
Setelah lebih kurang setengah jam menempuh perjalanan dari ibukota Amsterdam, akhirnya Range Rover mewah yang dikendarai oleh Thomas sampai di kota Lisse.
Kota yang terkenal dengan produsen bunga-bunga berumbi itu kerap menawarkan kecantikan bunga tulip yang memang sudah sejak lama menjadi ciri khas dari kota tersebut.
Dari balik kaca jendela mobil yang kini sudah terbuka separuh, Dilla tak hentinya bergumam takjub dengan apa yang ada didepannya.
Sambil tersenyum ke arah luar, Dilla menggenggam punggung tangan Riza yang sedang duduk tepat disebelahnya, tanpa berkata apapun Riza kemudian menautkan jemari mereka seraya tersenyum manis ke arah gadis yang ada disampingnya.
Sementara itu, di kursi belakang, Henzhie tak hentinya berbicara untuk menarik perhatian Riza.
Namun, seperti biasa Riza diam dan mengacuhkan Henzhie. Sementara Dilla yang terlalu sibuk dengan ketakjubannya disana, terlihat tidak terlalu mempedulikan tingkah Henzhie.
Padahal Henzhie tampak sangat berapi-api untuk menarik perhatian Riza. Dengan harapan Riza akan menggubris dirinya dan memberikan kesempatan kedua untuknya.
Aldrich pun hanya mampu menggelengkan kepalanya karena tingkah Henzhie yang tidak ada habisnya itu, yang diikuti oleh deheman berat Thomas yang berada tepat disebelah Aldrich.
"Mas Riza. Lihat deh, bunganya cantik." Dilla berucap seraya tersenyum lebar.
"Iya. Bunganya cantik, tapi masih kalah cantik sama kamu," jawab Riza spontan.
Mendengar itu telinga Henzhie langsung terbakar.
Sesaat berikutnya, Dilla memutar tubuhnya dan menatap Riza dengan sebuah senyuman. Gadis itu mengunci tatapan pria didepannya tanpa suara.
Semilir angin yang berhembus, mengayun-ayunkan rambut panjang gadis bermata bulat itu. Sejenak waktu seolah berhenti saat kedua insan itu semakin menyelam dalam sorotan mata mereka masing-masing.
Aldrich melirik ke arah Riza dan Dilla sepintas lalu tersenyum simpul.
Masih dengan senyum simpul, Aldrich meraih ponsel di sakunya. Belum sempat Aldrich melihat layar, ponsel kembali berdenting.
Manik mata hazel Aldrich terus memantau durasi pergerakan video yang ia terima. Terlihat disana, dua orang pria sedang memasuki sebuah rumah dengan membawa sebuah kado yang cukup besar.
Dari belakang, kamera menyoroti langkah kedua pria tersebut. Kamera pun menyorot setiap sudut rumah. Ada hiasan pernak pernik dan balon berwarna-warni menghiasi rumah besar disana.
"Apa ini?!" Aldrich mengerutkan dahinya bingung. Namun, karena penasaran, Aldrich pun melanjutkan tontonannya.
Dari belakang dua orang itu terus berjalan dengan masih diikuti sorotan kamera dibelakang nya.
Kamera pun beralih menyoroti seorang anak kecil yang tampak berlari gembira ke arah kamera. Tak lama anak kecil yang tak dikenal Aldrich itu menabrakkan dirinya disana.
Terlihat sebuah kue tart diberikan kepada si anak kecil tadi. Wajah anak berkemeja putih itu terlihat sangat bahagia saat menerima pemberian dari si pemegang kamera didepannya.
Anak itu berbicara sesuatu ke arah kamera. Namun, tidak tau apa yang ia ucapkan sebab tidak terdengar suara apapun di video tersebut. Hanya uluran tangan yang tampak mengusap lembut helaian rambut hitam si anak kecil itu.
Senyuman Aldrich berubah seketika. Ia terlihat kaget dengan apa yang ia lihat di gawainya. Video tak bersuara itu, menampilkan sebuah kejadian yang tidak ia duga.
