
Pagi hari pun menjelang, Riza tersentak saat merasakan hembusan hangat menyentuh wajahnya. Matanya membola mendapati sosok seorang gadis sedang tertidur lelap di depannya.
Gadis itu terlihat sangat lelah. Hingga tidak menyadari bahwa matahari sudah menyapanya sedari tadi.
Riza mengerjap memandang wajah gadis itu lekat. Seketika dahinya mengernyit, tiba-tiba ia ingat sesuatu.
"Dia--" Kalimatnya menggantung saat merasakan sesuatu yang aneh serasa menggelitik dadanya.
Alisnya semakin bertaut, tatapannya terkunci pada gadis yang masih mendekap tubuhnya kini. Ia memindai setiap lekuk wajah lelap didepannya itu dengan sebuah senyuman tipis.
Hatinya seketika bahagia, tenang dan hangat. Sekelumit perasaan yang sudah sangat lama ia rindukan. Tanpa sadar, jemari Riza sudah membelai wajah gadis didepannya dengan air mata yang tiba-tiba menetes dari sudut mata teduhnya.
"Apa gadis ini benar-benar istriku?" Riza menyeka air matanya sambil menggumam saat mengingat pengakuan Dilla tempo hari.
Tanpa sengaja, matanya tertuju pada cincin putih yang dikenakan olehnya, cincin pernikahan yang melekat indah dijari manis Riza. Sedetik kemudian, Riza melihat cincin yang sama melingkar pas di jari manis Dilla.
Riza mengulurkan tangannya tepat menggenggam jemari lembut gadis itu. Mencermati lingkaran cincin indah yang baru saja ia sadari. Fokusnya terpusat disana.
Sekelebat bayangan tiba-tiba muncul dan menghentikan gerakan tangan Riza yang semakin menggenggam erat jemari gadis didepannya.
Potongan momen kebersamaan Riza dan Dilla beradu dengan peristiwa menyakitkan yang pernah dialami olehnya. Keringat dingin pun seketika membasahi wajahnya.
Bayangan yang semula samar, lama-kelamaan tampak jelas dan terus berputar hingga membuatnya jadi merintih kesakitan. Kepalanya seakan berputar seiring putaran momen yang saling bermunculan tumpang tindih satu sama lain.
Dilla terperanjat saat mendengar rintihan dari bibir Riza. Matanya langsung membuka lebar seketika. Secepat kilat, ia bangkit dari tidurnya.
"Mas, kenapa?" Dilla menatap cemas pria didepannya.
Riza tak menjawab. Suara rintihannya terdengar lebih menyakitkan dari sebelumnya. Rasa sakit dikepalanya serasa mencekik dan menusuk hingga ke tulang. Otot wajahnya menegang dengan irama jantung yang berdetak tak karuan.
Melihat itu, dengan cepat Dilla berlari keluar kamar. Baru selangkah berjalan dari dalam kamar, mami sudah berdiri tegak didepannya dengan sorot mata tajam seolah akan melahap dirinya saat itu juga.
Plak!!!
Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi gadis itu. Suara telapak tangan yang beradu dengan kulit wajah gadis itu seketika menggema, hingga menarik perhatian beberapa orang yang berjalan disekitarnya.
Suasana pagi berubah riuh dan ricuh, semua orang saling berbisik-bisik melihat ke arah mami dan Dilla.
Pipi Dilla memerah, bekas tamparan tercetak jelas di sana akan tetapi gadis itu tak bergeming akan amukan ibu mertuanya yang terus saja berteriak dan memakinya dari belakang. Ia terus saja berjalan menjauh dengan langkah terburu sambil memegang pipinya yang terasa perih, menuju ke arah nurse station untuk memanggil perawat dan dokter.
Suara rintihan Riza, menghentikan amukan mami. Mami segera masuk ke dalam kamar untuk melihat kondisi puteranya.
"Riza. Riza, kamu kenapa sayang?" ucap mami khawatir.
Riza meringkuk di ranjang sambil memegangi kepalanya yang terasa amat sakit itu. Ia kembali mengerang menahan rasa sakit yang menyerangnya saat ini.
Beberapa saat Riza terdiam, lalu menjerit histeris. Kaki panjangnya menendang-nendang gelisah bagian bawah ranjang. Wajahnya memucat dengan sorot mata melukiskan ketakutan yang amat sangat.
Mami segera menarik Riza dalam pelukannya. Mencoba meredakan emosi Riza yang sepertinya akan kembali meledak. Benar saja, baru dua kali tepukan didaratkan di pundak pria itu, pria itu sudah mendorongnya dan mulai meracau tak terkendali.
"Pergi. Pergi," pekiknya sambil terisak dan memeluk kedua kakinya.
"Jangan. Jangan."
