My Introverted Author

My Introverted Author
MiA/90



Tak terasa hari sudah hampir menjelang sore hari, tinggal satu berkas lagi maka Riza sudah dapat mengakhiri pekerjaannya sore ini. Riza melirik sekilas jam di pergelangan tangannya kemudian segera merapikan berkas yang menumpuk di atas meja. Tak lupa ia pun segera mengganti jas putih dokternya dengan hoodie hitam miliknya. Tas ranselnya pun kini sudah melekat sempurna di pundak Riza.


Baru selangkah berjalan tiba-tiba Riza berhenti tepat sebelum menarik pintu ruangan. Ia meraih ponsel yang terselip di saku celananya kemudian menggerakkan jempolnya dengan cepat mengetikkan sesuatu di sana. Selanjutnya, Riza pun melangkah kembali.


Sesaat setelah ponsel kembali ke dalam saku, ponsel bergetar. Senyum manis terukir saat melihat nama istri kesayangannya terpampang di layar. Riza segera menggeser tanda berwarna hijau di sana lalu menegakkan ponsel mengarah ke wajahnya.


"Iya, istriku sayang," ujar Riza dengan senyum manis khasnya.


Iiih, manisnya suamiku, batin Dilla.


Dilla menatap wajah Riza di layar sambil tersenyum sumringah, "Suamiku sayang, sudah mau pulang?"


Riza tersenyum tipis, "Iya, ini aku sedang siap-siap. Kamu sudah selesai kuliahnya?" tanya Riza kemudian.


"Sudah. Mas jadikan jemput saya di kampus?" tanya Dilla memastikan.


Riza mengiyakan.


"Oh. Ya, sudah kalau begitu. Mas jemput saya di kostan Kiki saja, ya!. Saya tunggu. Hati-hati di jalan suamiku sayang." Dilla tersenyum sesaat sebelum mengakhiri panggilannya.


Riza membalas senyuman Dilla tak kalah manisnya lalu menaruh ponsel kembali ke dalam saku. Selanjutnya, ia menarik gagang pintu kemudian segera melesat ke luar ruangan menuju ke area parkir untuk mengambil mobilnya yang terparkir di sana. Sesaat setelahnya, mobil pun segera melaju meninggalkan parkiran.


Selang beberapa waktu, mobil pun berhenti tepat di depan kost Kiki. Dilla segera masuk, lalu duduk bersebelahan dengan Riza. Senyuman tak henti-hentinya mengembang di wajah cantik Dilla sejak ia melangkah keluar dari kamar kost Kiki beberapa waktu yang lalu. Senyuman aneh dengan sesuatu tersirat di dalamnya. Dilla tersenyum sambil sesekali melirik singkat ke arah Riza yang tampak berkonsentrasi di balik kemudinya.


"Mas?!"


"Hemm."


"Ndak jadi, deh." Dilla mesem-mesem.


Sementara itu, Riza menautkan kedua alisnya saat menilik sekilas guratan senyum di wajah Dilla.


Beberapa saat kemudian, tibalah mereka di depan rumah. Mereka segera melangkah masuk sesaat setelah pintu rumah terbuka. Riza memperhatikan langkah Dilla yang tampak berjalan dengan sangat terburu-buru saat menaiki anak tangga meninggalkan Riza di belakang.


Sesampainya di dalam kamar, Dilla mengunci pintu lalu bergegas menyimpan produk kecantikan yang ia beli di dalam lemari pakaian, takut Riza marah. Setelah selesai menyimpan produk tersebut, Dilla membuka pintu kembali tepat saat Riza berniat masuk ke dalam kamar.


"Kenapa pintunya dikunci?" tanya Riza penuh selidik.


Cepat-cepat Dilla merangkul lengan Riza lalu menyandarkan kepalanya di lengan kekar suaminya. "Ndak ada." Bohongnya yang langsung disambut dengan kerutan di dahi Riza yang masih menatap istrinya itu penuh selidik.


"Jangan bohong!" ucap Riza cepat dan tepat sasaran.


"Mmm. Mas mau minum apa?. Teh, kopi atau susu?" tawar Dilla tersenyum canggung, mencoba mengalihkan perhatian Riza yang mulai mencurigai gerak-geriknya.


"Jawab saja pertanyaanku!. Tidak usah mengalihkan pembicaraan." ujar Riza singkat sambil mengendurkan ikatan dasinya.


Dilla pun akhirnya mengaku pada Riza perihal produk kecantikan yang ia beli dan seperti dugaan Dilla, Riza pun mulai menceramahinya tiada henti meskipun Dilla sudah menceritakan semuanya. Dilla hanya mampu menundukkan kepalanya dalam saat mendengarkan semua ceramah Riza padanya.


"Jangan marah ya, Mas." Dilla mendongak penuh penyesalan sesaat setelah Riza menyelesaikan ceramahnya.


Sepertinya Mas Riza benar-benar marah, batinnya.


