
Sebuah mobil Mini Cooper terparkir sembarang di basement area parkir gedung perkantoran milik Irfan. Sang pemilik mobil yang tak lain adalah Nana terlihat membuka pintu mobilnya dengan kasar kemudian melangkahkan kakinya cepat. Ia tampak terburu-buru.
"Telat deh gue!. Bisa ngamuk tuh cowok stres kalau sampai gue ketahuan telat!" gumamnya lirih seraya mempercepat langkah kakinya menuju lift.
Nana menunggu di depan pintu lift dengan tidak sabar. Nana segera bergegas masuk sesaat setelah pintu lift membuka lebar.
Di dalam lift, tampak sebagian karyawan pria memandang tubuh bagian belakang Nana dengan tatapan genit. Nana yang terburu-buru, sepertinya tidak memperhatikan tatapan nakal beberapa karyawan pria yang dengan setia berdiri memandang setiap inci bagian tubuhnya sejak tadi.
Lekukan tubuh indah Nana yang dibalut stelan kemeja putih ditambah dengan rok mini ketat itu pun langsung menjadi sarapan pagi beberapa karyawan pria yang ada di sana. Paha putih mulus dan kaki jenjang Nana membuat para karyawan pria menatapnya tak berkedip. Sesaat kemudian, tubuh tinggi seorang pria tampak berdiri tegak di belakang Nana berusaha menutupi pandangan nakal para pria genit yang berdiri di belakangnya. Tangan kekarnya menyampirkan sebuah jas hitam di bahu sempit Nana.
Nana terperanjat saat merasakan sebuah benda berat menghampiri bahu kecilnya. Seketika ia menoleh. Matanya melebar saat melihat sosok Niko yang tengah berdiri di belakangnya.
Niko berdehem pelan tanpa menoleh ke arah Nana, "Baju apaan yang loe pake?. Loe mau ke kantor atau mau ke klub?"
Nana menautkan alisnya, "Maksud loe?" ujarnya seraya membuka jas Niko yang masih menggantung di bahunya.
Niko menyampirkan kembali jasnya di bahu Nana, "Inget. Kalau di kantor, gue atasan loe. Jadi, loe panggil gue 'Ba-pak'," ujar Niko penuh penekanan.
Nana kembali menarik jas Niko dari bahunya, "Sepertinya saya tidak perlu jas bapak. Silahkan bapak ambil," ujar Nana dengan menggertakkan giginya kesal.
Niko menyampirkan kembali jasnya pada Nana, "Jas gue ini masih baru. Nggak ada kutunya. Lebih baik, loe pake aja!. Risih gue, ngelihat cowok-cowok mesum di belakang loe!" ujar Niko sedikit berbisik.
Nana menoleh ke belakang. Sontak para karyawan pria di belakangnya memalingkan wajah mereka gelagapan.
Tak lama pintu lift pun terbuka. Mereka semua bergegas keluar menuju ruangan masing-masing. Tak terkecuali Nana dan Niko yang berjalan beriringan.
Nana menghentikan langkahnya lalu menoleh, "Bapak ngapain ngikutin saya?" tanyanya ketus.
Niko menautkan alisnya, "Idih. Siapa yang ngikutin!. Nggak usah kepedean deh, loe!" hardik Niko pada Nana. Nana menatap tajam ke arah Niko.
Sesaat kemudian, Niko melambaikan tangannya ke arah seorang pria yang terlihat sedang berdiri tegak di belakang Nana. Seketika mulut Nana menganga lebar.
Niko menghampiri pria tersebut dan tersenyum ramah. Tampak mereka berbincang sejenak sebelum akhirnya melangkah kembali.
Niko melirik sekilas ke arah Nana yang masih mematung tak berkutik sanking malunya.
Niko menghampiri Nana, "Besok-besok loe jangan sampai telat lagi. Awas loe!" bisiknya pada Nana.
Selanjutnya, Niko melangkah bersama pria yang ditemuinya tadi masuk ke dalam ruang kerjanya. Bersamaan dengan Nana yang menggerutu kesal sepanjang langkahnya.
Di tempat lain, Riza sedang menghadiri pertemuan dengan beberapa investor asing yang ingin mengadakan kerjasama dengan rumah sakitnya.
Riza menghadiri pertemuan hari itu dengan cukup lancar dan tenang. Riza terlihat berusaha mati-matian untuk tetap mempertahankan senyuman dan mood-nya saat menghadapi beberapa orang baru di sekitarnya. Beberapa saat berlalu, Riza mulai merasa tidak nyaman. Riza mengepalkan tangannya, berusaha menguatkan diri untuk bersikap senormal mungkin demi mensukseskan rencana kerjasama tersebut.
Tiga jam berlalu, akhirnya pertemuan selesai. Riza saling bersalaman sebelum melangkah pergi meninggalkan orang-orang asing tersebut.
Riza melonggarkan ikatan dasinya sesaat setelah ia tiba di kamarnya, "Ah!. Akhirnya aku dapat keluar dari tempat menyesakkan itu!" Riza duduk di tepi ranjang seraya memijat dahinya pelan.
Untuk mengembalikan energinya yang terkuras selama tiga jam tadi. Ia menyalakan televisi lalu menggonta-ganti siaran untuk mencari acara kartun kesukaannya. Riza memusatkan perhatian penuh pada acara kartun favoritnya sambil sesekali tertawa kecil.
Tiba-tiba ponsel Riza bergetar. Riza tampak malas meraih ponsel yang masih menyelip di saku celananya. Tak lama ponsel pun kembali bergetar. Setelah beberapa saat, Riza pun menarik ponselnya dari balik saku. Panggilan dari kepala bagian HRD tertera di layar.