Mami kembali mendekat ke arah Riza bersamaan dengan kedatangan sejumlah perawat dan dokter yang baru saja memasuki ruangan disusul kemunculan Papi, Dilla, Niko dan Dendi dari belakang.
"Jangan. Jangan," racau Riza lagi.
Langkah mereka terhenti tepat didepan pintu. Niko dan Dilla saling berpandangan sesaat sebelum Dilla melangkah mendekat ke arah Riza yang mulai mengamuk dengan kemarahan yang tergambar jelas di wajahnya.
Riza mendorong semua orang yang mendekat ke arahnya dengan sorot mata tajam dan menakutkan. Sambil berjalan Dilla memperhatikan setiap gerakan Riza yang sepertinya sedang diluar kesadaran dan akal sehat.
Dahi Dilla mengernyit, ia menyadari sesuatu saat itu juga. Ekspresi dan tatapan mata Riza benar-benar berbeda dari biasanya.
Aku pernah melihat ekspresi itu sebelumnya. Jangan-jangan. Apa dugaanku benar?. Ya Allah, ada apa dengan suamiku?
Amukan Riza semakin menjadi-jadi hingga dokter dan perawat pun sudah tak mampu lagi mengendalikan dan menenangkan Riza.
"Lepas. Lepas," teriaknya saat tangan seorang perawat mencengkeram lengannya.
"Tenanglah, Pak. Tenang."
Perawat tadi mencoba menenangkan Riza sedang perawat yang lain perlahan mendekat dengan membawa sebuah jarum suntik di tangannya. Riza menatap benda itu tak berkedip dan penuh dengan kegusaran. Ia terus meronta hingga membuat perawat yang mencengkeram lengannya tadi jadi sedikit kewalahan.
Perawat itu langsung berteriak kencang saat tiba-tiba Riza menggigit punggung tangan perawat tersebut hingga berdarah lalu mendorong tubuh perawat itu ke arah perawat yang satunya hingga kedua perawat itu jatuh terjerembab ke lantai.
Dilla segera berlari ke arah Riza dan dengan cepat mencekal lengan suaminya itu saat akan melemparkan sebuah lampu tidur yang ada di sisi nakas ke arah dua perawat tadi.
"Berhenti, Mas. Berhenti!" serunya tegas dan lembut tepat menatap mata Riza dalam.
Riza tersentak dan terdiam sejenak. Tatapan mereka terkunci lama. Tak ada suara apapun dari mulut keduanya. Hanya hembusan nafas mereka yang beradu untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya saat ini.
"Pergi!!"
Riza mendorong Dilla hingga terjatuh ke lantai.
"Kalian semua orang jahat. Pergi. Pergi!!!" pekiknya seperti orang kesetanan.
Riza diam sejenak, menatap kilauan cincin putih yang tersemat di jari manisnya saat tangannya sudah sampai setinggi kepala dan bersiap melemparkan sebuah lampu tidur ke arah Dilla. Riza menatap cincin itu lama. Sekelebat bayangan kembali muncul.
Riza kembali memegangi kepalanya yang terasa nyeri sesaat sebelum melayangkan sebuah lampu tidur ke arah Dilla yang tengah tersungkur di lantai. Mata Dilla membulat diiringi jeritan kencang dari orang-orang yang ada disekitarnya.
Prang!!!
Suara rintihan terdengar dari mulut Dilla, saat pecahan lampu melesat dan melukai lengannya. Untungnya lemparan pria itu tidak tepat mengenai tubuhnya.
"Stop, Mas. Berhenti!" teriak Dilla segera bangkit dari duduknya seraya memegangi lengannya dengan darah yang sudah menetes sedikit demi sedikit dari sana.
Riza menghentikan niatnya yang bersiap untuk melompat saat melihat kaca jendela yang sudah terbuka lebar dihadapannya.
Sebuah perasaan kuat, memaksanya untuk membalikkan tubuhnya. Perasaan itu pula yang menghentikan keinginan kuat dari dalam dirinya untuk terjun dari atas dan mengakhiri hidupnya seketika.
Ia memutar tubuhnya menghadap Dilla lalu kembali mengacak rambutnya sesaat sebelum matanya melirik lengan Dilla yang terluka.
"Darah. Darah. Darah." Riza mundur selangkah dengan telunjuk yang terus mengarah pada darah yang berjatuhan di lantai.
Dilla mulai berkaca-kaca, mencoba menahan tangisnya sekuat tenaga. Dadanya bergerak naik-turun, mencoba menstabilkan tarikan nafasnya. Hatinya sangat terpukul saat ini. Sepertinya apa yang dipikirkannya benar adanya.
Hatinya berkecamuk saat akal sehatnya menyadari kalau pria yang ia cintai itu sedang dalam kondisi sakit. Sakit yang mengganggu mental dan jiwanya saat ini.