Tiba-tiba, dua orang pria yang sejak tadi membelakangi kamera, berbalik kemudian menembakkan pistol yang mereka genggam ke arah si pemegang kamera didepannya. Kamera pun sempat menyoroti wajah kedua pria itu sesaat sebelum jatuh ke lantai.
Sorotan sesaat dari kamera tersebut, membuat Aldrich dapat melihat dengan jelas wajah pria yang ada disana. Terlihat disana sang ayah bersama seorang pria tak dikenal menembakkan pistol mereka beberapa kali ke arah si pemegang kamera.
Kamera yang berisi rekaman video yang sedang Aldrich lihat saat ini membuat Aldrich terkejut bukan main.
Meskipun ia tahu bahwa ayahnya sangat kejam dan seolah mampu melenyapkan siapapun, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa ayahnya itu benar-benar membunuh seseorang.
Darahnya tiba-tiba berdesir, sesuatu seolah menusuk kedalam jantungnya. Jemari Aldrich mengepal kuat saat merasakan rasa sakit yang datang bersamaan dengan rasa nyeri tak tertahankan di dada sebelah kirinya.
Dengan wajah yang sudah memerah, Aldrich menahan rasa sakit itu. Cepat-cepat ia memutar tubuhnya membelakangi Thomas untuk menyembunyikan rasa sakit yang ia rasakan.
Thomas yang masih berkonsentrasi dengan kemudinya, tidak memperhatikan sama sekali ke arah samping tempat dimana Thomas berjuang melawan rasa sakitnya.
Dada Aldrich tampak bergerak naik turun tak stabil. Rasa sakit itu kian berubah menjadi rasa sesak yang menggerogoti dadanya. Sakit hingga menusuk ke tulang.
Peluh pun mulai membanjiri kemeja hitam yang dikenakan Aldrich. Dinginnya AC mobil saat ini, tak mampu meredakan keringat yang terus menetes di sekujur tubuhnya.
Sementara Dilla dan Riza terlihat semakin larut dalam suasana seolah dunia milik mereka berdua saat ini.
Rem dadakan dari Thomas, mengangetkan semua orang saat itu juga, tak terkecuali Riza dan Dilla. Sepertinya Thomas mulai menyadari apa yang tengah terjadi pada Tuan nya itu.
Dengan raut khawatir, Thomas melepas sabuk pengaman Aldrich kemudian menggoyangkan tubuh Aldrich yang sudah lemas tak sadarkan diri.
"Tuan Aldrich. Bangun Tuan!!" seru Thomas.
Dilla dan Riza saling berpandangan bingung. Sementara Henzhie dengan sigap turun dari mobil lalu menghampiri Aldrich di kursi depan.
Henzhie memeriksa denyut nadi Aldrich dengan seksama kemudian mendekatkan telinganya ke dada Aldrich untuk memastikan bahwa jantung Aldrich masih berdetak.
Sesaat kemudian, Henzhie menurunkan jok sandaran Aldrich untuk mensejajarkan tubuh Aldrich agar nyaman. Saat itu juga, genggaman Aldrich terlepas dan ponsel pun terjatuh ke atas aspal.
Saat melihat hal itu, Dilla yang kebetulan ada disebelah Henzhie segera meraih ponsel Aldrich lalu menaruhnya di dalam tas mini miliknya.
"Keluarkan tabung oksigennya, Thom!" seru Henzhie.
Dengan sigap Thomas pun keluar dari mobil dan segera mengambil tabung oksigen dari dalam bagasi belakang.
Untungnya Thomas selalu membawa tabung oksigen kemanapun ia pergi bersama Aldrich, untuk jaga-jaga jikalau Aldrich mengalami anfal di tengah jalan.
Tabung oksigen pun disematkan dan oksigen pun kini sudah mengaliri sistem pernapasan Aldrich. Namun, Aldrich terlihat belum juga sadar.
"Bawa dia ke rumah sakit. Sekarang!!" seru Henzhie lagi sesaat sebelum menutup pintu mobil.
Thomas pun segera menginjak gasnya dalam. Dan mobil pun melaju kencang melewati padang bunga tulip berwarna warni yang bergoyang indah tertiup angin.
Sudah setengah jam berlalu sejak Aldrich dibawa ke rumah sakit. Namun, belum ada tanda-tanda siuman dari Aldrich. Tak ayal hal itu membuat semua orang menjadi tidak tenang.