"Halo. Ada apa?" jawab Riza malas.
"Halo, Pak Riza. Begini, Pak. Saya ingin memberitahu, barusan polisi menelepon. Mereka bilang, Sofian ditemukan tewas di dalam jurang. Dugaan polisi, dia dibunuh, Pak."
"Apa?!. Dibunuh?" Mata Riza membulat.
"Iya, Pak. Polisi sudah mencoba menghubungi bapak beberapa kali untuk meminta keterangan, tapi sejak tadi ponsel bapak tidak diangkat."
"Maaf. Saya tadi sedang rapat. Baiklah kalau begitu. Terima kasih informasinya."
"Selamat pagi."
Riza mengusap wajahnya kasar, merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Seribu pertanyaan perihal kematian Sofian mulai berkecamuk di benaknya. Membuatnya mulai menerka-nerka.
Beralih ke Ibukota, Dilla memulai rutinitas kuliahnya dengan mempresentasikan tugas Bahasa Inggris-nya di depan kelas. Dilla mempresentasikan tugasnya dengan menampilkan logat medok dan pelafalan yang cukup berantakan. Tak ayal, hal itu membuat seisi kelas terkekeh riuh. Suasana kelas terdengar ricuh mengolok-olok dirinya.
Saat presentasinya selesai, Dilla kembali ke kursinya dengan menundukkan wajahnya dalam. Ia menghampiri Kiki yang juga tampak menekuk wajahnya tak kalah dalam dari dirinya sebab ia telah terlebih dahulu mendapatkan ledekan dari teman-teman sekelas mereka saat mempresentasikan tugasnya di depan kelas sesaat sebelum Dilla. Roh mereka serasa tercabut dari raga.
"Ya Allah Gusti. Malunya aku, Ki!" gumam Dilla lirih.
Kiki menyahut pelan, "Sama!. Ampun deh, muka aku nih udah petak-petak kayak kontrakan!. Malu banget tau nggak!" kesalnya.
"Kira-kira kita dapat nilai berapa, ya?" tanya Dilla.
"Bodo amatlah sama nilai. Aku nggak peduli. Yang penting itu sekarang, muka kita mau taruh dimana ini?. Lihat tuh, mereka masih ngelihatin kita." Kiki mengedarkan pandangannya ke sekeliling bersamaan dengan Dilla.
Sesaat kemudian, mereka saling berpandangan dengan tampang dungu lalu kembali tertunduk dalam saat mengingat rasa malu mereka.
Kiki melanjutkan, "Lagian tuh dosen kenapa sih?. Masa tiap bulan selalu ngadain presentasi. Mana harus pake bahasa Inggris lagi. Sebel!"
Dilla menyikut sahabatnya itu, "Huussh. Jangan ngomong gitu!. Kalau pak dosen denger. Bisa kena marah kita, Ki!" ujar Dilla sedikit berbisik.
Kiki menatap tajam ke arah dosennya, "Biarin!"
Dosen menatap tajam ke arah Kiki seraya berdehem keras, "Eheemm!!. Please be quiet. Don't be noisy in my class."
[Tolong diam. Jangan berisik di kelas saya.]
Seketika mereka menutup mulut mereka rapat dengan menampilkan wajah dungu mereka kembali.
"Pak dosen bilang apa, Ki?" tanya Dilla saat menoleh ke arah Kiki.
Kiki menggeleng.
"Yah!. Aku kirain kamu ngerti!. Dasar!" timpal Dilla kemudian.
Kiki tertawa cekikikan melihat ekspresi Dilla yang cemberut kesal.
Sementara itu di tempat berbeda, Thomas tampak termenung memikirkan perihal pria mencurigakan yang semalam ditemuinya. Kecemasan tampak di wajahnya, saat mengetahui bahwa pria mencurigakan itu adalah seorang pembunuh bayaran yang sudah lama berkecimpung dengan dunia hitam.
Thomas mengetahui hal tersebut dari kenalannya yang kebetulan juga sering berlalu lalang dalam dunia gelap tersebut.
Dahi Thomas berkerut, "Pria itu sangat berbahaya. Aku harus lebih ketat lagi dalam menjaga Tuan Muda," gumamnya lirih.
Thomas terperanjat saat tiba-tiba tangan seseorang menyentuh bahunya. Dengan cepat, ia memelintir tangan tersebut. Matanya membulat saat melihat Aldrich ada di depannya tengah mengaduh kesakitan. Thomas pun segera melepaskan pelintiran tangannya.
"Apa yang Tuan lakukan?. Saya kan sudah katakan berulang kali, jangan mengejutkan saya tiba-tiba seperti tadi!" ujar Thomas dengan nada sedikit kesal.
Aldrich melotot tajam, "Kau marah padaku?!" Aldrich mulai mengintimidasi Thomas.
Thomas menundukkan kepalanya dalam, "Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu," ujarnya kemudian.
"Menyebalkan!. Aku ingin bicara padamu. Ikut aku!" Aldrich berjalan menuju sofa panjang yang ada di sudut ruang tamu. Thomas mengikuti langkah Aldrich.
Aldrich duduk bersila di sofa seraya menatap tajam ke arah Thomas, "Apa yang kau katakan pada Daddy?. Kenapa Daddy terus menerus mendesakku untuk pindah dari sini?. Jelaskan padaku, ada apa sebenarnya?" cecar Aldrich penuh selidik.
Thomas bungkam seribu bahasa. Matanya membulat dengan kepala yang semakin tertunduk dalam, tidak berani membalas tatapan Aldrich sedikitpun. Sementara itu, Aldrich masih menatap Thomas tidak sabar, menunggu kalimat apa yang akan terlontar dari mulut Thomas.