
Riza dan Niko kini telah berada di ruang kerja Riza. Riza terlihat kembali berkutat dengan laptopnya.
"Bro, loe nggak ngasih sesuatu buat istri loe?" Niko mulai mengusik ketenangan Riza.
Niko berjalan menuju sofa yang ada di sudut ruangan dan menyandarkan tubuhnya disana.
"Masa loe kalah sama si Fahmi, Bro!" sambung Niko kembali.
"Aku tidak peduli. Itu bukan urusanku!" jawab Riza tanpa melihat ke arah Niko.
"Loe yakin bro?" tanya Niko kembali.
Mata Riza membidik tajam ke arah Niko, "Berisik. Keluar sana!"
Tatapan laser dari Riza tersebut, seketika membuat Niko langsung keluar dengan sendirinya dari ruangan tanpa banyak bicara.
"Dasar Singa!" ucap Niko saat hendak menutup pintu.
Niko kemudian menuruni anak tangga menuju ruang tamu. Ia duduk di sofa dan mulai menyalakan televisi yang ada di depannya.
Dilla kini sedang berada di kamarnya. Setelah mendapat izin dari Riza, Dilla langsung memberikan kabar kepada Fahmi agar menjemputnya nanti malam. Tentu saja Fahmi sangat bahagia mendengar kabar bahwa Dilla jadi ikut dengannya.
Setelah menelepon Fahmi, Dilla langsung merebahkan dirinya di sofa sambil memainkan ponsel di tangannya. Tiba-tiba Dilla mengingat sesuatu.
Dilla beranjak dari sofa kemudian mengambil tas kecil berwarna pink miliknya yang ada di atas meja.
Dilla membuka tasnya perlahan, lalu mengambil sebuah amplop kecil berbentuk persegi dari dalamnya. Amplop yang diberikan papi sewaktu di bandara.
Saat membuka amplop tersebut, Dilla membulatkan matanya. Ia terlihat kaget.
Dilla langsung beranjak keluar kamar kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Riza. Dilla masuk tanpa mengetuk pintu.
"Apa tanganmu sudah tidak bisa mengetuk pintu?" ketus Riza tanpa melihat ke arah Dilla.
Dilla tidak menjawab. Ia langsung menyodorkan amplop yang telah dibukanya tadi kepada Riza.
"Apa itu?" tanya Riza yang masih terlihat sibuk mengetik di laptopnya.
Dilla kemudian menaruh amplop tersebut di atas keyboard laptop yang sedang dimainkan Riza. Seketika Riza pun menghentikan gerakan tangannya.
Riza menautkan alisnya, tangannya mulai membuka amplop tersebut perlahan.
Riza menarik isi amplop. Ia terlihat kaget.
"Siapa yang memberikan ini?" tanyanya.
"Papi," jawab Dilla singkat.
"Gimana mas?", tanya Dilla kembali sembari tersenyum.
Riza hanya menjawab singkat, "Pergilah sendiri. Aku sibuk!"
"Mas menyuruh saya pergi sendiri?" Dilla menatap Riza tidak percaya.
"Ajak saja temanmu atau siapapun itu!" jawab Riza sembari memberikan amplop beserta isinya tadi kepada Dilla.
Dilla mendengus kesal lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Riza.
Dilla menutup pintu dengan keras hingga membuat Riza sedikit terkejut.
"Bisa-bisanya mas Riza menyuruh aku pergi sendirian. Mas Riza benar-benar menyebalkan!" Dilla menggerutu sepanjang jalan menuju kamarnya.
Saatnya jam makan siang. Riza memegangi perutnya yang kini terasa lapar.
"Kenapa dia belum memanggilku untuk makan siang?" gumam Riza lirih.
Riza kemudian beranjak keluar dari ruang kerjanya. Riza menuruni anak tangga lalu melihat sekilas ke arah meja makan.
Riza berbisik heran di dalam hati saat melihat ke arah meja makan yang kosong melompong.
"Bro, si Dilla mana?, laper nih gue!" teriak Niko dari ruang tamu.
Riza celingukan melihat ke arah dapur mencari sosok Dilla. Namun, Dilla tidak terlihat disana.
Riza beranjak menaiki tangga kembali, menuju ke arah kamar. Lalu membuka pintu.
Karena mendengar suara pintu yang terbuka, Dilla pun langsung menolehkan wajahnya sekilas ke arah pintu.
Riza melihat Dilla sedang merebahkan tubuhnya di sofa.
"Ada apa mas?" tanya Dilla sembari memainkan ponsel ditangannya.
Riza ingin mengatakan sesuatu tapi ia terlihat malas untuk berbicara.
Dilla tahu apa yang ingin di sampaikan oleh suaminya itu. Ia kemudian menyambung kata-katanya kembali.
"Maaf sekali loh mas, saya tidak sempat memasak makan siang untuk hari ini," ucap Dilla santai tanpa melihat ke arah Riza.
"Mas pasti sudah lapar ya?" sambung Dilla sembari berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Riza mendesah kesal kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Dilla.
