mengejutkan mereka.


"Mas Fahmi?" Dilla menggumam pelan.


"Permisi tante. Hai, Dilla."


Mami dan Dilla tersenyum menyambut Fahmi.


Fahmi kemudian masuk dengan membawa sebuket bunga mawar ditangannya.


Dari tempat duduknya, Riza terlihat melirik ke arah buket bunga yang dibawa oleh Fahmi.


"Bagaimana keadaan kamu hari ini?", Fahmi menyerahkan buket bunga itu kepada Dilla.


Dilla tersenyum meraih buket bunga itu, membuat mami sedikit heran.


"Alhamdulillah, Mas. Sudah baikan."


"Syukurlah!" Fahmi tersenyum


Melihat itu, Niko pun segera menghampiri Riza di tempat duduknya.


"Bro, itu siapa?. Gue perhatiin aura mereka berdua itu aneh." Niko berbisik pelan.


"Kamu yang aneh!" jawab Riza datar.


Niko berdecak pelan kemudian merangkul bahu Riza, "Maksud gue, kayaknya mereka ada sesuatu tuh bro, gue takut ntar nih si Dilla berubah pikiran terus ngebatalin nikah. Kan gawat, bro!"


Niko lalu beranjak meninggalkan Riza yang terlihat diam memikirkan sesuatu.


Niko berdehem.


"Halo, gue Niko!" Niko mengulurkan tangannya.


"Halo, saya Fahmi. Saya-." Fahmi menatap Dilla sejenak.


"Saya temannya Dilla!" sambungnya lagi.


"Oh, teman Dilla. Pasti teman dekat ya, sampai bawa bunga segala. Ha..ha..ha." Niko tertawa garing.


"Iya. Teman dekat!" jawab Fahmi penuh penekanan, membuat Dilla terpaku.


Mendengar penekanan Fahmi barusan, membuat Riza seketika menoleh ke arahnya.


Riza masih memperhatikan Fahmi dari kejauhan.


"Oh, iya. Mas Fahmi kenalkan ini Mami, calon mertua aku."


Fahmi terlihat tertohok mendengar kata "calon mertua" terlontar dari mulut Dilla.


Riza tersenyum penuh kemenangan.


"Calon mertua?. Kamu mau nikah?"


Dilla mengangguk mengiyakan.


Melihat anggukan Dilla, hati Fahmi terasa terguncang bagai dilanda tsunami.


"Kapan?" tanyanya lagi.


"Lima hari lagi. Ini undangannya." Mami menyodorkan kertas persegi bertuliskan nama Dilla dan Riza disana.


"Kamu harus datang ya!" Mami tersenyum tanpa tahu bagaimana luluh lantaknya hati Fahmi saat ini.


"Iya Tante. Terima Kasih!" jawabnya dengan terbata meraih kertas persegi itu.


Hati Fahmi pedih dan pilu namun ia berusaha menyembunyikan perasaan perihnya.


Dalam diam, Dilla memperhatikan raut wajah Fahmi terlihat mendung, tidak secerah ketika awal kedatangannya tadi.


Tiba-tiba ponsel mami berdering, mami keluar ruangan menerima telefon.


Melihat mami telah keluar kamar, Dilla pun segera berbicara dengan Fahmi.


"Mas Fahmi, bisa kita bicara di luar sebentar?" tanya Dilla.


Fahmi tidak mengerti.


"Aku mau jalan-jalan di taman, bosan di kamar terus." Dilla beralasan.


Fahmi mengangguk, ia mengambil kursi roda lalu mendudukkan Dilla di kursi roda itu.


------


Taman Rumah Sakit


"Kamu mau bicara apa?", tanya Fahmi.


"Maaf ya mas, aku tidak bisa menepati janjiku untuk menunggu kamu!" ucap Dilla dengan mata bergetar.


"Aku yang salah Dilla, aku egois. Aku tidak pernah memberimu kabar sekalipun, padahal kamu telah menungguku dengan sejuta harapan," sahutnya.


"Aku menyesal, tidak bisakah kamu memberi kesempatan kedua untukku?" pinta Fahmi.


Dilla diam tanpa berkata apapun, matanya menatap lurus ke depan menikmati hembusan semilir angin yang membuat rambut panjangnya menari-nari indah.


--------


Niko dan Riza terlihat masih setia menunggu kedatangan Dilla dan Fahmi di kamar.


Terlihat Niko dengan santainya tengah asik menonton acara televisi.


Sedangkan Riza, ia tampak sedikit gusar akan tetapi ia mencoba menutupinya.