"Thomas!!!" terdengar suara berat menggema dari ujung koridor.
Semua mata tertuju pada suara nyaring tersebut.
Mata Thomas membulat saat menyadari suara siapa yang didengarnya. Yah, suara itu tak lain ialah suara Adam - ayah Aldrich. Thomas tau pasti hal ini akan terjadi. Dan ia pun bersiap untuk menerima kemarahan ayah Aldrich kali ini.
Adam berjalan melewati Riza, Henzhie dan Dilla. Dilla memperhatikan sosok tegap itu dengan seksama. Ia memutar ingatannya kala itu.
Sosok yang melintas didepannya saat ini terlihat tidak asing. Seperti ia sangat familiar dengan sosok itu. Dilla pun terus bertanya dalam hati. Siapa orang itu?. Seolah ia pernah bertemu dengan orang itu sebelumnya, tapi dimana, batinnya.
Plak!!!
Semua orang tersentak.
Tamparan keras mendarat di pipi Thomas. Begitu keras hingga membuat Thomas tersungkur. Darah segar pun mengalir dari hidungnya.
"Apa yang kau lakukan pada puteraku?!!!" suara Adam memekik kuat. Wajahnya menegang dengan bola mata yang nyaris keluar dari sarangnya.
Thomas diam. Tak menjawab sepatah katapun.
Adam mengangkat tangannya kembali, berniat untuk menampar Thomas untuk kedua kalinya. Namun, dengan cepat Henzhie menangkap lengan Adam.
"Berhenti. Hentikan Adam. Siapa kau?. Apa hak mu memukuli saudaraku seperti itu?" bentak Henzhie yang memang sudah semenjak dulu tidak pernah menyukai paruh baya yang ada didepannya itu.
"Jangan ikut campur!!!" bentak Adam tak kalah sarkas.
Adam pun mendorong Henzhie hingga terjatuh ke lantai. Meskipun usia Adam sudah tidak muda lagi. Namun, tenaga Adam sangatlah berbanding terbalik dengan usianya.
Thomas menghampiri Henzhie.
"Kau baik-baik saja?" tanya Thomas.
Henzhie berkata, "Pergi Thom. Pergilah dari sini."
Thomas menggeleng, "Aku tidak bisa melakukan itu. Kau jagalah dirimu baik-baik. Mungkin ini kali terakhir aku bisa melihatmu."
Adam mendekat ke arah Thomas kemudian menyeret tubuh pria itu dengan kasar hingga ke dinding. Selanjutnya Adam menyuruh anak buahnya untuk membawa Thomas.
"Thomaaasss!!!" Henzhie pun berteriak saat menyadari akan hal apa yang akan terjadi pada Thomas setelah ini.
"Adam, tolong. Tolong ampuni saudaraku. Tolong lepaskan dia Adam. Aku mohon." Henzhie menangkupkan tangannya.
"Minggir kau!!" Adam kembali mendorong Henzhie hingga terjatuh. Tanpa mempedulikan Henzhie, ia pun menyusul Thomas dan anak buahnya dari belakang.
Thomas pun hanya bisa pasrah saat anak buah Adam membawanya menjauh dari sana.
"Thomaaasss!!!!" Henzhie pun terduduk lemas dengan isakan pilu.
Melihat hal itu, Dilla pun segera berlari menyusul Adam dan Thomas, akan tetapi Riza menghalangi jalan Dilla.
"Kamu mau kemana?"
"Saya mau nyusulin Mas Thomas."
"Tidak. Kamu tahu, mereka itu orang-orang berbahaya. Kamu nggak usah ikut campur. Thomas pasti bisa menjaga dirinya sendiri."
"Tapi, Mas. Saya nggak bisa diem aja disini. Mas Thomas itu udah banyak bantuin saya. Jadi sekarang, saya yang harus bantuin dia." Dilla melepaskan rengkuhan Riza kemudian berlari.
"Dilla. Dilla," teriak Riza.
Mau tak mau, Riza pun akhirnya menyusul Dilla dari belakang sembari terus meneriaki nama isterinya itu berulang kali.