Setelah kepergian Riza, Dilla langsung tertawa cekikikan di dalam kamar.
Riza menuju ke arah ruang tamu, menghampiri Niko dengan wajah kesal.
"Kenapa loe?" tanya Niko heran.
Riza menyandarkan tubuhnya di sofa dan menarik nafas panjang, kemudian mengambil ponsel dari saku celananya. Ia terlihat mengetik sesuatu di ponsel. Riza memutuskan memesan layanan pesan antar makanan siang itu.
Tiga puluh menit kemudian makanan pesanan Riza pun datang. Niko menyuruh Riza agar mengajak Dilla makan bersama mereka. Karena masih kesal, Riza mengatakan kepada Niko bahwa Dilla sedang sibuk jadi lebih baik mereka makan berdua saja. Akhirnya Riza memakan makanan tersebut berdua dengan Niko.
Dilla tampak menuruni anak tangga. Ia melihat ke arah Riza dan Niko yang sedang menyantap makan siang pesanan mereka.
Dilla terkekeh pelan menutup mulutnya. Lalu ia mendekati Riza dan Niko perlahan.
Dilla berdehem keras.
Riza melihat ke arah Dilla dengan raut wajah kesal.
"Loe kenapa kagak masak sih Dilla?, gue kan jadi kelaperan!" tanya Niko saat melihat Dilla.
"Maaf ya, Mas." Dilla cengar-cengir bagai kuda.
"Ayo, makan bareng kita!" ajak Niko.
"Mas, makan saja yang banyak. Saya masih kenyang!" jawab Dilla.
Dilla kemudian berlalu meninggalkan Riza dan Niko. Riza menatap tajam ke arah Dilla.
Ketika matahari sudah hampir terbenam, Niko bergegas pulang ke rumahnya. Ia meninggalkan Riza yang sedang menonton televisi di ruang tamu.
Sementara di dalam kamar, Dilla tengah sibuk bersiap-siap. Dilla terlihat mengenakan kemeja motif sederhana berwarna pink dan celana panjang hitam berbahan kain, tak lupa sebuah tas kecil terselempang di bahunya.
Dilla sangat bahagia karena bisa merayakan ulang tahunnya bersama dengan temannya malam ini. Oleh karena itu, Dilla ingin berpenampilan sebaik mungkin.
Dilla mengenakan bedak perlahan di wajahnya kemudian memoles bibir mungilnya dengan lip gloss berwarna pink. Terakhir Dilla menyemprotkan parfum beraroma lily yang diberikan oleh mami sewaktu mami mengajak Dilla berbelanja tempo hari.
tingtong....
tingtong....
Bel rumah pun berbunyi.
Riza tampak berjalan untuk membukakan pintu. Terlihat Fahmi tengah berdiri didepannya.
Fahmi menatap Riza sinis seperti biasanya dan Riza hanya menatap Fahmi malas.
"Mana Dilla?" tanya Fahmi.
"Masih di kamar!" jawab Riza singkat.
Fahmi hendak menyelonong masuk ke dalam rumah untuk memanggil Dilla, seketika tangan Riza menarik kasar lengan Fahmi. Hingga membuat Fahmi sedikit terjengkang ke belakang.
Riza menatap Fahmi tajam.
"Jaga sikapmu saat di hadapanku!" tegas Riza.
"Ciiihhh!" hardik Fahmi membalas tatapan Riza.
Mereka kemudian saling adu tatap.
Tidak lama, Dilla pun terlihat menuju ke arah pintu. Seketika aroma parfum Dilla yang semerbak berhasil mengalihkan perhatian Riza dan Fahmi.
Mereka berdua langsung menolehkan pandangan mereka ke arah Dilla.
"Mas Fahmi udah lama?, Kiki mana mas?" tanya Dilla.
"Oh, Kiki ada di mobil," jawab Fahmi.
"Cantik sekali kamu hari ini, Dilla!" sambung Fahmi memulai rayuannya.
Dilla hanya diam saja menanggapi rayuan Fahmi, ia tampak benar-benar mencoba mengendalikan perasaannya kali ini.
Riza memperhatikan Dilla dari ujung rambut hingga ujung kaki. Riza juga melihat sekilas ke arah bibir Dilla yang merona pink.
Riza menatap Dilla heran.
Pasalnya istrinya itu tidak pernah berdandan seperti itu sebelumnya. Dilla yang Riza kenal adalah seorang gadis yang selalu berpenampilan sederhana, tanpa polesan apapun di wajahnya.
"Ayo, kita berangkat sekarang!" ajak Fahmi.
Dilla melihat ke arah Riza. Dilla berniat untuk berpamitan kepada Riza. Namun, Riza justru berlalu pergi meninggalkan Dilla dan Fahmi yang tengah berdiri di depan pintu.
Dilla sedikit kesal akan tetapi ia mencoba menutupi rasa kesalnya dengan menyunggingkan senyum terpaksanya ke arah Fahmi.
Dengan cepat Dilla melangkahkan kaki menuju mobil Fahmi yang terparkir di depan gerbang.