Didengarnya racauan Riza yang tiada henti dengan kaki yang terus saja berjalan mendekat disertai dengan tatapan tidak percaya di matanya.
Sikap dan perilaku Riza saat ini tampak sama persis seperti sikap ibunya dulu yang sempat kehilangan kewarasannya karena tidak mampu menerima kematian ayahnya yang tiba-tiba.
"Jangan. Jangan mendekat." Racauan itu kembali menggema.
Tinggal selangkah lagi, Dilla akan mampu merengkuh tubuh pria didepannya.
Riza mundur perlahan sambil terus menatap darah yang bercucuran di lantai. Tatapannya tak teralihkan sedikitpun dari sana.
"Mas. Ini saya Dilla. Istri kamu, Mas."
Riza diam lalu menengadah dan menatap lawan bicaranya saat ini. Hening.
Semua orang memusatkan perhatian mereka pada interaksi kedua orang itu.
"Bohong. Kalian semua pembohong!" pekiknya tiba-tiba.
"Tenanglah, Mas. Saya ini istri, Mas." Dilla mengulurkan tangannya ke arah Riza.
"Istri?!" lirihnya hampir tak terdengar.
Sedetik kemudian, Riza berteriak histeris. Sekelebat bayangan kembali muncul berseling dengan cepat.
Dilla segera merangkul Riza dengan erat saat mendengar teriakan suaminya yang semakin menjadi-jadi.
Hembusan nafas tak beraturan dan tubuh gemetar Riza dapat dirasakan jelas oleh Dilla. Bulir bening menetes dari sudut matanya, mengalir deras seiring dengan pelukannya yang semakin mengerat. Gadis itu ikut terisak saat mendengar suara isakan bercampur teriakan lirih terdengar di telinganya.
Teriakan Riza itu pun perlahan berhenti tepat sebelum Riza akhirnya terjatuh tak sadarkan diri dalam pelukan Dilla.
-------
"Begitulah Dilla, itulah keadaan Riza yang sebenarnya," tutur Dendi sesaat setelah diburu pertanyaan panjang lebar dari Dilla.
Dilla terpaku. Oksigen terasa sulit untuk menjangkau otaknya saat ini. Otak yang selama ini dibanggakannya terasa membeku saat mencoba mencerna setiap penjelasan Dendi padanya sejak setengah jam yang lalu.
Tanpa basa-basi, Dilla segera berjalan lemah ke arah kamar Riza diiringi narasi yang terus terngiang di telinganya.
"*Riza itu sakit. Jiwanya sedang terganggu saat ini. Emosinya sudah tidak terkendali."
"Kenapa bisa begitu, Om?"
"Riza kehilangan orang tua kandungnya saat ia baru akan memasuki usia 15 tahun. Tepat di hari ulang tahunnya, Riza menyaksikan kedua orangtuanya tewas tertembak didepan matanya. Padahal hari itu merupakan hari spesial untuk Riza. Hari yang selalu ditunggu-tunggu oleh Riza setiap tahunnya."
"Apa?!. Orang tua?"
"Iya. Sebenarnya Dirwan dan Anita bukanlah orang tua kandung Riza. Sejak kejadian itu, Riza jadi depresi berat. Riza selalu ketakutan dan bertingkah aneh diluar akal sehat, hingga akhirnya dua belas tahun yang lalu, om menanamkan sebuah ingatan palsu di otak Riza untuk menyembuhkan penyakitnya dan mengubur dalam-dalam ingatan buruk dari pikirannya."
"Apa?!. Ingatan palsu?"
"Iya, Dilla. Om tidak pernah menyangka, kalau memori ingatan yang sudah om kubur di alam bawah sadar Riza akan kembali muncul hingga membuat akal sehatnya benar-benar terganggu saat ini*."
Narasi itupun terus terngiang sepanjang langkah Dilla saat ini.
Hingga akhirnya, langkah itu terhenti tepat di depan pintu kamar Riza. Ia berdiri tegak di balik pintu yang setengah terbuka didepannya. Dorongan tangannya membuka lebar pintu itu.
Terlihat Riza kembali meronta setelah satu jam yang lalu ia siuman dari pingsannya. Teriakan histeris itu pun kembali berkumandang mengiris pilu hati Dilla saat ini.
"Lepas. Lepas!!" teriaknya pada dokter saat dirinya kembali menolak suntikan obat penenang yang akan diberikan padanya.
Riza meronta dengan tangan dan kaki yang sudah terikat kuat di tiap sudut ranjang.
Riza terisak, "Om.. Tante... Tolong Riza, Riza takut. Riza janji nggak akan nakal lagi. Riza janji," Menghiba dengan suara paraunya.
Mami dan papi terdiam, tak mampu bersuara. Begitupun dengan Dilla yang menangis pilu ketika kedua matanya melihat dengan jelas seperti apa penderitaan suaminya saat ini.