My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/89



"Mas, jangan lupa, ya!" Dilla kembali mengingatkan Riza akan janjinya untuk menjemput Dilla di kampusnya nanti sore.


"Iya," sahut Riza menanggapi.


Dilla tersenyum ceria dan bersenandung lirih di samping Riza hingga membuat Riza turut tersenyum saat melihat kebahagiaan di wajah istrinya.


Sesaat kemudian, mobil pun berhenti tepat di depan kampus. Dilla segera melepas sabuk pengamannya lalu meraih tangan Riza dan mencium punggung tangan suaminya itu dengan lembut. Perlakuan Dilla kali ini membuat Riza terpaku. Pasalnya Dilla memang tidak pernah mencium punggung tangan suaminya itu jika bukan Riza sendiri yang memintanya.


Wajah Riza semakin membeku saat tiba-tiba Dilla mengecup pipi Riza sesaat setelah melepaskan tangannya dari Riza. Dilla kembali tersenyum dengan manisnya. Kelakuan Dilla sejak pagi tadi benar-benar membuat jantung Riza marathon berulang kali.


Senyum indah pun masih terpatri di wajah Riza meskipun Dilla telah melangkah jauh memasuki kampus.


-------


Di rumah sakit, Thomas tampak menunggu Aldrich yang masih terbaring lemah di ICU. Ia mulai berharap-harap cemas. Benar-benar takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada tuannya mengingat penyakit mematikan yang diidap oleh tuannya itu merupakan salah satu pembunuh nomor satu di dunia.


Thomas segera menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU. Pria paruh baya berjas putih itu pun menjelaskan kepada Thomas sambil berjalan menuju ruangannya.


Di parkiran rumah sakit, langkah Riza terhenti saat merasakan getaran dari balik saku celananya. Dengan cepat, tangannya segera meraih ponsel yang terselip di sana lalu menjawab panggilan tersebut.


"Halo," ujarnya sambil kembali berjalan.


"Halo, selamat pagi bapak Riza. Maaf pak, kami ingin menyampaikan kabar kepada bapak bahwa Joe, pelaku pembunuhan salah satu karyawan di rumah sakit bapak telah kabur dari penjara kemarin malam."


"Apa?!" Mata Riza membelalak kaget. Langkahnya terhenti kembali.


"Pihak kepolisian masih berusaha untuk terus mengejar pelaku. Kami minta agar bapak dapat berhati-hati."


Riza menarik nafas dalam, mencoba menstabilkan keterkejutannya. "Baik, Pak. Terima kasih atas informasinya."


"Sama-sama, Pak. Selamat pagi."


Riza segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana sesaat setelah panggilan tersebut berakhir. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju lift sambil memikirkan kejanggalan yang terus saja terjadi perihal kematian Sofyan.


Riza kembali teringat dengan kata-kata Joe pasal keluarga besarnya dan keluarga besar Wijaya. Raut wajah dan sorot mata Joe saat itu benar-benar menunjukkan rasa bencinya terhadap dua keluarga besar tersebut. Riza pun mulai cemas dan khawatir.


Pikirannya terbang jauh hingga tidak mendengar suara Andyra yang meneriaki namanya sedari tadi. Andyra sedikit berlari lalu menepuk bahu Riza, membuat Riza tersentak dan menoleh ke belakang.


"Astaga. Kamu melamun, Riza?!"


"Tidak. Aku hanya sedang berpikir," jawab Riza singkat.


"Mikirin apa?" tanya Andyra penasaran sambil terus berjalan bersisian dengan Riza menuju ke arah lift.


Sampai pintu lift membuka dan menutup kembali, Riza tidak kunjung berbicara hingga membuat Andyra kembali menepuk pelan bahu sahabat kesayangannya itu. Riza tersentak lalu menoleh.


"Mampir ke ruangan aku dulu, yuk. Ada yang mau aku omongin sama kamu."


"Hemm."


Mereka segera melangkah menuju ruang kerja Andyra. Andyra segera duduk di sofa setelah menghidangkan segelas teh hangat di atas meja.


"Terima kasih," ujar Riza tanpa menoleh pada Andyra. "Kamu mau bicara apa?" tanya Riza kemudian. Riza terlihat gelisah.


Melihat gerak-gerik tak biasa dari Riza. Andyra pun segera menyuruh Riza agar meminum teh hangat yang dihidangkannya terlebih dahulu agar Riza dapat lebih tenang. Dengan perlahan, Riza meneguk air tersebut.


