My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/130



Sosok berjaket hitam terlihat menyelinap diam-diam memasuki sebuah ruangan. Pintu pun berdecit nyaring, menandakan tamu tak diundang itu mulai memasuki ruangan yang hanya bercahaya kan lampu tidur remang didalamnya.


Sesaat berikutnya, tamu misterius itu pun tampak mengambil sesuatu dari balik saku jaket yang ia kenakan. Sebuah pistol. Ia pun menarik pelatuk perlahan dan mengeratkan genggaman tangannya pada pistol tersebut.


"Aku sudah menunggumu sejak tadi!" suara berat seorang pria seketika menghentikan gerakan tangannya. Matanya bergetar ketakutan saat menyadari siapa yang menyapanya saat ini.


...----------------...


Menjelang subuh, Riza terbangun dari tidurnya. Dahinya mengernyit karena kepalanya amat terasa pusing. Riza memijat keningnya perlahan sesaat setelah melepaskan pelukannya dari tubuh Dilla yang tampak tertidur lelap disebelahnya.


Riza bersandar di ranjang sejenak sebelum ia berjalan dengan terhuyung menuju ke arah kamar mandi.


Suara gemericik air sampai di telinga Dilla. Perlahan gadis itu membuka mata lalu bangkit berjalan mendekati kamar mandi.


Dilla mengetuk pintu, "Mas Riza, Mas didalem?"


Riza hanya menoleh. Ia terlalu malas untuk menyahut panggilan pagi dari istrinya.


Tak lama Dilla pun mengambil pakaian untuk Riza, berharap semoga suaminya itu tidak marah lagi padanya.


"Pakaian Mas udah saya ambil. Jangan lama-lama Mas mandinya, nanti sakit."


Riza kembali tak menjawab. Didepan pintu, dengan sabar, gadis itu menunggu sambil memegang pakaian ditangannya.


Setengah jam berlalu, akhirnya Riza keluar dari dalam kamar mandi.


Melihat Riza disana, Dilla pun segera mendekat lalu menyodorkan pakaian untuk Riza kenakan.


"Ini pakaian kamu Mas, udah saya siapin."


Dilla tersenyum manis. Namun, lagi-lagi Riza tak mengindahkan senyuman itu.


Riza melengos pergi untuk mengambil sendiri pakaiannya dari dalam lemari. Setelahnya, ia berbalik dan kembali berjalan melewati Dilla yang tampak masih berdiri mematung didepannya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Rasanya sulit bagi Dilla untuk mencairkan kebekuan diantara mereka. Ia bingung harus melakukan apa dan harus bagaimana ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Riza.


...----------------...


Riza tampak menyendiri di balkon rumahnya. Pandangannya lurus dengan sorot mata penuh kesedihan diselingi pikiran yang berkeliaran jauh entah kemana. Riza yang tampak terlalu asyik dengan pergulatan batinnya itu pun sampai-sampai tidak mendengar kalau Mami sudah sejak tadi berseru memanggil namanya.


Sentuhan Mami di pundak pemuda itu, membuat pemuda itu terkesiap.


"Kamu masih mikirin isteri kamu?" tanya Mami tersirat.


Riza menjawab dengan sorot mata sendu yang amat mengandung kesedihan.


Hening sejenak.


Sesaat berikutnya, Riza pun memulai ucapannya, "Riza merasa nggak adil sama istri Riza sendiri. Harusnya Riza kasih Dilla kesempatan"


Riza pun mengungkapkan kegundahan hatinya kepada Mami, berharap Mami akan memberikan saran dan nasehat yang dapat mengurangi kegundahannya saat ini. Namun, sepertinya ia bercerita kepada orang yang salah.


Mami justru menanggapi, "Mami ngerti perasaan kamu. Pasti kamu sakit hati banget sama dia. Kamu tenang aja, setelah kamu cerai dari gadis itu, kamu nggak akan pernah sakit hati lagi. Mami akan carikan gadis lain yang lebih baik daripada dia."


Tidak hanya disitu, untuk menambahkan garam di atas luka Riza yang menganga, Mami menyodorkan sebuah map ke arah Riza.


"Apa ini Tan?"


"Ini berkas-berkas untuk proses perceraian kamu sama Dilla. Mami dan papi udah siapin semuanya. Kami cuma butuh tanda tangan dari kamu aja."


Mata Riza membesar. Iris cokelatnya memandang lama map yang ada di atas meja.


Apa ini jalan keluar yang aku butuhkan?, batinnya.


