My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/93



"Mas. Bangun, Mas. Jangan buat saya takut." Dilla menangis terisak seraya mendekap tubuh lemah suaminya dengan air mata yang sudah meluap. Isakan tangis pun terdengar semakin pilu saat jemari lembutnya merasakan sekujur tubuh suaminya itu mulai mendingin.


"Tolong lebih cepat lagi Mas bawa mobilnya!" pekiknya sambil terisak ke arah Niko yang tengah berada di balik kemudi mobil.


"Mas. Bangun, Maaass!" Dilla kembali merintih memilukan, masih mendekap dan terus menerus mengusap wajah suaminya yang tak kunjung merespon sejak tadi. Riza tampak terkulai lemah di pangkuan Dilla.


"Dilla, kamu tenang, ya!" ujar Kiki yang berada tepat disampingnya.


"Gimana aku bisa tenang, Ki?. Mas... Kamu kenapa, Mas?" rintihnya pilu sambil terus mengusap wajah pucat Riza tiada henti tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun dari sana.


Nana dan Niko menoleh khawatir ke belakang, "Lo cepetan dong bawa mobilnya!" ketus Nana pada Niko. "Kasihan tuh pangeran gue!" tambahnya.


"Berisik lo. Ini juga gue udah gaspol!" timpal Niko.


Dilla terus saja terisak pilu di belakang. Kiki pun tidak mampu berbuat banyak, ia hanya menepuk pelan pundak Dilla untuk meredakan kepanikan sahabatnya itu.


Tak berapa lama, mobil pun akhirnya tiba di rumah sakit. Beberapa petugas medis segera membawa Riza menuju ruang IGD untuk memberikan pertolongan pertama.


Dilla segera memeluk Kiki sesaat setelah Riza dibawa masuk ke dalam ruangan.


Dilla tak henti-hentinya menangis di pelukan Kiki. Tubuhnya gemetar hebat dengan Mata yang telah basah dan memerah karena bulir bening yang tiada hentinya mengalir.


Kiki pun ikut menangis haru mendengar rintihan pilu dari mulut sahabatnya. Kiki dapat melihat dengan jelas bagaimana raut ketakutan dan kecemasan yang menyatu dalam sorot mata teman karibnya itu.


"Kamu tenang ya, Dilla. Mas Riza pasti bakalan baik-baik aja. Kita berdoa aja, ya." Lagi-lagi Kiki mencoba menenangkan.


Bukannya berhenti, Dilla justru semakin sesenggukan. Dadanya pun mulai terasa sesak menahankan air matanya yang tidak kunjung berhenti, Dilla benar-benar takut kehilangan Riza saat ini.


Tak jauh dari tempat Dilla berdiri, tampak Nana dan Niko menatap ke arah ruang IGD dengan tampang tak kalah cemas dan khawatirnya dari Dilla, sampai-sampai mereka tak menghiraukan panggilan telepon dari ayah Nana yang entah sudah berapa kalinya itu.


Dalam pikiran mereka berempat saat ini hanyalah Riza saja.


Tak berselang lama, dokter pun keluar. Mereka segera mengerubungi dokter yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?"


"Sebenarnya kondisi pak Riza baik, tidak ada masalah yang serius. Hanya saja...."


"Hanya saja apa, Dok?" tanya Dilla menggebu.


Dokter muda itu mengerutkan dahinya dan menarik nafas dalam. Ia diam sejenak seraya menatap singkat satu persatu orang dihadapannya.


"Maaf, kami mendiagnosa bahwa saat ini pak Riza sedang dalam keadaan koma."


Kalimat padat itu menguap bagaikan petir yang menyambar mereka di siang bolong. Semua orang membelalakkan matanya tidak percaya.