"Bicaralah." Riza segera menyuruh Andyra berbicara sesaat setelah meneguk habis tehnya.


Andyra menatap wajah Riza, "Bagaimana kabar istri kamu?"


"Baik."


Andyra menelan ludahnya berat, saat merasakan aura dingin terpancar dari wajah Riza. "Emm." Andyra tampak gugup dan takut. "A-a-apa kalian masih bertengkar?. Kalau iya, aku bersedia menjelaskan pada istri kamu masa--"


"Tidak perlu. Kami sudah baikan," sambar Riza seketika.


"Syukurlah." Andyra menghela nafas lega. "Awalnya aku sempat takut. Takut kalau kalian masih bertengkar hebat karena kesalahpahaman waktu itu. Selama tiga hari ini aku terus memikirkan tentang kalian...."


"Apa sebenarnya yang mau kamu bicarakan?" tanya Riza dingin.


Andyra terhenyak saat mendengar kata-kata dingin Riza terhadapnya. Riza tampak berbeda dari Riza yang ia kenal. Riza yang selalu berbicara hangat kini tampak dingin dan kaku. Sungguh menyakitkan melihat perubahan sikap Riza itu.


"Aku minta maaf, Riza. Aku benar-benar minta maaf. Aku tahu tidak sepantasnya aku berbicara seperti itu sama kamu. Aku menyesal. Tolong jangan bersikap dingin seperti ini padaku. Bukankah kita ini sahabat?"


"Kamu yakin kita hanya bersahabat?!" sarkas Riza yang seketika membuat Andyra terdiam.


Riza melanjutkan, "Lebih baik kita menjalin hubungan secara profesional saja. Hubungan sebatas rekan kerja. Aku tidak mau membuat hati istriku terluka lagi dengan adanya hubungan lain seperti yang kamu sebutkan tadi." Riza menarik nafas dalam. Merasa berat mengucapkan kata-kata yang pastinya akan membuat Andyra terluka. Namun, saat mengingat bagaimana terlukanya hati Dilla tempo hari, membuatnya harus menguatkan hati untuk merelakan sahabat satu-satunya itu jauh dari hidupnya.


"Aku benar-benar minta maaf, Riza." Air mata seketika menetes dari sudut mata Andyra.


Riza menatap manik mata Andyra yang telah basah. "Tenanglah, aku sudah memaafkanmu. Tapi aku mohon lupakanlah aku, Andyra. Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf karena telah menumbuhkan rasa cinta menyakitkan itu di hatimu." Riza menautkan alisnya, masih menatap mata Andyra. "Sadarlah Andyra, aku sudah menikah dan kamu juga tahu, aku sangat mencintai istriku."


Riza berdiri dari duduknya. "Aku sudah mengatakan apa yang harus aku katakan. Aku permisi." Riza melangkahkan kakinya mantap.


Riza memutar tubuhnya lalu berdiri menghadap Andyra. "Karena dia adalah istriku," ucap Riza singkat. Ucapan yang mampu menggetarkan hati Andyra dan hati siapa saja yang mendengarnya.


Sesaat kemudian Riza berbalik lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Andyra. Pergi meninggalkan Andyra yang tampak menangis terisak di ruangannya.


-----


Di kampus, Dilla menyapa Kiki yang sedang menikmati sarapan di kantin. Kiki memandang wajah ceria Dilla yang menurutnya tidak seperti biasa. Kiki pun mulai menginterogasi Dilla bak seorang detektif. Bertanya ini dan itu pada Dilla tiada henti. Untung saja Dilla berhasil berkilah dengan lihainya hingga membuat Kiki merasa frustasi dan akhirnya Kiki pun menyerah lalu segera mengganti topik pembahasan mereka pagi itu.


Kiki menyodorkan ponselnya pada Dilla. Kiki meminta saran dari Dilla pasal produk kecantikan terbaru yang ingin dibelinya dari salah satu situs belanja online yang sangat ramai digandrungi oleh banyak orang. Kebetulan produk kecantikan yang ingin dibeli Kiki memang banyak peminatnya pasalnya model iklan yang menjadi brand ambassador produk tersebut sangatlah cantik dan seksi.


Dilla pun ikut tergiur dengan tawaran Kiki saat Kiki mengajak Dilla untuk membeli produk kecantikan tersebut dengan iming-iming kulit wajah dan tubuh Dilla akan semakin kinclong bak porselen jika ia memakai produk tersebut dengan begitu otomatis membuat Riza semakin bertambah cinta pada Dilla dan lengket terus seperti prangko. Dilla pun mulai berkhayal indah.