"Apa yang mereka bicarakan?. Kenapa mereka lama sekali?" batin Riza


Lalu terdengar suara pintu dibuka.


Seketika Riza dan Niko menoleh ke arah pintu.


Terlihat Fahmi mendorong kursi roda Dilla menuju tempat tidur.


Kemudian Fahmi membopong Dilla dan mendudukkannya di tempat tidur.


Riza dan Niko hanya diam memperhatikan mereka berdua.


"Terima kasih, mas!" ucap Dilla.


"Sama-sama."


Mereka terlihat sama-sama tersenyum dan saling menatap.


Tidak lama, Fahmi pun beranjak untuk pulang.


Sepulangnya Fahmi, Dilla menanyakan dimana keberadaan mami.


Niko pun menjawab kalau mami sudah pulang ke rumah sehabis menerima telefon.


Kemudian Riza langsung mengajak Niko untuk pulang.


Saat Niko berpamitan pulang pada Dilla, Riza memotong ucapan Niko,


"Lima hari lagi kita akan menikah, jadi jaga sikapmu!" kata Riza singkat dan terkesan ketus.


Dilla hanya menatap tajam ke arah Riza yang langsung melengos pergi setelah mengucapkan kata-katanya.


Niko pun menyusul Riza dari belakang.


------------


Dua hari kemudian


Karena kondisi Dilla sudah membaik, maka Dilla sudah diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit.


Saat ini ia sudah berada di rumah Laras, tepatnya di kamarnya.


Dilla terlihat memikirkan perkataan Fahmi sewaktu di taman saat itu.


Dilla bingung apa yang harus ia lakukan.


Di satu sisi ia sudah berjanji akan membantu Riza sedangkan di sisi lain jauh di dalam lubuk hatinya ia masih sangat mencintai Fahmi.


Apakah ia harus egois kali ini?, kata-kata itu terbesit di pikirannya.


"Assalamualaikum!" suara teriakan seseorang mengejutkan Dilla.


"Wa'alaikumsalam!" sahut Dilla.


"Seperti suara ibu!" batinnya


Dilla langsung bergegas ke luar dari kamarnya.


"Ibu.. , Syifa..." Dilla terlihat kaget.


Dilla langsung memeluk ibu dan adiknya.


"Ibu sama siapa ke sini?" Dilla melepas pelukannya.


"Ibu tadi di jemput nak Riza dari bandara dan langsung diantar ke sini."


"Oh, ya sudah. Ayo masuk!" Dilla membawa tas ibu masuk ke dalam rumah.


"Laras dimana, nak?" tanya ibu.


"Mbak Laras sedang jualan bu di warung, nanti sore baru pulang," jawab Dilla.


"Ibu istirahat saja dulu di kamar Dilla, Dilla mau siapkan makan siang buat ibu!" sambung Dilla lagi.


Ibu yang memang terlihat letih itu pun langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur Dilla.


--------


Fahmi sedang mengetik bab-bab skripsi di laptopnya, namun konsentrasinya seketika buyar mengingat pujaan hatinya akan menikah tiga hari lagi.


Ia merasa carut marut tak karuan.


Fahmi sungguh menyesali perbuatan bodohnya yang meninggalkan Dilla waktu itu, namun apa daya kini penyesalannya itu hanya sia-sia.


Tiga hari lagi, Dilla akan menjadi milik orang lain. Dengan demikian, Dilla hanya akan menganggapnya sebagai seorang teman bukan kekasih.


Flashback


Taman Rumah Sakit


"Aku menyesal, tidak bisakah kamu memberi kesempatan kedua untukku?" pinta Fahmi.


Dilla diam sejenak.


"Sejujurnya aku masih sangat mencintaimu, mas. Tapi aku sudah berjanji akan menikah dengan pria lain. Aku minta padamu lepaskanlah aku, mas!" Suara Dilla bergetar menahan air matanya.


"Masih ada lima hari lagi Dilla, kamu bisa membatalkan pernikahan itu!" bujuk Fahmi.


"Aku capek mas, aku mau istirahat. Ayo kita kembali ke kamarku!"


Flashback End


Fahmi mengingat obrolannya dengan Dilla sewaktu di taman rumah sakit.


Hatinya tidak rela.


"Aku harus mendapatkanmu kembali Dilla, apapun caranya. Aku tidak akan membiarkan pria lain memilikimu sebab aku lah yang terlebih dulu menemukanmu!" Fahmi menggumam pelan sembari tersenyum getir, sorot matanya menyiratkan kelicikan.