Jantung Dilla terasa melemah. Kata-kata dokter barusan, sungguh semakin menyesakkan dadanya yang sudah kian sesak sedari tadi. Tubuh Dilla seketika lunglai tak berdaya, pijakan kakinya ikut melemah dengan isakan tangis yang semakin menjadi-jadi saat itu juga.


"Mas, Rizaaaaaaa," teriak Dilla yang diiringi dengan tangis memilukan.


Kiki pun segera memeluk Dilla yang terlihat sangat syok untuk menguatkan hati sahabatnya.


Sementara itu, Niko masih menuntut penjelasan dari dokter. "Bagaimana itu bisa terjadi, Dok?. Bukannya Riza hanya pingsan?. Bahkan dia tidak mengalami cedera atau benturan apapun di kepalanya. Bukankah itu cuma bisa terjadi kalau dia mendapatkan trauma berat di kepalanya?"


Nana menoleh ke arah Niko heran. Pasalnya Niko tampak berbicara sangat formal, tidak seperti Niko yang biasanya.


Dokter sempat mengernyit bingung ke arah Niko, "Sepertinya anda paham benar dengan masalah medis." Dokter itu tersenyum. "Awalnya pak Riza memang dalam keadaan pingsan, akan tetapi setelah kami berikan rangsangan sedemikian rupa, anehnya beliau tetap tidak merespon apapun. Oleh karena itu, kami memberikan diagnosa seperti itu. Kita tunggu saja hasil pemeriksaan lebih lanjut. Saya permisi."


Dokter segera melangkah pergi, karena merasa belum puas dengan penjelasan dokter, Niko pun segera menyusul langkah dokter tersebut untuk meminta penjelasan lebih detail.


Nana sempat memanggil Niko berulang kali untuk menghentikan langkahnya mengejar dokter muda tadi. Alhasil, ia pun memutuskan ikut menyusul Niko dari belakang.


Di sisi lain, Dilla masih diam terpuruk di tempat duduknya. Tatapan matanya kosong. Bagaimana tidak, suaminya. Suami tercintanya itu kini tengah terbaring lemah tak berdaya. Rasanya ia tidak percaya dengan apa yang menimpa suaminya kini.


Ini pasti mimpi. Aku cuma bermimpi, batinnya pilu.


Ruang tunggu berukuran lumayan luas itu pun menjadi saksi bisu bagaimana hancur dan remuknya hati Dilla saat ini. Kata-kata dokter barusan terus terngiang di telinganya.


Kiki menggenggam erat punggung tangan Dilla seraya mengusap pundak sahabatnya itu dengan air mata yang juga ikut mengalir membasahi pipinya.


Tiba-tiba Dilla berdiri lalu bergerak ke arah ruangan didepannya. Langkahnya terhalang seketika oleh petugas yang berjaga di depan pintu.


"Maaf, ibu tidak diperkenankan masuk ke dalam," cegah petugas dengan sopan yang dibalas dengan tatapan tajam dari Dilla.


"Minggir!!!" bentaknya.


Bentakan Dilla sontak membuat Kiki terperanjat di belakang.


"Awaaasss!!!. Lepaaaasss!!!" teriaknya berulang kali sambil terus meronta-ronta tak terkendali.


"Minggir!!!. Suamiku sakiiit didalam. Dia pasti nyariin akuuu!!!!" teriaknya sambil terisak.


Kiki berusaha menenangkan Dilla dengan lembut, akan tetapi Dilla yang sudah kalap terus meronta tiada henti. Dilla yang biasanya lembut dan sabar terlihat sangat berbeda saat ini.


Dari jauh, Niko dan Nana terhenyak saat melihat Dilla yang terus menerus berteriak histeris seperti orang gila. Dengan cepat, mereka pun segera menghampiri Dilla.


Niko segera menarik Dilla ke arahnya, "Dilla, lo tenang. Tenang!!"


"Minggir!!!" tanpa sadar Dilla mendorong Niko sekuat tenaga hingga terjengkal.


Tiba-tiba Nana mendekat dan...