Sesaat kemudian, khayalan Dilla terjun bebas dan merosot tajam bak perosotan saat Kiki menampilkan siapa sosok brand ambassador produk kecantikan tersebut. Wajah Nana pun muncul di gawai yang di pegang oleh Kiki.


Wajah Dilla langsung berubah kesal saat mengingat bagaimana kurang ajarnya sikap Nana tempo hari. Seketika Dilla pun mengurungkan niatnya untuk membeli produk tersebut. Namun, Kiki terus memberondong Dilla bak sales marketing handal agar mau membeli produk yang ia tawarkan.


Awalnya minta saran. Ujung-ujungnya malah jualan. Dasar Kiki.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Dilla pun setuju. Meskipun uang yang dimiliki Dilla saat ini pas-pasan tapi demi Riza, ia pun rela pulang dengan naik angkutan umum nantinya sebab jatah ongkos untuk naik ojek online akan ia gunakan untuk membeli produk tersebut.


"Deal or No deal?!" ujar Kiki lagi-lagi dengan gaya sok bulenya.


"Deal!" sahut Dilla lantang.


Akhirnya pesanan produk pun telah disetujui bersama.


------


Beberapa jam kemudian, jam dinding sudah menunjukkan waktunya makan siang. Pejuang di perut Riza pun sudah mulai berontak minta untuk dinafkahi. Riza pun segera bergerak untuk mengambil kotak bekal makan siang yang dibawanya tadi pagi. Kotak makan siang yang telah dipersiapkan oleh istri kesayangannya.


Riza segera menegakkan posisi duduknya di sofa dan mulai membuka kotak makan siangnya. Riza tampak tersenyum simpul sesaat setelah membuka kotak makan siang tersebut.


"Bagaimana aku bisa makan, kalau kamu menaburkan banyak cinta di atas makan siangku!" gumamnya lirih sambil memandangi kotak makan siangnya yang penuh dengan sayuran dan lauk berbentuk hati di sana sini yang memang sengaja dibentuk Dilla sedemikian rupa khusus untuk Riza.


Sesaat kemudian, Riza tersenyum manis sambil mulai memakan makan siangnya perlahan.


Sebuah notifikasi chat masuk ke ponsel Riza. Sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya, Riza merogoh ponsel dari balik saku celananya.


-------


Di kampus, terlihat Dilla sedang sibuk dengan ponselnya. Menatap layar ponselnya sambil senyam-senyum tak jelas.


12.10 |Mas?!| ✓


12.12 |Lagi apa?| ✓


12.14 |Udah makan?| ✓


Dilla mengerutkan dahinya, "Kok ndak dibaca, ya?" tanyanya kemudian pada dirinya sendiri.


12.17 |Mas?!| ✓


12.18 |Mas?!| ✓


12.20 |Halo. Permisi. Ada orang?| ✓


12.30 Mas Riza♥️[mengetik...]


"Akhirnya di baca!" Dilla tersenyum.


Lima belas menit berlalu, Dilla menggumam tidak sabar di depan layar, "Ya Ampun. Lama banget sih, ngetiknya."


Dilla melihat berulang kali ke arah ponselnya dengan tatapan gusar dan kelimpungan sebab Riza yang tidak kunjung membalas chat darinya. Kiki pun sedikit melirik ke arah Dilla.


Karena jenuh, Dilla pun menghempaskan ponselnya dengan kasar di atas meja hingga membuat Kiki yang sedang duduk disamping Dilla sedikit terperanjat.


Tiga puluh menit berselang, ponsel pun berbunyi nyaring. Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Dilla. Dengan cepat, Dilla pun segera meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kantin sambil tersenyum.


13.15 Mas Riza♥️ |Hemm.|


Seketika Dilla mewek lalu memutar tubuhnya memeluk Kiki yang sedang duduk di sampingnya. Kiki pun menatap wajah Dilla heran sesaat sebelum membalas pelukan sahabatnya itu.


"Kamu kenapa, Dilla?"


"Hu..hu..hu, kapan produknya sampe, Ki?"


"Nanti sore. Kamu kenapa, sih?"


"Aku mau pakai produk itu secepatnya!. Ndak mau tahu!" ujar Dilla masih memeluk Kiki sambil mewek.


Kiki pun segera mengelus pundak sahabatnya dengan lembut dan berujar sebijak mungkin untuk menenangkan sikap aneh sahabatnya itu.