"Udahlah Riza. Buat apa kamu masih bertahan sama gadis itu. Gini aja, kalo kamu nggak mau cerai sama dia. Pulangin aja dia ke Indonesia, tinggalin dia disana. Mami itu udah nggak tahan lihat dia lama-lama tinggal disini. Ngeselin."


"Pulang ke Indonesia?!" ujar Riza sambil mengerutkan dahinya.


"Oke, Tan. Riza setuju. Riza rasa, itu ide yang bagus."


Mami pun tersenyum penuh kemenangan.


Tanpa Riza sadari, di kejauhan, Dilla yang sedari tadi mendengar obrolan Riza dan Mami, tampak sangat syok dengan apa yang ia dengar. Ia tidak menyangka, Riza akan setuju dan tega membuangnya begitu saja.


Apa kali ini biduk rumah tangganya dengan Riza akan benar-benar berakhir?. Memikirkan hal itu membuat Dilla tak sanggup membendung air matanya. Tak lama, Dilla pun segera bergegas menjauh sesaat setelah menyeka bulir bening di wajahnya.


Hati gadis itu teramat sangat sakit. Rasanya ia tidak sanggup mendengar kelanjutan obrolan Mami dan Riza lebih lama lagi.


...----------------...


Sejak mendengar obrolan Riza dan Mami tadi pagi, Dilla tampak murung. Hingga hari berganti malam, Dilla hanya berdiam diri di kamar bertemankan ucapan Riza yang terus bergema di telinganya.


Tak lama, Riza pun muncul dengan membawa nampan yang berisikan makan malam untuk Dilla.


Tanpa basa-basi, Riza berkata, "Besok, kita pulang ke Indonesia," ucapnya datar.


Alis Dilla menaut, "Nggak!" sahut gadis itu.


"Setuju atau tidak, kita akan tetap berangkat ke Indonesia dengan penerbangan paling awal besok pagi."


"Nggak!"


"Terserah. Pokoknya aku udah mikirin ini matang-matang. Kita harus ke sana."


Dilla lalu bangkit dari duduknya.


"Harus berapa kali saya jelasin ke kamu, Mas. Saya sama Mister itu nggak ada hubungan apa-apa. Saya nggak pernah selingkuh sama siapapun. Saya bukan seperti apa yang Mami kamu bilang!" sentak Dilla dengan suara meninggi dan wajah yang sudah merah padam.


Ia harus melepaskan semua rasa sesak yang bersarang di dadanya kali ini.


Dilla melanjutkan, "Kamu beneran mau kita cerai?. Jawab, Mas?!"


"Agghhh, berisik!!. Iya, aku mau cerai!!" jawab Riza dengan suara tak kalah tinggi.


Dilla terdiam dengan mata bergetar menahan air mata.


Riza menambahkan, "Baguslah, kalau kamu udah sadar. Jadi aku nggak perlu repot-repot ngejelasin panjang lebar sama kamu."


"Tega kamu, Mas. Aku nggak nyangka, kamu tega ngelakuin ini sama aku," ujar Dilla lemah.


Riza melanjutkan, "Dengerin sini gadis kampung. Gadis kampung seperti kamu itu cocoknya tinggal di kampung bukan didekat aku. Paham?!" bentak Riza.


Dilla mulai terisak.


"Aku akan urus perceraian kita secepatnya. Jadi, kamu siap-siap aja jadi janda." Riza tertawa bahagia.


Suara deheman Riza, membuyarkan lamunan panjang Dilla. Ia terhenyak saat melihat Riza sudah berdiri didepannya.


"Ini makan malam untuk kamu," ucap Riza kemudian dengan suara datar sambil menaruh makanan di atas nakas.


Dilla diam.


Riza menaruh nampan diatas nakas sambil memperhatikan mata sembab isterinya. Ingin sekali rasanya ia menyudahi perang dingin diantara mereka. Namun, ego masih merajai hati pemuda itu.


Tanpa menunggu jawaban Dilla, Riza kemudian berbalik. Namun, tiba-tiba Dilla berdiri lalu memeluk Riza dari belakang. Riza tertegun.


Sambil terisak, Dilla kemudian berkata, "Mas Riza, jangan pergi. Saya mohon, jangan tinggalin saya, Mas. Saya nggak sanggup pisah dari kamu."


Brukk


Belum sempat Riza menjawab, Dilla tiba-tiba tersungkur lemah ke lantai. Seketika Riza pun berteriak panik sambil memanggil-manggil nama Dilla. Sesaat kemudian, mata gadis itu pun menutup perlahan.