Riza masih diam tak bergeming. Dilla pun semakin mendekat. Ia meraih satu tangan Riza lalu menggenggam lembut jemari tangan suaminya itu berharap Riza akan melunak dan luluh.


Tiba-tiba Riza tertawa. Tertawa terbahak hingga membuat Dilla menjadi bingung dan menatap ke arahnya heran.


"Aku hanya bercanda. Ha..ha..ha." Riza mencubit gemas hidung Dilla yang membuat Dilla cemberut kesal.


Riza pun bergegas menghentikan tawanya saat melihat ekspresi wajah Dilla yang tampak sangat kesal.


Pelukan hangat pun segera mengerat di tubuh Dilla. "Istriku sayang, aku cinta kamu apa adanya. Aku suka semua yang ada di dirimu."


Senyuman tipis terbit di wajah Dilla saat lagi-lagi kalimat sapaan Riza terdengar ditelinganya. Jantung Dilla pun mulai berdebar kencang. Ia langsung membalas pelukan Riza tak kalah erat.


Riza melanjutkan sambil membelai lembut rambut istrinya, "Aku sudah tergoda meskipun kamu tidak memoles dirimu dengan apapun."


Kata-kata rayuan gombal Riza sontak membuat Dilla melayang di udara. Getaran cinta pun semakin dirasakannya hingga membuatnya mabuk kepayang. Ia pun tak kuasa mengendalikan diri dari perasaan hangat yang memabukkan itu.


Setelah beberapa saat mereka terhanyut dalam kehangatan yang menyebar di dada, tiba-tiba Dilla mengendurkan pelukannya lalu mencium pipi Riza sekilas. Selanjutnya, ia melompat ke atas tubuh Riza dan bergelantungan di sana hingga membuat Riza terperanjat kaget saat menahan berat tubuh mungil Dilla yang kini sudah menggantung di depan dadanya. Dilla bergelantungan sambil memeluk Riza dengan erat, Riza pun membalas pelukan Dilla. Mengeratkan pelukannya menggendong bayi besarnya itu.


"Mas?!" ujar Dilla lirih dalam pelukan Riza.


"Hemm." Riza mengusap lembut rambut Dilla yang masih bergelantungan manja di pelukannya.


Sesaat kemudian, masih dengan posisi bergelantungan manjanya, Dilla menatap mata Riza lekat dengan melingkarkan kedua lengannya di leher suaminya.


"Saya sayaaaaang sekali sama Mas. Sangat."


Riza membalas tatapan intens dari Dilla sambil tersenyum, "Aku juga sayang kamu melebihi diriku sendiri."


Dilla tersipu malu sambil menggigit bibir bawahnya saat lagi dan lagi ia mendengarkan ucapan manis Riza yang selalu berhasil membuat darahnya berdesir. Semburat merah pun muncul di sana. Semburat merah yang berhasil membuat Riza tak henti-hentinya menatap wajah Dilla yang terlihat sangat cantik dan menggemaskan itu.


Sesaat kemudian, tiba-tiba Dilla mengecup bibir Riza beberapa kali lalu tersenyum. Tanpa Dilla sadari, kecupan manisnya itu berhasil membuat gairah Riza seketika bangkit. Tatapan lembut Riza pun berubah menjadi tatapan penuh gairah.


Tatapan yang membuat Dilla sedikit bergidik takut saat menatap lekat kedua bola mata Riza yang terlihat sudah penuh dengan hasrat bergejolak dalam dirinya. Masih dalam posisi menggendong bayi besarnya, Riza meluncurkan beberapa kecupan di sekitar leher dan wajah Dilla yang sukses membuat jantung Dilla berdegup dengan kencang saat merasakan kecupan hangat Riza yang mulai berubah menjadi ciuman penuh hasrat bergejolak.


Riza segera membuka balutan kemeja di tubuhnya kemudian membuangnya asal ke sembarang arah. Dilla menahan tubuh Riza sesaat sebelum Riza menerjangnya.


"Mas, berhenti. Jangan sekarang, ini masih sore, Mas." Dilla berusaha menahan gerakan Riza yang mulai beringas.


"Aku tidak bisa menahannya lagi," sahut Riza dengan suara serak karena hasratnya yang kian memuncak.


Dilla kembali menahan tubuh Riza, "Iya, saya tahu. Tapi--" suara Dilla tercekat seiring gerakan cepat Riza yang tiba-tiba membungkam mulut Dilla dengan ciumannya.


Dengan cepat, Riza melucuti kemeja yang dikenakan oleh Dilla. Getaran luar biasa pun kembali dirasakan Dilla saat jemari tangan Riza mulai menyentuh setiap inci tubuhnya lalu kembali menggagahinya dengan lembut hingga menciptakan sensasi luar biasa yang lagi-lagi membuatnya melayang terbang sampai langit ke tujuh.


Sesaat setelah pergumulan penuh hasrat mereka berakhir, mereka pun segera membersihkan diri lalu menyegerakan shalat Maghrib. Kini mereka sudah duduk di atas ranjang sambil saling berpelukan erat satu sama lain. Lebih tepatnya, Dilla-lah yang memeluk Riza erat sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Lagi-lagi Dilla menempel bak perangko di dekat Riza.