Plaakk!!!


Semua orang terdiam. Suasana berubah senyap.


Sebuah tamparan keras menghentikan amukan Dilla saat itu juga.


"Lo kira cuma lo doang yang hancur di sini?!. Semua orang disini itu juga panik dan sama hancurnya kayak lo. Suami lo itu masih koma, bukannya mati. Kita semua juga takut kehilangan Riza. Sebagai istri harusnya lo itu lebih kuat, supaya suami lo bisa bertahan sama kondisinya!!" tukas Nana pada Dilla yang berdiri tegak didepannya.


Dilla tampak masih memegangi pipinya. Tamparan dan ucapan Nana cukup membekas di hatinya.


Nana pun segera memeluk Dilla setelah menatap wajah memilukan didepannya itu beberapa saat.


"Nggak ada yang bisa kita lakuin selain berdoa. Cuma itu satu-satunya yang dibutuhkan Riza sekarang," ujar Nana dengan bijak sambil menepuk lemah pundak gadis didepannya. Bulir bening juga turut jatuh dari sudut matanya.


"Aku takut. Aku bener-bener takut!!" isak Dilla dalam pelukan Nana.


Mereka saling memeluk erat selama beberapa saat untuk meluapkan keresahan mereka masing-masing. Sementara, yang lain hanya mampu diam membisu di belakang mereka.


Nana segera menyudahi pelukannya setelah Dilla tampak sedikit tenang.


"Gimana?. Udah baikan?" tanya Nana kemudian.


Dilla mengangguk, "Terima kasih, Mbak."


"Udah gue bilang jangan panggil gue mbak. Emang tampang gue kayak mbak-mbak, apa?. Sembarangan lo," ketus Nana pada Dilla sambil memperbaiki make-up di wajahnya yang berantakan karena air mata.


Dilla hanya tersenyum tipis melihat ke arah Nana masih dengan raut kecemasan yang tercetak jelas di wajahnya. Akhirnya Niko dan Kiki dapat bernafas lega.


Sesaat kemudian, Niko tampak berjalan menjauh lalu segera menghubungi kedua orang tua Riza di Belanda.


"Halo, Om!" sapanya cepat saat panggilan telah tersambung.


"Iya. Ada apa, Niko?"


Niko menarik nafas dalam, "Anu. Riza masuk rumah sakit, Om. Kondisinya sekarang koma."


"Apa?!. Koma?. Bagaimana Riza bisa koma?. Apa yang terjadi sama putera, Om?"


"Begini, Om...."


Niko pun bercerita detail tentang kejadian yang menimpa Riza termasuk pesta kejutan ulang tahun yang sengaja dipersiapkan untuk Riza beberapa waktu lalu.


Mendengar hal itu, papi tampak melotot kaget. "Apa?!. Apa yang sudah kalian lakukan pada puteraku?!. Lancang sekali kalian melakukan itu!!"


Menyadari kemarahan papi, Niko pun segera berbicara, "Kita nggak ngelakuin apa-apa, Om. Niat kita cuma mau buat Riza seneng. Itu aja, Om. "


"Yang kalian lakukan itu bukan membuat Riza bahagia tapi justru sebaliknya. Pesta ulang tahun semacam itu bisa membunuhnya. Kalian tahu itu?!"


"Maksud, Om?"


Papi terdiam saat menyadari kalimatnya barusan.


"Halo. Halo, Om!"


Papi mencoba meredakan emosinya, "Om akan segera ke Jakarta. Om minta, kamu tolong jaga Riza baik-baik sampai om datang."


"Oke, Om."


Panggilan berakhir. Tampak Niko terdiam sejenak dan berpikir. Ia masih merasa ada yang aneh dengan kata-kata papi.


Kenapa pesta ulang tahun bisa ngebunuh Riza?. Kok Om Dirwan ngomong kayak gitu, ya?, Niko membatin.