"Berhenti memelukku. Ayo, kita makan malam. Aku akan memasakkan makan malam untuk kita."


Dilla menggeleng, "Mas disini saja. Saya masih mau peluk!" ujarnya sebelum kembali mendaratkan ciuman di bibir Riza. Ciuman hangat yang membuat Riza tersenyum lebar.


"Kalau kamu memelukku seperti ini, terus siapa yang akan memasak?. Apa kamu tidak lapar?"


"Saya ndak lapar. Saya maunya peluk Mas saja!"


Riza tersenyum tipis melihat sikap manja istrinya, "Ya sudah. Kita pesan makan malam saja. Aku akan pesan makanan kesukaan kamu."


Riza meraih ponsel di atas nakas lalu memesan makan malam untuk mereka.


"Memangnya Mas tahu makanan kesukaan saya?" ujar Dilla masih memeluk Riza dengan mesranya.


Riza mengiyakan.


"Mas tahu darimana?. Perasaan saya ndak pernah cerita." Dilla mengernyit bingung dalam pelukannya.


Riza tersenyum tipis. "Dasar pelupa. Kamu kan sudah pernah bilang sewaktu di restoran tempo hari." Riza tampak masih sibuk dengan ponselnya.


"Oh, iya. Saya lupa. Kalau Mas sukanya apa?" tanya Dilla kembali.


Riza menaruh ponselnya kembali ke atas nakas, "Aku?" Riza tampak berpikir. "Emm. Kamu," jawab Riza sambil tersenyum.


"Iiih. Masa saya disamain sama makanan."


Riza terkekeh. "Habisnya kamu enak. Rasanya gurih, lembut dan hangat. Buat aku jadi pengen makan kamu tiap hari,"


Dilla tampak mencerna kata-kata Riza.


Sesaat kemudian, Dilla melepaskan pelukannya. "Apa itu artinya, mas mau mencekik saya sampai mati, habis itu memakan saya. Begitu?"


Riza tampak menyeringai menakutkan. Seringai yang semakin membuat Dilla ketakutan. "Lebih kurang seperti itu."


Dilla memicingkan matanya tajam, menatap Riza penuh waspada. Sesaat kemudian, ia tersentak saat tiba-tiba Riza kembali mencubit hidungnya gemas.


"Aku hanya bercanda. Aku tidak mungkin melakukan itu. Jangankan untuk melakukannya, memikirkannya saja aku tidak berani. Jadi, berhentilah berpikiran mengerikan seperti itu. Mengerti?!" tambah Riza lagi.


Dilla tertawa, "Saya juga hanya bercanda, Mas. Saya tahu, mas ndak mungkin seperti itu. Mas 'kan cinta sama saya. Mas tahu, saya juga cinta sama mas bahkan saya tidak takut kalau harus mengorbankan nyawa sekalipun untuk mas."


Riza tersenyum bahagia. "Dasar gadis bodoh. Bicara apa kamu ini. Justru kamu lah nyawaku, kalau kamu mengorbankan nyawamu demi aku, bagaimana aku bisa hidup nantinya?"


Mereka berpelukan kembali.


"Mas?!"


"Hemm."


"Mau lagi. Boleh, ya?!"


Dilla melepas pelukannya lalu duduk di pangkuan Riza menghadap ke arah suaminya. Dilla bergelayut manja di dada bidang Riza dengan satu tangan yang mulai meraba tubuh yang masih berbalut handuk kimono tersebut kesana-kemari. Dilla tampak kembali menggoda Riza untuk kesekian kalinya hingga membuat Riza kembali mengernyit heran.


"Berhentilah menggodaku. Aku sudah tidak ada tenaga lagi untuk itu. Perutku sudah sangat lapar."


Dilla menghentikan tingkah nakalnya lalu menatap mata Riza lekat. "Kalau habis makan, gimana?. Saya mau lagi, Mas," ujarnya dengan suara manja.


Riza menggeleng. "Tidak bisa. Aku mau mengerjakan naskah novelku. Kamu 'kan tahu bagaimana cerewetnya Mas Irfan. Aku tidak mau mendengar ocehannya lagi."


"Kalau begitu, habis mengerjakan novel saja. Gimana, Mas?" Dilla terus menerus bernegosiasi dengan Riza untuk mau menafkahi batinnya kembali.


"Mau ya Mas?!. Ya. Ya!" paksanya sambil terus mengecup bibir Riza berulang kali hingga membuat Riza sedikit kewalahan.


Riza menangkup wajah Dilla, "Baiklah."


"Asyik!" Dilla kegirangan.


"Ya, sudah. Turunlah dari pangkuanku. Aku mau berganti pakaian. Sebentar lagi pesanan makanannya akan sampai."


Dilla pun segera menggeser tubuhnya dari pangkuan Riza kemudian melangkah mengikuti Riza menuju ruang ganti.